Memasuki bangku kuliah dengan penampilan cupunya, membuat Ananda Ayunindia menjadi target empuk perundungan oleh Tristan Bratadikara dan komplotannya. Tak sekadar dibully, Ananda bahkan dijadikan bahan taruhan hingga berujung kehamilan. Hancur dan trauma, ia terpaksa melepas beasiswanya dan pergi menghilang.
Enam tahun berlalu. Ananda yang kini telah lulus kuliah dan menetap di Bandung, berhasil diterima bekerja sebagai sekretaris di sebuah perusahaan raksasa di Jakarta. Demi masa depan putra kecilnya dan sang ibu yang sudah renta, Ananda terpaksa kembali ke kota penuh memori kelam tersebut.
Siapa sangka, pimpinan tertinggi di perusahaan baru tempatnya bekerja adalah Tristan Bratadikara, pria yang dahulu menghancurkan hidupnya. Namun, Ananda yang sekarang bukan lagi gadis cupu yang bisa ditindas, ia telah bermetamorfosis menjadi wanita yang cantik, energik, dan pemberani. Akankah Tristan mengenali korbannya di masa lalu, atau justru bertekuk lutut pada sosok Ananda yang baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Andre dan Indra melangkah dengan kepala tertunduk, lalu mendudukkan diri di kursi kayu panjang, tepat berhadapan dengan Ananda dan Tristan yang menatap mereka tanpa kedip. Suasana di meja itu terasa begitu mencekam, berbanding terbalik dengan keceriaan Elvano. Bocah kecil itu rupanya melihat Gio, anak pemilik kafe yang kebetulan merupakan teman sebayanya dan sudah sering bermain bersama di taman, kini sedang melambaikan tangannya di dekat area bermain mini kafe.
"Mah, aku main sama Gio dulu sebentar ya di sana," pamit Elvano riang. Ia kemudian menoleh ke arah para pria dewasa di meja. "Dadah Om Tampan, dadah Om Indra, dan dadah juga Om... eh..." Seketika Elvano menghentikan ucapannya, ia bingung harus menyebut nama Andre karena baru pertama kali bertemu.
"Panggil aja Om Ganteng, ya El!" kelakar Andre, mencoba mencairkan atmosfer yang membeku.
Sayangnya, candaan Andre sama sekali tidak membuang ketegangan. Baik Ananda maupun Tristan hanya memasang ekspresi datar dan sedingin es, menatap Andre dengan pandangan menghunus.
"Ok siap, Om Ganteng!" ucap Elvano polos sambil mengacungkan kedua jempolnya dengan riang, lalu bergegas berlari menghampiri Gio.
Indra yang memperhatikan punggung Elvano yang menjauh refleks bergumam, "El lucu dan pintar sekali ya, untung sifatnya tidak kaku seperti Papa..." Indra seketika membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangannya karena hampir saja keceplosan memancing amarah Tristan.
"Kalian jangan banyak berbasa-basi!" bentak Tristan pelan namun sarat akan penekanan, membuat Andre dan Indra tersentak gugup. "Ayo cepat jelaskan semuanya kepada Nanda tanpa ada yang ditutupi sedikit pun tentang peristiwa enam tahun yang lalu!"
Andre dan Indra saling lirik dengan dahi yang dibanjiri keringat dingin. Indra menyenggol lengan sahabatnya. "Dre, elo dulu yang cerita dari awal, nanti bagian tengah ke belakang baru gue yang nyusul!"
Sambil menghembuskan napas panjang untuk menata detak jantungnya, Andre akhirnya memberanikan diri menatap Ananda yang sudah berkaca-kaca.
"Nanda... Tristan... Sehari sebelum acara pesta malam Halloween itu dimulai, aku... aku sebenarnya diperintahkan oleh seseorang untuk mencekoki mu dengan minuman beralkohol dosis tinggi. Rencana awal orang itu adalah membuatmu tak berdaya, lalu menjebak mu agar tidur dengan salah satu dosen pembimbing kita, yaitu Pak Dani," ungkap Andre jujur.
Deg!
Seketika Ananda dan Tristan terkejut bukan main. Napas Ananda tertahan di tenggorokan, tidak menyangka bahwa persekongkolan malam itu jauh lebih busuk dari yang ia bayangkan selama ini.
"Ayo ceritakan semuanya, Dre! Jangan setengah-setengah! Aku benar-benar tidak tahu ada skenario gila seperti ini!" desak Tristan, rahangnya mengeras.
