NovelToon NovelToon
Cinta Anak SMA

Cinta Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Idola sekolah
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: dinda.glow

Bagaimana jika dua orang remaja yang tidak saling dekat, namun dipaksakan berdua karena perjodohan?

Akankah mereka menerima nya? atau sebaliknya?

"Dia selalu serius ketika menyimak penjelasan dari guru saat jam pelajaran di kelas," batin seorang gadis yang bernama Lyra, sedang memandangi seorang cowo yang terlihat keren saat pelajaran, namun terlihat kesal dengan kesombongannya.

____

"Kenapa harus dia?!" teriak Lyra, tidak menyukai perjodohan yang dilakukan orang tua mereka.

Sedangkan di sisi lain, cowo itu menatapnya dingin dan tajam, sesekali menyetujui ucapan Lyra, tidak ingin perjodohan mereka berlanjut.

____

"Oh iya... yang pintar mah beda." ucap Lyra menyindir cowo dihadapannya itu.

"Makanya belajar! Bukan baca novel!" sarkas cowo itu, yang membuat Lyra ingin mencabik-cabik cowo yang dihadapannya ini.

-- Dua orang Sikap berbeda yang terpaksa bersama --

Follow akun ini(@dinda.glow), like & komen disetiap cerita yaw! di upload setiap hari Jam 09:00 WIB & 21:00 WIB

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dinda.glow, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Rian gugup bertemu Rina, Anak Olimpiade

Rina dikenal luas di seantero sekolah sebagai salah satu bintang terang tim olimpiade.

Fisikanya sangat kuat dan logikanya tajam.

Hari ini, ia tampak mencolok dengan seragam yang dimasukkan rapi dan name-tag berkilau.

Tap.. tap.. tap...

Langkah kakinya yang tegas namun tenang seolah membelah keramaian kelas yang biasanya hanya diisi oleh suara bising murid-murid biasa yang sedang bersantai.

Di sudut belakang kelas, tepat di meja nomor tiga dari barisan jendela, duduklah Lyra dan Rian.

Lyra sedang sibuk membaca sebuah novel fiksi sejarah, sementara Rian tengah mengunyah roti selai kacangnya sambil menatap papan tulis kosong.

Begitu mata Rian menangkap sosok Rina yang terus berjalan lurus ke arah meja mereka, kunyahannya seketika melambat.

Sendi-sendi di lehernya terasa kaku dan jantungnya mendadak berpacu tak karuan.

Nanda berhenti tepat di depan meja mereka.

Di tengah keriuhan teman-teman sekelas X3 yang mulai berbisik-bisik dan menunjuk ke arah mereka, Rian benar-benar mati kutu.

Keringat dingin mulai merayap dari pelipisnya. Lidahnya terasa kelu.

Dalam benaknya, ia terus bertanya-tanya alasan seorang anak emas olimpiade datang jauh-jauh dari gedung sayap timur tempat kelas X2 berada, hanya untuk mengunjungi kelas mereka yang bising ini.

"R-Rina? Ada urusan apa sampai ke sini?" tanya Rian dengan suara yang sedikit bergetar dan terbata-bata.

Ia berusaha mati-matian untuk tetap terlihat tenang dan mengontrol napasnya yang memburu.

kriet....

Bukannya langsung menjawab, Rina justru menarik kursi kosong yang berada di depan meja Rian dan duduk dengan sangat santai.

Suasana kelas X3 semakin riuh.

Beberapa teman sekelas mereka mulai bersorak menggoda, sementara sebagian lagi berkerumun layaknya penonton teater yang sedang menyaksikan pertunjukan utama.

Ada yang berteriak bertanya apakah ada tugas fisika yang sulit, dan ada juga yang berasumsi Rina sedang mencari teman diskusi untuk kompetisi sains minggu depan.

Lyra, yang merasa terganggu dengan keriuhan luar biasa tersebut, akhirnya menutup bukunya dengan agak keras.

Jeb!

Ia menatap Rina dengan tatapan menyelidik dan penuh tanya, lalu melirik Rian yang saat ini wajahnya sudah memerah hingga ke pangkal telinga.

Rian benar-benar mati kutu dan hanya bisa menunduk menatap sepatunya sendiri, menghindari kontak mata dengan siapapun, terutama Rina yang duduk tepat di hadapannya.

"Jangan tegang gitu, Rian," kata Rina sambil tersenyum ramah.

Ia kemudian mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bersampul hitam dari dalam tas selempangnya.

"Aku ke sini bukan untuk mencari masalah atau menanyakan soal-soal rumus yang rumit. Aku cuma mau mengembalikan ini."

Puk.. (Suara meletakkan buku pelan)

Rina meletakkan buku bersampul hitam itu di atas meja tepat di hadapan Lyra.

Lyra mengernyitkan dahi, memandangi buku tersebut dengan tatapan bingung.

"Buku apa ini?" tanya Lyra dengan nada heran.

"Itu buku catatan eksperimen astronomi yang waktu itu tertinggal di ruang laboratorium saat seleksi OSN minggu lalu," jawab Rina tenang.

"Waktu aku buka halaman depannya, ada nama kamu dan juga stiker kelas X3 di sana. Karena aku sedang ada urusan di ruang guru tadi, sekalian saja aku mampir kemari untuk mengembalikannya. Daripada harus menunggu sampai pulang sekolah, kan?"

