NovelToon NovelToon
Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Sumpah Yang Terlupakan Dari Sang Penjahat Wanita

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Romansa Fantasi / Fantasi Isekai
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: nadnote

Seorang wanita pekerja kantoran yang rasional bertransmigrasi ke dalam novel romansa tragis sebagai Geneviève de Montmirail, seorang putri Duke yang ditakdirkan dieksekusi karena cintanya yang gila dan obsesif kepada Duke muda, Lucien de Vaudémont.
​Bertekad untuk mematahkan bendera kematiannya (death flag), Geneviève memutuskan untuk menarik diri sepenuhnya dari kehidupan Lucien dan lingkungan istana yang beracun. Alih-alih mengejar cinta fana, ia menggunakan kecerdasannya dalam administrasi keuangan untuk memajukan wilayahnya dan membuka bisnis perhiasan yang mendobrak tren kekaisaran.
​Namun, sikap dingin Geneviève justru memicu retaknya "Sihir Putih" milik Putri Mahkota Camille, sang protagonis asli novel yang tampak suci namun bermuka dua. Saat Lucien mulai mengalami kilasan ingatan yang menyiksa tentang masa lalu yang tak pernah ia ketahui, Geneviève menemukan sebuah perhiasan rahasia peninggalan tubuh aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadnote, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyelidikan Sang Duke

"Sampaikan rasa hormatku yang paling dalam kepada Yang Mulia Putri Mahkota Camille. Katakan padanya bahwa aku menolak undangan minum teh sore ini, dan kemungkinan besar untuk undangan undangan pada hari berikutnya."

​Suara bariton Lucien de Vaudémont terdengar sangat dingin, menggema memantul di dinding ruang kerjanya yang berlapis kayu jati. Pria itu duduk tegak di balik meja kebesarannya, menatap tajam ke arah seorang utusan istana yang kini gemetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki.

​Utusan berseragam putih emas itu menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin membasahi kerah kemejanya. Menolak undangan Putri Mahkota adalah sebuah penghinaan besar di Kekaisaran Valerand, sebuah tindakan bunuh diri sosial yang tidak berani dilakukan oleh bangsawan mana pun. Namun, pria yang menolak ini adalah Duke of Vaudémont, ksatria terkuat yang memiliki pasukan elitnya sendiri.

​"Tetapi, Tuan Duke," cicit utusan itu dengan suara bergetar. "Yang Mulia Putri Mahkota secara khusus menyiapkan teh bunga lili kesukaan Anda. Beliau sangat mengharapkan kehadiran Anda untuk membicarakan keamanan istana."

​"Keamanan istana berada di bawah kendali penuh pasukanku, dan saat ini tidak ada ancaman apa pun. Kecuali jika kau menganggap teh bunga lili sebagai masalah pertahanan negara," balas Lucien dengan nada sarkas yang mematikan. "Kembalilah ke Istana Soleil sekarang juga sebelum aku meminta pengawalku untuk melemparmu keluar melalui jendela."

​Utusan itu tidak berani membantah lagi. Ia segera membungkuk dalam dalam, berbalik, dan berlari keluar dari ruang kerja Lucien secepat kaki gemetarnya bisa melangkah.

​Pintu kayu ek tertutup rapat. Lucien menyandarkan punggungnya ke bantalan kursi kulitnya sambil memijat pelipisnya dengan keras.

​Kepalanya berdenyut menyakitkan. Setiap kali ia mendengar nama Camille, atau memikirkan wanita bergaun putih itu, ada dorongan aneh di otaknya yang menyuruhnya untuk segera datang dan berlutut memuja sang Putri Mahkota. Tiga tahun lamanya, ia selalu mematuhi dorongan itu tanpa ragu. Ia menganggap Camille sebagai sosok suci yang harus ia lindungi dengan nyawanya.

​Tetapi hari ini, dorongan itu terasa menjijikkan. Rasa mual mengaduk perutnya. Pikirannya terus menerus melayang pada sosok wanita bergaun biru malam yang menatapnya dengan sangat rasional dan berani. Geneviève de Montmirail. Wanita yang dengan santai menagih ganti rugi pintu hancur kepadanya di tengah malam.

