NovelToon NovelToon
Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Nikah Kilat Dengan CEO Berandal

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anvika

Kanara gadis berusia 27 tahun dengan penampilan cupu, pulang ke kampung halamannya sebagai cara untuk melarikan diri dari rasa sakit akibat dikhianati kekasihnya yang merupakan aktor papan atas. Ia bersumpah untuk menolak cinta, tetapi takdir justru mempermainkannya. Nara terjebak dalam pernikahan kilat dengan Sagara, seorang pemuda asing berpenampilan berandal yang datang ke desanya.

Menghadapi Nara yang menutup rapat hatinya, Sagara justru hadir membawa sejuta kejutan yang menjungkirbalikkan dunia gadis itu. Kini, Nara dihadapkan pada pilihan sulit. Sanggupkah ia membuka lembaran baru dan menerima kehadiran Sagara di hidupnya? Ataukah Nara akan memilih melangkah mundur, membiarkan dirinya tenggelam dalam rencana besar untuk membalas rasa sakit hatinya pada sang mantan?

📌 Update setiap hari! Jangan lupa pasang notifikasi dan masukin ke library kalian ya! 😉✨

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anvika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Pria itu Berandal

Kokok ayam jantan silih berganti dengan kicauan burung. Sagara terbangun dari tidurnya, melihat jam di ponselnya yang ia isi dayanya semalam. Rupanya sudah pukul 4, mendekati azan subuh.

Pria itu merenggangkan ringan tubuhnya yang terasa kaku, ia tidak terbiasa tidur di spring bed seperti ini yang menggunakan sistem pegas standar dengan lapisan busa yang tipis. Punggungnya terasa sakit dan kaku.

"Akhkrgh ...!" rintih Sagara meluruskan punggungnya. Setelah merasa mendingan, ia pun bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Suara azan subuh mengalun, Sagara mengenakan pakaian bersihnya. Ia bersiap menuju ke mesjid untuk menjalankan kewajiban. Senakal-nakalnya dia, tidak akan pernah meninggalkan kewajiban yang satu itu. Opanya dulu sangat keras dan mewanti-wanti hal tersebut. Dan kini hanya kenangan dan nasehatnya lah yang tersisa, sebab beliau telah menyusul istrinya yang terlebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa.

Sagara membuka pintu kamar kosnya, udara sejuk langsung berhamburan masuk. Ia menghirupnya perlahan, sungguh memanjakan paru-paru.

Saat pria itu melewati rumah Bu Ratna, matanya menangkap sosok Nara yang tengah duduk di kursi teras dengan memangku laptopnya, kedua kakinya pun duduk bersilat di atas kursi. Kacamata tebal senantiasa bertengger di hidung mancung kecilnya, cempolan asal rambutnya dengan beberapa helai menjuntai keluar membuat Sagara ingin sekali merapikannya. Karena itu mengingatkannya pada adik kembarnya Anna dan Anne yang akan selalu datang pada dirinya untuk memperbaiki rambut mereka.

"Subuh-subuh nongkrong di luar, nggak takut kesambet kamu," sapa pria itu yang sontak saja mengagetkan Nara yang tengah fokus menulis di laptopnya.

Gadis itu memperbaiki kacamatanya, lalu mendelik menatap tajam pada pria yang kini kembali mengenakan baju Koko dan sarung.

"Kenapa suka sekali mengagetkan orang?!" tanyanya tidak habis pikir. Wajah yang polos itu menunjukkan kegeraman yang malah terlihat lucu.

Sagara terkekeh, "Kamu saja yang suka melamun," balasnya tanpa dosa.

"Ihsss, sanaaa ... pergi ... tuh sudah iqomah, hust ... hust ..." usir Nara dengan tangannya yang aktif melambai, menyuruh pria itu untuk segera menyingkir dari pandangannya. Mengganggu menulis saja. Sagara pun pergi dari sana tanpa drama.

"Nah, kannn! Apa yang mau ku tulis tadi? Astaga ... dasar! Benar-benar berandal pengganggu!" pekik Nara tertahan, semua ide dalam kepalanya yang siap dieksekusi menguar begitu saja. Gadis itu menjambak rambutnya dengan frustasi. Rasanya ingin menangis saja.

***

Sagara keluar dari mesjid pukul 7 pagi, ia berjabat tangan dengan beberapa bapak-bapak warga desa asli yang juga ikut keluar bersama dengannya. Mereka telah berkenalan dan banyak berbincang. Dan dari perbincangan tersebut, sedikit tidaknya membantu pria itu memahami terkendalanya proyek yang telah direncanakan perusahaannya.

"Mari bapak-bapak, saya balik dulu." Pamit pria itu.

"Siap, Nak Saga. Semoga betah di kampung kami," ujar salah satu bapak, Sagara mengangguk dengan senyum tipis membingkai bibirnya dan berlalu dari sana.

Dalam perjalanan, Sagara melihat Bu Ratna dan anaknya tengah membawa periuk besar yang sepertinya berisi makanan. Sebab, keduanya berhenti di warung nasi dan membuka tempat tersebut.

Sebelum menyapa keduanya, pria itu menuju kamar kosnya untuk berganti pakaian. Tak lupa ia membawa rantang makanan yang telah dicuci bersih dan juga pel yang dipinjamnya semalam.

"Assalamualaikum," sapa Sagara dengan suaranya baritonnya yang khas. Menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya.

