NovelToon NovelToon
Tawaran Sang Raja Mafia

Tawaran Sang Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Action
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Andri Komara

Dia datang bukan untuk merebut kembali masa lalunya.
Dia datang untuk menghancurkan mereka yang mencurinya.

Tujuh tahun lalu, ia kehilangan segalanya dalam satu malam. Nama baiknya dihancurkan, keluarganya meninggalkannya, wanita yang dicintainya bersaksi melawannya, dan dunia percaya ia telah mati.

Namun, kematian itu hanyalah awal.

Kini ia kembali dengan identitas baru—lebih kaya, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Di balik senyum tenangnya, tersimpan rencana yang telah disusun selama tujuh tahun. Satu per satu orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar harga yang tak pernah mereka bayangkan.

Tetapi semakin dekat pada balas dendam, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Bagaimana jika orang yang selama ini ia benci hanyalah pion?

Bagaimana jika dalang sebenarnya masih hidup... dan telah mengawasi setiap langkahnya sejak awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 : Sahabat yang Berubah Wajah

#

Malem itu Damar nggak pulang ke rumah utama. Dia parkir mobilnya di depan rumah kecil Broto, adek angkatnya, yang emang sengaja milih tinggal terpisah dari rumah gede keluarga soalnya katanya dulu, "biar bebas, biar nggak diatur atur terus," padahal Damar tau alesan sebenernya bukan itu doang.

Dia duduk di mobil lumayan lama sebelum berani turun. Tangannya masih megangin setir, matanya merah, bukan cuma karena capek, tapi karena sepanjang jalan ke sini dia nangis, beneran nangis, sampe harus berenti dua kali di pinggir jalan gara gara pandangannya buram kena air mata sendiri, malu juga sebenernya kalo ada yang liat, tapi ya siapa juga yang mau liatin orang nangis sendirian di mobil jam segini.

Dia ketuk pintu. Sekali, dua kali, agak keras, soalnya tangannya masih gemeteran dari tadi siang.

Broto yang buka pintu. Wajahnya keliatan capek, ada kantong mata item yang lumayan kentara, dan begitu dia liat Damar berdiri di depan pintu, ada sepersekian detik di mana matanya kayak... Damar nggak bisa jelasin apa itu. Kaget? Takut? Atau nggak enak?

"Bro," Damar bilang, suaranya udah nggak bisa disembunyiin lagi getarnya, "aku butuh ngomong sama kamu."

Broto diem sebentar, terus buka pintu lebih lebar, "masuk," katanya, singkat, nadanya beda dari biasanya yang biasa becanda becanda kalo Damar dateng.

Di dalem, Damar duduk di sofa yang udah dia kenal dari dulu, soalnya dulu mereka sering nongkrong di situ sambil main gim atau nonton bola, dan sekarang duduk di situ rasanya kayak asing banget, kayak sofa itu ikutan berubah bareng semuanya.

"Bro, kamu percaya kan sama aku," Damar mulai, matanya udah berkaca kaca lagi, "kamu tau aku nggak mungkin lakuin itu. Kamu tau aku sayang sama pabrik itu, aku ngurusin dari nol, aku nggak bakal sengaja ngerusaknya sendiri, kan?"

Broto duduk di kursi seberang, nggak di sofa yang sama, dan itu detail kecil yang entah kenapa Damar perhatiin banget, kenapa dia nggak duduk deket, kenapa harus jaga jarak.

"Aku... aku percaya sih," Broto jawab, tapi matanya nggak natap Damar langsung, malah ngeliat ke lantai, "tapi, Mar, ini rumit. Semua orang lagi nyari kambing hitam, dan..."

"Dan apa?"

Broto diem lumayan lama. Kelamaan malah, sampe Damar ngerasa jantungnya udah berdebar debar duluan sebelum Broto ngomong apa apa.

"Ada yang nanya nanya ke aku," Broto akhirnya bilang, "tentang kamu. Tentang, eh, keuangan pabrik."

"Keuangan pabrik kenapa?"

"Kamu... kamu pernah cerita ke aku kan, beberapa bulan lalu, kalo biaya produksi pabrik itu bengkak dari rencana awal, kalo kamu stress mikirin gimana caranya nutupin selisihnya biar nggak keliatan sama dewan direksi..."

Damar ngerasa kayak ada yang nampar dia keras banget. "Itu... itu obrolan pribadi, Bro! Itu aku cerita ke kamu karena kamu adek aku, karena aku butuh curhat, bukan buat dipake ngelawan aku!"