​Sihir Putih di kepala Lucien sedang mengalami malfungsi parah, namun ksatria itu belum menyadarinya. Ia hanya merasa sangat frustrasi karena kehilangan kendali atas akal sehatnya sendiri.

​"Gaspard," panggil Lucien tanpa membuka matanya.

​Dari sudut ruangan yang temaram, ksatria bayangan itu melangkah maju. Postur Gaspard tegak lurus sempurna, wajahnya tidak berekspresi sama sekali. "Saya di sini, Tuan Duke."

​"Siapkan kuda kita. Kita akan melakukan patroli keliling kota hari ini," perintah Lucien seraya bangkit berdiri. Ia mengambil jubah kulit hitamnya dan mengenakannya dengan cepat.

​"Apakah ada rute khusus yang ingin Anda periksa, Tuan Duke?" tanya Gaspard.

​"Kawasan komersial utama. Aku mendengar ada banyak keributan dan kerumunan bangsawan di sana akhir akhir ini. Sebagai komandan keamanan ibu kota, aku harus memastikan tidak ada kerusuhan," jawab Lucien dengan nada resmi.

​Gaspard mengangguk patuh, meskipun di dalam kepalanya yang logis ia tahu betul bahwa kerumunan bangsawan yang sedang berbelanja perhiasan bukanlah sebuah kerusuhan yang membutuhkan intervensi langsung dari seorang Duke. Namun, sebagai bawahan yang setia, Gaspard tidak mempertanyakan alasan majikannya.

​Satu jam kemudian, Lucien dan Gaspard sudah berjalan kaki menyusuri jalanan berbatu di kawasan komersial ibu kota Lumière.

​Cuaca siang itu sangat cerah. Di bawah bayangan pohon ek besar yang rindang, gerobak etalase berjalan milik Le C'eow tampak dikerumuni oleh belasan pelanggan dari kalangan atas. Kayu mahoni gerobak itu berkilau tertimpa cahaya, menampilkan perhiasan perhiasan perak bertahtakan batu safir dan kecubung yang memantulkan warna warna magis.

​Lucien menghentikan langkahnya beberapa meter dari kerumunan tersebut. Matanya langsung menemukan sosok Geneviève.

​Wanita itu mengenakan gaun sutra berwarna hijau zamrud yang sangat elegan namun tidak berlebihan. Ia sedang memegang sebuah kalkulator sempoa kecil berbahan kayu, menghitung koin emas dengan gerakan jari yang luar biasa lincah. Senyum di wajah Geneviève terlihat sangat profesional dan memikat, membuat beberapa bangsawan pria di sekitarnya tersipu malu.

​Melihat pria pria lain menatap Geneviève dengan kekaguman, dada Lucien mendadak terasa panas. Ada rasa tidak suka yang meluap luap di dalam hatinya. Tanpa sadar, langkah kakinya bergerak mendekati gerobak kayu tersebut, membelah kerumunan pelanggan dengan postur intimidasinya yang khas.

​Para bangsawan yang menyadari kehadiran Duke of Vaudémont segera menyingkir, memberikan jalan selebar lebarnya.

​Geneviève yang sedang mencatat pesanan di buku besarnya merasakan perubahan suasana di sekitarnya. Ia mendongak dan langsung menahan keinginan untuk memutar bola matanya.

​"Selamat siang, Tuan Duke," sapa Geneviève dengan nada suara riang yang sangat jelas dibuat buat. Ia meletakkan sempoanya di atas meja kecil di samping gerobak. "Melihat Anda berkeliaran di sekitar toko saya dua kali dalam minggu ini, membuat saya berpikir Anda berniat melamar pekerjaan sebagai penjaga keamanan gerobak kami."

​Lucien berdehem pelan, berusaha mempertahankan ekspresi wajahnya yang kaku dan berwibawa. "Aku adalah Komandan Ksatria Kekaisaran. Aku tidak menjaga gerobak kayu, Nona Montmirail. Aku sedang menjalankan tugas patroli wilayah."

​"Sayang sekali," balas Geneviève jenaka sambil menopang dagu dengan satu tangan. "Padahal saya bersedia membayar Anda dengan sepotong roti isi daging sapi panggang dan dua koin perak setiap harinya. Anda memiliki postur yang sangat cocok untuk menakut nakuti pelanggan yang suka menawar harga terlalu rendah."

