Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Kereta barang melaju pelan meninggalkan stasiun tua, membelah kegelapan menuju arah selatan. Rendra duduk di sudut gerbong berisi tumpukan karung kosong, tubuhnya terguncang irama roda di atas rel. Pesan misterius itu terus berputar di kepalanya: Surya dipaksa. Mereka memegang keluarganya.
Ia kenal Surya sejak masih di akademi kepolisian. Pemuda itu jujur, berani, dan selalu menempatkan keadilan di atas segalanya. Tidak mungkin ia berkhianat kecuali ada hal yang lebih berharga yang dipertaruhkan.
Pukul empat pagi, kereta berhenti sejenak di pos penjagaan dekat bukit Sepanjang. Rendra segera melompat turun, menyelinap ke hutan belukar di sisi rel. Ia berjalan kaki hampir satu jam sebelum sampai di rumah kayu tua yang menjadi tempat persembunyian mereka—bangunan sederhana yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon jati, tak terlihat dari jalan mana pun.
Pintu terbuka perlahan saat ia mengetuk dengan kode khusus. Dika menyambutnya dengan wajah cemas.
“Kau terlambat hampir dua jam. Aku kira kau tertangkap.”
“Harus memutar jalan jauh. Mereka menjaga semua jalan utama,” jawab Rendra sambil duduk di kursi kayu tua. “Ada pesan masuk. Surya bukan pengkhianat. Mereka menahan keluarganya.”
Dika terdiam, lalu mengangguk pelan. “Itu masuk akal. Tadi aku cek data yang kau ambil—ada bagian yang terenkripsi, berisi daftar sandi dan nama orang yang mereka sandera untuk memaksa orang lain bekerja sama. Kemungkinan besar Surya ada di situ.”
Saat mereka sedang mencoba memecahkan kode enkripsi, ponsel satelit yang hanya dipakai untuk keadaan darurat berdering. Nomor yang muncul tidak terdaftar, tapi Rendra mengenali pola kodenya—itu cara Surya menghubungi jika dalam bahaya maut.
Ia segera mengangkat, menyalakan pengeras suara.
“Rendra? Kau selamat?” suara Surya terdengar parau, napasnya terputus-putus seolah sedang lari.
“Aku di tempat aman. Katakan di mana mereka menahan istrimu dan anakmu,” potong Rendra langsung.
“Kau tahu?” Surya terdiam sejenak, lalu menghela napas berat. “Inspektur Bagas menculik mereka hari Senin lalu. Jika aku tidak melaporkan setiap gerak-gerakmu, mereka akan membunuh keduanya. Aku terpaksa memberi tahu lokasi gudang itu, tapi aku sengaja mengirim pesan peringatan lewat jalur rahasia.”
“Kau tidak salah,” kata Rendra tegas. “Kami akan menyelamatkan mereka. Tapi kami butuh bantuanmu—di mana lokasi tahanan itu, dan siapa yang menjaga data inti yang belum terambil?”
“Lokasi tahanan di gudang es pelabuhan Tanjung Perak, lantai bawah tanah. Data utama ada di kantor pribadi Bagas di markas polisi kota. Tapi hati-hati—gudang itu dijaga pasukan elit, ada juga bom yang dipasang di sekeliling ruang tahanan. Jika ada gangguan sedikit saja, mereka meledakkan semuanya.” Surya berhenti sejenak, lalu menambahkan pelan: “Besok malam Bagas akan membawa semua bukti ke Jakarta. Jika kau tidak bertindak sebelum itu, semuanya hilang.”
Sambungan terputus tiba-tiba. Suara bising tembakan terdengar di ujung telepon sebelum layar mati gelap.
“Mereka ketahuan!” seru Dika sambil segera memeriksa peta pelabuhan. “Gudang es itu lokasinya terisolasi, satu-satunya jalan masuk lewat jembatan besi yang bisa dikunci dari dalam. Kita tidak bisa masuk dengan paksa.”
Rendra berdiri, menatap peta dengan mata tajam. “Kita tidak butuh paksa. Kita butuh trik. Surya bilang Bagas akan pergi besok malam—artinya hari ini adalah kesempatan terakhir. Kita selamatkan keluarga Surya, ambil data di markas, dan berikan pukulan terakhir sekaligus.”
Ia menjelaskan rencananya: Dika akan menyusup ke markas polisi lewat saluran pembuangan tua yang sudah ia pelajari bertahun lalu, menyalin data di kantor Bagas saat pengalihan jaga siang hari. Sementara Rendra akan pergi ke pelabuhan, menyamar sebagai pekerja bongkar muat untuk masuk ke gudang es, lalu memancing penjaga keluar satu per satu agar bisa menjangkau ruang tahanan tanpa memicu bom.
“Terlalu berisiko,” cegah Dika. “Jika kau tertangkap, tidak ada yang bisa menolongmu.”
“Tidak ada pilihan lain,” jawab Rendra tegas. “Jika kita diam, Bagas lolos, keluarga Surya tewas, dan kebenaran soal adikku terkubur selamanya. Kita sudah berjalan terlalu jauh untuk mundur sekarang.”
Sore harinya, Rendra tiba di pelabuhan. Ia memakai seragam pekerja lusuh, topi lebar menutupi sebagian wajahnya, dan berbaur dengan kerumunan orang yang sibuk memuat barang ke kapal. Ia bergerak perlahan mendekati gudang es, memperhatikan setiap penjaga, posisi kamera, dan kawat tipis yang terpasang di sekeliling tembok—tanda pasti ada sistem peledak.
Saat matahari mulai terbenam, ia melihat dua orang penjaga mendorong seorang pria keluar dari gudang. Itu Surya—tangan dan kakinya diborgol, wajahnya penuh luka memar. Seorang pria berbadan tegap dengan pangkat tertinggi di bahu berdiri di depannya. Itu Inspektur Bagas.
“Kau pikir pesanmu tidak terlacak?” suara Bagas terdengar jelas di telinga Rendra lewat alat dengar kecil. “Rendra pasti sudah datang ke sini. Biarkan dia melihat kau mati, lalu aku akan tangkap dia hidup-hidup untuk dijadikan contoh bagi siapa saja yang berani melawanku.”
Rendra mengepalkan tangannya erat. Rencananya berubah seketika—sekarang ia tidak hanya harus menyelamatkan sandera, tapi juga menyelamatkan satu-satunya orang yang masih berani membantunya dari dalam.
Ia melihat sebuah truk berisi balok es berhenti tepat di depan pintu gudang. Peluang itu datang. Ia segera bergerak cepat, menyusup ke balik truk, dan mempersiapkan diri untuk langkah paling berbahaya dalam hidupnya. Di depan matanya, musuh bebuyutannya berdiri tegak, penuh percaya diri bahwa ia sudah menang. Rendra tersenyum tipis—ia belum tahu bahwa perang baru saja dimulai dengan cara yang tak pernah ia duga