"Aku tau, tapi..." Broto berenti, napasnya keliatan berat, kayak orang yang lagi nahan sesuatu, "tapi udah kejadian, Mar. Aku udah cerita ke wartawan pas mereka dateng ke sini kemaren."

Ruangan itu tiba tiba kerasa dingin banget. Damar sampe berdiri dari sofa, "kamu... kamu apa?"

"Mereka maksa, Mar! Mereka udah tau soal obrolan kita, entah dari mana, dan aku... aku panik, aku takut, aku pikir kalo aku jujur aja soal itu mungkin nggak bakal seburuk kalo aku diem terus ketauan nutup nutupin!"

"JUJUR APA?! Itu bukan pengakuan, Bro, itu obrolan biasa yang kamu putar balikin jadi kesannya aku ngeluh soal duit terus tiba tiba pabriknya meledak, kamu tau itu bakal diartiin gimana sama orang orang di luar sana?!"

Broto nggak jawab. Dia cuma nunduk, tangannya remes remes ujung baju sendiri, dan Damar bisa liat, di balik semua itu, Broto juga lagi ketakutan, tapi entah kenapa itu nggak bikin Damar ngerasa lebih baik, malah makin sesek.

"Bro," Damar bilang, suaranya sekarang lebih pelan, lebih capek daripada marah, "kamu itu adek aku. Kita gede bareng. Kamu tau aku kayak gimana orangnya. Kenapa kamu tega banget ngomong kayak gitu ke wartawan?"

Broto akhirnya nangis. Beneran nangis, bahunya berguncang guncang, dan dia bilang, di sela sela isakannya, "aku takut, Mar. Aku takut banget. Bapak yang... bapak yang minta aku ngomong gitu."

Damar berenti napas sebentar. "Apa?"

"Bapak yang telfon aku, sebelum wartawan dateng ke sini. Dia bilang... dia bilang kalo aku nggak ngomong sesuatu yang bikin fokus media geser dikit dari dia sama perusahaan, bakal ada konsekuensi buat aku, buat masa depan aku di perusahaan..."

Damar berdiri kaku di situ, kayak ada yang nyiram air es ke seluruh badannya.

Bapak angkatnya sendiri, yang tadi siang cuma diem waktu ditanyain wartawan, yang katanya lagi "jaga image perusahaan", ternyata diam diam udah ngatur Broto buat ngomong sesuatu yang bakal ngehancurin nama Damar lebih jauh lagi.

"Kenapa," Damar bisikin, lebih ke diri sendiri daripada ke Broto, "kenapa bapak lakuin ini ke aku."

Dia nggak dapet jawaban malem itu. Broto cuma bisa minta maaf berkali kali, sambil nangis, sambil bilang dia nggak ada pilihan, dan Damar, meski hatinya udah ancur berkeping keping, entah kenapa masih bisa ngerasa kasian sama Broto, soalnya dia liat sendiri, adeknya itu juga lagi diperes, dipaksa jadi alat, sama orang yang seharusnya lindungin mereka berdua.

Besok paginya, berita itu udah nyebar ke mana mana. "Anak Angkat Hartono Group Mengeluh Soal Beban Keuangan Pabrik Sebelum Ledakan Terjadi", judulnya, dan di bawahnya ada kutipan dari Broto yang udah dipelintir sedemikian rupa sampe kesannya Damar emang beneran punya motif buat bikin masalah di pabrik itu.

Saham Hartono Group anjlok drastis sepanjang hari itu. Damar liat sendiri lewat hp nya, angka angka merah yang terus turun turun, dan dia ngerasa kayak lagi nonton hidupnya sendiri ancur pelan pelan di layar kecil itu, sementara dia cuma bisa duduk diem di kamar hotel murah yang dia sewa soalnya udah nggak berani balik ke rumah utama.

Sore harinya, ada ketukan pintu. Damar hampir nggak mau buka, takut itu wartawan yang berhasil nemuin dia, tapi ternyata itu Made Surya, pengacara lama keluarga, yang wajahnya keliatan tua banget hari itu, lebih tua dari biasanya, kayak beban sepuluh tahun numpuk jadi satu di garis garis wajahnya.

"Damar," Om Made manggil dia, suaranya pelan, hampir bisik, "aku nggak bisa lama lama di sini. Tapi aku harus bilang sesuatu ke kamu."

"Bilang apa, Om?"

Made Surya ngeliat ke kanan kiri koridor hotel itu dulu, kayak mastiin nggak ada orang yang denger, dan Damar jadi ikutan tegang cuma liat gerak geriknya itu.

"Ini bukan kecelakaan," Om Made bisikin, matanya natep Damar lurus lurus, penuh sesuatu yang Damar nggak bisa tebak, "dan kamu bukan orang yang harus disalahin, Damar. Tapi aku belum bisa cerita semuanya sekarang. Belum aman."

