Di tengah hiruk-pikuk Kota Surabaya, hiduplah Arka, seorang pemuda sederhana yang bekerja sebagai staf administrasi di sebuah perusahaan kecil. Di mata rekan kerjanya, termasuk Dinda—wanita tulus yang diam-diam dicintainya—Arka hanyalah pegawai biasa yang hidup pas-pasan, tenang, dan tidak memiliki apa-apa. Namun, tak ada satu pun yang tahu bahwa di balik penampilan sederhana itu, Arka adalah pewaris tunggal dan pemilik sah Grup Wijaya, konglomerasi bisnis terbesar di negeri ini.
Atas pesan terakhir mendiang ayahnya, Arka sengaja menyembunyikan identitasnya selama dua tahun untuk merasakan getirnya kehidupan rakyat kecil dan memahami dunia dari bawah, sebelum memegang kendali penuh. Di siang hari ia mengurus berkas-berkas kantor, namun di malam hari, dari kamar apartemen sempitnya, ia mengendalikan kerajaan bisnisnya dan mengawasi gerak-gerik orang-orang yang berniat jahat merugikan perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sulaiman1927, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jejak yang terbuka
Sejak pertemuan itu, hidup Arka tidak lagi sama. Pak Haris semakin gencar menyelidiki, dan Clara sering muncul di tempat-tempat yang sama dengan Arka, seolah-olah sengaja menguntit atau menunggu kesempatan untuk bicara lagi.
Di kantor, Dinda mulai menjauh sedikit. Dia bingung dan terluka karena Arka menyembunyikan sesuatu yang besar darinya. Hubungan persahabatan mereka yang biasa saja kini menjadi canggung. Arka sedih melihat hal itu, tapi dia belum bisa menceritakan semuanya. Dia tidak ingin Dinda terlibat dan menjadi sasaran bahaya.
Suatu sore, saat hujan turun deras, Arka melihat Dinda berdiri di halte bus, tampak kedinginan dan bingung karena kendaraan umum susah lewat. Arka menghentikan mobil mewahnya—yang biasa dia pakai untuk urusan perusahaan—di dekat halte itu. Dia turun, membawa payung, dan menghampiri Dinda.
"Ayo aku antar pulang, Din. Hujannya makin deras," ajaknya lembut.
Dinda menatap mobil mewah itu, lalu menatap Arka dengan mata terbelalak. "Mobil ini... milikmu? Arka, kamu bilang kamu tinggal di apartemen kecil, tidak punya kendaraan mahal... Apa semuanya bohong?" suaranya bergetar menahan tangis.
Arka menghela napas panjang. "Bukan bohong, Din. Hanya... belum waktunya aku jelaskan. Tolong, masuk dulu, nanti kamu sakit."
Sepanjang perjalanan, suasana hening. Dinda diam saja, menatap ke luar jendela. Sesampainya di depan rumah Dinda, dia berbicara lirih. "Aku tidak peduli kamu kaya atau miskin, Arka. Aku hanya sedih karena kamu tidak percaya padaku sebagai teman. Apa ada hal berbahaya yang kamu hadapi? Kalau ada, setidaknya biarkan aku tahu, supaya aku tidak merasa bodoh karena tidak tahu apa-apa."
Arka menatapnya dalam-dalam. Dia ingin sekali bercerita, tapi rasa takut akan keselamatan Dinda menahannya. "Maaf, Din. Nanti, aku janji akan cerita semuanya. Sekarang, tolong percaya saja bahwa aku melakukan ini demi kebaikan semua orang."
Sementara itu, penyelidikan Pak Haris membuahkan hasil. Dia mendapatkan dokumen yang menunjukkan bahwa dana yang masuk ke perusahaan Pak Budi berasal dari perusahaan investasi yang berafiliasi langsung dengan Grup Wijaya. Bukti itu sudah cukup baginya untuk menyimpulkan bahwa Arka adalah pewaris sejati.
"Jadi benar! Dia anak Wijaya tua itu! Dia menyamar hanya untuk mengawasi kami!" seru Pak Haris marah besar. Rasa takut berubah menjadi kebencian yang membara. Selama ini dia merasa aman karena pemilik perusahaan tidak pernah turun tangan. Ternyata, pemiliknya ada di dekatnya, mengawasi setiap gerak-geriknya.
"Kalau dia mau main kotor, aku akan main lebih kotor. Aku tidak akan membiarkan dia mengambil semua yang sudah aku rencanakan bertahun-tahun," ucap Pak Haris dengan mata berkilat penuh niat jahat. Dia mulai merencanakan serangan balasan. Dia akan menyerang di titik terlemah Arka: perusahaan kecil tempat dia bekerja, dan orang-orang yang dia sayangi di sana.
Di sisi lain, Clara datang menemui Arka di apartemennya. Kali ini dia tidak lagi bertanya, tapi sudah yakin.
"Tuan Arka Wijaya, atau sebaiknya aku panggil CEO Tersembunyi?" kata Clara sambil duduk santai di sofa ruang tamu apartemen sederhana itu.
Arka pasrah. "Kamu sudah tahu, ya? Kenapa kamu tidak bilang pada orang lain? Atau pada Pak Haris?"
Clara tersenyum manis. "Karena aku tidak berpihak pada dia. Ayahku sering bercerita betapa hebatnya mendiang ayahmu. Aku hanya ingin tahu, apa tujuanmu menyamar begini? Apakah kamu sedang menguji kami semua?"
Arka menceritakan segalanya, mulai dari pesan ayahnya, tujuannya memahami kehidupan bawah, hingga penemuan kecurangan Pak Haris. Clara mendengarkan dengan saksama, dan semakin kagum dengan pemuda di hadapannya.
"Aku akan membantumu," kata Clara tegas. "Pak Haris punya banyak koneksi dan kekuatan. Kamu butuh orang yang bisa dipercaya untuk membantumu dari dalam. Aku tahu seluk-beluk perusahaan dan siapa saja orang-orang yang bisa diajak kerja sama."
Arka merasa lega akhirnya punya sekutu. Tapi dia juga sadar, dengan terbongkarnya identitasnya di depan Clara, batas antara kehidupan samar dan kehidupan aslinya sudah hilang sepenuhnya. Permainan sudah dimulai, dan tidak ada jalan mundur lagi.