Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tidak Terduga
Matahari pagi yang tadinya lembut kini mulai memancarkan hawa menyengat di atas aspal Tambora, namun panas yang paling menyiksa justru bukan berasal dari langit. Panas itu menjalar dari dalam dada Arya Prasetya sendiri, tepat di titik di mana bibirnya masih menyimpan jejak kehangatan yang tak kunjung menguap sejak subuh tadi.
Sejak kejadian di depan gerbang rumah mewah Kebayoran Baru itu, Arya merasa dunianya sedikit bergeser dari porosnya. Setiap kali dia menutup mata sepersekian detik saja—entah saat menunggu lampu merah atau saat berhenti mengambil napas—bayangan wajah Alya Nindita yang merona merah, disusul sensasi lembut yang mendarat tiba-tiba di bibirnya, langsung memutar ulang di kepalanya seperti kaset rusak yang menolak berhenti.
"Woyyy... Arya, fokus! Lu ini lagi narik ojol, bukan lagi syuting drama percintaan remaja SMA!" rutuk Arya dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepala kuat-kuat di dalam helm INK-nya, berusaha mengusir bayangan itu. Namun usahanya sia-sia. Ibu jarinya secara refleks kembali menyentuh bibir bawahnya sendiri—kebiasaan baru yang tanpa sadar sudah dia lakukan berkali-kali sejak tadi pagi, dan yang sialnya, sudah tertangkap basah oleh mata jeli Bang Jay dan Dedi.
Baru saja Arya berniat menepikan motornya untuk menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil sejak subuh, kantong jaket premiumnya bergetar dengan pola yang sudah sangat ia kenali.
TING-TONG!
[NOTIFIKASI SISTEM: DETEKSI DINAMIKA SOSIAL AKTIF!]
[Analisis Rute Navigasi: Sistem mendeteksi fluktuasi energi takdir di radius 15 kilometer dari koordinat Driver. Lokasi Target: Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur. Status Poros Restu Utama: Ibu Kandung Driver (Ibu Aminah) terdeteksi berada di episentrum aktivitas logistik pangan dengan tingkat kelelahan fisik mendekati ambang batas.]
[MISI DARURAT HARIAN: OPERASI PENYELAMATAN POROS RESTU! Batas Waktu Evakuasi Taktis: 15 Menit. Kegagalan Misi: Motor Supra Fit dikutuk kembali menjadi bebek mogok knalpot copot di jalan layang.]
Seluruh kegalauan asmara Arya seketika lenyap tak bersisa, digantikan kepanikan murni seorang anak yang mendengar ibunya dalam bahaya. "Ibu ngapain sih ke Kramat Jati sendirian?!" serunya panik sambil menarik gas dalam-dalam, melupakan sejenak drama bibirnya sendiri demi drama yang jauh lebih penting: keselamatan wanita yang melahirkannya.
Motor bebek tua itu melesat membelah kemacetan Jakarta Timur dengan kelincahan yang tidak masuk akal, dan tepat pada detik kesebelas menit empat puluh lima, Arya sudah berdiri terengah di depan sebuah teras toko grosir kain di tengah hiruk-pikuk pasar induk.
Namun begitu matanya menangkap pemandangan di depannya, seluruh tubuh Arya mendadak membeku sempurna, seolah waktu berhenti berputar.
Di atas bangku kayu panjang, Ibu Aminah duduk tenang sambil menggenggam segelas air mineral, wajahnya sudah kembali segar. Dan di sampingnya, dengan stetoskop masih melingkar di leher jenjangnya yang putih bersih, duduk Alya Nindita—gadis yang bibirnya baru beberapa jam lalu menciptakan gempa di seluruh sistem saraf Arya.
"MAMPUS." Hanya satu kata itu yang bisa terlintas di kepala Arya. Bukan makian, bukan kepanikan sistem, melainkan kepanikan murni seorang lelaki muda yang baru saja dicium dan sekarang harus berhadapan langsung dengan pelakunya—di depan ibunya sendiri.