Andre mengangguk pasrah. "Orang itu kesal karena Pak Dani telah membuatnya kecewa dan skripsinya dinilai tidak sempurna, bahkan disuruh revisi sampai ketiga kalinya. Rencananya, kau akan diculik dari pesta, dicekoki, lalu ditaruh di kamar Hotel Permata yang sudah dipesan atas nama Pak Dani agar karir dosen itu hancur sekaligus namamu tamat. Tapi... mengingat kebaikan Pak Dani yang selama ini sering membantuku dalam urusan akademis, aku tidak tega menghancurkannya."
Andre menunduk, meremas jemarinya sendiri. "Di saat yang sama, aku memang sedang sangat kesal dan iri padamu, Tristan. Di kampus, kau selalu unggul dalam segala hal. Bahkan wanita yang sejak lama aku sukai, malah terang-terangan naksir dan mengejar mu. Di situlah sisi iblisku keluar. Aku mengubah rencana orang itu secara sepihak untuk mengerjai mu. Aku ingin kau yang menggantikan posisi Pak Dani malam itu di kamar hotel."
Andre melirik Tristan dengan rasa bersalah yang amat dalam. "Sebelum pesta dimulai, aku memasukkan zat aphrodisiac dosis kuat ke dalam minumanmu. Waktu itu, aku yang meminta Indra untuk membeli obat itu di pasar gelap. Dan sebenarnya, Indra sama sekali tidak tahu obat itu akan digunakan untuk apa. Hanya aku... dan orang yang memerintah ku yang tahu."
Air mata Ananda menetes perlahan membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak dan perih menyadari betapa biadabnya orang-orang di masa lalunya yang tega menjadikan kehormatan dan masa depannya sebagai alat balas dendam serta taruhan ego.
Melihat Andre menjeda ceritanya, Indra segera menyambung dengan suara bergetar. "Dan setelah kau mulai tidak sadarkan diri akibat pengaruh obat itu di aula pesta, Tristan... aku dan Andre yang membopongmu keluar menuju mobil, lalu membawa masuk dirimu ke dalam kamar Hotel Permata. Di dalam kamar itu, si itik... maksudku Nanda, sudah terbaring di atas ranjang tempat tidur."
Indra menatap Ananda dengan tatapan memelas penuh penyesalan. "Nanda, malam itu kau sebenarnya masih setengah sadar saat dibawa ke hotel. Tapi, orang yang membawamu dari area pesta ke kamar hotel... aku sempat melihat dari kejauhan sebelum dia kabur, dia tega memukul bagian belakang tengkukmu dengan keras sampai kau benar-benar pingsan total agar tidak bisa melawan."
Mendengar kronologi yang begitu runtut, Tristan mengepalkan kedua tangannya di atas meja hingga urat-urat di lengannya menonjol tajam. Matanya berkilat murka, siap menghancurkan siapa saja.
"Lantas, siapa orangnya? Siapa bajingan yang sudah berani memerintahkan mu dari awal untuk menjebak Nanda dan Pak Dani, Andre?! Cepat katakan!" bentak Tristan habis kesabaran, suaranya menggelegar rendah hingga membuat beberapa pelayan kafe menoleh takut.
Andre menelan ludahnya dengan susah payah, ia memantapkan hatinya untuk membuka dalang utama di balik hancurnya masa lalu mereka.
"Orang itu... orang itu adalah Bella, Tristan. Ya, Bella! Dia yang sejak awal terobsesi padamu dan ingin menghancurkan Nanda karena dia tahu kau diam-diam sering memperhatikan si itik, sekaligus ingin menyingkirkan Pak Dani!" jawab Andre lantang
BRAKKK!
Tristan tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya dan menggebrak meja kayu di hadapan mereka dengan sangat keras. Suara hantaman itu berdentang nyaring di dalam kafe yang sepi, mengejutkan Andre, Indra, dan bahkan membuat Ananda tersentak kaget hingga refleks menoleh ke arah area bermain memastikan Elvano tidak ketakutan.
"Dasar bedebah kau, Bella!" bentak Tristan dengan suaranya yang bergetar hebat. Kedua tangannya mengepal kuat di sisi tubuh hingga kuku jarinya memutih, sementara rahang dan wajahnya mengeras menahan amarah yang membakar dada.
Andre menelan ludah, mencoba menenangkan Tristan sebelum melanjutkan kesaksiannya yang belum selesai. "Malam itu, setelah rencana awal berantakan, Bella mencari mu ke mana-mana, Tristan. Namun, aku terpaksa berbohong padanya. Aku bilang kalau kau mabuk berat akibat alkohol di pesta dan aku sudah mengantarkan mu pulang dengan aman ke mansion Bratadikara."