"Om, tolong, aku butuh tau, aku udah kehilangan segalanya—"

"Aku tau," potong Om Made, cepet, "makanya aku ke sini. Tapi percaya sama aku, ada hal hal yang lebih besar dari yang kamu bayangin, dan kalo aku ngomong sekarang, bukan cuma kamu yang bahaya, tapi juga..."

Dia berenti, kayak ngerem diri sendiri sebelum kelepasan ngomong lebih jauh.

"Juga siapa, Om?"

Made Surya cuma pegang bahu Damar, erat, terus bilang, "sabar dulu, Nak. Percaya sama aku."

Dan dia pergi, ninggalin Damar berdiri sendirian di depan pintu kamar hotel, dengan kalimat itu masih ngambang di udara, ini bukan kecelakaan, dan Damar berdiri di situ lama banget, sampe lampu koridor mulai berkedip, mikirin, kalo ini emang bukan kecelakaan, terus siapa yang sengaja bikin hidupnya ancur kayak gini, dan kenapa.

1
Vie
pasti dia sangat tertekan juga dihantui rasa bersalah seumur hidupnya tentang Damar dulu.. 😥
Vie
tetap semangat Damar... 👍🏼👍🏼💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Vie
mungkin dia mencium sesuatu yang janggal dari kasus tersebut, makanya dia tidak berhenti mencari kebenaran kejadian tersebut. apalagi sampai merenggut banyak nyawa, termasuk nyawa Damar... 🤔🤔
Vie
mereka juga mungkin sama aadalah korban juga... karena harus berbohong jadi mereka tenggelam dalam penyesalan tak berujung karena meninggalnya Damar
Vie
oohh pantesan dia ngorbanin Damar dulu mungkin kah karena ini juga?
Vie
nah... gitu.. tetaplah jaga hatimu jangan sampai berubah, apapun yang terjadi... sebab kepercayaan kalau sudah rusak maka akan sulit untuk kamu dapatkan kembali...
Vie
dia merasakan juga apa yang kamu rasakan.. apakah mungkin dia juga sama nasibnya.. mungkin tidak beda jauh dengan kamu....
Vie
nanti juga kamu bakalan nemu jawaban nya sendiri👍🏼👍🏼..
Vie
waaahh beneran gila sih kalau emang beneran gitu... dia seolah hanya dipaksa untuk bekerja mencari hal baru, dan setelah ketemu dibuang gitu aja kayak gak berharga 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️ manusia emang lebih menyeramkan daripada hewan buas sekalipun, malah lebih buas dari hewan buas sekalipun 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Vie
dan itu yang lebih berbahaya... karena yang bermain adalah otak yang tidak ada jejak fisik nya, karena tidak akan meninggalkan bekas ditubuh...
Vie
ooohhh.... mungkin kah ini alasan kecil dibalik semua kejadian yang menimpa Damar? 🤔🤔
Vie
nah gitu dong.. 👍🏼👍🏼
Vie
nah. begitulah kalau orang yang gak pernah atau jarang berbohong.. sekalinya bohong, dia harus puter otak dulu yang lamaaaaa buat nyari alasan yang tepat juga logis, walaupun hati sudah dag dig dug mau pecah biar bisa dipercaya🤭🤭 tapi kalau orang yang pintar bohong, hanya satu detik dia udah punya jawaban untuk menutupi kebohonganya... tapi orang jujur malah susah untuk hidup aman dan tenang, tapi orang yang gak jujur malah hidupnya tenang2 aja 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️
Vie
dan apakah ini adalah kakek nya Damar ya??
Vie
waahh siap tuh Ariel.. yng pasti bukan Noah ataupun ngu ah🤭🤭 apakah dia ayah yang sebenarnya Damar 🤔🤔🤔menarik.... 👍🏼👍🏼
Vie: cari aman kah kak? 😂😂
total 2 replies
Vie
ya... mungkin semua itu pasti ada yang menjadi penyebab utamanya dari semua kejadian yang menimpa Damar....
Vie
waaahh.. siapa tuh???
Vie: iya tau bukan Ariel Noah kok 🤭
total 2 replies
Vie
what 😱😱😱..
Vie: why 🤭🤭
total 2 replies
Vie
sok lah kamu harus bisa pecahin teka teki kehidupan mu sendiri Damar... 💪🏻💪🏻👍🏼👍🏼
Vie
iihh kasian juga si Sahsa jadi korban juga... nih. sebenarnya siapa sih yang punya niat jahat...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!