Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".
"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"
bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.
Mariska tersenyum licik.
"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."
"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.
"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."
Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.
Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.
"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.
"Jangan sampai gadis itu lolos!"
Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.
Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Tanpa diketahui siapa pun di dalam rumah itu...
Sepasang mata tengah mengamati gerbang utama dari kejauhan.
Seseorang telah mulai menelusuri siapa sebenarnya keluarga Laurent.
Malam semakin larut.
Kabut tipis mulai turun menyelimuti kawasan perbukitan tempat Mansion Laurent berdiri.
Dari balik pagar besi setinggi hampir empat meter, lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan cahaya ke jalan berbatu yang membelah halaman luas.
Di dalam mansion...
Suasana kembali tenang.
Hanya terdengar sesekali suara langkah pelayan yang berlalu-lalang dengan disiplin.
Di kamar tamu lantai dua...
Alyssa masih duduk di tepi ranjang.
Pikirannya belum mampu beristirahat.
Semua yang terjadi sejak pagi terasa seperti mimpi yang terlalu cepat.
Ia menundukkan kepala.
Tatapannya jatuh pada ponsel lamanya yang diletakkan Clara di atas nakas setelah dibersihkan.
Layar ponsel itu gelap.
Namun beberapa detik kemudian...
Getar...
Getar...
Getar...
Layar menyala.
Nama yang muncul membuat seluruh tubuh Alyssa langsung menegang.
Mariska.
Nama ibu tirinya.
Jantung Alyssa berdetak semakin cepat.
Tangannya bergerak refleks hendak meraih ponsel itu.
Namun sebelum sempat menyentuhnya...
Tok...
Tok...
Tok...
Pintu kamar diketuk pelan.
Clara masuk bersama Adrian Hartmann.
"Tuan Lucas meminta saya memastikan keadaan Nona."
Pandangan Adrian langsung tertuju pada ponsel yang terus bergetar di atas meja.
Nama penelepon masih sama.
Mariska.
Adrian berjalan mendekat.
"Jangan diangkat."
Alyssa menoleh.
"Tapi..."
"Dia akan semakin marah."
Adrian menggeleng pelan.
"Bukan itu alasannya."
Ia mengambil ponsel itu tanpa mematikan panggilan.
"Orang-orang seperti Patrick tidak bekerja sembarangan."
"Mereka memiliki sumber daya."
"Mereka bisa saja memanfaatkan setiap jejak komunikasi."
Alyssa mengerutkan kening.
"Saya tidak mengerti."
Adrian berbicara dengan tenang.
"Kalau mereka memang sedang memburumu, kemungkinan besar nomor teleponmu sudah berada dalam pengawasan."
"Mengangkat telepon memang tidak otomatis mengungkap lokasi secara ajaib, tetapi jika mereka memiliki akses terhadap jaringan atau bekerja sama dengan pihak tertentu, setiap komunikasi bisa menjadi petunjuk tambahan."
"Karena itu..."
"Untuk sementara, lebih aman jangan melakukan panggilan atau membalas pesan."
Alyssa perlahan menarik kembali tangannya.
"Jadi..."
"Mereka bisa menemukan saya?"
"Kemungkinannya ada."
"Tuan Lucas tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun."
Panggilan itu akhirnya berhenti.
Ruangan kembali sunyi.
Namun hanya berlangsung beberapa detik.
Getar...
Getar...
Getar...
Mariska menelepon lagi.
Lalu lagi.
Dan lagi.
Dalam waktu kurang dari lima menit...
Sudah sembilan panggilan tidak terjawab.
Wajah Alyssa semakin pucat.
Ia mengenal ibu tirinya.
Perempuan itu tidak akan berhenti.
Benar saja.
Setelah panggilan kesepuluh berakhir...
Notifikasi pesan mulai bermunculan.
Satu.
Dua.
Lima.
Sepuluh.
Lima belas.
Layar ponsel hampir dipenuhi pesan baru.
Adrian menghela napas.
"Kita lihat isinya."
Ia membuka pesan-pesan itu.
Kalimat pertama langsung membuat Alyssa menahan napas.
Alyssa! Angkat teleponmu!
Pesan berikutnya datang beberapa detik kemudian.
Jangan pikir kau bisa lari seumur hidup!
Lalu...
Mereka sudah marah! Kau membuat semuanya menjadi kacau!
Alyssa menggigit bibir.
Tangannya mulai dingin.
Pesan demi pesan terus masuk.
Kalau kau masih menganggapku ibumu, pulang sekarang juga!
Alyssa tertawa pahit dalam hati.
"Ibumu."
