NovelToon NovelToon
Istri Gendut Yang Dibenci

Istri Gendut Yang Dibenci

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:205k
Nilai: 5
Nama Author: picisan imut

Memang sangat tersiksa tatkala menikah dengan Pria yang sejatinya tak pernah mencintaiku. Namun apakah bodoh, jika aku lebih memilih terluka demi bisa terus bersamanya?

— Erika Rawles —

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon picisan imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan luar biasa.

Erika meremas ponsel di dekat dadanya. Perempuan itu duduk sambil menatap dinding kaca. Gemerlap lampu dari gedung-gedung di sekitar menjadi pemandangan malam yang indah. 

Dilihat, jam sudah menunjukkan pukul 10.25, perempuan itu mengangkat gelasnya mengarah pada pantulan diri di dinding kaca. 

"Maaf, aku harus melakukan ini. Karena Kau sudah terlalu jauh menjatuhkan harga diriku." Bibir wanita itu tersenyum, dan menenggak isi dari gelas yang tengah ia pegang. 

...

Di sisi lain, Veni sedang menikmati sajian khusus yang sengaja di pesan Erika untuk mereka. 

"Ya ampun, anggur ini sangat mahal loh, Pak Sutradara?" 

"Ah, hahaha… sebenarnya ini bonus dari hotel." 

"Bonus?" Veni mengerutkan kening. Matanya tertuju pada minuman di gelasnya. 

Ini hotel milik keluargaku. (Kata-kata Erika yang terbesit)

"hah…" 

"Kenapa?" tanyanya heran. 

"T-tidak, Pak. Saya baru ingat, pemilik hotel ini adalah kerabat saya. Hahaha." 

"Oh, pantas saja mereka memberikan set bir yang mahal ini." 

"Haha…" Veni manggut-manggut. 

Agak aneh sih, tapi 'kan, CEO itu sangat lemah dan lugu. Bisa saja dia sengaja ngasih ini untuk pertemanan atau apa lah. Hihihi… 

Veni menenggak minumannya sekali lagi setelah itu meletakkan gelas dan membuka blazernya. 

"Bruuuuuufffffppp…" sang sutradara tiba-tiba menyemburkan minuman dari mulutnya saat melihat penampilan Veni yang terlihat amat seksi itu.

Klotak… klotaaak… hentakan heels yang digunakan sang artis cukup membuat jantungnya berdebar. 

Pria berusia empat puluh tujuh tahun itu mengusap tengkuk yang berkeringat. 

"Hari ini, Anda benar-benar bekerja keras, ya? Walau hanya sutradara pengganti…" 

"Emmm?" Pria itu semakin gemetaran kala tangan Veni bergerak memijat bahunya dari belakang.

"Belum lama ini, Veni dapat penghargaan di acara festival film nasional, loh. Bapak bangga, tidak?"

"B-bangga sekali. Sangat! Luar biasa!" gugup menjawab akibat hawa panas yang mulai menjalar ke seluruh anggota tubuh.

"Kalau bangga, berarti tidak perlu diragukan lagi dong aktingnya?" 

Pria di depan mengangguk-angguk cepat. 

"Tapi, aku dengar, Bapak sudah punya beberapa nama yang akan dijadikan sebagai Belinda dalam Film Bumi Wanita?" 

"I-itu benar."

"Apakah, ada nama Veni di sana?" Perempuan itu mengendus area belakang telinga membuat pria di depan bergidik. 

"S-sayangnya tidak. K-karena karakter Belinda harus yang beraura suram. Dia kan sedang balas dendam pada musuh-musuh yang pernah m3mp3rk0sanya. Sudah otomatis akan banyak mengambil adegan panas." 

Veni melingkari leher pria itu dari belakang. "Huh, Pak Sutradara, 'kan, sudah kenal Veni? Aku paling jago akting seperti itu." 

"Masalahnya, karaktermu terlalu imut untuk dijadikan sosok Belinda." 

"Masa sih?" Langkahnya kembali terayun maju. Dan kini duduk di pangkuan Sang sutradara. "Aku bisa terlihat seperti orang yang memiliki banyak dendam. Lantas menggoda si pelaku yang sudah mel3c3hk4nku." 

Veni memandangi bibir pria itu dengan ekspresi menggoda. 

"Bapak bisa casting aku sekarang. Tapi, pemeran prianya Bapak. Bagaimana?" 

Sang sutradara menatap wajah itu dengan nafsu yang sudah memuncak. Terlebih pengaruh alk0h0l yang mampu menambah panas tubuhnya. 

"Kau yang meminta?" 

"Ya— ayo casting aku sekarang." Tersenyum genit sebelum memejamkan mata serta menyatukan bibir mereka. 

Triiiiiing… 

Elvan melangkah pelan keluar dari lift. Ia sampai membatalkan janji dengan Veni demi bertemu dengan Erika dan bertanya tentang kebenaran, siapa sebenarnya laki-laki yang selama ini dekat dengannya. Karena ia tidak yakin, Erika punya 9!90L0. 

