Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Dilamar Amanda
Kamil sudah duduk di sofa ruang tamu apartemen Amanda, punggungnya tegak, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Ada ketegangan yang jelas terlihat dari caranya menahan diri. Bukan tanpa alasan—di sampingnya, Amanda bersandar santai, bahkan menyandarkan kepala di bahunya seolah itu hal yang biasa.
Kamil sempat menoleh sekilas, kikuk. Aroma parfum Amanda samar tercium, membuat suasana terasa semakin canggung baginya.
"Man… coba ceritakan apa yang terjadi sampai kamu nangis begini,” ucapnya hati-hati. "Jangan-jangan karena diputuskan Aldo ya?”
Amanda langsung mengangkat kepalanya, menegakkan tubuh, ekspresinya berubah sedikit kesal.
"Jangan bahas itu,” jawabnya singkat. “Dia memang sudah pergi tanpa pesan. Tapi aku gak masalah kok. Aku gak bucin, jadi biasa aja.”
Kamil mengangguk pelan, meski jelas raut wajah Amanda barusan tidak sepenuhnya sejalan dengan ucapannya.
"Lantas, apa yang bikin kamu nangis?” tanyanya lagi, lebih serius.
Amanda menarik napas panjang, pandangannya kosong sesaat sebelum akhirnya berbicara.
"Minggu lalu aku ditelepon mama sama papa,” katanya pelan. “Katanya aku akan dijodohkan sama anak teman mereka.”
Kamil sedikit terkejut, tapi mencoba tetap santai. "Ya baguslah,” katanya ringan. “Orang tuamu pasti menginginkan yang terbaik buat kamu.”
Amanda langsung menoleh tajam, lalu tanpa ragu memukul lengan Kamil pelan.
"Ah kamu bilang gitu,” protesnya. “Kamu aja nolak perjodohan pakai cara ekstrim.”
Kamil tertawa kecil, agak malu, menggaruk belakang kepalanya. “Iya sih… ya sudah, lanjutkan ceritanya.”
Amanda kembali menarik napas, kali ini lebih berat.
"Mereka bakal terus maksa kalau aku belum punya pasangan,” lanjutnya. Suaranya mulai terdengar tertekan.
Kamil mulai menangkap arah pembicaraan itu. Alisnya sedikit terangkat.
"Terus… kamu mau ngajak aku pura-pura jadi pasanganmu?” potongnya, setengah bercanda, setengah serius.
Amanda menggeleng pelan.
"Nggak pura-pura, Mil,” katanya tegas.
Kamil langsung menoleh penuh.
"Tapi beneran,” lanjut Amanda, menatap lurus ke matanya. “Maukah kamu jadi pasanganku?”
Kamil terdiam sejenak. “Maksud kamu?”
Amanda menelan ludah, tapi tidak mengalihkan pandangan.
"Nikahilah aku… segera,” ucapnya, suara yang tadi sempat goyah kini terdengar mantap. “Biar aku bisa lepas dari paksaan mama dan papa. Aku sudah mikirin ini semalaman. Dari semua yang pernah nyatain perasaan ke aku… kamu yang paling tulus. Kamu yang paling mau berkorban.”
Dan di detik itu—
Kamil membeku. Seolah dunia di sekitarnya mendadak kehilangan suara. Matanya membesar, napasnya tertahan. Ia menatap Amanda lekat-lekat, mencoba mencerna kalimat yang baru saja ia dengar. Otaknya seperti menolak bekerja beberapa detik.
Matanya memang membesar, napasnya sempat tertahan—tapi bukan karena ragu.
Justru sebaliknya.
Di dalam dadanya, sesuatu meledak begitu cepat—perasaan yang selama ini ia pendam rapat, harapan yang diam-diam pernah ia bayangkan… tiba-tiba berdiri nyata di depannya.
Amanda. Memintanya menikah.
Kalau saja Amanda bisa mendengar isi hatinya saat itu, mungkin dia akan tahu—Kamil ingin langsung menjawab tanpa berpikir panjang.
Iya.
Seribu kali iya.
Namun Kamil bukan orang yang gegabah. Ia tahu, jika ia terlalu cepat menunjukkan perasaannya, Amanda bisa saja mundur… atau lebih buruk, menyadari bahwa keputusan ini hanya didorong oleh keadaan.
Maka dengan sisa kendali yang ia punya, Kamil menahan dirinya.
Ia memalingkan wajah sejenak, mengusap dagunya pelan, seolah sedang berpikir keras. Padahal sebenarnya, ia sedang menyembunyikan senyum yang hampir saja lolos.
