Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Setelah melangkah keluar dari teras rumah megah itu, Ganda dan Diaz berjalan menuju mobil untuk segera berpamitan.
Namun, tepat sebelum mereka berhasil membuka pintu pagar besi, sebuah mobil sport mewah melaju kencang dan berhenti mendadak dengan suara derit ban yang memekik telinga, memblokir jalan keluar mereka.
Pintu pengemudi terbuka dengan kasar. Bramasta turun dari sana dengan napas memburu dan wajah yang sudah merah padam berselimut murka.
Sepasang matanya menyalang penuh amarah yang meledak-ledak begitu menangkap sosok Diaz berdiri berdampingan dengan pria asing berpakaian formal.
"Diaz!! Keluar kamu dari sana!! Wanita brengsek kamu, Diaz!!" teriak Bramasta kasar, suaranya menggelegar di sepanjang jalan kompleks, urat-urat di lehernya menegang.
"Kamu mempermalukan aku dan keluarga besarku!! Pernikahan kita batal total gara-gara kamu kabur, sialan!!"
Bramasta melangkah lebar dengan beringas, berniat melabrak dan menyeret Diaz.
Namun, sebelum pria bajingan itu bisa menyentuh atau mengintimidasi lebih jauh, Ganda bergerak dengan taktis.
Menggunakan tubuh tegapnya, Ganda langsung pasang badan menutup akses jalan Bramasta. Dengan tangan kirinya, Ganda membuka pintu mobil dengan cepat.
"Diaz, masuk ke dalam mobil. Sekarang," perintah Ganda, suaranya terdengar sangat rendah namun mutlak tanpa bantahan.
Begitu Diaz melangkah masuk dengan cemas, Ganda langsung menutup pintu tersebut dengan keras dan menguncinya dari luar menggunakan remat otomatis, mengurung istri pertamanya itu dengan sangat aman di dalam kabin mobil yang kedap suara.
Ganda membalikkan tubuhnya perlahan menghadapi Bramasta.
Ia mengangkat kedua tangannya ke leher, melonggarkan sedikit kerah kemeja dan dasinya yang terasa mencekik, seolah bersiap untuk melakukan pekerjaan kasar.
Sebelum melangkah maju, Ganda menatap sekilas ke arah kaca mobil yang gelap, berbisik lirih pada dirinya sendiri yang getarannya terasa hingga ke balik kaca tempat Diaz menonton dengan jantung berdebar:
"Diaz, tetap di dalam mobil. Ini urusanku. Lelaki antar lelaki."
Bramasta yang sudah kehilangan akal sehat karena harga dirinya diinjak-injak, tidak memedulikan hadangan Ganda.
"Minggir kamu! Jangan ikut campur!" bentak Bramasta.
Ia merangsek maju dan mencoba meraih serta membuka paksa gagang pintu mobil Ganda, berusaha menarik Diaz keluar dari dalam.
Bugh!!
Satu hantaman keras mendarat telat di rahang kiri Bramasta.
Ganda menghajar Bramasta tanpa ampun. Pukulan mentah yang dilayangkan dengan tenaga penuh dari lengan kokoh sang anak kiai itu seketika membuat tubuh Bramasta terhuyung ke belakang, menabrak bodi mobil sport-nya sendiri hingga menimbulkan bunyi dentuman yang cukup keras. Sudut bibir Bramasta pecah, mengeluarkan darah segar.
Ganda tidak bergeser satu senti pun dari posisinya di depan pintu mobil Diaz.
Ia berdiri tegak, mengepalkan tangan kanannya yang masih bergetar pasca-hantaman, lalu menatap Bramasta yang tengah meringis kesakitan dengan pandangan mata yang teramat mematikan.
Aura wibawa seorang pemuka agama berganti sepenuhnya menjadi insting singa jantan yang siap mengoyak siapa saja yang mengusik teritorinya.
"Dia istri sahku, dan jangan pernah berani kamu sentuh atau ganggu dia lagi. Atau aku akan melakukan hal yang jauh lebih mengerikan dari ini," ucap Ganda dengan nada rendah yang sarat akan ancaman mematikan.