​Wajah Lucien sedikit memerah. Jantungnya berdegup kencang melihat senyum jahil di bibir Geneviève. Wanita ini sama sekali tidak memiliki rasa takut padanya. Di masa lalu, Geneviève selalu menangis dan memohon mohon perhatiannya. Perubahan drastis ini benar benar membuat akal sehat Lucien berantakan.

​"Aku tidak butuh koin perakmu," jawab Lucien dengan suara yang sedikit lebih pelan. Matanya melirik ke arah etalase kaca. "Bisnismu tampaknya berjalan terlalu lancar. Apakah kau tidak takut Putri Mahkota akan mengirimkan bea cukai lagi untuk menyita barang barangmu?"

​Geneviève tertawa kecil, suara yang terdengar seperti dentingan lonceng perak di telinga Lucien.

​"Biarkan saja Putri Mahkota Anda mengirimkan seluruh batalion bea cukai kekaisaran. Saya akan dengan senang hati menjamu mereka dengan berkarung karung garam laut mentah," sindir Geneviève tanpa ampun. Ia lalu menunjuk ke arah cincin safir di dalam etalasenya. "Daripada membahas politik yang membosankan, apakah Anda berniat membeli sesuatu, Tuan Duke? Saya bisa memberikan diskon satu persen khusus untuk Anda sebagai biaya ganti rugi pintu rumah saya kemarin."

​"Satu persen? Kau benar benar pedagang yang pelit," gerutu Lucien, namun sudut bibirnya entah mengapa sedikit berkedut menahan senyum.

​Sementara perdebatan bernada komedi romantis itu terjadi di bagian depan gerobak, sebuah interaksi yang jauh lebih kaku sedang berlangsung di bagian belakang.

​Odette sedang sibuk merapikan kotak kotak beludru kosong ketika Gaspard melangkah mendekat. Ksatria berbaju hitam itu berdiri tegap tepat satu meter di belakang Odette.

​"Selamat siang, Nona Odette," sapa Gaspard dengan suara datar mekanisnya.

​Odette memutar tubuhnya dan berkacak pinggang. Alis pelayan itu terangkat sebelah. "Anda lagi, Tuan Ksatria Kaku? Hamba harap Anda tidak membawa lumpur di sepatu Anda hari ini."

​"Sepatu bot saya sudah dibersihkan dan disemir tadi pagi," jawab Gaspard dengan sangat serius. Pria itu kemudian mengambil sebuah gulungan perkamen kecil dari balik jubahnya dan menyodorkannya kepada Odette. "Dan saya harus melaporkan hasil tugas yang Anda berikan kemarin."

​Odette mengerutkan kening kebingungan. "Tugas apa? Hamba tidak pernah memberi Anda tugas apa pun."

​"Anda menyuruh saya menghitung jumlah batu jalanan di Alun Alun Kemenangan agar saya tidak mengganggu pekerjaan Anda," jelas Gaspard tanpa dosa. Ia membuka gulungan perkamen itu. "Saya sudah menyelesaikannya tadi malam. Jumlah tepatnya adalah lima belas ribu dua ratus empat puluh tiga batu. Saya juga menemukan ada dua belas batu yang retak dan perlu segera dilaporkan ke departemen pekerjaan umum kota."

​Odette melongo. Mulut pelayan itu terbuka lebar, menatap ksatria elit di depannya dengan tatapan tidak percaya.

​"Demi Dewi Cahaya," bisik Odette sambil menepuk dahinya dengan keras. "Hamba hanya bersarkasme kemarin! Apakah Anda benar benar menghitung batu batu kotor itu satu per satu di tengah malam?!"

​Telinga Gaspard perlahan berubah menjadi merah padam, kontras dengan wajahnya yang tetap kaku bagai batu. "Saya adalah ksatria yang memegang janji, Nona Odette. Jika Anda memberikan instruksi, saya akan melaksanakannya dengan tingkat presisi tertinggi."

​Odette tidak tahu harus marah, tertawa, atau menangis melihat kepolosan pria bertubuh besar ini. Ia merampas perkamen itu dari tangan Gaspard. "Lain kali, jika hamba menyuruh Anda melompat ke sungai, tolong gunakan otak Anda untuk tidak benar benar melompat, mengerti?"

