NovelToon NovelToon
Tak Terkalahkan Sejak Awal

Tak Terkalahkan Sejak Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Chu Xuan menjadi orang pertama dalam sejarah yang menolak reinkarnasi.

Karena murka, utusan akhirat mengutuknya untuk menjalani delapan belas tahun kehidupan yang penuh penderitaan di dunia kultivasi tanpa bakat, tanpa kekayaan, dan tanpa harapan.

Setelah kehilangan satu-satunya keluarga yang membesarkannya dan hidup sendirian selama tiga tahun di sebuah kuil tua yang hampir roboh, Chu Xuan akhirnya disambar petir pada usia delapan belas tahun.

Hari itu, seluruh dunia kultivasi tidak mengetahui satu hal:

Orang paling malas di dua dunia akhirnya memperoleh kekuatan untuk menjadi tak terkalahkan.

Namun, Chu Xuan hanya memiliki satu tujuan.

Memperbaiki atap Kuil Qingfeng.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 — Tiga Tahun Kesunyian

Hari pemakaman Pertapa Qingfeng turun hujan.

Sama seperti malam ketika Chu Xuan pertama kali tiba di Kuil Qingfeng.

Penduduk desa di kaki Pegunungan Tianyun datang membawa bunga liar dan dupa. Bahkan Tuan Muda Wang, yang kini telah menjadi seorang kultivator sekte luar, diam-diam mengirimkan sebuah peti mati kayu yang layak.

Tidak banyak yang diucapkan hari itu.

Karena semua orang tahu bahwa Pertapa Qingfeng telah hidup dengan baik.

Dan semua orang juga tahu...

...bahwa anak bernama Chu Xuan itu kehilangan satu-satunya keluarga yang dimilikinya.

"Aku turut berduka."

"Hm."

"Jika kau membutuhkan bantuan, datanglah ke desa."

"Hm."

"Jangan lupa makan."

"Hm."

Sepanjang hari, Chu Xuan hanya mengucapkan satu suku kata.

Pada akhirnya, setelah semua orang pergi, hanya tersisa dirinya dan sebuah gundukan tanah sederhana di belakang Kuil Qingfeng.

Di atas batu nisan itu tertulis:

Makam Pertapa Qingfeng.

Orang tua yang terlalu baik hati.

Chu Xuan menatap tulisan itu cukup lama.

"Aku tidak tahu nama asli Kakek."

Angin gunung bertiup pelan.

"Tapi kurasa... Pertapa Qingfeng juga bukan nama yang buruk."

Tidak ada jawaban.

Tentu saja tidak ada.

Karena orang yang selalu menjawabnya sudah tidak ada lagi.

Hari-hari setelah itu berlalu dengan lambat.

Sangat lambat.

Chu Xuan tetap bangun sebelum matahari terbit.

Tetap menyapu halaman.

Tetap memperbaiki atap.

Tetap memasak bubur.

Hanya saja...

...kini semuanya dilakukan sendirian.

Kadang-kadang, dia masih tanpa sadar menyiapkan dua mangkuk.

Baru setelah beberapa detik dia menyadari bahwa tidak ada lagi orang yang akan duduk di hadapannya.

Maka, dia akan menghabiskan keduanya.

"Tidak boleh membuang makanan."

Begitu kata Pertapa Qingfeng.

Musim berganti.

Dari musim semi ke musim panas.

Dari musim panas ke musim gugur.

Dari musim gugur ke musim dingin.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Chu Xuan mulai mengerti bahwa waktu tidak pernah berhenti untuk siapa pun.

Pada tahun pertama, dia masih sering berbicara di depan makam.

"Hari ini atapnya bocor lagi."

"Tapi aku berhasil memperbaikinya."

"Meski terlihat lebih buruk dari sebelumnya."

Pada tahun kedua, kata-katanya mulai berkurang.

"Hari ini aku makan telur."

"...Aku rasa Kakek pasti iri."

Pada tahun ketiga...

...dia hanya duduk di depan makam dalam diam.

Kini, Chu Xuan telah berusia delapan belas tahun.

Tubuhnya lebih tinggi.