Bramasta yang masih terduduk di aspal sambil menyeka darah di sudut bibirnya hanya bisa melotot terengah-engah, nyalinya mendadak ciut melihat kilat mata Ganda yang tidak main-main.
Tanpa membuang waktu lagi, Ganda berbalik dengan tenang.
Ia membuka pintu kemudi, masuk ke dalam kabin mobil, dan langsung menyalakan mesin.
Dengan satu gerakan mantap, ia memutar kemudi, melajukan mobil SUV hitam itu membelah jalanan kota, meninggalkan Bramasta yang meraung frustrasi di belakang sana.
Di dalam mobil, keheningan kembali merayap. Namun, atmosfernya tidak lagi sedingin kemarin.
Diaz duduk meremas jemarinya sendiri. Ingatannya masih tertuju pada bagaimana Ganda pasang badan, melonggarkan kerah baju, dan melayangkan pukulan demi melindunginya. Hati tebal Diaz yang mati rasa perlahan bergetar.
"T-terima kasih, Ganda," bisik Diaz lirih, memecah kesunyian. Suaranya agak terbata, menyuarakan rasa tulus yang jarang ia tunjukkan.
Ganda tidak menoleh, fokusnya tetap pada jalanan di depan. Namun, guratan tegang di wajahnya perlahan mengendur.
Ia menganggukkan kepalanya pelan sebagai jawaban, sebuah isyarat bahwa ia menerima rasa terima kasih itu sepenuhnya.
Kringgg! Kringgg!
Keheningan mereka pecah saat ponsel Ganda yang diletakkan di dekat tuas transmisi berdering nyaring.
Layar ponsel menunjukkan nama Umi Maryam. Ganda segera memakai earpiece dan mengangkatnya.
"Halo, Assalamualaikum, Umi?"
"Ganda! Lekas pulang, Ganda! Astaghfirullah, Laura melukai pergelangan tangannya! Dia mau bunuh diri, Ganda! Darahnya ke mana-mana!" Suara Umi Maryam terdengar menjerit histeris di seberang telepon, sengaja dilebih-lebihkan dengan nada panik yang dibuat-buat.
Padahal kenyataannya di pondok, luka di pergelangan tangan Laura hanya goresan kecil yang mengeluarkan sedikit darah.
Laura terluka bukan karena benar-benar ingin mengakhiri hidup, melainkan karena tidak sengaja tergores pinggiran tajam lemari kaca saat ia sedang mengamuk dan membanting barang-barang di kamarnya lantaran cemburu buta. Namun, Umi Maryam memanfaatkan momen itu untuk menarik Ganda pulang.
Ganda yang tidak tahu kejadian aslinya seketika menegang. Wajahnya memucat mendengar kata "bunuh diri".
Trauma dari kalimat kepasrahan Diaz kemarin ditambah ancaman Laura malam sebelumnya membuat pikiran Ganda langsung berkecamuk hebat.
"Umi, tolong tekan lukanya pakai kain bersih! Ganda segera sampai!"
Tanpa memedulikan hal lain, Ganda langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.
Mobil hitam itu menderu keras, melaju kencang membelah jalanan lurus kembali menuju Kepanjen dengan kecepatan di atas rata-rata.
Di sampingnya, Diaz hanya bisa terdiam, mencengkeram sabuk pengamannya erat-erat saat merasakan mobil yang mereka tumpangi melesat bak anak panah. Badai baru telah menanti mereka di pondok.
Ckiieeeek!
Mobil hitam milik Ganda berhenti mendadak tepat di halaman depan ndalem dengan derit ban yang berdecit nyaring, meninggalkan jejak kepulan asap tipis di atas tanah.
Ganda langsung membuka pintu kemudi dan berlari masuk ke dalam rumah dengan napas memburu dan jantung yang berdegup liar karena kepanikan.
Ia meninggalkan Diaz di belakang, yang melangkah turun dari mobil lalu menyusul masuk dengan langkah santun, tenang, namun sepasang matanya menatap waspada.
Ganda menerobos pintu kamar Laura dan mendapati istri keduanya itu sedang terbaring di atas tempat tidur.
