"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIDAK SUDI
"Tapi yang paling membuatku gila saat ini adalah keputusan Kakek. Beliau melarang ku keluar dari ibu kota Harper!" lanjut Lucian, mengepalkan tangannya kuat.
Mendengar hal itu, Patrik langsung teringat dengan tugas rahasia yang baru saja dia selidiki mengenai istri kecil tuannya.
"Tuan Muda... jika Anda dilarang meninggalkan ibu kota, lalu bagaimana dengan Nona Ara? Saya baru saja mendapatkan informasi awal dari mata-mata kita di perbatasan," ucap Patrik, pelan.
Lucian langsung menoleh cepat, mencengkeram bahu Patrik dengan kuat hingga asistennya itu sedikit meringis kesakitan.
"Katakan! Apa yang kamu temukan tentang Ara?!" bentak Lucian, dengan suara beratnya.
"Pasukan zirah yang membawa Nona Ara kemarin adalah Pasukan Pengawal Elit dari Istana Kerajaan Costa, Tuan, dan gadis yang kita kenal sebagai Ara itu, memiliki nama asli Putri Arabella Costa, putri bungsu dari Raja Kerajaan Costa," bisik Patrik dengan suara yang sangat pelan agar tidak terdengar oleh penjaga istana lain.
Deg
Jantung Lucian berdegup kencang mendengar kenyataan tersebut, sebuah tawa hambar dan dingin keluar dari sela-sela bibirnya.
"Putri Arabella? Jadi istri kecilku yang hobi mencangkul kubis dan memakai baju lusuh itu adalah seorang putri kerajaan?" tanya Lucian, tidak percaya.
Lucian menggelengkan kepalanya, merasa situasi hidupnya saat ini benar-benar sedang dipermainkan oleh takdir.
Di satu sisi, istrinya ternyata adalah seorang bangsawan tinggi dari kerajaan tetangga, namun di sisi lain, dirinya kini sedang dikurung di ibu kota Harper karena jebakan kehamilan palsu Michelle.
"Tuan Muda, apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika berita pernikahan rahasia Anda dengan Putri dari Kerajaan Costa sampai terdengar oleh Raja Reifan saat situasi seperti ini, keadaannya bisa semakin runyam," ucap Patrik, mengingatkan posisi politik kedua kerajaan yang cukup sensitif.
"Jangan bongkar dulu rahasia pernikahan ini pada siapa pun, termasuk pada Ayahanda dan Ibunda," perintah Lucian tegas, matanya menyipit tajam.
"Biarkan Kakek dan Michelle berpikir bahwa mereka sudah menang untuk saat ini," lanjut Lucian, dingin.
"Lalu bagaimana dengan larangan keluar kota Anda, Tuan Muda?" tanya Patrik lagi.
Lucian tersenyum miring, sebuah senyuman kejam yang sangat licik.
"Biarkan saja, fokus kan pencarian pada pria yang menghamili wanita jalang itu, aku ingin segera mengakhiri permainan kotor jalang itu," ucap Lucian dingin.
Lucian meraba saku bajunya, memastikan serpihan kertas surat dari Ara masih tersimpan dengan aman di sana, rasa hangat dari ingatan tentang pelukan terakhir mereka di gubuk tempo hari mendadak menjadi satu-satunya penenang di tengah badai amarahnya.
"Patrik, siapkan pasukan bayangan kita untuk mengawasi setiap gerak-gerik Kepala Tabib Istana dan Michelle," perintah Lucian, melangkah kembali menuju pintu keluar istana dengan wibawa yang mengerikan.
"Baik, Tuan Muda! Lalu bagaimana dengan Anda sendiri?" tanya Patrik, mengikuti dari belakang.
"Aku akan mengunjungi Ibunda sebentar untuk memastikan kondisinya," jawab Lucian tanpa menoleh.
Sementara itu, di kediaman Alistair, kabar tentang keputusan sepihak dari istana Harper sudah sampai lebih dulu ke telinga Lucas.
Suasana di ruang tamu utama langsung berubah mencekam, bahkan beberapa pelayan memilih bersembunyi di dapur karena tidak kuat menahan hawa menakutkan yang menguar dari sang Tuan Besar.
BRAKKKK
Lucas menghantamkan tinjunya ke meja hingga meja mewah itu retak menjadi dua bagian, wajahnya merah padam dengan urat-urat leher yang menyembul tegang, sementara matanya berkilat merah pekat memancarkan aura Alpha yang sangat murka.
