"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAKNYA DINDING KEANGKUHAN
Suasana di parkiran Fakultas Hukum pagi itu terasa sangat bising bagi Zaid. Bising bukan karena suaranya. Tapi karena isi kepalanya.
Meski suara musik EDM terdengar samar dari mobil salah satu anggota gengnya yang sengaja diputar kencang, dan gelak tawa teman-temannya memenuhi udara, pikirannya justru tertinggal di meja makan tadi pagi.
Tertinggal di sosok Khadijah yang menuangkan air untuknya. Yang menyendokkan nasi untuknya. Yang dipanggil "Mas" dengan suara lembut di depan Abi dan Umi.
Ada sesuatu yang mengusik nuraninya. Sesuatu yang mengganjal di dada. Saat mengingat ketenangan Khadijah yang tetap melayaninya meski ia bersikap kasar semalam. Meski ia membanting pintu dan pergi ke kelab.
_Gadis itu... kenapa bisa setenang itu?_ batin Zaid. _Seharusnya dia marah. Seharusnya dia nangis teriak. Tapi dia malah bikin sarapan._
"Zaid, _babe!_ Ke mana saja sih? Semalam di grup nggak balas, ditelpon nggak diangkat," suara manja itu memotong lamunannya.
Suara itu milik Sherly. Mahasiswi semester 5 Fakultas Hukum. Seorang model kampus yang sudah lama mengejar Zaid. DM-nya tidak pernah dibalas. Tapi ia tidak pernah menyerah.
Tanpa permisi, Sherly langsung menggelayutkan tangannya di lengan Zaid yang terbalut jaket kulit. Tubuhnya menempel. Menyandarkan kepalanya dengan posesif di bahu Zaid. Seperti sudah menjadi haknya.
Zaid biasanya tidak peduli. Baginya, wanita-wanita seperti Sherly hanyalah penghias ego. Boneka yang bisa dipamerkan ke anak-anak geng. "Lihat, gue diincer model."
Namun, hari ini berbeda.
Sentuhan itu terasa seperti sengatan listrik yang salah. Panas. Menjijikkan. Bau parfum Sherly yang menyengat, manis dan menusuk, mendadak membuatnya mual.
Dan entah kenapa, ia justru merindukan aroma lembut misk dan kayu gaharu yang sempat ia cium dari cadar Khadijah semalam. Aroma yang tenang. Aroma yang suci.
Secara refleks, mata Zaid menyapu ke arah kafe di seberang jalan. Kafe "Al-Fatih" yang sering dipakai anak-anak LDK nongkrong.
Ia melihat tiga sosok wanita bercadar keluar dari sana. Berjalan beriringan. Salah satunya berjalan paling belakang. Langkahnya goyah. Tidak secepat dua temannya. Tangannya tampak meremas ujung gamisnya sendiri dengan kuat, sampai buku jarinya pucat.
Zaid mengenali postur itu. Cara berjalan itu. Cara meremas gamis itu.
Itu Khadijah.
Darah Zaid serasa berhenti mengalir.
Melihat Khadijah menyaksikan pemandangan ini, melihat ia digelayuti Sherly di depan umum, ada rasa panik yang belum pernah Zaid rasakan sebelumnya. Bukan panik ketahuan tawuran. Bukan panik ketahuan bolos.
Ini panik karena takut. Takut mengecewakan. Takut dilihat rendah oleh orang yang... yang bahkan ia tidak tahu kenapa ia peduli.
Rasa bersalah menghantamnya telak. Seperti ditinju di ulu hati.
"Lepasin!" bentak Zaid tiba-tiba. Suaranya menggelegar, memecah keramaian.
Zaid menyentakkan lengannya dengan keras. Tenaga penuh. Hingga Sherly hampir kehilangan keseimbangan dan mundur beberapa langkah.
Gerakan itu begitu kasar dan mendadak. Begitu tidak seperti Zaid yang biasanya cuek dan santai.
Tawa teman-temannya seketika terhenti. Musik dimatikan. Rian dan Haikal yang berada di dekat sana langsung terdiam menatap Zaid dengan alis bertaut.
"Zaid? Kamu kenapa sih? Kasar banget!" Sherly merengut. Wajahnya memerah karena malu dilihat banyak orang. Matanya berkaca-kaca. "Aku cuma nyapa!"
"Jangan pernah sentuh aku lagi," desis Zaid dengan suara rendah yang mengancam. Rahangnya mengeras. Matanya menatap Sherly dengan sorot kebencian yang mendalam.
Bukan karena Sherly salah. Tapi karena ia membenci dirinya sendiri. Membenci versi dirinya yang terlihat begitu rendah, begitu murahan, di mata Khadijah.
Zaid tidak memedulikan rengekan Sherly. Tidak memedulikan tatapan heran 20 pasang mata di parkiran. Ia langsung berbalik, matanya liar mencari-cari sosok Khadijah di antara kerumunan.
Namun istrinya itu sudah menghilang. Sudah masuk ke dalam arus mahasiswa yang menuju gedung Fakultas Tarbiyah. Hanya tersisa punggung gamis putih yang menghilang di balik pintu.
