Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.
Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Memasuki Oakhaven dan Birokrasi Gerbang Kota yang Absurd
Perjalanan satu jam menyusuri aliran sungai hilir terasa jauh lebih santai berkat kehadiran rombongan petualang Greenwood. Sepanjang jalan, Raditya dengan lihai menggali informasi seperti seorang agen intelijen yang menyamar jadi sales keliling. Dari obrolan taktisnya dengan Bro Bob dan Bro Rob, dia tahu bahwa Kota Benteng Oakhaven diperintah oleh seorang bangsawan militer pelit bernama Baron Vane, dan kota itu dihuni oleh ribuan petualang yang setiap hari kelaparan akan makanan yang layak serta ramuan pemulih instan.
"Nona Lira," panggil Raditya sopan saat mereka mulai melihat siluet dinding batu raksasa di balik kabut tipis sore. "Apakah gerbang kota itu selalu dipadati antrean seperti antrean sembako gratis?"
Nona Lira menoleh, jubah tenun lusuhnya berkibar lemah. "Itu pos pemeriksaan pajak barang bawaan, Tuan Raditya. Para penjaga gerbang benteng adalah manusia-manusia serakah yang ditunjuk langsung oleh kastel Baron. Mereka akan memeriksa setiap jengkal tasmu demi sekeping koin tembaga."
Raditya menatap ke depan. Dinding Oakhaven berdiri megah setinggi lima belas meter, dibangun dari balok kayu ek raksasa yang dilapisi lempengan batu hitam. Di bawahnya, sebuah gerbang besi besar dijaga oleh delapan prajurit berbaju zirah rantai yang memegang tombak panjang. Antrean kereta kuda pedagang dan petualang yang kelelahan mengular panjang, menciptakan atmosfer yang sangat mirip dengan kemacetan jalur mudik antar-provinsi di Bumi.
"Berikutnya! Maju!" teriak seorang sersan penjaga berwajah bopeng, namanya Kapten Boros—nama yang sangat sinkron dengan tabiatnya yang gemar boros uang suap.
Rombongan Raditya akhirnya sampai di barisan terdepan. Kapten Boros menatap Bob, Rob, dan Lira dengan pandangan meremehkan. "Ah, kelompok pemburu semak. Mana hasil buruan kalian? Pajak masuk tiga koin perak untuk rombongan, dan dua koin perak tambahan jika membawa komoditas obat."
Bob meringis, menyerahkan sisa koin perak yang dia miliki dari kantong kulitnya. "Ini, Kapten. Kami hanya membawa beberapa tanaman obat biasa karena kemarin diserang babi besi."
Kapten Boros mendengus, meraup koin itu ke dalam kantongnya tanpa menghitung lagi. Pandangan matanya yang licik kemudian beralih ke samping, mengunci sosok Raditya yang berdiri dengan postur tegak, kemeja flanel bersih, celana kargo modern, dan tas pinggang taktis yang tampak sangat 'premium' di mata orang lokal.
"Dan siapa kau? Pakaianmu tidak seperti penduduk faksi selatan," selidik Kapten Boros, ujung tombaknya diturunkan sedikit, menghalangi jalur Raditya. "Membawa barang selundupan? Buka semua kantong celanamu yang sangat banyak itu!"
Ding!
[Analisis Birokrasi Gerbang Terdeteksi v3.0]:
Target: Kapten Boros (Level 15 - Sipir Penjaga Korup).
Intensi: Mencari alasan untuk menyita barang asing demi keuntungan pribadi atau meminta uang rokok lintas dimensi.
Rekomendasi Sistem: Menggunakan kekerasan akan memicu status [Buronan Kota]. Gunakan fungsi [Fungsi: Kasir Otomatis] untuk memanipulasi nilai taksiran barang, atau beri dia sachet suap yang elegan.
Nona Lira sempat ingin membela, "Dia pengembara yang menolong—"
"Tunggu sebentar, Nona Lira. Biar saya yang urus nota berjalan ini," potong Raditya halus dengan senyum profesional terbaiknya.
Raditya maju selangkah, menatap mata Kapten Boros tanpa rasa takut sedikit pun. "Selamat sore, Kapten yang Terhormat. Saya Raditya, seorang Manajer Grosir independen. Saya datang ke Oakhaven untuk berinvestasi dan membuka sirkulasi dagang baru yang resmi. Tentu saja, saya sangat menghormati hukum gerbang Anda."
"Investasi? Berwacana saja kau! Cepat tunjukkan barang bawaanmu untuk ditaksir pajak kargo!" gertak Boros, matanya melirik ke arah kantong celana kargo Raditya yang menggembung di bagian kanan—tempat dia menyimpan beberapa kaleng kornet TNI AU.
