NovelToon NovelToon
Merebut Kembali Takdirku

Merebut Kembali Takdirku

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Chicklit
Popularitas:10.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Alya pernah menjadi perempuan yang mengangkat seorang pria ke puncak, tapi hidupnya berakhir dengan luka dan pengkhianatan.
Saat kembali ke hari perjanjian pernikahan, adiknya merebut Rafi, pria yang diyakini akan menjadi pewaris Pradipta Group. Alya justru “dibuang” untuk menikahi Arga, putra sakit-sakitan yang bahkan tak hadir di akadnya sendiri.
Namun mereka tidak tahu satu hal.
Takdir yang mereka rebut bukan milik Rafi.
Takdir itu ada di tangan Alya.
Di rumah Pradipta yang penuh racun, rahasia, dan ambisi, Alya akan menyelamatkan Arga, menghancurkan para pengkhianat, dan merebut kembali hidup yang seharusnya menjadi miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 07

Pagi pertama Alya di kediaman Arga dimulai dengan suara Marni membanting pintu dapur.

Tidak keras sekali.

Cukup untuk membuat orang tahu ia marah, tetapi tidak cukup untuk bisa dituduh tidak sopan.

Alya turun pukul enam lewat sedikit. Ia sudah mandi, memakai kemeja putih dan celana bahan hitam. Rambutnya diikat rendah. Tidak ada perhiasan pengantin, tidak ada riasan tebal, tidak ada tanda bahwa semalam seharusnya menjadi malam pertama seorang wanita.

Di meja makan, Sari berdiri gelisah.

"Selamat pagi, Nyonya."

"Menu Arga?"

Sari segera menunjukkan catatan. "Bubur ayam tanpa santan, putih telur, pepaya, dan air hangat."

"Siapa yang menyusun?"

"Saya, Nyonya. Berdasarkan bahan yang ada. Belum ada daftar dari Nyonya."

"Baik. Mulai siang nanti aku kirim daftar."

Marni masuk membawa nampan kopi. "Biasanya Tuan Arga tidak sarapan di meja. Makanan diantar ke kamar."

"Hari ini tetap diantar ke kamar. Aku yang bawa."

Marni hampir menjatuhkan sendok. "Nyonya sendiri?"

"Kenapa? Istri tidak boleh membawa sarapan untuk suaminya?"

Sari cepat menunduk. Marni terpaksa diam.

Alya menuang air hangat untuk dirinya sendiri. "Dokter Hamzah jam berapa datang?"

"Jam sembilan."

"Dokter independenku jam setengah sembilan."

Marni mendongak. "Nyonya benar-benar memanggil dokter luar?"

"Aku tidak bercanda soal obat."

"Nyonya Ratna pasti tidak suka."

"Aku tidak menyediakan sarapan untuk menyenangkan Bu Ratna."

Marni menarik napas. "Nyonya masih sangat muda. Saya hanya mengingatkan, rumah ini punya aturan."

Alya meletakkan gelas.

"Marni, kamu sudah berapa lama bekerja di sini?"

"Dua belas tahun."

"Berarti kamu tahu kapan kondisi Arga mulai memburuk."

Wajah Marni berubah.

"Tuan Arga memang sakit sejak lama."

"Aku tidak tanya sejak kapan dia sakit. Aku tanya sejak kapan memburuk."

"Saya bukan dokter."

"Tapi kamu kepala rumah tangga. Kamu mengatur makanan, perawat, obat yang masuk kamar. Kamu pasti melihat."

Marni diam.

Alya berdiri. "Kalau kamu tidak mau menjawab sekarang, simpan jawabannya. Nanti mungkin perlu disampaikan ke pengacara."

"Nyonya mengancam saya?"

"Belum. Aku memberi kesempatan agar kamu memilih sisi sebelum terlambat."

Ia mengambil nampan sarapan dan naik ke lantai dua.

Arga sudah bangun.

Itu kejutan kecil.

Ia bersandar pada bantal, wajahnya tetap pucat, tetapi matanya lebih jernih daripada semalam. Tidak segar. Hanya tidak tenggelam.

"Kamu masih hidup," kata Alya.

"Aku juga senang melihatmu, istriku."

Alya meletakkan nampan di meja ranjang. "Kamu terdengar lebih baik."

"Karena semalam aku tidak diberi obat yang membuatku seperti mayat sampai siang."

"Ada sakit kepala?"