Di dalam koridor kampus yang dingin, Khadijah berjalan secepat yang ia bisa. Hampir berlari.
Aisyah dan Fatimah berusaha mengejarnya dari belakang. "Khadijah! Tunggu!"
Mereka sampai di sebuah taman yang sepi di belakang gedung kampus. Taman yang jarang dilewati orang. Banyak pohon rindang dan bangku kayu. Tempat yang biasa dipakai untuk murojaah.
Di sana, Khadijah akhirnya berhenti. Lututnya lemas. Ia terduduk di bangku taman. Dan bendungan yang ia tahan sejak pagi jebol.
Bahunya berguncang hebat. Tangisnya pecah.
"Istighfar, Khadijah... Istighfar," bisik Aisyah sambil memeluk sahabatnya erat. Mengusap punggungnya. "Tenang..."
"Sakit, Syah... Sakit sekali," suara Khadijah pecah. Tersedu-sedu. "Saya tidak mengharapkan dia mencintai saya sekarang. Saya tahu itu mustahil. Tapi setidaknya... setidaknya hargai pernikahan ini. Hargai almarhum Mas Farhan yang menitipkan saya padanya dengan darah terakhirnya."
Ia terisak lebih keras. "Saya ini apa? Mainan? Benda titipan yang bisa ditaruh sembarangan?"
Khadijah menangis sesenggukan. Selama ini ia selalu menjadi gadis yang kuat. Yang mampu menghafal bait demi bait firman Tuhan tanpa mengeluh. Yang mampu tahajud 8 rakaat meski demam.
Namun hari ini, ia hanyalah seorang wanita berusia 20 tahun. Seorang istri baru. Yang hatinya hancur melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain tepat setelah mereka makan bersama. Tepat setelah ia menuangkan kopi untuknya.
"Laki-laki itu memang tidak punya hati!" Fatimah mengepalkan tangannya. Matanya merah karena marah. "Khadijah, kamu harus bicara pada mertuamu. Pada Habib Umar. Kamu tidak bisa membiarkan dirimu dihina seperti ini. Ini pelecehan!"
Khadijah menggeleng cepat. Keras. Air matanya berceceran di balik cadar. "Tidak. Jangan sampai Umi dan Abi tahu. Demi Allah jangan."
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Itu akan menyakiti hati mereka. Mereka baru kehilangan anak sulungnya. Saya tidak mau menambah luka mereka. Saya sudah berjanji pada orang tua saya untuk menuruti mereka. Untuk menjaga nama baik dua keluarga."
Ia menarik napas panjang. Bergetar. "Saya akan bertahan, Fatimah. Mungkin ini adalah ujian kesabaran yang Allah berikan agar derajat saya dinaikkan. Mungkin ini cara Allah menguji, apakah aku benar-benar ridho dengan takdirNya."
Di area parkir, suasana masih tegang. Dingin.
Rian mendekati Zaid dengan wajah bingung. Tangannya masih memegang helm. Sementara Haikal hanya bersedekap dengan tatapan menghakimi. Kecewa.
"Lo kenapa, Zaid?" tanya Rian hati-hati. "Sherly itu kan 'piala' lo selama ini. Cewek paling cantik di kampus yang ngejar-ngejar lo. Kenapa tiba-tiba lo buang kayak sampah gitu? Lo kesurupan?"
Zaid tidak menjawab. Matanya masih menatap ke arah gedung Tarbiyah. Kosong.
Ia malah menoleh ke arah Haikal. Suaranya pelan. "Lo lihat tadi? Khadijah keluar dari kafe itu?"
Haikal mengangguk pelan. Wajahnya datar. "Dia lihat semuanya, Zaid. Dari awal sampai akhir. Dia lihat suaminya sendiri membiarkan wanita lain bergelayutan di lengannya. Puas kamu sekarang? Bangga?"
Kata-kata itu seperti pisau.
Zaid memukul kap mobil Alphard Abinya dengan tinjunya. _Brak!_ Catnya penyok sedikit. "Gue nggak tahu dia ada di sana! Sumpah gue nggak tahu! Kenapa dia nggak bilang kalau dia mau ke kafe itu?! Kenapa dia nggak chat gue?!"
"Masalahnya bukan dia ada di sana atau tidak, Zaid!" bentak Haikal. Kali ini suaranya tidak lagi tenang. Ini pertama kalinya Haikal membentak Zaid. "Masalahnya adalah lo nggak punya rasa hormat pada ikatan suci yang baru lo ucapkan kemarin di hadapan Allah dan para saksi! Lo keturunan Al-Idrus! Nama besar Abi lo! Di mana harga diri lo sebagai laki-laki?!"
Rian, yang biasanya mata keranjang dan paling jago ngegoda, kali ini terdiam. Ia melihat ada sesuatu yang berbeda di mata Zaid.
Bukan takut pada hukuman Abinya. Bukan takut diomelin.