Wajahnya lebih dewasa.

Namun, tidak banyak hal lain yang berubah.

Dia masih miskin.

Masih tidak memiliki bakat kultivasi.

Dan Kuil Qingfeng masih berdiri dengan keras kepala di puncak gunung.

Suatu sore, Chu Xuan duduk di tangga kuil sambil memandang langit yang mulai memerah.

"Sudah tiga tahun, ya..."

Tidak ada jawaban.

Dia tersenyum kecil.

Aneh.

Dia sudah mulai terbiasa dengan kesunyian.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah berubah selama tiga tahun terakhir.

Setiap malam sebelum tidur, dia selalu melihat ke arah kursi kosong di sudut ruangan.

Dan setiap pagi ketika bangun...

...sebagian kecil dari dirinya masih berharap akan mendengar seseorang berkata:

"Xiao Xuan, bangun."

Sayangnya, harapan tetaplah harapan.

Pada malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Chu Xuan membawa semangkuk bubur ke belakang kuil.

Dia meletakkannya di depan batu nisan.

"Kakek."

Angin malam bertiup pelan.

"Aku memperbaiki atapnya."

"Hanya butuh tujuh belas kali percobaan."

"Tapi rasanya masih tidak sebaik milik Kakek."

Keheningan.

"Lagipula..."

Chu Xuan menghela napas panjang.

"...aku sudah bilang kalau atap ini harus diganti sejak lama."

Dia duduk di depan makam hingga larut malam.

Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, sebuah pertanyaan yang selama ini dia hindari akhirnya keluar dari mulutnya.

"Kakek..."

"...apa yang harus kulakukan sekarang?"

Tidak ada yang menjawab.

Namun, jauh di atas langit Pegunungan Tianyun, awan hitam perlahan mulai berkumpul.

Seolah-olah...

...sesuatu akhirnya memutuskan bahwa delapan belas tahun penderitaan Chu Xuan telah berlangsung cukup lama.

Awan hitam terus berkumpul di atas Pegunungan Tianyun.

Angin malam yang biasanya tenang mulai berubah liar, membuat pepohonan di sekitar Kuil Qingfeng bergoyang tanpa henti.

Chu Xuan mengangkat kepalanya.

"Hujan?"

Sudah lama sejak dia melihat badai sebesar ini.

Guntur bergemuruh di kejauhan.

BOOM!

Cahaya petir membelah langit, menerangi seluruh puncak gunung untuk sesaat.

Namun, Chu Xuan tidak terlalu memedulikannya.

Dia lebih memikirkan satu hal.

"Kalau hujan turun, atapnya akan bocor lagi."

"..."

"Tidak. Lupakan."

Dia menghela napas panjang.

"Atapnya memang selalu bocor."

Chu Xuan berdiri dari depan makam Pertapa Qingfeng sambil membawa mangkuk kosongnya.

Sebelum masuk ke dalam kuil, dia menoleh sekali lagi ke arah batu nisan.

"Kakek."

Angin malam menjawab dengan kesunyian.

"Aku rasa aku sudah lelah."

Dia tersenyum kecil.

"Lagipula, aku sudah hidup selama empat puluh lima tahun jika menghitung kehidupan sebelumnya."

Petir kembali menyambar langit.

"Aku sudah mencoba menjaga Kuil Qingfeng."

"Meski jujur saja, hasilnya tidak terlalu bagus."

BOOM!

Guntur kali ini terdengar lebih dekat.

Chu Xuan mengabaikannya.

"Kakek, menurutmu apa utusan akhirat itu masih marah padaku?"

Tidak ada jawaban.

"Tentu saja dia masih marah."

Dia menggeleng pelan.

"Orang tua memang pendendam."

BOOOOM!

Petir kali ini jatuh tidak jauh dari halaman kuil.

Chu Xuan berkedip.

"Itu terlalu dekat."

Dia kembali menatap langit.

"Jangan bilang dia mendengarku."

Keheningan.

Kemudian...

"Hari ini aku makan bubur tanpa telur."

BOOM!

"Aku juga belum menjadi kaya."