"Ada. Tapi lebih baik daripada tidak bisa berpikir."

"Mual?"

"Sedikit."

"Tremor?"

Arga mengangkat tangannya. Jemarinya sedikit bergetar.

Alya memperhatikan. "Mungkin efek penghentian obat. Kita tunggu dokter."

"Kamu benar-benar memanggil dokter?"

"Dua."

"Dokter Hamzah akan marah."

"Bagus. Orang marah lebih mudah membuat kesalahan."

Arga menatap bubur di nampan. "Kamu selalu seperti ini pagi-pagi?"

"Efisien?"

"Menakutkan."

"Makan."

"Aku belum lapar."

"Makan tiga sendok."

"Kamu memerintah pasien atau suami?"

"Saat ini pasien."

Arga mengambil sendok dengan malas. Tangannya gemetar sedikit. Alya melihat, tetapi tidak menawarkan bantuan. Ia tahu beberapa lelaki lebih mudah menerima rasa sakit daripada dikasihani.

Setelah tiga sendok, Arga berhenti.

"Cukup."

"Lima."

"Tadi tiga."

"Aku berubah pikiran."

"Pernikahan ini terasa semakin menjanjikan."

Alya menatapnya datar. Arga akhirnya makan dua sendok lagi.

Pukul setengah sembilan, dokter independen Alya datang.

Namanya Dokter Mira Santoso, spesialis penyakit dalam yang dulu pernah bekerja di jaringan rumah sakit militer Wiratama sebelum keluar karena tidak mau mengikuti permainan pengadaan obat. Di kehidupan lalu, Alya mengenalnya sebagai perempuan yang tidak bisa dibeli, tetapi bisa diajak bekerja jika alasannya masuk akal.

Mira masuk kamar dengan tas medis dan wajah tanpa basa-basi.

"Pasien?"

"Arga Pradipta," kata Alya. "Riwayat sakit tidak lengkap. Obat cair tanpa label diberikan rutin. Semalam dihentikan."

Mira menatap Arga. "Anda setuju diperiksa?"

Arga melirik Alya. "Kalau saya bilang tidak?"

Mira menjawab sebelum Alya, "Saya pulang. Tapi kalau nanti Anda mati karena obat aneh, jangan ganggu saya."

Arga menatapnya, lalu tertawa pelan.

"Baik. Periksa."

Alya berdiri di samping, tidak ikut campur saat Mira memeriksa tekanan darah, pupil, refleks, pernapasan, dan bekas suntikan. Mira meminta Lilis membawa semua obat. Setelah melihat botol cair, wajahnya berubah.

"Ini tidak boleh diberikan tanpa komposisi."

"Dokter keluarga bilang racikan," kata Alya.

"Racikan juga punya catatan. Kalau tidak ada, ini bukan racikan medis. Ini masalah."

Arga bertanya pelan, "Masalah seperti apa?"

Mira menatapnya. "Saya belum bisa menyimpulkan. Tapi gejala Anda tidak konsisten dengan satu penyakit kronis. Ada tanda sedasi berulang, mungkin interaksi obat, mungkin toksisitas ringan yang berlangsung lama."

Kamar hening.

Lilis menunduk.

Alya bertanya, "Langkah?"

"Darah lengkap, fungsi hati, ginjal, elektrolit, panel toksikologi kalau bisa. Rambut juga. Obat ini kirim ke lab. Semua obat dihentikan kecuali yang saya setujui setelah lihat resep asli."

"Resep asli tidak lengkap."

"Maka kita anggap tidak ada."

Pintu tiba-tiba dibuka.

Dokter Hamzah masuk bersama Marni.

Lelaki itu berusia lima puluhan, berkacamata, memakai kemeja rapi dan wajah tersinggung sebelum bicara.

"Apa-apaan ini?"

Mira menoleh. "Pagi."

Hamzah melihatnya, lalu melihat Alya. "Siapa dokter ini?"

"Dokter independen," jawab Alya.

"Saya dokter yang menangani Tuan Arga."

"Bagus. Kita bisa berdiskusi."

"Tidak ada yang perlu didiskusikan. Menghentikan obat pasien kronis tanpa konsultasi adalah tindakan berbahaya."

Mira mengangkat botol cair. "Ini obat Anda?"

Hamzah terdiam sepersekian detik.

Cukup.

Alya melihatnya.

Mira juga.

"Itu suplemen tidur," kata Hamzah.

"Komposisi?"

"Ada di catatan saya."