Tapi takut kehilangan. Takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum ia miliki. Takut kehilangan rasa hormat dari satu pasang mata itu.
"Susul dia, Zaid," ujar Rian pelan. Nadanya serius untuk pertama kalinya. "Gue memang mata keranjang. Gue memang brengsek. Tapi gue tahu batasan. Istri lo itu bukan wanita sembarangan. Dia hafizah, Zaid. Sekali lo bikin dia menyerah. Sekali lo bikin dia capek dan pergi... lo nggak bakal bisa nemuin wanita kayak dia lagi seumur hidup lo."
Kalimat itu menghantam Zaid.
Tanpa sepatah kata pun, tanpa pamit, ia berbalik. Ia berlari.
Berlari menerobos parkiran. Berlari melewati Sherly yang masih menangis. Berlari menuju gedung Fakultas Tarbiyah. Mengabaikan teriakan "Zaid!" dari belakang dan tatapan heran ratusan mahasiswa lain.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang "Pangeran Kelab Malam" itu berlari mengejar sesuatu yang suci.
Zaid menemukan Khadijah di taman belakang.
Istrinya itu sedang duduk sendirian di bangku paling pojok. Aisyah dan Fatimah sudah pergi, memberi ruang.
Khadijah memegang mushaf kecilnya yang selalu ia bawa di dalam tas. Bahunya sudah tidak berguncang. Tapi suaranya saat melantunkan ayat suci terdengar serak dan penuh duka.
_"Wa laa tahinu wa laa tahzanu wa antumul a'launa..."_
_Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi..._
Zaid berhenti beberapa langkah di belakangnya. Jantungnya berdebar. Ia ragu. Lidahnya yang biasanya tajam untuk menghina dan berantem, mendadak kaku.
Bagaimana cara minta maaf pada seorang malaikat?
"Khadijah..." panggilnya pelan. Hampir seperti bisikan.
Khadijah tersentak. Mushafnya hampir jatuh. Ia segera merapikan posisinya dan menunduk dalam. Tidak berani menatap mata Zaid. "Iya, Mas—Zaid?"
Ia salah ucap. Dan buru-buru meralat.
Zaid mendekat. Lalu duduk di ujung bangku taman yang sama. Memberi jarak yang cukup lebar. Cukup untuk satu orang di tengah. Jarak yang aman.
"Tadi itu..." Zaid membuka suara. Kaku. "Tadi itu bukan kemauanku. Dia yang tiba-tiba datang. Gue kaget."
Khadijah terdiam sejenak. Lama. Angin menggerakkan ujung cadarnya.
"Mas tidak perlu menjelaskan apa pun pada saya," jawab Khadijah akhirnya. Suaranya datar. Mati. "Saya tahu posisi saya. Saya hanya istri titipan. Saya tidak punya hak untuk cemburu. Tidak punya hak untuk marah."
Mendengar kata "titipan", hati Zaid seperti tersayat pisau tumpul. Sakitnya tumpul tapi dalam.
"Jangan bilang begitu," kata Zaid. Lebih cepat dari yang ia kira.
"Lalu saya harus bilang apa?" Khadijah menoleh. Meski matanya tertutup cadar, Zaid bisa merasakan tatapan yang penuh luka itu menembus ke dadanya. "Mas Zaid bebas melakukan apa pun. Itu hak Mas. Tapi tolong..."
Suara Khadijah bergetar. "Jika Mas ingin melakukan hal seperti itu, jangan lakukan di tempat saya bisa melihatnya. Jangan lakukan di kampus tempat saya menuntut ilmu. Jangan biarkan sahabat-sahabat saya mengasihani saya karena memiliki suami yang tidak bisa menjaga dirinya. Cukup saya saja yang menanggung malunya."
Zaid terdiam seribu bahasa.
Keangkuhannya. Keegoisannya. Citra "cool" nya. Runtuh seketika di depan kelembutan yang terluka itu.
Ia ingin meminta maaf. Kata "maaf" sudah di ujung lidah. Tapi gengsinya. Tembok setinggi 10 meter itu masih menahan kata-kata itu di tenggorokan.
Ia berdiri. Gugup.
"Pulang nanti..." ujar Zaid akhirnya dengan nada yang kembali dingin. Nada ketus untuk menutupi rasa malu dan bersalahnya yang meluap. "Tunggu aku di gerbang belakang jam 4. Kita pulang bareng pakai mobil Abi. Jangan berani-berani pulang sendiri pakai taksi. Bahaya."
Itu bukan permintaan maaf. Itu perintah.
Zaid bangkit dan pergi begitu saja. Langkahnya cepat. Seperti melarikan diri.
Meninggalkan Khadijah yang hanya bisa beristighfar panjang di atas sajadah mini yang ia gelar di bangku taman.
Di balik sikap dinginnya, di balik kata-kata ketusnya, Zaid tidak sadar bahwa ia baru saja mulai membangun benteng perlindungan untuk istrinya.
Untuk pertama kalinya.
Meski caranya masih sangat berantakan. Meski caranya masih melukai.
Tapi itu langkah pertama.