NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:76
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 – Pemeriksaan di Guild Petualang

Sinar matahari sore yang mulai miring menyinari tembok batu setinggi sepuluh meter yang perlahan terlihat jelas di kejauhan. Dinding itu dibangun dari batu granit abu-abu yang tampak kokoh dan kokoh, dihiasi ukiran lambang matahari yang melilit setiap sudut gerbangnya. Di atas gerbang utama yang lebar itu, kain bendera berwarna biru tua berkibar ditiup angin, dengan lambang matahari emas yang bersinar terang di tengahnya—simbol Kota Lumin, kota terbesar di wilayah perbatasan selatan Kerajaan Eldoria.

"Itu dia," kata Daichi sambil menunjuk ke arah gerbang dengan ujung cambuknya, senyum bangga tersungging di bibirnya. "Kota Lumin. Gerbang menuju dunia petualangan yang sebenarnya."

Mata Haruto membelalak lebar, matanya tidak sanggup menampung keajaiban yang ada di hadapannya. Ia menekan wajahnya ke tepi jendela kereta, napasnya sedikit memburu karena antusiasme.

"Jadi ini kota pertamaku di dunia lain..." bisiknya pelan, hatinya berdebar kencang. "Sangat besar... jauh lebih besar dari desa tempat aku tinggal dulu, bahkan lebih megah dari semua cerita yang pernah kubaca di buku."

Kereta perlahan melambat saat mendekati antrean di gerbang kota. Para penjaga yang mengenakan zirah besi berwarna perak dengan lambang matahari di dada memeriksa barang-barang penumpang dengan teliti namun sopan. Setelah selesai diperiksa dan membayar pajak masuk yang kecil, kereta akhirnya melangkah masuk ke dalam wilayah kota.

Suasana di dalam kota langsung menyambut mereka dengan hiruk-pikuk yang meriah. Jalanan beraspal luas dipenuhi orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat: pedagang yang memajang buah-buahan aneh, senjata tajam, dan ramuan obat di atas lapak mereka; petualang yang mengenakan zirah kulit maupun besi dengan lencana berbagai warna di dada; penyihir yang mengenakan jubah panjang bermotif runik; hingga anak-anak yang berlarian di sela-sela kerumunan sambil tertawa riang mengejar layang-layang kain. Bau harum roti panggang, daging panggang, dan aroma bunga melati dari taman kota bercampur menjadi satu, menciptakan suasana yang hidup dan hangat.

Haruto terus menoleh ke kanan dan kiri, matanya bergerak tak henti-henti melihat satu hal ke hal lain. "Hebat sekali... persis seperti kota petualang yang ada di dalam permainan sihir yang pernah kulihat di dunia asalku."

Daichi tertawa kecil melihat tingkah pemuda itu. Ia memegang kendali kuda dengan santai sambil menoleh sekilas. "Kalau terus melihat ke sana kemari seperti itu, nanti lehermu kaku dan kepalamu pusing sebelum sempat melihat Guild Petualang. Kota ini masih punya banyak hal yang lebih menakjubkan lagi untuk kau lihat nanti."

Haruto hanya terkekeh malu, lalu duduk kembali dengan rapi namun matanya masih tak lepas dari pemandangan di luar.

Tak lama kemudian, kereta berhenti di depan sebuah bangunan megah berlantai tiga yang berdiri kokoh di sudut alun-alun utama. Bangunan itu dibangun dengan batu putih yang bersih, dihiasi jendela kaca berwarna-warni dan pilar-pilar tinggi yang menjulang ke langit. Di atas pintu kayu besar yang lebar itu tergantung sebuah lambang besar: pedang besi dan tongkat sihir berujung permata yang saling bersilang, dikelilingi lingkaran runik yang menyala samar.

Haruto langsung mengenali lambang itu dari buku-buku yang pernah ia baca. Matanya kembali berbinar terang.

"Itu... Guild Petualang resmi Kerajaan!"

Daichi mengangguk sambil melompat turun dari kereta, lalu mengulurkan tangan membantu Haruto turun. "Benar sekali. Ayo masuk, waktu kita tidak banyak. Petugas pemeriksa kemampuan akan segera selesai bertugas kalau kita terlambat."

