Sebuah pernikahan yang berdiri di atas pilar rasa utang budi, bukan cinta. Nindya menerima lamaran Haris karena takdir mempertemukan mereka dalam tragedi berdarah yang hampir merenggut nyawa Haris—dimana Nindya bertaruh nyawa untuk menyelamatkannya. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu dan dikaruniai seorang putra yang menggemaskan, Nindya harus menelan kenyataan pahit: rasa terima kasih Haris tidak pernah berubah menjadi cinta. Di balik dinding rumah tangga mereka yang dingin, Haris masih menyimpan bayang-bayang masa lalunya bersama wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Ditepi Jalan
Restoran cepat saji yang mereka pilih memiliki sudut favorit di lantai dasar, tepat di samping dinding kaca besar yang menghadap langsung ke jalan protokol ibu kota. Suasana di dalam terasa hangat dan santai. Nindya memangku dagunya, tersenyum memperhatikan Arka yang begitu lahap menyantap ayam goreng dan es krim cokelatnya. Di luar kaca, kendaraan roda empat dan roda dua berlalu lalang melintasi trotoar yang cukup luas.
Di tengah kunyahannya, gerakan tangan Arka mendadak terhenti. Mata bulatnya menatap tajam ke arah luar jendela, menembus kaca bening restoran.
"Mamaa... itu Papa!" seru Arka tiba-tiba, menunjuk ke arah trotoar di luar.
Nindya mengalihkan pandangannya mengikuti arah telunjuk kecil Arka. Di sana, berjalan seorang pria berjas hitam yang sangat familiar. Pria itu tampak santai, tertawa tipis sembari bergandengan tangan erat dengan seorang wanita bergaun merah yang berjalan menggelayut di lengannya—Siska.
Belum sempat Nindya mencerna keadaan atau menahan gerakan putranya, Arka yang diliputi rasa rindu polos sudah melompat turun dari kursi restoran. Bocah kecil itu berlari kencang menuju pintu keluar restoran yang otomatis terbuka.
"Arka, tunggu!" panggil Nindya tenang, tanpa ada nada panik apalagi histeris.
Nindya berdiri dari kursinya, merapikan tas dan blazer kremnya dengan gerakan anggun, lalu melangkah keluar mengikutsertakan langkah Arka.
Di luar, Arka sudah berlari ke arah dua orang yang sedang berjalan membelakangi restoran itu.
"Papaaaa!" teriak Arka nyaring dari jarak beberapa meter. Bocah itu menghentikan langkah tepat di depan mereka, melebarkan kedua lengan mungilnya, menengadah dengan wajah polos penuh binar bahagia, berharap pelukan hangat dari sang ayah. "Papaaa, ingin peluk!"
Haris dan Siska tersentak kaku di tempat. Pegangan tangan Haris pada jemari Siska refleks terlepas seketika seolah tersengat listrik. Wajah Haris mendadak pucat pasi melihat putra kecilnya tiba-tiba berdiri di hadapannya di tengah trotoar. Siska pun panik, melangkah mundur satu pijakan dengan wajah tidak senang.
"Arka?" bisik Haris terbata, tenggorokannya mendadak terasa kering. "Kamu... kamu sedang apa di sini?"
"Arka lagi makan es krim sama Mama!" jawab Arka polos tanpa tahu dosa, matanya berbinar-binar.
"Sama... Mama?" Haris mendongak, matanya liar menyapu trotoar di sekitar mereka.
Langkah kaki yang teratur dan tegas terdengar mendekat. Nindya berhenti berdiri tepat di samping Arka. Ia sedikit membungkuk untuk merapikan rambut sang putra yang berantakan terkena angin, lalu kembali berdiri tegak menatap Haris dan Siska.
Tidak ada raut terkejut, marah, apalagi air mata di wajah Nindya. Wajahnya begitu tenang, dihiasi senyum tipis yang dingin dan berkelas.
Mata Haris membelalak lebar, mematung kaku di tempatnya berdiri. Pria itu benar-benar terkesima—bahkan terpaku—melihat sosok wanita di hadapannya. Pria itu hampir tidak mengenali istrinya sendiri. Nindya tampak luar biasa cantik dan menawan. Potongan rambut ash brown sebahunya yang modern berayun lembut tertiup angin, dipadukan dengan gaun kasual bermerek yang melekat sempurna di tubuhnya yang tampak jauh lebih bugar dan proporsional. Aura keanggunan dan percaya diri terpancar begitu kuat dari diri istri sahnya itu.
"N-Nindya?" panggil Haris gugup, matanya tak sanggup berpaling dari penampilan baru istrinya yang begitu memikat. Ada desiran aneh dan rasa tidak percaya yang tiba-tiba menghantam dada Haris.
Nindya hanya menatap Haris dan Siska bergantian dengan tatapan datar yang sangat tajam, seolah sedang melihat dua orang asing yang tak berarti di pinggir jalan.