"Tua bangka itu benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya!" raung Lucas, suaranya menggelegar memenuhi seisi ruangan hingga kaca-kaca jendela bergetar halus.
Leo yang baru saja keluar dari kamar ibunya langsung mempercepat langkah turun dari tangga, wajahnya ikut mengeras mendengar kabar tersebut.
"Ayah, tenanglah sedikit, suara Ayah bisa terdengar sampai ke kamar Ibunda di atas," ucap Leo, menghampiri Ayah nya.
"Bagaimana bisa aku tenang, Leo?! Kakekmu yang terhormat itu, dengan mudahnya menyuruh Lucian bertanggung jawab dan menikahi jalang dari keluarga Kendrick! Apa dia tidak tahu kalau cucu nya sendiri sedang dimanipulasi?!" ucap Lucas berbalik dengan napas memburu, menatap putra keduanya dengan pandangan membunuh.
"Aku tahu Ayah marah, aku juga sama muak nya dengan keputusan Kakek Reifan," ucap Leo, mencoba menahan bahu ayahnya agar tidak nekat mendatangi istana.
"Tapi Kakek melakukan itu karena panik memikirkan nama baik keluarga dan kesehatan Ibu, berita kehamilan Michelle sudah terlanjur menyebar luas di kalangan bangsawan di ibu kota," lanjut Leo, menenangkan Ayah nya.
"Persetan dengan nama baik keluarga!" bentak Lucas lagi, menepis tangan Leo dengan kasar.
"Lucian adalah putra sulungku, penerus Alistair! Aku tahu persis bagaimana tabiat anakku, jangankan meniduri wanita ular itu, meliriknya saja Lucian tidak akan sudi! Ini jelas-jelas jebakan murahan!" lanjut Lucas, tidak terima Putra nya di perlakukan seperti itu.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki lemah dari arah lantai dua.
Jasmine berdiri di sana, bersandar pada pilar pembatas dengan tubuh yang masih tampak sangat lemas dan wajah pucat nya.
"Lucas..." panggil Jasmine dengan suara serak, menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca.
Lucas yang melihat istrinya nekat turun kasur langsung menarik aura alpha nya, dia melompat naik ke tangga dan langsung merengkuh tubuh Jasmine ke dalam pelukan hangatnya.
"Jasmine? Kenapa kamu bangun, Sayang? Tubuhmu masih belum pulih, kembali ke ranjang sekarang," ucap Lucas, lembut.
Jasmine menggelengkan kepalanya lemah, mencengkeram kemeja Lucas dengan tangan yang gemetar.
"Aku sudah mendengar semuanya, Lucas... Ayah benar-benar menyuruh Lucian menikahi Michelle?" tanya Jasmine, dingin.
Lucas terdiam, rahangnya mengeras karena tidak tega melihat genangan air mata yang mulai menetes di pipi istrinya.
"Jangan dipikirkan, Jasmine, aku tidak akan pernah mengizinkan pernikahan sialan itu terjadi di rumah ini, demi nama Alistair," jawab Lucas, menenangkan istri nya.
"Aku tidak sudi memiliki menantu seperti dia, Lucas... uhuk..." Jasmine terbatuk kecil, dadanya kembali terasa sesak karena emosi yang kembali meluap.
"Lucian anak yang baik, dia tidak mungkin melakukan hal sehina itu...aku percaya dengan putra ku," ucap Jasmine, pelan.
"Iya, Sayang, aku tahu, tenanglah, serahkan semuanya padaku," bisik Lucas lembut, mengusap punggung istrinya, sembari menatap Leo dengan kode mata agar putranya itu mengambilkan air hangat.
Leo dengan sigap berlari ke dapur dan kembali membawa secangkir teh herbal hangat, menyerahkannya kepada sang ibu.
"Minum ini dulu, Ibu, jangan biarkan wanita ular itu menang karena melihat Ibu jatuh sakit lagi seperti ini," ucap Leo, lembut.
Glek
Jasmine meminum tehnya sedikit, lalu menatap suami dan anaknya bergantian dengan tatapan yang kembali menajam khas seorang Luna.
"Lucas, kita harus melakukan sesuatu, kita tidak bisa membiarkan Lucian bergerak sendirian menghadapi tekanan dari istana," ucap Jasmine, dingin.