Aku tidak mau melakukan kesalahan dua kali. Setidaknya, saat ia menjelaskan dan jujur. Aku akan merasa tenang. Walau tetap semua tak akan mengubah keputusanku untuk menikahi Veni. 

Elvan melangkahkan kakinya, memasuki lorong panjang dengan pintu-pintu yang tercantum nomor masing-masing.

Matanya membaca satu persatu angka di pintu, dan sampailah pada pintu bertuliskan 302. 

Pria itu bergeming sejenak, seperti tengah berpikir. Ia bahkan sudah siap menekan angka key password kamar tersebut. 

Sementara Erika yang berada kamar lain, terus memusatkan perhatian pada pemandangan di luar tanpa ekspresi. Satu tangannya yang berada di sandaran kursi gemetaran dan cukup berkeringat. 

Kembali pada Elvan, ia telah selesai menekan kuncinya. Pintu terbuka, pria itu masuk satu langkah. 

Saat tubuhnya masuk ke dalam, hal pertama yang ia dengar adalah sebuah desahan seorang pria dan wanita. 

Elvan pun tak berani melanjutkan langkahnya. 

Ada orang lain di dalam? Apa aku salah masuk kamar? 

Pria itu nampak bimbang. Dan akhirnya memutuskan untuk balik badan berniat kembali keluar.

"Kyaaaa, Pak Sutradara!" 

Tubuh Elvan membeku, ia sangat kenal suara ini. Kembali menoleh ke belakang, berharap ia hanya salah dengar. 

"Kau bilang akan mengalahkan ku, tapi apa?" 

"Hahaha…" wanita itu tertawa singkat sebelum kembali mendesis. 

Kau seharusnya jaga tunanganmu itu… (Elvan mengingat kata-kata Erika.)

Disanalah ia mulai yakin kalau perempuan itu adalah kekasihnya. Elvan berjalan lebih kedalam.

Lebih baik dimaki orang lain karena salah orang, daripada harus menjadi orang bodoh yang tidak tahu apa-apa. 

Di depan ranjang, pria itu bergeming. Melihat pergerakan brutal di dalam selimut. Ia pun langsung menyibak kasar selimut itu. 

"Kyaaaaaa!" Dua orang tanpa busana terkejut bersama dalam posisi yang cukup membuat Elvan shock. 

Pria itu sampai membeku di tempat. Sama halnya dengan Veni. 

"SIAPA, KAU? LANCANG SEKALI MASUK KAMAR ORANG?!" Teriak laki-laki yang buru-buru menutupi bagian sensitifnya dengan handuk. 

"E–El?" cicit Veni tidak percaya. 

Kedua mata Elvan nampak merah nanar, amarah yang bercampur rasa tidak percaya membuatnya kehilangan kata-kata. 

"HEI!" sang sutradara mendekati Elvan yang masih fokus pada wanita diatas ranjang. 

Buuuaaaaaackkk… 

"Kyaaaaaa!" Veni memekik tatkala melihat Elvan langsung memberikan satu bogem mentah. Yang tentu pukulan itu mampu membuat si penerima tak sadarkan diri. 

Nafas pria itu naik turun. Kembali mengalihkan pandanganya pada wanita di depanya. 

"Elvan, aku bisa—"

"AAAAAARRRRRRGGGGHHHH, DIAM KAU B4NGS4T!" sergahnya kasar. 

Tubuhnya lunglai, Elvan menyandarkan punggung ke dinding, meremas bagian kening. 

"Elvan?" Veni mulai merengek. 

Ia membungkus tubuhnya dengan selimut tebal itu demi bisa menjangkau kekasihnya. 

"Sayang, dengarkan aku. Semua tidak seperti apa yang kau pikirkan." 

"Cih! Tidak seperti apa yang kupikirkan? Memang apa lagi yang kau lakukan selain tidur dengan laki-laki lain?" 

Perempuan itu menggeleng. "AKU DI JEBAK ELVAN!" 

Elvan tertawa sinis. Pria itu menghela nafas panjang. Sebelum melempar sesuatu hingga mengenai televisi layar datar yang ada di depan. 

Praaaaaaang! TV itu pun hancur di buatnya. Elvan menekan-nekan kening Veni dengan jari telunjuknya berkali.

"Mana ada, orang di jebak namun masih bisa tertawa saat melakukan itu? Kau pikir aku bodoh?!" 

Pria yang masih dipenuhi amarah langsung mendorong tubuh Veni ke arah ranjang. Jeritan Veni melengking di dalam kamar tersebut. 

Dan tanpa berkata-kata lagi, ia langsung meninggalkan wanita yang selama ini dikasihinya selama tujuh tahun. 

"Elvan! Elvan dengarkan aku!" Veni berusaha bangkit, karena selimut yang tebal membuatnya kesulitan bergerak. 

Setelah berhasil bangun ia langsung buru-buru mengejar pria yang nampak tengah menyeret kedua kakinya yang terasa berat. 

"Elvan! Elvan!" 

