NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Perjuangan seorang ibu dalam melahirkan buah hatinya tak pernah main-main. Cinta itu abadi, hadir di manapun berada. Begitu pula Valeska, yang meski sudah lama tak tinggal satu atap dengan sang ibu karena alasan tertentu, tapi hatinya selalu mengingat sosok yang sangat dirindukannya itu.

Jika ditanya, apakah Valeska bangga memiliki orang tua seperti mama dan papanya? Jawabannya pasti, sangat bangga. Namun, jika ditanya apakah ia menyesali kondisi keluarga mereka yang seperti ini? Valeska tak bisa menghindari perasaan itu. Ada sesal yang dalam, karena kasih sayang kedua orang tuanya tak lagi utuh.

Seringkali ia merasa iri melihat teman-temannya yang tumbuh dengan cinta dari ayah dan ibu secara bersamaan, berharap suatu saat, kesibukan orang tuanya tak lagi menjadi jarak. Apakah keretakan keluarga mereka disebabkan oleh kesibukan pekerjaan? Tidak. Barangkali, ini memang jalan yang harus ditempuh. Mempertahankan sesuatu tanpa keselarasan pemahaman hanya akan meninggalkan luka.

Orang tua Valeska tak pernah mengabaikan kebutuhan materi, mereka memastikan Valeska dan Kaivandra tak pernah kekurangan. Tapi bagaimana dengan kasih sayang? Dulu, Valeska berharap bisa mempersatukan mereka kembali, tapi seiring berjalannya waktu, dia mulai merasa lelah. Valeska Delina Putri dan Kaivandra Girga, adalah anugerah terindah dari cinta yang pernah menyatukan mereka. Kedua saudara ini selalu mencari kebahagiaan, meski dalam keadaan tak sempurna.

"Keren banget kamu, bang. Kalau kamu terus seperti ini, nanti Papa kasih motor impian kamu. Selamat, ya, semoga betah di kampus pilihan kamu itu," ujar Girga bangga saat Kaivandra diterima di kampus pilihannya.

"Adek, jangan terlalu memaksakan diri. Mama Papa nggak banyak menuntut. Kalau capek, istirahat ya sayang, jangan sampai sakit," ucap Delina suatu malam saat menyadari putrinya telah belajar seharian dikamar.

Begitu banyak kata manis yang pernah diterima Valeska dan Kaivandra dari kedua orang tuanya. Namun, setelah munculnya kesibukan mereka, semua terasa sunyi. Pertemuan dan komunikasi menjadi langka, tergantikan oleh materi yang datang dari kejauhan.

Pukul 08:00, Valeska dan Kaivandra sudah berada di ruangan dokter onkologi. Yang mana, beliau adalah dokter spesialis yang fokus terhadap diagnosis. Dokter itu, menjelaskan cara pengobatan kanker otak, pencegahan, bahkan cara kanker berkembang.

"Kalau sudah paham, bisa langsung ke lantai lima, nanti saya menyusul,"

"Baik dok, terima kasih." Jawab Kaivandra, lalu keluar dari ruangan tersebut.

Saat Valeska dan Kaivandra memasuki ruangan khusus kemoterapi, dada mereka terasa begitu sesak. Ternyata sakit banget ya ternyata, saat kita ditampar oleh kenyataan yang ada.

Ruangan ini terasa sepi, padahal di balik gorden putih yang berjajar rapi di sepanjang lorong, ada banyak sekali pasien yang berjuang. Valeska duduk di tempat tidur pesakitan, mencoba menenangkan diri sebelum sesi kemoterapi dimulai.

Seorang perawat menghampiri Valeska, dan memberikan obat oral yang harus diminumnya. "Dek Valeska, ini obat dari dokter. Diminum dulu, nanti setengah jam kemudian, baru kemoterapinya bisa dimulai," ucapnya lembut.