Andre menghela napas pendek, tatapannya beralih pada Ananda yang menyimak dengan mata berkaca-kaca. "Dan keesokan harinya, saat kau mengamuk di kampus mencari tahu siapa wanita di kamar hotel itu, di sanalah Bella akhirnya tahu bahwa pria yang tidur dengan si itik bukanlah Pak Dani... melainkan kau, Tristan. Bella benar-benar murka karena rencananya gagal total dan pria yang dia gila-gilai justru tidur dengan wanita lain."
"Lalu, apa hubungannya dengan kebangkrutan keluargamu, Dre?" tanya Indra yang baru pertama kali mendengar bagian ini.
"Bella membalas dendam padaku," jawab Andre dengan senyum kecut yang sarat akan kepedihan masa lalu. "Dia menggunakan kekuasaan koneksi bisnis keluarganya untuk menghancurkan perusahaan ayahku sampai bangkrut total. Karena itulah, setelah lulus kuliah aku terpaksa langsung bekerja keras menjadi tulang punggung keluarga. Beruntungnya, Tuan Samuel sangat baik dan beliau masih memiliki hubungan kerabat bisnis dengan Papah ku, sehingga aku bisa mendapatkan posisi yang layak di Wilmar World Group."
Mendengar seluruh rangkaian cerita yang begitu sinkron dan masuk akal, benteng pertahanan dan kebencian di hati Ananda perlahan mulai runtuh. Ia akhirnya mulai percaya bahwa selama enam tahun ini telah terjadi kesalahpahaman yang teramat besar antara dirinya dengan Tristan. Pria di hadapannya ini murni adalah seorang korban yang dijebak dan dieksploitasi biologisnya, sama sekali tidak mengetahui rencana biadab yang dirancang oleh Bella.
Tristan perlahan meredam emosinya, lalu mendudukkan diri kembali. Ia menoleh ke arah Ananda, menatap lekat sepasang bola mata wanita yang teramat dicintainya itu dengan sorot mata yang melunak dan sarat akan penyesalan.
"Sekarang... apakah kau sudah percaya padaku, Nanda? Bahwa malam itu aku juga telah dijebak oleh mereka?" tanya Tristan dengan suara yang melembut. "Dan... dan aku juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya atas sikap buruk ku dulu yang sering merundung mu saat di kampus."
Melihat Tristan menurunkan egonya, Indra ikut memajukan tubuhnya dengan wajah memelas. "Saya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya padamu, Nanda. Karena ketidaktahuanku dan ketakutanku dulu, kau harus menanggung semuanya sendiri. Kau boleh menghukum kami berdua, Nanda. Aku pasrah."
"Kesalahanku jauh lebih fatal, Nanda," timpal Andre, kepalanya tertunduk dalam menatap meja dengan rasa penyesalan yang teramat pekat. "Aku yang membawa Tristan ke kamarmu dan merusak masa depanmu demi ego dan rasa iri ku. Mungkin aku memang tidak pantas untuk mendapatkan maaf darimu, tapi aku tetap ingin meminta maaf yang setulus-tulusnya padamu."
Ananda masih bergeming, air matanya perlahan menetes melewati pipi mulusnya. Terlalu banyak kebenaran yang menghantam kepalanya dalam waktu satu jam ini.
Di tengah keheningan itu, Tristan kembali membuka suara, menatap Ananda dengan senyuman tipis yang terasa getir. "Nanda... kau tahu kenapa dulu aku semakin menjadi-jadi membully dan mengganggumu saat di kampus?"
Ananda yang masih setengah tercengang hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, tidak tahu harus merespons apa.
"Itu karena aku diam-diam suka sama kamu, Nanda," ungkap Tristan jujur, menyuarakan rahasia terbesar yang ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya sejak masa kuliah.
Deg!
Jantung Ananda seolah berhenti berdetak sesaat. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Bagaimana mungkin seorang Tristan Bratadikara, pangeran kampus yang dipuja banyak wanita cantik dan modis bisa menyukai dirinya yang dulu sangat cupu, berantakan, dan dijuluki si itik buruk rupa?
Sebelum Ananda sempat mencerna keterkejutannya, Tristan mengulurkan tangan kekarnya di atas meja. Dengan gerakan yang teramat lembut dan penuh kehati-hatian, ia menggenggam jemari tangan Ananda yang terasa dingin.
Tristan menatap lurus ke dalam sepasang bola mata Ananda, memancarkan seluruh kesungguhan jiwa yang ia miliki. "Nanda... aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, sejak dulu hingga detik ini."
Bersambung...