"Lu ngapain tidur di samping gue?"
Gimana jadinya, kalau tiba-tiba bos mu yang galak kebangun di samping kamu tidur? Nggak kebayang, kan? Mana malah disalahpahami sama warga dan dikira udah berbuat mesum. itulah yang terjadi sama Galuh. Seorang single Mom yang berjuang untuk bertahan hidup. Yuk baca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 23
Suasana pagi itu rasanya nggak biasa banget. Udara masih sejuk, tapi Galuh dan Ranu malah sibuk buang muka tiap kali mata mereka nggak sengaja ketemu. Ada sisa rasa hangat dan malu semalam yang belum hilang sepenuhnya, bikin gerak-gerik mereka jadi kaku dan canggung.
Arkan yang lagi menyuap sarapan sampai berhenti. Dia menatap Bunda, terus menatap Papa, lalu mengerutkan kening bingung.
"ibu... Papa... kenapa sih kok diem-dieman gitu? Kok kalau ketemu mata langsung buang muka? Kalian berantem ya?" tanyanya polos.
Galuh kaget setengah mati, buru-buru geleng-geleng kepala. "Eh nggak kok, Sayang! Nggak ada berantem. ibu cuma lagi mikir aja."
"Benar, Arkan. Papa juga nggak apa-apa. Ayo cepat dihabiskan sarapannya, nanti telat ke sekolah," timpal Ranu, lalu pura-pura sibuk merapikan serbet di meja.
Arkan masih melirik curiga sebentar, tapi akhirnya nurut lagi. Tiba-tiba matanya berbinar cerah.
"Eh iya lupa! Minggu depan sekolah ada pentas seni lho! Katanya wajib didampingi orang tua. ibu bisa kan datang?"
"Bisa dong, pasti datang! ibu janji nggak akan telat," jawab Galuh mantap sambil mengelus kepala anaknya.
Arkan langsung berbalik ke arah Ranu. "Papa juga? Papa kan belum pernah datang ke acara sekolah Arkan. Kali ini Papa ikut ya?"
Ranu menatap wajah berharap anaknya, lalu senyum lembut. "Pasti ikut, Arkan. Kita berdua bareng-bareng nonton kamu tampil."
"Horee! Asyik banget!" Arkan bersorak girang sampai melompat kecil di kursinya.
Tak lama kemudian, mereka berangkat bareng ke kantor. Sesampainya di lobi gedung, Galuh langsung buka buku catatannya.
"pak, hari ini jam sepuluh rapat proyek di ruang utama, jam dua kita tinjau lokasi baru, terus sore laporan mingguan harus masuk ke direksi..."
Belum selesai bicara, Cindy sudah nyamperin mereka dengan senyum manis yang biasa.
"Selamat pagi, Pak Ranu! Pagi juga, sekretaris Galuh," sapa sambil menempel sedikit ke arah Ranu. "Pak, tadi saya sudah siapkan kopi kesukaan Bapak, nih."
Ranu melangkah mundur pelan, wajahnya datar. "Terima kasih. Tapi simpan saja. Dan Cindy, ingat ya, jaga sikap dan jarak. Ini di kantor."
Cindy tersenyum kecut, tapi nggak berhenti berjalan di belakang mereka sampai masuk ke lift terpisah.
Sepanjang pagi sampai siang, Ranu sibuk rapat dan keliling lokasi. Galuh setia di sampingnya, mencatat semua catatan dan perubahan yang dibahas. Baru selesai kembali ke lobi gedung sekitar jam satu siang, Cindy sudah menunggu di sana. Tapi kali ini nggak ada senyum manisnya. Wajahnya merah padam, matanya berkaca-kaca menahan marah.
"kak Ranu!" bentaknya keras sampai beberapa karyawan lewat menoleh. "Sampai kapan kak Ranu mau main-main sama aku hah!?"
Ranu berhenti, menatapnya bingung. "Maksudmu main-main gimana?"
