Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.
Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.
Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kebangkitan di Balik Cincin Hitam
Angin malam berhembus dingin, membawa aroma pinus yang tajam menyapu halaman belakang sekte pinggiran. Lin Chen duduk bersila di atas batu basal yang dingin, menarik napas panjang. Malam ini terasa berbeda. Setelah bertahun-tahun menderita dan dihina oleh sesama murid, ia akhirnya bangkit dan menyadari satu kebenaran mutlak yang selama ini tertidur di dalam darahnya: tubuhnya sama sekali bukanlah sampah. Meridian yang selama ini tersumbat perlahan mulai beresonansi, menandakan ia telah melangkah mantap di tahap awal kultivasi, yakni ranah Penempaan Tubuh.
Ia membuka mata perlahan. Tepat pada saat itu, dari kejauhan di bawah cahaya bulan purnama yang pucat, pandangannya tertuju pada sesosok gadis yang sedang berdiri di anjungan tebing.
Gadis itu adalah Su Qingyue. Untuk pertama kalinya, Lin Chen melihatnya dari jarak sejauh ini, tampak sangat dingin dan cantik tiada tara, seolah-olah ia bukanlah makhluk yang berasal dari dunia yang fana ini. Jubah putihnya berkibar pelan, memancarkan aura es yang membuat siapa pun enggan mendekat. Lin Chen hanya bisa menatapnya dalam diam dari balik bayangan pohon besar. Sambil tersenyum getir, ia cuma berpikir dalam hati, "Orang seperti itu, jalannya pasti jauh berbeda dariku.". Di benaknya, jarak antara seorang murid buangan dan bintang langit bersinar itu tak mungkin bisa dijembatani.
Tiba-tiba, suara batuk tua serak memecah keheningan di dalam kepalanya. Sebuah cincin hitam pekat yang melingkar di jarinya memancarkan cahaya redup yang misterius.
Roh kuno yang bersemayam di dalamnya, Tua Hitam, baru saja bangun dari tidur panjangnya yang entah sudah berlangsung berapa abad. Namun, alih-alih memancarkan aura kebijaksanaan seorang tetua kuno atau memberikan petuah kultivasi tingkat tinggi, Tua Hitam malah langsung sibuk mengajari Lin Chen cara merayu wanita.
"Heh, bocah! Tatapanmu itu terlalu kaku dan menyedihkan! Kalau kau mau gadis es di sana itu melirikmu, kau harus pakai gayaku!" omel Tua Hitam dengan nada pongah di dalam benak Lin Chen. "Dulu di zamanku, cukup dengan satu senyuman, dewi-dewi dari enam alam akan berbaris! Maju sana, puji matanya!"
Lin Chen hanya bisa memutar bola matanya malas. Walaupun roh ini adalah sosok kuno, Lin Chen tahu persis bahwa semua ilmu asmara yang diajarkan Tua Hitam itu sangat salah salah dan hanya akan membuatnya terlihat konyol.
Belum sempat Lin Chen menyuruh Tua Hitam diam, semak-semak di belakangnya berdesir keras, mematahkan suasana hening malam itu. Seorang pemuda bertubuh gempal menerobos masuk, terengah-engah dengan wajah berpeluh.
Itu adalah Zhu Da. Ia muncul tiba-tiba di tengah malam buta seperti ini bukan karena khawatir atau ingin berlatih bersama, melainkan cuma gara-gara satu hal: ia sangat ingin makan daging.
"Chen-ge!" bisik Zhu Da setengah berteriak sambil mengusap perut buncitnya. "Kudengar di hutan belakang ada babi tanduk berbulu yang dagingnya sangat empuk! Ayo bantu aku menangkapnya sebelum tetua asrama bangun!"
Melihat sahabat gempalnya yang tidak pernah bisa lepas dari urusan perut itu, Lin Chen hanya bisa menghela napas pasrah. Ia melirik sekilas ke arah tebing tempat Su Qingyue berdiri tadi, namun sosok sedingin es itu sudah menghilang di balik kabut malam.
Tanpa Lin Chen ketahui, langkah kecilnya malam itu di batas Alam Fana tidak hanya akan mengantarkannya melintasi lautan penderitaan, tetapi pada akhirnya akan menuntunnya untuk melawan langit itu sendiri.
"Ayo," jawab Lin Chen singkat, menepuk bahu Zhu Da, sementara Cincin Hitam di jarinya berdenyut hangat mengiringi langkah pertamanya.