Kalimat itu selalu digunakan Mariska setiap kali ingin memanfaatkannya.
Tak pernah sekalipun perempuan itu memanggilnya dengan lembut tanpa menginginkan sesuatu.
Pesan berikutnya membuat napas Alyssa tercekat.
Kalau kau tidak pulang malam ini...
...jangan pernah berharap mengetahui di mana ibu kandungmu berada.
Seluruh tubuh Alyssa membeku.
Matanya membelalak.
"Ibu..."
Suara itu hampir tak terdengar.
Adrian memperhatikan perubahan wajahnya.
"Ada apa?"
Alyssa menatap layar dengan mata berkaca-kaca.
"Dia..."
"Dia menyebut ibu kandung saya."
Adrian terdiam.
Alyssa menggenggam kedua tangannya erat.
"Selama ini..."
"Dia selalu bilang ibu saya meninggal."
"Tapi..."
"Kadang saat sedang marah..."
"Dia pernah mengatakan kalau saya tidak tahu apa pun tentang perempuan yang melahirkan saya."
"Aku selalu mengira itu hanya hinaan."
Air mata mulai mengalir perlahan.
"Tapi sekarang..."
"Kenapa dia berkata seperti ini?"
Adrian tidak langsung menjawab.
Ia hanya memotret isi pesan menggunakan perangkat kerja khusus yang telah dienkripsi untuk dokumentasi internal.
"Semua ancaman seperti ini sebaiknya disimpan."
"Kalau nanti diperlukan."
Alyssa masih terpaku.
Ingatannya perlahan kembali pada masa kecil.
Ia masih sangat kecil.
Mungkin berusia empat atau lima tahun.
Ada seorang wanita.
Wajahnya samar.
Namun aroma parfumnya...
Pelukannya...
Lagu nina bobonya...
Semuanya terasa begitu hangat.
Lalu...
Ingatan itu berhenti.
Setelah itu hanya ada Mariska.
Mariska yang selalu membentak.
Mariska yang memaksanya bekerja.
Mariska yang terus mengatakan dirinya adalah beban.
Alyssa memejamkan mata.
"Apa..."
"Mungkin ibu saya..."
"...masih hidup?"
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Adrian tidak ingin memberi harapan yang belum tentu benar.
"Kita belum tahu."
"Justru karena itu..."
"Jangan mengambil keputusan berdasarkan ancaman."
Alyssa mengangguk pelan.
Namun air matanya semakin deras.
Tak lama kemudian...
Pintu kembali diketuk.
Lucas masuk.
Tatapannya langsung menangkap suasana kamar yang berubah.
"Ada apa?"
Adrian menyerahkan ponsel Alyssa.
"Mariska terus menghubunginya."
"Dan mengirim ancaman."
Lucas membaca seluruh isi pesan satu per satu.
Ekspresinya tetap datar.
Namun sorot matanya berubah jauh lebih dingin.
Pesan terakhir berbunyi...
Kalau kau ingin tahu siapa ibu kandungmu dan di mana dia sekarang, pulanglah. Kalau tidak, rahasia itu akan kubawa sampai mati.
Lucas meletakkan ponsel itu perlahan.
"Ancaman yang menarik."
Alyssa menatapnya.
"Saya..."
"Saya harus bagaimana?"
Lucas duduk di kursi yang berada di depan Alyssa.
"Kau percaya padanya?"
Alyssa terdiam lama.
"Saya..."
"Tidak tahu."
Lucas kembali bertanya.
"Selama bertahun-tahun..."
"Apakah dia pernah memperlakukanmu seperti anak?"
Alyssa menggeleng perlahan.
"Tidak."
"Apakah dia pernah mengatakan sesuatu tanpa menginginkan imbalan?"
Alyssa kembali menggeleng.
"Tidak."
Lucas menatap lurus ke matanya.
"Kalau begitu..."
"Mengapa malam ini kau langsung mempercayai ancamannya?"
Pertanyaan itu membuat Alyssa membeku.
Benar.
Selama ini Mariska selalu berbohong.
Selalu memanipulasi.
Selalu menggunakan apa pun agar Alyssa menurut.
Lalu mengapa malam ini...
Hanya karena satu kalimat...
Ia hampir kehilangan kendali.
Lucas melanjutkan dengan suara tenang.
"Orang yang terbiasa mengendalikan orang lain akan memanfaatkan kelemahan terbesar korbannya."
"Begitu dia melihat ketakutanmu..."
"Dia akan terus menekan bagian itu."
Alyssa perlahan mengusap air matanya.
"Tapi..."