Valeska mengangguk, menerima gelas berisi air mineral dan obat kecil berwarna putih yang terasa begitu pahit, bahkan sebelum dia menelannya. Saat obat menyentuh lidahnya, dengan cepat, dia menelannya sebelum rasa pahit itu memenuhi mulutnya. Valeska meneguk air untuk membantu obat masuk, merasa sedikit cemas membayangkan bagaimana tubuhnya akan bereaksi.

Di depannya, Kaivandra duduk dengan wajah penuh perhatian, mencoba menyembunyikan kekhawatiran yang tak pernah bisa benar-benar dia samarkan.

"Abang, kira-kira adek bakal ngerasa sakit nggak ya habis ini?" tanya Valeska dengan suara kecil, hampir berbisik.

Kaivandra menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari kata-kata yang pas untuk diucapkan, meski didalam hatinya dia sendiri penuh dengan kegelisahan.

"Cantiknya abang, anak yang kuat. Lagian kan, katanya obat ini untuk membantu biar badan adek nggak terlalu ngerasa efek sampingnya. Jadi, adek nggak usah terlalu khawatir, ya?"

Valeska mengangguk, meski matanya sedikit berkaca-kaca. "Adek takut, Bang," bisiknya jujur.

"Adek takut nanti adek nggak akan kuat." Lanjutnya pelan.

"Kalau adek lelah, ada abang. Kalau adek sakit, abang di sini buat jagain adek. Cantiknya abang nggak sendiri, semua yang adek rasa, kita rasa bareng-bareng, ya?"

Kaivandra menjawab diakhiri senyuman lembut dan meraih tangan sang adik, lalu menggenggamnya erat.

30 menit kemudian. Setelah meminum obat oral yang diberikan oleh perawat, dokter pun masuk ke ruangan, menyapa lembut dengan senyuman di balik masker medis. Dokter mendekat dan duduk di sebelah Valeska.

"Bagaimana perasaannya?" tanya dokter dengan nada yang tenang.

Valeska mencoba tersenyum, lalu menjawab. "Deg-degan, Dok," jawabnya jujur.

"Sebenarnya, aku tahu ini untuk kebaikan diri aku. Tapi, tetap aja takut."

Dokter tersenyum, kali ini dengan mata yang penuh pengertian. "Wajar sekali kalau dek Valeska merasa seperti itu. Kemoterapi bukanlah hal yang mudah, dan kita semua di sini paham betapa beratnya. Tapi perlu diketahui, setiap langkah ini kita ambil bersama-sama. Saya, perawat, dan seluruh tim medis akan menemani dek Valeska untuk sembuh."

Dia menarik napas dalam-dalam, sedikit lebih tenang mendengar kata-kata dokter. "Kira-kira, efek sampingnya bakal parah, ya, Dok?"

Dokter mengusap tangan Valeska dengan lembut, memberikan dukungan. "Efeknya bisa berbeda-beda untuk tiap orang. Ada yang merasa lelah, mual, nyeri pada otot, atau pusing, tapi'kan saya sudah memberikan obat pendukung yang bisa mengurangi rasa tidak nyaman itu. Yang paling penting, dek Valeska harus selalu bilang ke kami apa pun yang dek Valeska rasakan, ya. Jangan ragu."

Valeska mengangguk lagi, "Baik dok, terima kasih."

Dokter memberikan isyarat pada seorang perawat, bahwa kemoterapi akan segera dimulai.

"Dek Valeska anak hebat. Lakukan yang terbaik, ya. Kita akan mulai pelan-pelan, dan ingat, setiap tetes obat yang masuk,merupakan langkah untuk sembuh."

Valeska memandangi punggung tangan kirinya, yang sudah siap dengan kanual infus di bawah kulit, dan terhubung ke botol berisi cairan bening yang menggantung di samping tempat tidurnya. Atas permintaan Valeska sendiri, agar dokter yang memasangnya ternyata diwujudkan, dokter itu tersenyum lembut, kemudian memastikan kanual infus dan selang terpasang dengan benar.

"Kalau sudah siap, coba tarik napas, lalu buang secara perlahan. Sudah siap?" tanya dokter dengan nada yang begitu tenang.

