Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari kelulusan Kala
Lima bulan berlalu.
Hari-hari yang penuh rasa sakit perlahan berubah menjadi hari-hari penuh perjuangan.
Setiap pagi, Kalandra menjalani fisioterapi.Awalnya ia hanya mampu menggerakkan jari-jari kakinya.Kemudian berdiri beberapa detik.Belajar berjalan dengan alat bantu.
Hingga akhirnya, sedikit demi sedikit, kedua kakinya kembali kuat menopang tubuhnya.Meski masih harus berhati-hati dan belum boleh berolahraga berat, dokter menyatakan perkembangan Kalandra sangat baik.
Selama lima bulan itu pula, Kalandra mengikuti pembelajaran dari rumah.Guru-guru datang bergantian, sementara teman-temannya sering berkunjung untuk membantunya mengejar pelajaran.Dan hari yang ditunggu akhirnya tiba.
Hari kelulusan.
Ages berdiri di depan cermin sambil merapikan jas hitamnya.Di ruang tamu, Sean sibuk menggoda Kalandra yang terlihat gugup.
"Widih...yang mau wisuda kok mukanya kayak mau dihukum kepala sekolah."
Kalandra mendengus."Berisik."
Tamara keluar dari dapur sambil membawa sarapan."Abang, jangan diganggu adeknya loh."
Sean langsung mengangkat kedua tangan. "Siap, Mi."
Arsen yang baru turun dari lantai atas tersenyum melihat suasana itu. "Sudah siap semua?"
"Siap!"
Ages menoleh kepada putranya. "Gimana kaki kamu,dek?"
Kalandra tersenyum."Udah kuat."
"Kalau capek nanti bilang."
"Iya, Pap."
Ages mengangguk puas."Nanti pokoknya jangan petakilan,duduk aja.Berdiri kalau nama kamu di panggil."
Kalandra mendengus kesal."Pap,kaki aku udah gak apa-apa.Lagian masa nanti yang lain pada goyang,terus aku cuma diem doang."
"Kamu mau kelulusan,dek.Bukan mau nonton konser." Sela Arsen membuat semua tertawa.
"Papi.."Rajuk Kala.
Ages mengusap pelan kepala sang anak. "Papa masih trauma,kamu pasti ngerti kan."
Kala mengangguk,ia mengerti.Sejak sembuh,papanya semakin over protektif pada dirinya.Namun Kala tidak risih,justru ia senang karena sang papa semakin perhatian pada dirinya.
Dan bagi Ages, melihat putranya kembali berdiri dengan kedua kaki sendiri adalah hadiah terbesar yang pernah ia terima.
Begitu mobil memasuki halaman sekolah.Suasana mendadak ramai.
"Itu Kalandra!"
"Dia datang!"
"Bukannya katanya masih terapi?"
"Eh... itu yang turun ayahnya ganteng banget."
"Ih, yang satunya juga."
Para siswi mulai berbisik-bisik.
Sean yang mendengar itu langsung menyenggol Ages. "Dengar enggak Om pap?"
"Kira masih laku ternyata." Ages tertawa kecil sambil melirik Arse.
"Sudah punya istri, masih aja." Tamara langsung melirik tajam Arse.
Ages langsung tertawa canggung. "Bercanda, mbak."
Semua ikut tertawa.
Kalandra baru beberapa langkah memasuki halaman sekolah ketika kepala sekolah datang menyambut.
"Selamat pagi, Pak Ages."
"Selamat pagi."
Kepala sekolah kemudian menyalami Arsen dengan penuh hormat.
"Selamat datang, Pak Arsen."
Kalandra mengernyit.
Lalu beberapa guru lain ikut menghampiri.
"Selamat datang, Bu Tamara."
"Senang akhirnya Bapak dan Ibu bisa hadir."
Beberapa guru bahkan tampak sangat menghormati keluarga itu.Murid-murid mulai saling berbisik.
"Kenapa kepala sekolah hormat banget?"
"Iya."
"Siapa sebenarnya keluarga Kalandra?"
Tak lama kemudian, pembawa acara naik ke atas panggung.
"Hari ini kita juga merasa terhormat karena dihadiri keluarga besar yayasan yang menaungi sekolah kita."
Kalandra masih belum memahami maksudnya.Hingga saat sang pembawa acara melanjutkan kalimatnya membuat Kala diam mematung sesaat.
"...kami mengucapkan selamat datang kepada keluarga Bapak Arsen Sabiru beserta Ibu Tamara Dewangga Sabiru, selaku pemilik Yayasan Dewangga Cendekia."
Seluruh aula mendadak hening.Beberapa detik kemudian...
"HAH?!"
Suara keterkejutan terdengar dari berbagai sudut ruangan.
"Itu omnya Kalandra?!"
"Berarti ortunya Ka Sean juga...."
"Kalandra keponakan pemilik sekolah?!"