Begitu pintu kayu besar itu didorong terbuka, suara riuh rendah langsung menyambut telinga mereka. Ruangan lobi yang luas itu dipenuhi petualang yang sedang beristirahat: ada yang duduk di meja panjang sambil menikmati minuman bir dan roti hangat, ada yang memamerkan kepala monster atau bahan berharga hasil buruan mereka kepada pembeli, ada pula yang berdiri berkerumun di depan papan pengumuman kayu besar sambil membaca daftar misi yang tersedia. Udara di ruangan itu terasa hangat, bercampur dengan bau minyak senjata, ramuan obat, dan aroma kayu yang terbakar di perapian besar di sudut ruangan.

Saat Daichi melangkah masuk, beberapa petualang yang sudah mengenalnya langsung melambaikan tangan dan menyapa dengan akrab.

"Oi, Daichi! Kau kembali lagi ke kota!" seru seorang pria berbadan kekar yang sedang membersihkan pedangnya.

"Bagaimana perjalananmu minggu ini? Lancar tanpa gangguan?" tanya yang lain. "Apa kali ini membawa barang dagangan lagi?"

Daichi tersenyum ramah dan melambaikan tangan membalas sapaan mereka. "Bukan kali ini. Aku tidak membawa barang dagangan, tapi aku membawa calon petualang baru yang ingin mendaftar resmi."

Seketika itu, semua percakapan di ruangan itu perlahan mereda. Pasang mata dari berbagai arah langsung tertuju pada Haruto yang berdiri malu-malu di belakang Daichi. Beberapa orang mengerutkan kening, ada yang mengangguk pelan, dan ada pula yang tersenyum geli.

Pria bertubuh besar yang tadi menyapa Daichi tertawa keras hingga bergema di ruangan itu. "Masih bocah sekecil ini mau jadi petualang? Jangan-jangan kau baru kabur dari rumah karena dilarang main-main ya?"

Beberapa orang ikut tertawa mendengar candaan itu. Wajah Haruto memerah padam karena malu, ia hanya bisa tersenyum canggung sambil menundukkan pandangan.

Daichi langsung menepuk bahu pemuda itu pelan untuk menenangkannya, lalu berjalan menuju meja resepsionis di bagian tengah ruangan. Di balik meja kayu yang tinggi itu berdiri seorang wanita berambut cokelat panjang yang diikat rapi ke belakang, mengenakan seragam putih-biru dengan lencana Guild di kerahnya. Ia sedang mencatat sesuatu di atas buku besar, namun segera mengangkat wajahnya saat melihat mereka datang. Itu adalah Elena, petugas resepsionis senior yang sudah bekerja di sana selama lima tahun.

"Selamat datang di Guild Petualang Kota Lumin," sapa Elena dengan suara lembut namun tegas, senyum ramah menghiasi wajahnya. Ia kemudian menatap Haruto sekilas sebelum menoleh ke arah Daichi. "Daichi, siapa anak ini? Apakah kerabatmu?"

"Namanya Haruto Kazehara," jawab Daichi sambil menunjuk ke arah pemuda di sampingnya. "Aku menemukannya terjebak di dekat pinggiran Hutan Grimm kemarin sore. Dia sendirian, tidak punya tujuan jelas, dan ingin sekali mendaftar menjadi petualang."

Senyum di wajah Elena perlahan memudar. Matanya langsung melebar karena terkejut. "Dekat Hutan Grimm? Hutan yang sama tempat banyak kelompok petualang hilang belakangan ini? Dia selamat sampai ke sini tanpa luka parah?"

"Nyaris tidak saja bisa dibilang selamat utuh," jawab Daichi sambil tertawa kecil mengingat kejadian kemarin. "Dia cukup beruntung, dan memiliki insting yang tajam untuk menghindari bahaya."

Elena mengangguk pelan sambil menatap Haruto dengan pandangan yang lebih serius. "Kalau begitu, prosedurnya tetap sama. Kita harus melakukan pemeriksaan kemampuan dasar terlebih dahulu sebelum mendaftarkannya secara resmi. Ikut aku ke ruangan pemeriksaan khusus."