Valeska meneguk saliva, berusaha mengatasi gugup yang tidak bisa dia sembunyikan. "Siap, dok. Tapi aku masih deg-degan," jawabnya, setengah tertawa untuk mengurangi ketegangannya.

Sang dokter mengangguk, dan menyesuaikan posisi selang. "Kalau ada yang nggak nyaman, langsung bilang pada saya atau perawat."

Kaivandra memegang tangan adiknya. Begitu cairan kemoterapi mulai mengalir secara perlahan ke dalam tubuhnya, Valeska merasakan dingin yang merayap dari lengan kemudian menjalar ke sekujur tubuh. Rasanya seperti sentuhan pertama yang mengingkatkan pada perjalanan panjang yang harus diperjuangkan.

Di sebelah kanan, Kaivandra masih memegang tangan sang adik. Valeska menoleh, kemudian tersenyum manis, seakan memberikan isyarat bahwa dia baik-baik saja. Selama beberapa menit, Valeska memejamkan mata, membiarkan tubuhnya menyesuaikan dengan cairan obat yang bekerja dari dalam.

Setiap tetes yang masuk, merupakan langkah menuju kesehatan yang dia impikan. Ditengah ketakutan dan rasa tidak nyaman, Valeska merasa hatinya sedikit lebih kuat, karena ada orang-orang yang selalu siap mendukungnya.

"Abang bosan?" tanya Valeska.

Kaivandra menggeleng kuat. "Siapa bilang? Nggak kok, Abang berusaha nggak nangis aja,"

"Abang jangan nangis, kenapa musti nangis? Bukannya kata abang, ini awal dari perjuangan untuk sembuh?" Abang membayangkan wajah, Mama Papa saat mengetahui ini semua,"

"Halo, perkenalkan. Nama saya Valeska Delina Putri. Saya adalah seorang remaja yang entah bagaimana, terjebak dalam permainan takdir yang begitu berat. Di usia yang ke enam belas tahun ini, saya telah divonis mengidap kanker otak grading empat. Meski demikian, saya berusaha menerima setiap langkah pengobatan dengan ikhlas, tanpa pernah menyalahkan takdir yang Tuhan berikan ..." Valeska berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan ucapannya.

"Namun, ada satu momen, saat seseorang hadir dan memberi ruang untuk saya meluapkan segala kegelisahan. Di saat itulah, saya tersadar bahwa Tuhan pasti memiliki rencana baik di balik semua ini. Ada kalanya saya ingin menyerah, tapi saya teringat bahwa saya masih memiliki 449 tujuan yang belum terselesaikan, salah satunya, agar kisah ini tertulis dengan judul, Saat Asa Berakhir Duka, oleh penulis yang sangat keren."

Tiba-tiba saja, Valeska berkata panjang lebar menggunakan bahasa formal. Dan detik itu pula, dunia Kaivandra seakan berhenti. Untuk pertama kalinya, Kaivandra menangis di depan sang adik, membayangkan betapa sakitnya Valeska saat harus menerima penyakit mematikan ini di usianya yang terbilang masih remaja.

"Abang, jangan menangis, adek nggak apa-apa." Valeska mengusap air mata yang sudah keluar dari kelopak mata sang sang abang. Perkataan Valeska, mampu membuat Kaivandra ikut sesak tatkala mendengarnya.

"Adek kuat ya, bertahan untuk abang, Mama, Papa, terlebih untuk diri adek, sendiri." Tangan Kaivandra terulur mengusap lembut kepala adiknya.

Valeska mengangguk, lalu mengacungkan ibu jarinya. Dia membayangkan, bagaimana setiap kemoterapi atau kontrol ke rumah sakit ditemani oleh mama papanya, akan sangat bahagia sekali, dan pastinya akan lebih semangat lagi untuk sembuh. Namun, itu semua hanya ilus yang tidak mungkin terwujud, secara, orang tuanya sangat sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!