"Ibu! Arya di sini, Bu!" panggilnya, namun suaranya sendiri terdengar aneh di telinganya—terlalu tinggi satu oktaf dari biasanya, seolah pita suaranya ikut gugup.
Alya menoleh, dan begitu pandangan mereka bertemu, kedua pasang mata itu langsung saling melempar arah dengan kecepatan cahaya, seperti dua magnet dengan kutub yang sama. Wajah Alya yang tadinya tenang seketika berubah merah padam hingga ke telinga. Bibirnya yang tipis membuka sedikit, seolah hendak berkata sesuatu, namun tidak ada satu kata pun yang keluar—hanya helaan napas kecil yang tercekat.
"M-Mas... Mas Arya," bisik Alya akhirnya, suaranya bergetar jauh lebih hebat dibanding saat dia memeriksa detak jantung Ibu Aminah beberapa menit lalu. Ironisnya, detak jantung sang calon dokter sendiri kini justru yang paling tidak beraturan di antara semua orang di pasar itu.
Arya berdiri mematung dua meter dari mereka, tangannya yang tadi sigap membawa kantong belanjaan kini terasa kaku seperti dikanji. Ia membuka mulut, berniat menyapa balik dengan santai seperti biasa, namun yang keluar hanyalah, "I—Ehm. Iya. Pagi, Mbak Alya. Eh, maksudnya, siang. Eh—" Arya menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal, matanya melirik ke segala arah kecuali ke wajah Alya, seolah ada sesuatu yang sangat menarik di atap terpal pasar yang sudah bolong-bolong.
Kedua anak muda itu—yang beberapa jam lalu terlibat dalam momen paling intim sepanjang hidup mereka masing-masing—kini berdiri kaku bagai dua patung yang lupa cara berbicara, saling melempar pandangan sepersekian detik lalu buru-buru membuang muka begitu mata mereka bersirobok, diulang berkali-kali dengan pola yang persis sama, seperti dua remaja SMP yang baru pertama kali jatuh cinta.
Ibu Aminah, yang duduk di antara mereka berdua, awalnya hanya menatap heran melihat tingkah kikuk anak semata wayangnya itu. Namun sebagai seorang ibu yang sudah puluhan tahun makan asam garam kehidupan dan membaca gerak-gerik anaknya sejak dari dalam kandungan, mata tuanya yang teduh langsung menangkap sesuatu yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa canggung biasa.
"Lho... kok Arya ini beda banget ya reaksinya sama Nduk Alya? Biasanya kalau ketemu penumpang cantik dia paling cuma senyum-senyum sopan terus salah tingkah dikit. Tapi ini... kok kayak abis ketangkep basah nyolong mangga tetangga?" batin Ibu Aminah, diam-diam mengamati wajah anaknya yang merah padam dan telinganya yang memerah hingga ke ujung daun telinganya sendiri.
Beliau lalu melirik ke arah Alya yang juga tak kalah kikuk—tangan gadis itu meremas ujung tunik linennya sendiri, matanya menunduk menatap ujung sepatu, namun sesekali mencuri pandang ke arah Arya dengan gerakan yang begitu jelas terbaca oleh naluri keibuannya yang tajam.
"Ya ampun... jangan-jangan..." Ibu Aminah menahan senyumnya sendiri, mencoba menyembunyikan kegelian dan kehangatan yang tiba-tiba menyeruak di dadanya. Sebagai seorang ibu yang selama ini hanya bisa berdoa diam-diam agar anaknya yang pekerja keras itu suatu hari menemukan pendamping hidup yang tulus—bukan sekadar cantik, tapi juga berhati baik seperti Alya yang baru saja dilihatnya sendiri merawat dirinya tanpa pamrih—melihat gelagat canggung kedua anak muda ini justru membuat hatinya diam-diam bersorak gembira.
Namun, alih-alih menginterogasi seperti yang biasa dilakukan Bang Jay dan Dedi, Ibu Aminah memilih jalan yang jauh lebih lembut. Beliau pura-pura tidak menyadari apa pun, lalu dengan gerakan yang tampak alami, beliau berdiri sambil sedikit terhuyung.