Keluar pintu ia terus berusaha mengejar pria yang semakin menjauh menuju lift. Sebab tubuh yang tertutup selimut itu pula, langkah Veni terhambat. Ia bahkan sampai menginjak kain selimut tersebut. 

Bruuuuuk… Veni terjatuh tepat di salah satu pintu kamar. 

"Elvan jangan tinggalkan aku, Elvan. Elvan kau salah paham! ELVAAAAAAAN!" 

Pria itu telah menghilang dari pandangannya setelah masuk ke dalam lift. Ven pun semakin sesenggukan di lantai dengan karpet warna merah. 

Pik… pik… pik… klaaaak. 

Sebuah cahaya menyoroti wajah Veni. Bersamaan dengan dua pasang kaki yang menapak di pintu. 

"Anda butuh bantuan?" 

Veni menoleh lalu mengangkat wajahnya. Betapa terkejutnya saat yang ia lihat adalah Erika. 

"Oh, Kau rupanya?" 

Wanita yang sering disapa Babi olehnya berjongkok. Agar wajahnya bisa lebih dekat dengan Veni yang masih mematung dengan tangan terkepal kuat. 

"K-kau?" 

Erika tersenyum tipis. "Ada sesuatu yang terjadi?" 

"Kau jangan pura-pura tidak tahu. Kau, 'kan, yang ada di balik semua ini?" 

Erika membalas tatapan Veni dengan santai.

"KAU MENJEBAKKU, 'KAN?" Sergahnya.

"Aku menjebakmu? Bukankah kau datang sendiri ke hotel ini?" 

"Sejak kapan pemilik hotel ikut campur dengan urusan tamunya, HAH! KAU SENGAJA MEMANGGIL ELVAN KESINI, 'KAN? JAWAB DASAR J4L4NG!" 

Erika menyunggingkan bibirnya separuh. "Kau tahu istilah orang yang sudah kekenyangan. Dia akan memuntahkan apa yang telah ia makan secara sembunyi-sembunyi." 

"Apa?"

"Ku akui, ambisimu sebagai seorang model memang hebat. Namun sayangnya, kau telah salah mengambil jalanmu. Dasar j4l4ng yang berteriak j4l4ng!" 

"Br3se3k!" Suara Veni gemetar, mengandung amarah.

"Selama tiga tahun ini. Entah sudah berapa pria yang kau layani demi sebuah karir? Dan sekarang, wajar kalau Elvan harus tahu kelakuan bejat calon istrinya." 

Veni mencengkram pakaian Erika. "Akan kuhabisi, Kau!" ancamnya bernada bengis. 

"Yakinkah, kau bisa melakukan itu? Yang ada justru kau sendiri yang akan dihabisi… Kau pikir selama ini aku diam karena takut padamu?" 

Erika tersenyum sinis, melepas paksa tangan wanita itu lalu mendorongnya hingga kembali tersungkur. Setelah itu bangkit sambil menghentakkan jasnya. Wanita itu pun melenggang pergi meninggalkan Veni yang lemah di lantai. 

"J4l4ng sialan. m4t! saja Kaaaauuuu! Br3ngsek!!!" Pekiknya hingga wanita itu masuk ke dalam lift.

 

1
Sulis
nyesel sekrng wkwkwk,ibu nya pun rada2 ngomong pas lgi makan,yaa tak tertelan 🫣🫣
Kaira Caem
👍👍👍
fitria linda
bahkan orang luar negri pun berpikiran gt???
fitria linda
jahat bgt
fitria linda
jahat semua mulut mereka
Wiliam Zero
Novelnya bagus,akhirnya erika berbahagia 👍
RIMAWATI
bagus ksryanya
Tuti Tyastuti
semangat thor
Tuti Tyastuti
makasih thor ceritanya bagus di tggu karya yv baru💪
Tuti Tyastuti
semangat erika
Tuti Tyastuti
lanjut
💞R0$€_22💞
Tetap semangat berkarya kak..
disebelah baru ta masukkan daftar pustaka..bakal baca ..💪
💞R0$€_22💞
Yahh Erika dah tamat aja..🥲
makasih banyak kak imut sudah menyelesaikan novel ini, happy Ending dah Erika bersama Dean Raka..
mudah²an ada kisah² baru lagi ya..
💞R0$€_22💞
Aron laki² bakal lebih sat set nanti gerakannya
💞R0$€_22💞
Kenapa ga bapaknya aja yg dipindah deket km Win, suka ngebayangin kalo resign ngurus ortu nanti pendapatannya dari mana, utk hidup sehari hari dan pengobatan
💞R0$€_22💞
Erika terlalu baik..mudah iba pula, ketemu keluarga yg suka drama,,lengkap sudah...
Sabar ya bang Dean,
💞R0$€_22💞
Takutnya ditolong nanti setelah aman terkendali berulah lagi..😏
Tuti Tyastuti
semoga bahagia selalu kelarga dean
Tuti Tyastuti
erika jangan terlalu baik
Tuti Tyastuti
lanjut💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!