Pergelangan tangannya sudah dibalut oleh kain perban yang sengaja digulung tebal agar terlihat dramatis, sementara Umi Maryam duduk di tepi ranjang sambil menangis histeris, meratapi kondisi menantu kesayangannya.
"Laura! Astaghfirullah, bagaimana bisa seperti ini?!" Ganda mendekat dengan raut wajah panik, langsung meraih pergelangan tangan Laura untuk memeriksa luka yang dikabarkan kritis tersebut.
Namun, begitu Ganda menyentuh lengannya, Laura yang masih dikuasai ego dan emosi yang meluap-luap justru tidak bisa mengontrol ucapannya.
Alih-alih berakting lemas, ia malah keceplosan membongkar kronologi aslinya dengan nada ketus.
"Ini semua gara-gara Mas Ganda! Coba kalau Mas enggak ninggalin aku demi perempuan kota itu! Aku enggak bakal ngamuk, enggak bakal banting-banting vas sama lemari kaca sampai tanganku kegores begini!" teriak Laura histeris tanpa saringan.
Gerakan tangan Ganda mendadak terkunci. Kalimat Laura barusan terdengar sangat jelas di telinganya.
Mengamuk dan membanting barang. Bukan murni percobaan bunuh diri seperti jeritan Umi Maryam di telepon tadi.
Ganda perlahan melepaskan tangan Laura, lalu menegakkan punggungnya.
Ia membalikkan tubuhnya, menatap lurus ke arah Umi Maryam dengan tatapan mata yang tajam, menuntut penjelasan atas kebohongan yang baru saja ia dengar.
Ditatap seperti itu oleh putra tunggalnya, Umi Maryam seketika salah tingkah.
Wajah sepuhnya mendadak gugup, buru-buru menyeka air mata buatannya dan membuang muka ke arah lain, merutuki kebodohan Laura yang justru membongkar skenario mereka sendiri.
Dari ambang pintu kamar yang terbuka, Diaz berdiri bersandar pada pilar kayu, menyaksikan seluruh drama keluarga itu dari awal hingga akhir.
Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana seluruh isi ndalem bisa berputar, panik, dan histeris hanya demi sebuah goresan kecil di tangan Laura yang dibesar-besarkan.
Sepasang mata dingin Diaz menatap pemandangan di depannya dengan sisa-sisa ketegaran yang ada.
Sebuah senyum getir terukir sangat tipis di bibir pucatnya.
Detik itu juga, Diaz menyadari posisi dirinya yang sebenarnya di rumah ini.
Dia tetaplah orang asing, sebuah anomali yang tidak diinginkan.
Meskipun beberapa jam yang lalu Ganda baru saja pasang badan dan membelanya mati-matian hingga menghajar Bramasta di Malang Kota, kenyataan pahit kembali menamparnya: di dalam rumah ini, Ganda tetaplah milik bersama.
Pria itu adalah seorang anak kiai yang langkah dan hatinya akan selalu lebih condong pada tuntutan, manipulasi, serta air mata keluarganya.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Diaz membalikkan badannya dengan anggun.
Langkah kakinya bergerak sunyi meninggalkan koridor kamar Laura, berjalan menuju kamar utamanya sendiri.
Cklek.
Diaz menutup pintu jati itu rapat-rapat, namun kali ini ia tidak menguncinya.
Ia berjalan perlahan menembus keremangan kamar, memilih untuk tidak menyalakan lampu utama.
Diaz duduk di atas sofa panjang dekat ranjang, menekuk kedua lututnya, lalu memeluk dirinya sendiri di dalam kegelapan yang sunyi.
Air mata yang sejak tadi ia tahan di depan Ganda akhirnya meluncur perlahan membasahi pipinya.
Di tengah keheningan kamar, Diaz meratapi nasib hidupnya yang terasa begitu ironis.
Ia mengira keputusannya untuk ikut bersama Ganda adalah sebuah jalan keluar.
Namun nyatanya, ia hanya baru saja melangkah berpindah; dari neraka sang ibu tiri yang kejam, masuk ke dalam neraka baru berbentuk badai poligami yang siap mencabik-cabik perasaannya perlahan-lahan.
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