BOOOM!

"Dan atap kuil masih bocor."

BOOOOOOM!

Chu Xuan terdiam.

"Kenapa setiap kali aku mengeluh, petirnya semakin keras?"

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, dia tertawa kecil.

"Kakek, sepertinya utusan akhirat itu benar-benar mendengarku."

Dia lalu melipat kedua tangannya dan menatap langit.

"Kalau memang kau mendengarku, setidaknya kirimkan aku sedikit uang!"

Langit terdiam selama beberapa detik.

Kemudian—

CRAAACK!!

Sebuah petir hitam pekat turun dari langit, langsung mengarah ke tempat Chu Xuan berdiri.

Chu Xuan hanya sempat mengucapkan satu kalimat.

"...Aku bercanda."

BOOOOOOM!!

Cahaya menyilaukan menyelimuti seluruh Pegunungan Tianyun.

Tubuh Chu Xuan terpental puluhan meter sebelum jatuh tepat di depan Aula Utama Kuil Qingfeng.

Asap hitam mengepul dari tubuhnya.

Rambutnya berdiri.

Pakaiannya hangus.

Bahkan wajahnya telah berubah menjadi hitam pekat.

Setelah beberapa saat, Chu Xuan perlahan membuka mulutnya.

"Aku menarik kembali ucapanku..."

Bruk.

Kepalanya kembali membentur tanah.

Pada saat yang sama, jauh di langit, awan hitam mulai berputar membentuk pusaran raksasa.

Aura kuno yang tak terlukiskan perlahan menyebar dari tubuh Chu Xuan.

Aura itu begitu kuat hingga seluruh kultivator dalam radius ribuan kilometer secara bersamaan membuka mata mereka.

Di sebuah sekte kuno, seorang tetua tiba-tiba berdiri.

"Aura harta karun tertinggi!"

Di sebuah kerajaan, seorang kultivator tua menjatuhkan cangkir tehnya.

"Mustahil! Pegunungan Tianyun?"

Bahkan jauh di dalam sebuah tanah terlarang, sepasang mata kuno yang telah tertutup selama ratusan tahun perlahan terbuka.

"Sebuah kesempatan besar telah lahir."

Dalam sekejap, sosok-sosok kuat mulai bergerak menuju Pegunungan Tianyun.

Sementara itu...

...di depan Aula Utama Kuil Qingfeng.

Chu Xuan yang masih gosong perlahan mengangkat satu jari.

"Aku hanya meminta uang..."

Tepat pada saat itu, sebuah suara kuno dan dingin bergema di kedalaman jiwanya.

Di belakang Chu Xuan, bayangan samar Pertapa Qingfeng seolah tersenyum sebelum perlahan menghilang tertiup angin.

【Seluruh penderitaan telah diverifikasi.】

【Delapan belas tahun masa hukuman telah berakhir.】

【Kecocokan jiwa: Sempurna.】

【Sistem Kuil Tak Terkalahkan berhasil diaktifkan.】

Untuk sesaat...

...seluruh dunia seakan terdiam.

Chu Xuan berkedip.

Kemudian, dengan suara serak, dia mengucapkan satu kalimat yang telah dia tunggu selama delapan belas tahun.

"...Apakah sistem ini punya fungsi untuk memperbaiki atap?"

Bersambung...

1
obeng min
tambah banyak up-nya tambah jos pula ketua mantap👍👍👍👍👍
obeng min
selalu top
obeng min
top👍👍👍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
sikat😍
Hadi Hadi
bantai💪💪
obeng min
selalu dedepan mantap🤣🤣🤣👍
obeng min
upnya kurg banyak ketua👍👍👍👍👍
andi widya
kerennn
obeng min
mantao ketua 💪💪💪💪💪
Hadi Hadi
bantai
Hadi Hadi
semangat🤭🤭
Hadi Hadi
is good😍😍
Hadi Hadi
is good💪
Hadi Hadi
is good💪💪
Hadi Hadi
semangat💪💪
Hadi Hadi
up up💪💪
obeng min
👍👍👍👍👍👍
obeng min
💪💪💪
obeng min
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!