"Aduh, kepala Ibu masih agak pening nih," ujar Ibu Aminah sengaja mendramatisir sedikit, meskipun sebenarnya tubuhnya sudah cukup segar berkat pertolongan Alya tadi. "Arya, tolong dong bawain kantong belanjaan yang di sebelah situ. Ibu mau duduk sebentar lagi sambil ngobrol sama Nduk Alya. Kamu urusin belanjaannya dulu ya, biar gak keburu layu sayurnya kena panas."
Taktik halus itu berhasil memberi Arya alasan untuk mengalihkan kegugupannya ke aktivitas fisik. Ia segera membungkuk mengangkat kantong-kantong plastik berat itu, mensyukuri kesempatan untuk tidak harus menatap wajah Alya barang sedetik pun.
Sepeninggal Arya yang sibuk memilah belanjaan di dekat motor, Ibu Aminah kembali duduk di samping Alya, menatap gadis muda itu dengan senyuman keibuan yang penuh kehangatan.
"Nduk Alya," panggil Ibu Aminah lembut, membuat Alya tersentak kecil dari lamunannya sendiri. "Kayaknya kamu sama Arya udah kenal cukup dekat ya? Bukan cuma sekadar penumpang sama driver biasa."
Pertanyaan yang terdengar begitu sederhana itu justru membuat wajah Alya kembali merona hebat. "E-eh... i-iya, Bu. Mas Arya yang dulu nyelametin saya waktu tawuran di gang sempit itu," jawab Alya buru-buru, berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan menjelaskan fakta yang sudah diketahui, meski sebenarnya bukan itu yang membuat wajahnya panas seperti sekarang.
Ibu Aminah mengangguk pelan, matanya menyipit penuh arti, namun beliau tidak memaksa lebih jauh. Sebagai seorang ibu yang bijaksana, beliau tahu persis bahwa cinta yang tumbuh dari ketulusan tidak perlu dipaksa mekar—cukup disirami dengan doa dan kepercayaan yang diam-diam ditanamkan.
"Nduk," lanjut Ibu Aminah dengan suara yang direndahkan hingga hampir seperti bisikan, "Ibu ini orang kampung, gak ngerti bahasa-bahasa gaul anak muda zaman sekarang. Tapi Ibu tahu satu hal—kalau ada anak muda yang mau berjongkok di lantai pasar kotor kayak gini, ngasih minum, ngerawat orang tua miskin macam Ibu tanpa pamrih sedikit pun... itu bukan kebaikan yang dibuat-buat. Itu kebaikan dari hati yang benar-benar bersih."
Alya menatap Ibu Aminah dengan mata yang mulai berkaca-kaca, tersentuh oleh ketulusan wanita sederhana di depannya. "Ibu Aminah terlalu memuji saya..."
"Enggak, Nduk. Ibu ini sudah lama hidup, sudah kenal banyak macam manusia," potong Ibu Aminah lembut sambil menepuk-nepuk punggung tangan Alya. "Dan kalau Ibu boleh jujur... Ibu seneng banget ngeliat anak Ibu yang biasanya kaku dan lempeng soal cewek, tadi jadi salah tingkah kayak anak SD ketemu guru yang ditaksirnya. Itu artinya hatinya lagi diketuk sama seseorang. Ibu cuma titip satu pesan buat kamu, Nduk—kalau memang Gusti Allah menakdirkan jodoh kalian bersatu suatu hari nanti, Ibu bakal restui dengan sepenuh hati. Asal kalian saling jujur dan saling menjaga."
Kalimat itu meluncur begitu tulus dari mulut Ibu Aminah, membuat Alya harus menahan air matanya sendiri agar tidak jatuh di tengah keramaian pasar. Tanpa disadari keduanya, dari kejauhan, Arya yang sedang memilah kantong beras di dekat motor sempat melirik ke arah mereka, dan detak jantungnya kembali berpacu cepat melihat ibunya tampak begitu akrab dengan Alya, meski ia sama sekali tidak tahu isi percakapan penuh restu yang baru saja terucap.