"Kamu… ngomong apa, Man?” ucapnya akhirnya, berusaha terdengar terkejut.
Padahal jantungnya berdetak bukan karena kaget—melainkan karena bahagia.
Ia menoleh lagi ke arah Amanda, kali ini dengan tatapan yang lebih dalam, tapi tetap dijaga agar tidak terlalu hangat.
"Apa kamu sadar sama yang kamu minta?” lanjutnya, nada suaranya dibuat serius.
Di dalam hatinya, kalimat itu terasa ironis.
Karena justru dia yang sudah lama sadar… bahwa Amanda adalah seseorang yang ingin ia perjuangkan.
Namun Kamil tetap memainkan perannya dengan rapi.
Ia menarik napas panjang, lalu menyandarkan punggungnya, berpura-pura mempertimbangkan sesuatu yang sebenarnya sudah ia putuskan sejak awal.
"Man… ini bukan hal kecil,” katanya pelan. "Nikah itu bukan solusi instan.”
Sementara di dalam dirinya, suara lain berbisik—
Kalau ini jalan untuk bersamamu, aku bahkan tidak butuh alasan lain.
Tatapannya kembali ke Amanda. Kali ini lebih lembut, meski ia berusaha menyamarkannya dengan ekspresi datar.
"Kamu yakin ini keputusan kamu… atau cuma karena kamu lagi terdesak?”
Pertanyaan itu keluar bukan untuk menolak. Melainkan untuk memastikan. Karena meskipun hatinya sedang berbunga-bunga, Kamil tidak ingin menjadi sekadar pelarian. Ia ingin—kalau ini benar-benar terjadi—Amanda memilihnya. Bukan karena keadaan. Tapi karena memang… menginginkannya.
"Mil, aku yakin dengan keputusan ini. Aku berharap banget kamu mau…” suaranya sedikit bergetar, lalu ia menelan ludah sebelum melanjutkan, “tapi kalau kamu keberatan… aku mau mencoba aja ketemu sama calon yang mama papa siapin. Siapa tahu aku suka.”
Amanda mengucapkannya dengan hati-hati, tapi cukup jelas untuk membuat suasana berubah.
Kalimat itu jatuh begitu saja di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak tadi, ekspresi Kamil benar-benar berubah.
Ia yang sebelumnya terlihat tenang, bahkan sedikit “jual mahal, langsung menoleh cepat ke arah Amanda. Ada kilatan kaget yang tidak sempat ia sembunyikan. Dadanya seperti tersentak.
Apa? Mencoba ketemu calon yang disodorkan mama papanya? Pikirannya yang tadi santai, merasa di atas angin, mendadak goyah.
Selama ini ia merasa punya posisi aman—bahwa Amanda akhirnya akan kembali padanya. Bahwa ia bisa sedikit “menarik ulur” tanpa risiko. Tapi ucapan Amanda barusan seperti menyadarkannya… bahwa ia bisa kehilangan lagi.
Dan kali ini, mungkin untuk selamanya.
"Siapa tahu aku suka.”
Kalimat itu terngiang di kepalanya, menusuk lebih dalam dari yang ia kira.
Kamil menghela napas, berusaha mengembalikan kendali dirinya. Tapi jelas, ritme napasnya berubah. Tangannya yang tadi santai kini saling mengunci, seolah menahan sesuatu.
Ia menatap Amanda lebih lama sekarang. Bukan lagi dengan sikap menahan, tapi dengan kesadaran baru—bahwa ia tidak bisa terlalu lama bermain.
Kalau dia terus “jual mahal”… Amanda bisa benar-benar pergi.
Dan Kamil tidak siap untuk itu.
"Amanda…” suaranya kali ini lebih rendah, lebih serius.
Ia berhenti sebentar, seperti menimbang, tapi sebenarnya ia sedang menahan keinginan untuk langsung menjawab tanpa pikir panjang.
Namun pada akhirnya, yang keluar justru kejujuran yang tidak sempat ia bungkus lagi.
"Iya.”
Singkat. Tegas. Hampir terburu-buru.
Seolah ia takut jika ia menunda satu detik lagi, Amanda akan benar-benar memilih jalan lain.
Tatapan Kamil kini tidak lagi menghindar. Ada kecemasan yang terselip di sana—tipis, tapi nyata.
Bukan karena ragu.
Tapi karena takut… apa yang Amanda katakan tadi benar-benar terjadi.
mantappp