Ratna sontak tersenyum, membalas salam pria muda itu. "Waalaikumsalam .... Eh, Nak Saga. Pagi-pagi sudah rapi aja, mau kemana? Nggak makan dulu? Sini, duduk dulu. Sarapan, itu simpan saja dulu di sana. Biar Nara nanti yang bawa pulang," ujar ibunya Nara itu. Walau mulutnya berbicara dengan sesekali melirik ke arah Sagara, tangan Ratna tak kalah aktif dan tangkasnya menyusun menu-menu lauk pauk ke etalase. Wangi masakan tersebut memenuhi udara sekitarnya, harum dan membuat siapa saja yang menciumnya semakin lapar.

"Iya, Bu. Saya memang mau sarapan, tapi nanti setelah saya mengembalikan ini. Nggak enak kalau suruh—" ujar Sagara tertahan, bingung sendiri mau memanggil dengan cara apa nama anak Bu Ratna.

Ratna yang mengerti segera terkekeh ringan, "Panggil saja, Nara. Atau teteh, kalau tidak neng Nara. Tapi umur kamu berapa? Kalau lebih tua anak saya, jadi panggilnya teteh. Tapi kalau kamu yang lebih tua, panggilnya neng," jelasnya.

Sagara angguk-angguk, "Kelihatannya bagaimana, Bu? Saya lebih tua atau lebih muda dari anak ibu?" pria itu malah balik tanya.

Ratna tertawa kecil lagi. "Kamu bisa saja tempatkan Ibu pada posisi tidak nyaman. Hais, sudahlah. Lupakan ..." sigapnya tidak ingin mengambil resiko. Karena beberapa orang akan sensitif jika membahas masalah umur.

Sagara tersenyum ringa, ia pun meminta ijin untuk mengembalikan barang yang dipinjamnya ke rumah Ratna dan kemudian akan kembali datang untuk menyantap sarapan.

"Iya, ada Nara di sana. Kamu panggil saja," ujar wanita paru baya itu yang kini mulai melayani satu dua pelanggannya yang baru saja datang.

Sagara berjalan menuju rumah Nara, kebetulan ia melihat gadis itu bersiap keluar dengan baki besar berisi bakwan. Pria itu segera menyapa dan memperlihatkan bara bawaannya.

"Masuk aja, simpan sendiri. Aku mau bawain ini dulu ke Ibu." Nara bersiap memakai sandal.

"Aku tidak nyaman masuk ke rumah orang kalau tidak ada pemiliknya, nanti dituduh maling," kata pria itu.

Nara membulatkan mata. "Siapa yang akan menuduh mu maling?" sengitnya.

"Siapa, ya ... kemarin yang bilang aura saya aura tukang palak?!" sindir pria itu, berjalan perlahan menghampiri Nara. Bibirnya menyunggingkan senyum miring, rambutnya yang gondrong berkibar-kibar oleh angin pagi.

Nara meneguk ludahnya susah. "K-kamu mau apa? J-jangan mendekat!" Perintahnya. Namun, Sagara tidak mengindahkan. Ia malah menyadarkan gagang pel ke tembok dekat bingkai pintu dan menyimpan rantang makanan di kursi dekat teras. Tatapannya pada Nara sama sekali tidak berpaling saat melakukan itu.

Nara merasa terintimidasi, jiwanya seakan kerdil saat ini. "M-maaf, aku tidak bermaksud mengatakan itu kemarin. Mulutku kemarin keceplosan, sueerrr!" ujar gadis itu berusaha meyakinkan, berharap dapat meredakan segala bentuk amarah dari pria tinggi besar di hadapannya.

"Hm, ternyata aura bar-bar mu hanya keluar kemarin. Sekarang kamu hanyalah gadis cupu sesuai penampilanmu," ujar Sagara dengan nada bercanda, kemudian meraih baki dari tangan Nara yang sekarang terdiam seperti patung, tetapi manik matanya menunjukkan kemarahan.

"Aku yang akan membawanya ke ibu." Tanpa persetujuan, Sagara mengambil alih bakinya. Bibirnya kembali tersenyum miring, melihat keterdiaman gadis di depannya. Dengan tengil, Sagara meniup manik mata coklat Nara yang membuat sang empunya langsung mengucek matanya.

"Ishhhh ... dasar berandallll!" maki Nara, meninggalkan kekalemannya. Padahal selama ini, ia sanggup menahan diri untuk tidak meledak pada orang-orang yang mengusiknya dan menanggapi mereka dengan tenang. Tapi dengan pria itu, Nara tidak bisa! Mengingat kesan pertama pertemuan mereka saja sudah bisa membuatnya geram, apalagi dengan perlakuannya yang menjengkelkan seperti barusan.

"Hahahah ...." Tawa Sagara pecah mendengar teriakkan itu. Mengingatkannya pada sang ayah yang sering meneriakinya dengan hal yang sama.

***

Bersambung ...

1
Maulidia Okta
wah karna ada uwak sakit, nara sama sagara pasti bisa lebih dekat lagi, udh kayak suami istri beneran...
Maulidia Okta
gitu donk yang akur dan mendekati mesra nick.....
Maulidia Okta
duh...mulau ada bau² kedekatan nich
Maulidia Okta
duh... enteng banget aa gara, ngomong ya....
Anvika: Iya, kaya ngajak main diaa🤭
total 1 replies
Maulidia Okta
suka cefitanya....
Anvika: Makasih kak😍🥰
total 1 replies
Maulidia Okta
nara ribet banget ya
Anvika: Heheh, memang ribet dia kak🤭
total 1 replies
fabdul
Walaupun tanpa cinta, tapi tetap berkomitmen 👍
Anvika: Setuju, kak😊
total 1 replies
fabdul
Mampir💪
Anvika: Siap, Kak. Semoga suka ceritanya 🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!