"Bagaimana kalau itu benar?"
Lucas tidak menjawab selama beberapa saat.
Kemudian berkata pelan.
"Kalau memang benar..."
"Maka kita akan mencari jawabannya."
"Bukan dengan menyerahkanmu kembali kepada mereka."
Kalimat itu membuat Alyssa menatapnya.
"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi alat tawar-menawar."
Suasana kamar kembali sunyi.
Entah mengapa...
Ucapan sederhana itu mampu membuat Alyssa sedikit lebih tenang.
Namun...
Belum sampai satu menit.
Ponsel kembali bergetar.
Pesan baru masuk.
Kali ini hanya satu kalimat.
Patrick mulai kehilangan kesabaran. Kalau mereka menemukanmu lebih dulu daripada aku, jangan salahkan siapa pun.
Lucas membaca pesan itu.
Lalu berkata kepada Adrian,
"Lacak semua informasi tentang Mariska."
"Mulai dari rekening."
"Riwayat komunikasi."
"Utang."
"Hubungan dengan Patrick."
Adrian mengangguk.
"Sudah saya mulai."
Lucas menambahkan,
"Dan cari semua data mengenai ibu kandung Alyssa."
"Termasuk akta kelahiran."
"Rumah sakit."
"Dokumen adopsi jika ada."
Alyssa menatap Lucas dengan mata membesar.
"Anda..."
"Mau membantu saya?"
Lucas menjawab singkat.
"Kalau rahasia itu memang ada..."
"Aku lebih memilih menemukannya sendiri daripada mempercayai ancaman seseorang."
Untuk pertama kalinya malam itu...
Di balik rasa takutnya...
Muncul secercah harapan.
Sementara itu...
Di sisi lain kota.
Sebuah rumah tua yang mulai lapuk berdiri dalam keadaan gelap.
Mariska mondar-mandir di ruang tamu.
Wajahnya dipenuhi kepanikan.
Di atas meja...
Beberapa gelas kosong berserakan.
Asbak penuh puntung rokok.
Tangannya terus menggenggam ponsel.
"Kenapa tidak diangkat!"
Ia kembali menekan tombol panggil.
Nomor Alyssa tetap tidak aktif menjawab.
Mariska mengumpat pelan.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Saat itulah...
Pintu rumah diketuk keras.
Brak!
Brak!
Brak!
Mariska langsung membeku.
Ia tahu...
Orang yang datang bukan tamu biasa.
Dengan tangan gemetar ia membuka pintu.
Tiga pria berpakaian hitam berdiri di depan rumah.
Tubuh mereka tinggi besar.
Tatapan mereka dingin.
Pria yang berada di depan membuka suara.
"Di mana Alyssa?"
Mariska memaksakan senyum.
"Saya..."
"Saya juga sedang mencarinya."
Tamparan keras mendarat di pipinya.
Plak!
Mariska terjatuh ke lantai.
Pria itu mencengkeram kerah bajunya.
"Jangan bohong."
"Kau yang membawa gadis itu."
"Kalau dia hilang..."
"Kau yang bertanggung jawab."
Mariska menangis ketakutan.
"Saya sungguh tidak tahu!"
"Saya sudah menelepon berkali-kali!"
"Saya bahkan mengancamnya!"
Pria itu menyipitkan mata.
"Mengancam?"
"Saya bilang..."
"Kalau dia tidak kembali..."
"Saya tidak akan memberitahu di mana ibu kandungnya."
Ketiga pria itu saling berpandangan.
Ekspresi mereka berubah sejenak.
Seolah informasi itu memiliki arti penting.
Pria tadi melepaskan kerah Mariska.
"Lanjutkan."
"Buat dia percaya."
"Pancing dia keluar."
"Kalau gagal..."
Ia menunduk mendekat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
"...kau yang akan menggantikannya."
Mariska langsung gemetar hebat.
"Sa-saya mengerti..."
Ketiga pria itu pergi begitu saja.
Meninggalkan rumah dalam kesunyian yang mencekam.
Mariska terduduk lemas di lantai.
Air matanya bercampur darah dari sudut bibir.
Ia memeluk ponselnya erat.
"Alyssa..."
"Kenapa kau harus kabur..."
Namun jauh di lubuk hatinya...
Ia sadar.
Semua ini bukan lagi sekadar persoalan utang.
Ada rahasia yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan.
Rahasia tentang perempuan yang melahirkan Alyssa.
Dan kini...
"Hingga nanti tolonglah supoort aku dengan komentar dan rating juga ulasan kalian ya pembaca budiman, Terimakasih.. Love" MHKaylid_