​"Jika itu adalah perintah langsung dari Anda, saya akan memastikan untuk memakai pakaian yang mudah kering sebelum melompat," balas Gaspard harfiah.

​Odette mendengus keras dan berbalik, menyembunyikan wajahnya yang mendadak terasa sedikit hangat. "Dasar pria aneh yang menyebalkan," gumamnya pelan.

​Di depan gerobak, Lucien masih berdiri berhadapan dengan Geneviève. Pria itu menatap cincin cincin safir biru di balik kaca, lalu kembali menatap mata cokelat Geneviève. Rasa frustrasi kembali merayap di dadanya saat mengingat kilasan memori buram tentang wanita ini.

​"Geneviève," panggil Lucien dengan nada yang tiba tiba berubah menjadi sangat serius dan rendah. "Apakah kau benar benar tidak mengingat apa pun? Tentang masa lalu? Sebelum pertunangan kita dibatalkan?"

​Geneviève menghentikan gerakannya. Wajahnya yang tadi ramah kembali membeku menjadi topeng aristokrat yang sangat rasional. Ia telah mengunci rapat teori tentang masa lalu mereka di dalam otaknya. Novel itu nyata, dan semua ini hanyalah anomali yang diciptakan oleh kegilaan tubuh aslinya.

​"Masa lalu adalah tumpukan kertas laporan yang sudah selesai diaudit, Lucien," jawab Geneviève dingin. "Saya tidak membuang waktu untuk membaca ulang laporan yang tidak menghasilkan keuntungan. Jika Anda merasa memiliki masalah dengan ingatan Anda, saya sarankan Anda meminum teh bunga lili milik Camille. Kudengar itu sangat bagus untuk menenangkan syaraf yang terguncang."

​Kata kata tajam itu menusuk dada Lucien, mematahkan sisa keberaniannya untuk bertanya lebih jauh. Pria itu mengatupkan rahangnya. Rasa gengsi sebagai seorang Duke akhirnya mengambil alih, mengalahkan rasa penasarannya.

​"Kau benar," desis Lucien dengan raut wajah mengeras. "Masa lalu tidak ada artinya. Maaf telah mengganggu waktumu yang sangat berharga untuk menghitung kepingan emas, Nona Montmirail."

​Lucien berbalik dengan kasar dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Gaspard segera mengikuti majikannya dari belakang, meninggalkan Odette yang masih sibuk menggerutu sambil melipat perkamen laporan jumlah batu jalanan.

​Geneviève menatap punggung Lucien yang perlahan menjauh. Ada denyutan aneh di dadanya yang berusaha meronta, namun Geneviève segera menekannya dengan paksa. Ia mengambil sempoanya kembali dan mulai menghitung koin koin emasnya dengan gerakan yang sedikit lebih agresif dari biasanya.

​Satu jam kemudian, Lucien dan Gaspard tiba kembali di wilayah kediaman Vaudémont.

​Lucien berjalan cepat menuju ruang perpustakaan pribadinya, mengabaikan sapaan para pelayan dan prajurit penjaga. Pikirannya benar benar kacau. Penolakan Geneviève tadi bukannya memadamkan rasa penasarannya, melainkan justru menyiramkan minyak ke dalam kobaran api kebingungannya.

​Jika Geneviève bersikeras bahwa tidak ada apa apa di antara mereka di masa lalu, lalu dari mana datangnya desain perhiasan itu? Mengapa kepalanya terasa sangat sakit setiap kali mengingat taman rumah kaca? Mengapa jantungnya bereaksi dengan sangat kuat setiap kali melihat senyum wanita itu?

​Lucien berhenti di tengah ruangan perpustakaan yang dipenuhi ribuan buku kuno tersebut. Ia menoleh ke arah ksatria bayangannya.

​"Gaspard," perintah Lucien dengan suara bariton yang menggema keras. "Tutup semua akses pintu perpustakaan ini. Aku punya tugas rahasia untukmu."

​Gaspard segera mengunci pintu ganda berukuran besar itu dan berdiri tegap di hadapan majikannya.