"Pantes kepala sekolah hormat banget!"
Raka menoleh ke arah Jevan dengan mata membulat.
"Gue enggak salah denger, kan?"
Jevan menggeleng pelan.
"Gue juga baru tahu."
Sean hanya menahan tawa sambil melirik adiknya.
Sementara itu Kalandra diam mematung.Ia menoleh perlahan ke arah Arsen.Lalu kepada Tamara.Kemudian kembali menatap panggung.
"P...pi?"
Arsen hanya tersenyum canggung."Iya,dek."
Kalandra kembali menoleh kepada Tamara."Mi..."
Tamara langsung tahu tatapan itu.Tatapan seorang anak yang sedang merajuk. "Mami.."
"Kok enggak pernah bilang?"
Tamara tertawa kecil. "Soalnya enggak penting."
"Enggak penting gimana sih Mi?..Aku sekolah di sini dari kelas tujuh!"
"Tiga tahun Mami,terus baru tahu sekarang!"
Sean yang sedari tadi menahan tawa akhirnya tidak kuat lagi."Hahaha...Makanya jangan cuma tahu kantin sama lapangan basket."
"Diam, Bang!"
Semua yang berada di sekitar mereka ikut tertawa.
"Papa juga,kenapa gak kasih tau adek sih."
Ages tertawa kecil,"Papa kira kamu udah tau dari abang mu.Makanya Papa gak kasih tau."
Kala mendelik kesal pada Ages dan Sean.Tamara mengusap pelan kepala Kalandra.
"Mami memang sengaja tidak memberi tahu."
"Kenapa?"
"Karena Mami ingin kamu sekolah seperti murid lainnya.Tidak diperlakukan istimewa."
"Tidak mendapat kemudahan karena nama keluarga." Arsen menambahkan, "Prestasi yang kamu dapat selama ini murni hasil usahamu sendiri.Bukan karena Papi,Mami atau Papa mu.."
"Kamu lulus karena kamu memang pantas.Dan kami bangga!" lanjut Ages
Kalandra terdiam.Perlahan rasa kesalnya menghilang.Ia menatap ketiga orang yang selama ini selalu mendukungnya. "Lain kali kasih tahu, dong."
Tamara tersenyum sambil mencubit pelan pipinya. "Kalau dikasih tahu dari dulu, kamu pasti makin tengil."
Sean langsung mengangkat tangan. "Setuju!"
Raka ikut menimpali, "Untung enggak tahu.Kalau tahu, tiap telat masuk kelas pasti bilang, 'Sekolah ini punya om gue,Mau apa lo?.' "
Semua langsung tertawa.
Kalandra mendengus sambil memutar bola matanya."Enak aja.Tapi Terima kasih Mi...Pi..karena sudah memperlakukan aku seperti anak biasa." ucapnya dengan senyum hangat.
Ages yang sedari tadi memperhatikan percakapan mereka ikut tersenyum bangga.Di hari kelulusan itu, bukan hanya ijazah yang dibawa pulang oleh Kalandra.Tetapi juga sebuah pelajaran berharga.Bahwa kehormatan keluarga bukanlah sesuatu untuk dibanggakan di depan orang lain.Melainkan sesuatu yang harus dijaga melalui sikap, kerja keras, dan kerendahan hati.
Acara sudah selesai,sebagian para tamu sudah mulai meninggalkan aula.
Kalandra bersama keluarganya berjalan menuju tempat parkir.Namun belum sampai langkahnya di tempat parkir,tiba-tiba beberapa gadis dengan kebaya cantik langsung mengerubungi Kala.
Ada beberapa yang membawa bucket bunga,box kue,serta paper bag berisi hadiah.
"Kala." Panggil sala satu gadis berkebaya pink.
"Ya?"
"Ini buat kamu,makasih ya selama tiga tahun ini kamu udah jadi crush aku." ucapnya malu-malu sambil menyerahkan sebuah bucket bunga.
Bukan hanya Kalandra,Sean dan yang lainpun ikut terkejut dengan keberanian para gadis ini.
"Iya Kal,ini dari aku.Makasih ya udah jadi penyemangat hari ku selama sekolah disini." Lanjut gadis berkebaya nude sambil menyerahkan box kue berpita merah.
Sean bahkan terus berusaha menahan tawanya melihat wajah merah sang adik yang sibuk menerima hadiah dari barisan para penggemarnya.
Hingga beberapa menit kemudian,semua memutuskan untuk segera masuk kedalam mobil agar tidak ada lagi yang menghampiri Kala.
Bukan hanya Kala dan Sean,bahkan tangan Ages,Arsen dan Tamara pun sudah penuh dengan hadiah-hadiah dari para teman Kalandra.
.......
.......
.......
...♡Sabiru♡...
🦋 Jangan lupa tinggalkan jejak readersku..🦋