"Tolong tunjukkan."

"Saya tidak membawa."

"Berarti untuk saat ini tidak diberikan."

Hamzah menatap Alya. "Nyonya Alya, Anda baru masuk rumah ini. Jangan mengacaukan terapi yang sudah berjalan."

"Terapi yang membuat suami saya sulit bangun setiap pagi?"

"Itu bagian dari kondisinya."

"Atau bagian dari obatnya?"

Wajah Hamzah mengeras. "Anda bukan dokter."

"Karena itu saya memanggil dokter."

Hamzah menoleh ke Arga. "Tuan, Anda harus memahami risiko. Jika obat dihentikan, kondisi Anda bisa memburuk."

Arga bersandar, wajahnya lelah. "Kalau dilanjutkan, apakah aku membaik?"

Hamzah terdiam.

Arga tersenyum tipis. "Bertahun-tahun kamu merawatku. Aku hanya semakin buruk."

"Penyakit Tuan kompleks."

"Seberapa kompleks sampai obat malamku tidak punya label?"

Marni menyela, "Tuan Arga, Dokter Hamzah sudah merawat Tuan dengan setia."

Alya menatapnya. "Marni, keluar."

"Nyonya--"

"Keluar."

Marni menatap Hamzah, lalu keluar dengan wajah marah.

Hamzah berkata, "Ini tidak profesional."

Mira membalas dingin, "Yang tidak profesional adalah memberi pasien botol tanpa komposisi."

Suasana menegang.

Alya mengambil ponsel. "Dokter Hamzah, saya akan mengirim sampel obat ini ke lab. Jika hasilnya sesuai terapi aman, saya akan meminta maaf. Jika tidak, Anda sebaiknya menyiapkan pengacara."

Hamzah menatapnya tajam. "Anda mengancam saya?"

"Belum. Saya memberi informasi."

Arga menutup mata, tetapi sudut bibirnya naik samar.

Hamzah tahu ia kalah di ruangan ini. Ia mengambil tasnya.

"Saya akan melapor kepada Nyonya Ratna."

"Silakan," kata Alya. "Sampaikan juga bahwa mulai hari ini akses medis Arga berubah."

Hamzah keluar.

Mira menatap Alya. "Kamu tahu kamu memulai perang?"

Alya mengambil botol obat dan memasukkannya ke plastik sampel.

"Tidak."

"Tidak?"

"Perangnya sudah lama dimulai. Aku hanya berhenti pura-pura tidak ada suara tembakan."

Arga membuka mata.

Mira melihatnya, lalu menghela napas. "Baik. Saya butuh izin tertulis dari pasien untuk pemeriksaan lanjutan."

Arga menatap Alya.

"Kalau aku tanda tangan, kamu akan bertanggung jawab?"

"Atas keputusan medis yang kuambil, iya."

"Atas hidupku?"

Alya diam sesaat.

Pertanyaan itu bukan main-main.

"Aku akan berusaha membuatmu punya kesempatan hidup," jawabnya. "Sisanya kamu sendiri yang putuskan."

Arga menerima pena dari Mira.

Tangannya masih gemetar, tetapi tanda tangannya jelas.

Di bawah namanya, tinta hitam mengering pelan.

Alya melihat tanda tangan itu.

Dalam kehidupan lalu, ia pernah mengumpulkan banyak tanda tangan untuk Rafi. Kuasa saham, perjanjian, keputusan direksi.

Hari ini, tanda tangan pertama Arga bukan untuk menyerahkan sesuatu.

Untuk mengambil kembali tubuhnya sendiri.

1
Aisyah Suyuti
menarik
Rossy Annabelle
next thor 💪,alurnya menarik sih thor ada bab ambisius gitu .tentang orang² besar yah🤔tp seru sih
Irsyad layla
kapan lanjut lagi thor
Irsyad layla
tapi tadi dia bawa mobil sendiri
Rossy Annabelle
bayi tabung GX tuh yg Segede gaban/Facepalm/
Rossy Annabelle
next ,doble up-nya thor/Chuckle/
Rossy Annabelle
next💪
Rossy Annabelle
sampe sini bagus thor ceritamu ada vote buat author 😁
Rossy Annabelle
apakah Maya kartu as Ratna y thor
Dewi Sartika
lanjutt Thor
Dewi Sartika
bagus ceritanya.,ga bertele² ,gass thor
ririn nurima
cerita nya seru ...aku suka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!