"Ibu sama Mbak Alya udah kayak sahabat lama aja. Untung Ibu gak tau kejadian subuh tadi... kalau Ibu tau, bisa-bisa Arya langsung diusir dari rumah gara-gara dianggap kurang ajar," batin Arya, tidak menyadari bahwa justru sebaliknya—ibunya sudah lebih dulu tahu ke mana arah hati anaknya, jauh sebelum Arya sendiri berani mengakuinya.
Tepat saat Arya kembali mendekat dengan seluruh kantong belanjaan yang sudah rapi di kedua tangannya, God-Phone di sakunya kembali bergetar dengan pola yang lebih halus namun tetap membuat bulu kuduknya merinding.
TING-TONG!
[EVALUASI OPERASI PENYELAMATAN POROS RESTU: BERHASIL DENGAN REKOR MUTLAK!]
[Notifikasi Intelijen Sistem: Target VIP 1 (Alya Nindita) telah mengunci impresi moral sebesar 92% di dalam memori emosional Ibu Kandung Driver—naik drastis dari sebelumnya berkat momen kejujuran hati yang baru saja terjadi. Status: Restu Matriarkal Tingkat 1 Terbuka Penuh.]
[Peringatan Logistik Intelijen: Markas Grand Indonesia Group dan Galeri Seni Menteng terdeteksi mengalami lonjakan aktivitas pencarian data logistik operasional Driver! Alarm Kompetisi Senyap kini berada di Tingkat Kritis 3!]
Arya menghela napas panjang membaca notifikasi itu, mencoba menepis rasa penasaran sekaligus kekhawatiran yang muncul di dadanya. "Sistem, lu bisa gak sih kasih gua waktu buat mikirin perasaan gua sendiri dulu sebelum ngasih tau ada dua dewi lain yang lagi siap-siap perang? Gua bahkan belum sempet mikirin gimana caranya ngomong sama Mbak Alya soal kejadian subuh tadi tanpa gua tambah gagap kayak abis kesetrum!"
Namun untuk saat ini, Arya memilih menyimpan kegelisahan itu dalam hati. Ia mendekati Ibu Aminah dan Alya dengan langkah yang berusaha dibuat setenang mungkin, meski telinganya masih memerah.
"Bu, belanjaannya sudah rapi semua. Ayo kita pulang, biar Bapak gak nunggu kelamaan," ujar Arya, lalu—dengan keberanian yang dikumpulkan susah payah—akhirnya menoleh sedikit ke arah Alya. "Mbak Alya... makasih banyak ya udah bantuin Ibu. Saya... saya beneran gak tau harus bilang apa lagi selain itu."
Alya tersenyum kecil, matanya yang masih berkaca-kaca kini dipenuhi kehangatan yang jauh lebih dalam dari sekadar rasa malu. "Sama-sama, Mas Arya. Ibu Aminah itu... orangnya baik banget. Aku senang bisa kenal beliau." Ia menjeda sejenak, lalu menambahkan dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar, "Dan... soal tadi subuh... aku enggak nyesel sama sekali, Mas."
Kalimat singkat itu membuat wajah Arya kembali memerah total, dan untuk kesekian kalinya hari itu, ia hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum kikuk, tidak menemukan satu kalimat balasan pun yang pantas.
Ibu Aminah yang menyaksikan pertukaran singkat itu hanya bisa tersenyum diam-diam sambil menaiki jok belakang motor Supra Fit anaknya, menyembunyikan kebahagiaan seorang ibu yang baru saja menyaksikan benih cinta anaknya mulai bersemi—bukan lewat kemewahan sistem gaib, bukan lewat skill absurd, melainkan lewat ketulusan sederhana dua anak muda yang saling menemukan kejujuran hati di tengah bau sayur busuk dan debu pasar induk.
Motor bebek tua itu melesat pulang menuju Tambora, membawa beras, minyak goreng, sekantong debaran yang belum juga reda, dan sebuah restu diam-diam yang kini telah tertanam kuat di hati seorang ibu—sementara di kejauhan Jakarta, dua dewi ibu kota lainnya mulai menyusun langkah mereka, tanpa menyadari bahwa pertempuran hati kali ini akan jauh lebih rumit dari yang pernah mereka bayangkan.