Raditya dengan santai memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong kargo tersebut. Namun, di bawah penutup kain celana, dia sebenarnya mengakses Gudang Sistem v3.0 untuk mengambil sesuatu yang jauh lebih murah tetapi memiliki dampak visual yang dahsyat bagi penduduk primitif.
Sebungkus Kopi Sachet Instan 3-in-1 (Rasa Karamel Macchiato) sisa modal awalnya di menara.
Raditya mengeluarkan bungkusan sachet plastik modern yang berwarna cokelat berkilau dengan gambar cangkir kopi berbusa estetik di atasnya. Dia memutar sachet itu di antara jari-jarinya yang lincah berkat kecepatan tangan +40%.
"Ini adalah Serbuk Sari Awan Karamel dari benua seberang, Kapten," bisik Raditya, merendahkan suaranya agar terdengar eksklusif. "Sebuah konsentrat minuman bangsawan yang tidak perlu diseduh oleh penyihir tingkat tinggi. Hanya butuh air panas, dan Anda akan merasakan sensasi menjadi raja dalam semalam."
Kapten Boros melotot menatap kemasan plastik sachet yang sangat halus—sebuah material yang belum pernah diciptakan oleh tukang sulap mana pun di Aethelgard. "P-Plastik berwarna?! Desain sihir apa ini? Berapa nilai pajaknya?!"
Ding!
[Gelar Aktif: Manajer Grosir Sachet - Efek Negosiasi Dagang]:
Sistem memanipulasi persepsi target. Benda senilai Rp1.500,- di Bumi kini terdeteksi sebagai [Artefak Alkimia Konsumsi Tingkat Menengah] di mata Kapten Boros.
Tingkat keserakahan target meningkat 200%. Jalur negosiasi damai terbuka lebar.
Raditya menyelipkan sachet karamel tersebut langsung ke dalam genggaman sarung tangan besi Kapten Boros dengan gerakan yang sangat halus. "Ini bukan komoditas dagang yang saya jual, Kapten. Ini adalah 'sampel persahabatan' khusus untuk pemimpin keamanan gerbang yang bekerja keras seperti Anda. Tentu saja, barang bawaan saya yang lain di dalam kantong ini hanyalah pakaian dalam ganti yang tidak bernilai pajak."
Kapten Boros merasakan halusnya kemasan sachet di tangannya, mencium aroma esens karamel tiruan yang bocor tipis dari pori-pori plastik, dan seketika jakunnya naik turun karena menelan ludah.
"Ehem!" Kapten Boros buru-buru memasukkan sachet kopi tersebut ke dalam saku jubah dalamnya dengan gerakan panik takut ketahuan prajurit lain. Dia berdehem keras, menegakkan punggungnya kembali. "K-Kalian semua... bersih! Tidak ada barang ilegal. Silakan masuk ke Oakhaven!"
Dua prajurit penjaga di belakang langsung menarik rantai gerbang, membuka celah yang cukup lebar untuk rombongan Raditya lewat.
"Terima kasih atas kebijaksanaannya, Kapten Boros. Semoga hari Anda penuh kafein," ujar Raditya sambil melangkah masuk melewati ambang gerbang batu raksasa.
Bob dan Rob mengikutinya dari belakang dengan mulut terbuka lebar karena tidak percaya melihat sipir paling pelit di benteng ini bisa dilembutkan hanya dengan selembar bungkusan cokelat kecil. Sementara Nona Lira menatap punggung Raditya dengan pandangan yang makin penasaran.
Begitu menginjakkan kaki di dalam kota, pemandangan jalanan berbatu yang dipenuhi rumah-rumah beratap kayu bertingkat langsung menyambut mereka. Kerumunan orang dengan jubah sihir, baju zirah besi, serta para pedagang kaki lima lokal yang berteriak menjajakan sate daging kadal hutan membuat suasana begitu hidup.
Ding!
[Selamat! Anda Telah Memasuki Area Aman: Kota Benteng Oakhaven]:
Fungsi Baru Toko Terbuka: Anda kini bisa menyewa ruang/lapak fisik menggunakan koin perak lokal atau Poin Survival.
Misi Sampingan Aktif: Buka Warung Sachet Pertama Anda di Oakhaven dalam waktu 24 jam! (Hadiah: +300 Poin Survival dan Pembukaan Kategori 'Grosir Sembako').
Raditya melihat ke sekeliling, senyum kapitalisnya makin melebar menatap potensi pasar yang begitu padat di hadapannya. "Bob, Rob, Nona Lira... di mana tempat berkumpulnya para petualang yang paling ramai dan paling kelaparan di kota ini? Saatnya saya mendirikan cabang pertama bisnis grosir saya."