​"Ada banyak hal yang terasa salah di dalam kepalaku belakangan ini," aku Lucien dengan napas berat. Pria yang tidak pernah menunjukkan kelemahannya ini akhirnya menyerah pada keraguannya sendiri. "Semua ingatan tentang tiga tahun yang lalu terasa seperti kabut tebal. Aku mengingat Camille, aku mengingat tugas tugasku. Tetapi saat aku mencoba mengingat alasan spesifik mengapa aku sangat membenci Geneviève de Montmirail, kepalaku terasa seperti ditusuk ribuan jarum tajam."

​"Apakah Anda mencurigai adanya indikasi racun halusinasi, Tuan Duke?" tanya Gaspard waspada.

​"Aku tidak tahu. Karena itulah aku butuh bukti nyata, bukan sekadar ingatan." Lucien menatap rak buku di sudut ruangan, tempat penyimpanan dokumen pribadi keluarga.

​"Aku butuh kau menyelidiki masa laluku sendiri, Gaspard," perintah Lucien tegas. "Cari semua buku catatan harian perjalananku, log penjaga gerbang, dan laporan pengawal pribadi dari tiga tahun yang lalu. Cari tahu ke mana saja aku pergi, dengan siapa aku bertemu. Dan yang paling penting, cari tahu apakah aku pernah melakukan kunjungan rutin ke wilayah Montmirail tanpa pengawalan resmi."

​Gaspard mengangguk dengan cepat. "Saya akan membongkar seluruh arsip rahasia di sayap selatan sekarang juga, Tuan Duke."

​Ksatria bayangan itu segera bergerak menuju ruang penyimpanan dokumen rahasia yang terletak di balik dinding perpustakaan. Lucien duduk di kursi bacanya, menatap perapian yang menyala terang sambil menunggu dengan dada berdebar kencang. Ia berharap dokumen dokumen itu akan membuktikan bahwa Geneviève benar, bahwa ia hanya berhalusinasi.

​Namun, hanya berselang tiga puluh menit kemudian, langkah kaki Gaspard yang tergesa gesa memecah kesunyian ruangan.

​Gaspard keluar dari ruang arsip dengan wajah yang sangat tegang. Untuk pertama kalinya, otot wajah ksatria kaku itu menunjukkan ekspresi syok yang sangat nyata. Tangannya tidak memegang setumpuk buku, melainkan hanya membawa sebuah kotak kayu kecil yang bagian dalamnya tampak hangus.

​"Apa yang kau temukan, Gaspard?" tanya Lucien sambil berdiri dari kursinya.

​Gaspard berjalan mendekat dan meletakkan kotak kayu hangus itu ke atas meja baca Lucien.

​"Saya telah memeriksa seluruh rak penyimpanan tahun ketiga dari belakang, Tuan Duke," lapor Gaspard dengan suara yang sedikit bergetar karena ketegangan militer. "Saya menemukan fakta yang sangat mengkhawatirkan."

​"Katakan padaku."

​"Semua catatan perjalanan harian Anda, log pergantian penjaga, dan jadwal pertemuan pribadi Anda dari rentang waktu tiga tahun yang lalu telah dihilangkan." Gaspard menatap mata majikannya dengan sorot mata tajam yang memancarkan bahaya. "Halaman halamannya tidak robek karena dimakan usia, dan buku bukunya tidak hilang karena dipinjam."

​Gaspard menunjuk sisa sisa abu hitam di dalam kotak kayu tersebut.

​"Seseorang dari dalam kediaman ini telah dengan sengaja membakar seluruh catatan masa lalu Anda hingga menjadi abu, Tuan Duke. Seseorang sangat tidak ingin Anda mengetahui apa yang Anda lakukan dan dengan siapa Anda menghabiskan waktu tiga tahun yang lalu."

​Tubuh Lucien seketika membeku. Matanya terbelalak lebar menatap tumpukan abu hitam di dalam kotak tersebut. Jantungnya berdetak liar. Bukti fisik di depannya ini menghancurkan seluruh kepercayaannya pada kewarasannya sendiri. Ingatannya tidak buram secara alami. Seseorang telah dengan sengaja menghapus masa lalunya. Seseorang telah memanipulasi hidupnya.

​Dan untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Lucien menyadari bahwa wanita bergaun putih di istana itu mungkin bukanlah malaikat pelindung seperti yang selama ini ia percayai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!