Haruto mengangguk mantap, lalu mengikuti Elena berjalan melewati lorong pendek menuju sebuah ruangan di belakang lobi utama. Ruangan itu lebih tenang, dindingnya dilapisi batu putih yang diukir dengan rune penstabil sihir, dan di tengah ruangan terdapat sebuah meja batu bulat setinggi pinggang. Di atas meja itu berdiri sebuah bola kristal bening sebesar kepala manusia, yang memancarkan cahaya putih lembut dan berdenyut pelan seolah memiliki detak jantung sendiri.

"Ini adalah Altar Penilai," jelas Elena sambil menunjuk bola kristal itu. "Benda ini bisa membaca identitas, potensi, dan jenis elemen sihir yang tersimpan di dalam tubuh seseorang. Silakan letakkan telapak tangan kananmu tepat di permukaan kristal itu, dan rilekskan pikiranmu sebaik mungkin. Jangan menahan apa pun, biarkan aliran mana di dalam tubuhmu mengalir keluar secara alami."

Haruto mengangguk paham. "Baik, sepertinya mudah sekali." Ia menarik napas panjang untuk menenangkan diri, lalu melangkah maju dan meletakkan telapak tangannya di atas permukaan kristal yang terasa dingin namun halus.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Perlahan, cahaya putih di dalam kristal mulai berubah warna menjadi cerah. Lingkaran-lingkaran sihir berukuran kecil mulai muncul di permukaannya, berputar satu sama lain dengan kecepatan yang semakin meningkat, dan huruf-huruf kuno perlahan terbentuk di tengahnya. Elena membaca tulisan itu dengan teliti, sementara Daichi dan beberapa petualang yang ikut berdiri di ambang pintu memperhatikan dengan serius.

"Nama: Haruto Kazehara," baca Elena pelan. "Asal... tidak diketahui. Tidak ada catatan kelahiran maupun catatan penduduk dari wilayah mana pun di Kerajaan Eldoria yang cocok dengan data ini." Ia berhenti sejenak, lalu matanya kembali terpaku pada tulisan yang baru saja muncul. Wajahnya perlahan berubah menjadi penuh keterkejutan.

"Elemen sihir yang mendominasi: Air," lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar.

Keheningan mendadak menyelimuti ruangan itu. Bahkan suara langkah kaki dari lobi luar seolah lenyap seketika. Haruto menoleh ke kiri dan kanan melihat ekspresi orang-orang di sekitarnya, lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dengan bingung.

"Memangnya kenapa hanya elemen air? Apakah itu buruk?" tanyanya polos.

Seorang petualang tua yang berdiri di ambang pintu berbisik pelan kepada temannya. "Air? Jarang sekali ada pemula yang memiliki elemen air murni sebagai elemen utama. Biasanya hanya muncul sebagai elemen pendamping saja."

Petualang lain mengangguk setuju sambil melangkah maju sedikit untuk melihat kristal itu lebih jelas. "Benarkah? Aku sudah bertugas di sini selama sepuluh tahun, baru dua kali melihat hasil pemeriksaan seperti ini."

Elena menarik napas panjang, lalu menatap Haruto dengan pandangan yang lebih dalam. "Dengar ya, Haruto. Sebagian besar penyihir dan petualang di dunia ini hanya memiliki elemen umum seperti api, tanah, angin, atau cahaya sebagai elemen utama mereka. Elemen air sendiri sebenarnya tidak termasuk elemen langka yang terlarang atau tidak berharga. Namun..." Ia kembali menatap tulisan di kristal itu. "...jalur penguasaan sihir air tergolong yang paling sulit dipelajari dari semuanya. Bukan karena kekuatannya lemah, tapi karena aliran mananya sangat berubah-ubah, menuntut kendali emosi dan ketelitian yang luar biasa tinggi. Sedikit saja kau salah hitung, sihir itu bisa berbalik melukai dirimu sendiri."

Daichi tersenyum tipis sambil melipat tangannya di dada, matanya bersinar kagum. "Itu justru sangat menarik. Kalau dia bisa melatih diri dan berhasil menguasai seluk-beluk sihir air ini dengan baik, suatu hari nanti dia bisa menjadi penyihir yang sangat hebat dan dibutuhkan di mana saja."

Haruto mengepalkan tangannya erat di sisi tubuhnya, semangat kembali membara di dadanya. "Jadi... berarti aku benar-benar bisa menggunakan sihir seperti yang aku duga selama ini?"