"Jangan pura-pura nggak tahu! Tadi Mama telepon, nangis-nangis bilang habis dimaki dan dihina sama Mama kak Ranu di restoran! Katanya pertunangan kita dibatalkan seenaknya! Apa salah aku sampai ksk Ranu dan keluarga mu jahat begitu sama aku!?" suaranya bergetar emosi.
Ranu menghela napas panjang. "Saya nggak bermaksud jahat. Saya sudah berkali-kali menegaskan saya nggak bermaksud apa-apa sama kamu. Saya bahkan sudah bilang kalau saya sudah menikah, tapi kamu sendiri nggak pernah percaya. Harusnya waktu pertama ditolak kamu mundur dengan sopan, bukan malah makin mendekat dan menuntut. Ini semua karena kamu sendiri yang salah paham."
Cindy terbelalak, mulutnya terbuka mau membela tapi nggak ada kata yang keluar. Hatinya rasanya hancur, malu bercampur marah.
"Kalau sudah paham, kembali bekerja. Saya sibuk," kata Ranu singkat, lalu langsung melangkah lewat begitu saja. Galuh berjalan diam-diam di belakangnya, menahan senyum lega.
"Pak Ranu! Kurang ajar!" teriak Cindy kesal di belakang, tapi nggak ada yang menoleh lagi.
Pintu lift terbuka, mereka masuk berdua saja. Sepanjang perjalanan naik cuma ada suara dengung halus mesin lift. Ranu berdiri tegak menghadap depan, tapi matanya diam-diam menangkap pantulan Galuh di pintu cermin. Dia melihat istrinya menunduk, bibirnya tersenyum tipis sedari tadi. Entah, rasanya bahagia saja, suaminya ini mengaku sudah menikah walau tak menyebut dirinya. Setidaknya, pernikahan ini diakui olehnya.
Ranu melirik lama, memperhatikan. "Kenapa senyum-senyum dari tadi? Huumm? Kayak orang gila aja," omelnya.
Galuh kaget, langsung menutup mulutnya rapat-rapat. "Nggak kok! Bukan gitu," jawabnya sambil memalingkan wajah, pipinya merona merah."Perasaan pak Ranu aja."
Ranu memalingkan wajah, dan menyembunyikan senyumnya sendiri. Kenapa dia jadi ikut bahagia?
Baru pintu lift terbuka dan mereka melangkah ke lorong menuju ruangan kerja, telepon genggam Ranu berdering nyaring. Nama ibunya terpampang jelas di layar.
Ranu berhenti sebentar, mengangkatnya sambil menempelkan ke telinga. "Halo, Ma?"
Belum sempat dia menyapa panjang lebar, suara Mama Anggun langsung terdengar tegas dan lantang dari seberang.
"Ranu! Dengar baik-baik! Mama minta kamu, cepat buat Galuh hamil sekarang juga!"
Ranu langsung mematung di tempat. Matanya membelalak lebar, tangannya hampir menjatuhkan ponselnya. Galuh yang berjalan di sebelahnya ikut berhenti, menatap bingung melihat wajah Ranu yang seketika berubah aneh.
"Ma... apa Mama bilang apa barusan?" tanya Ranu pelan, pikirannya belum bisa mencerna ucapan itu.
"Buat Galuh hamil! Cepat! Biar orang mulutnya lemes nggak bisa ngomong sembarangan lagi soal kamu! Kamu itu laki-laki normal kan? Buktikan sekarang juga!" tegas Mama Anggun lagi sebelum sambungan terputus.
Ranu menurunkan ponselnya perlahan, menatap layar yang gelap kosong. Dia melirik Galuh yang masih menunggu penjelasan dengan wajah bingung polos. Seketika wajah Ranu ikut memerah padam, rasanya sampai ke telinga.
eh malah bumer udah minta mantunya cepetan hamil, ayo di gas ranu jgan kelamaan 😂😂
double up