"Tentu saja," jawab Elena tegas sambil tersenyum. "Hanya saja, jangan berharap bisa melepaskan sihir yang dahsyat dalam waktu singkat. Semuanya butuh latihan, kesabaran, dan pemahaman yang mendalam tentang sifat air itu sendiri."

Haruto mengangguk mantap berkali-kali. "Baik! Aku akan berlatih sekeras apa pun sampai bisa menguasainya!"

Saat pemeriksaan hampir selesai dan Elena hendak mencatat hasilnya di buku pendaftaran, terdengar suara kecil yang sangat jelas dari dalam tas kain yang digendong Haruto di punggungnya.

"Pyoo..."

Haruto menepuk dahinya dengan keras karena teringat sesuatu. "Ah! Aku hampir lupa sama sekali!" Ia segera meletakkan tasnya di atas meja batu, membuka ikatannya dengan hati-hati, dan mengangkat bibir tas itu lebar-lebar.

Sesosok slime kecil berwarna biru muda melompat keluar dengan riang. Tubuhnya yang bulat dan kenyal memantul-mantul di atas permukaan meja batu, memancarkan cahaya biru samar.

"Pyooo!" serunya ceria sambil memiringkan tubuhnya ke kiri dan kanan seolah menyapa semua orang di ruangan itu.

Seketika itu, keheningan yang lebih hebat dari sebelumnya menyelimuti ruangan. Semua orang yang ada di sana menatap slime kecil itu tanpa berkedip sedikit pun, mata mereka melebar penuh takjub dan ketidakpercayaan.

Pria bertubuh besar yang tadi menertawakan Haruto perlahan melangkah masuk ke ruangan, suaranya terdengar parau karena terkejut. "Itu... itu slime biasa kan? Tidak mungkin ada yang lain selain slime?"

Elena tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat, matanya menatap tajam ke arah Pochi sambil mengerutkan kening. "Tidak... salah besar. Slime biasa tidak memiliki aliran mana yang sepadat dan sekuat ini. Bahkan slime raksasa sekalipun tidak memiliki tanda energi kuno seperti yang terlihat di tubuhnya."

Daichi juga tampak sangat heran, ia melangkah maju perlahan. "Pochi... sini naik ke atas Altar Penilai sebentar, Nak. Mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi padamu."

Haruto mengangguk, lalu mengangkat Pochi dengan lembut dan meletakkannya tepat di atas permukaan bola kristal.

Begitu tubuh lunak slime itu menyentuh kristal, cahaya putih di dalamnya seketika berubah menjadi biru menyilaukan yang memenuhi seluruh ruangan hingga menyakitkan mata. Bunyi peringatan sihir yang tajam dan terus-menerus tiba-tiba berbunyi dari kristal itu.

Tiiinnn! Tiiinnn! Tiiinnn!

Bola kristal itu bergetar hebat hingga seluruh meja batu ikut berguncang. Perlahan muncul garis-garis retakan halus di permukaannya, seolah benda itu tidak sanggup menampung energi yang dipancarkan oleh makhluk kecil itu.

Elena membelalakkan matanya sekuat tenaga, ia mundur selangkah karena terkejut. "Tingkat mana monster ini... mananya sama sekali tidak terbaca! Skala pengukur Guild bahkan sampai meledak karena kelebihan beban!"

Seluruh petualang yang menyaksikan langsung berdiri tegak dari tempat duduk mereka. Beberapa orang bahkan spontan mencabut senjata dan memosisikan diri siap bertarung, napas mereka tertahan di tenggorokan.

Sementara itu, Pochi sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi. Ia hanya memiringkan tubuh bulatnya dengan wajah polos, lalu mengeluarkan suara bingung.

"Pyoo?"

Haruto menggaruk kepalanya yang semakin bingung melihat reaksi semua orang. "Eh... kenapa semua orang melihat Pochi seolah dia monster berbahaya? Dia cuma suka makan buah manis dan tidur kok, tidak pernah menyakiti siapa pun."

Tidak ada seorang pun yang berani menjawabnya seketika itu. Karena di dalam hati mereka semua tahu satu hal yang sama: makhluk kecil yang berdiri di atas kristal itu jelas bukan slime biasa yang sering mereka temui di pinggiran hutan. Itu adalah sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih kuat, dan mungkin sudah lama hilang dari catatan sejarah dunia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!