Seketika itu juga, keheningan singkat menyelimuti meja mereka.

Keriuhan teman-teman sekelas di sekitar mereka perlahan berubah menjadi bisikan-bisikan kecewa yang bercampur dengan kelegaan.

Rupanya, mereka mengira ada drama besar atau insiden penting yang melibatkan Rina.

Rian yang dari tadi mati kutu menahan napas, perlahan mengangkat wajahnya.

Ia menatap Rina, lalu menatap buku di depan Lyra secara bergantian.

Perlahan tapi pasti, senyum canggung menghiasi wajah Rian.

Rasa gugup yang mencengkeram dadanya berangsur-angsur mencair, digantikan oleh rasa malu karena telah bereaksi berlebihan.

"Ya ampun, Rina. Terima kasih banyak, ya," ujar Lyra sambil tersenyum tipis dan meraih buku tersebut.

"Aku sempat mencarinya ke mana-mana dan mengira buku itu hilang di perpustakaan. Ternyata tertinggal di lab fisika."

"Sama-sama, Lyra. Maaf kalau kedatanganku barusan sempat membuat kelas kalian jadi heboh tidak karuan," balas Rina sambil tertawa pelan.

Ia menoleh ke arah Rian yang kini sudah bisa bernapas lega.

"Dan Rian, maaf juga kalau aku mengagetkanmu tadi pagi di koridor, lalu sekarang muncul tiba-tiba di mejamu. Kamu kelihatan pucat sekali, lho."

Rian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa sangat salah tingkah.

"Ah, iya, tidak apa-apa kok, Rina. Aku cuma... ya, sedikit terkejut saja melihat anak olimpiade datang ke kelas kita tanpa ada pemberitahuan apa-apa sebelumnya."

Suasana kelas X3 kembali normal meski masih ada beberapa pasang mata yang sesekali mencuri pandang ke arah meja mereka.

kriet....

Rina pun berdiri dari kursinya dan menepuk pelan pundak Rian.

Setelah berbasa-basi sebentar dan memastikan buku itu sampai di tangan pemiliknya, Rina berpamitan untuk segera kembali ke kelasnya di gedung X2.

Sepeninggal Rina, meja tersebut kembali sepi dari intervensi luar.

Rian menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi dan menghela napas panjang sembari memegang dadanya sendiri.

Kejadian barusan benar-benar membuatnya mati kutu dan sangat gugup. Ia bahkan tidak bisa merangkai satu kalimat yang benar saat Rina datang.

"Ya ampun, Rian. Kenapa kamu harus segugup itu sih tadi?" goda Lyra sambil terkekeh pelan.

Ia membuka buku catatan astronominya dan mulai membaca coretan-coretan rumus di dalamnya.

"Rina itu orangnya sangat baik, tidak perlu sampai setegang itu menghadapinya."

"Mana aku tahu dia bakal mampir ke sini!" seru Rian berbisik dengan wajah yang masih terlihat tegang namun mulai diwarnai tawa kecil.

"Selama ini dia kan terkenal sangat sibuk dengan buku-buku tebal dan persiapan kompetisi sains tingkat nasional. Lagipula, aku selalu merasa canggung kalau berhadapan langsung dengan anak-anak pintar yang masuk jajaran tim olimpiade sekolah."

"Tapi reaksimu tadi benar-benar lucu," tambah Lyra tanpa melepaskan pandangannya dari lembaran kertas.

"Wajahmu berubah warna jadi seperti kepiting rebus saat dia duduk di depan kita. Seluruh kelas bahkan sempat mengira kamu sedang ditagih hutang atau mendapat masalah besar darinya."

"Bisa-bisanya kamu bercanda di saat aku sedang mati kutu seperti itu," protes Rian sambil kembali memakan rotinya yang sempat tertunda.

Meski begitu, ia ikut tersenyum.

Kejadian singkat tersebut menjadi selingan yang sangat menarik di tengah rutinitas belajar mereka.

Dari sudut lain kelas, teman-teman mereka masih sesekali menoleh, penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh Rina, Lyra, dan Rian.

Bagi mereka, interaksi antara siswa biasa dan siswa berprestasi seperti Rina adalah sebuah pemandangan langka.

Kelas X3 perlahan kembali tenang seiring dengan bel tanda istirahat berakhir yang kembali berbunyi, mengakhiri keriuhan yang sempat singgah di ruang kelas mereka.

_______________

Sementara itu, di perjalanan menuju ruang kelasnya, Rina tersenyum tipis mengingat kejadian barusan.

Ia sebenarnya menyadari bahwa kehadirannya selalu memicu perhatian berlebih dari lingkungan sekitar.

Namun, misinya telah berhasil diselesaikan dengan baik.

Baginya, momen-momen kecil di luar rutinitas belajar seperti mengembalikan buku catatan ke kelas lain memberikan warna tersendiri di masa-masa sekolah menengah atasnya.

Tap-tap...

Ia kembali melangkahkan kakinya dengan mantap, bersiap untuk menghadapi tumpukan soal fisika yang menunggunya di kelas olimpiade.

______________

Di sisa jam pelajaran setelah istirahat, Rian berusaha keras untuk fokus pada penjelasan guru di depan kelas.

Namun, pikirannya masih sesekali melayang pada kejadian di jam istirahat tadi. Ia merasa kejadian tersebut adalah pengalaman yang tidak akan mudah dilupakan.

Di sebelahnya, Lyra tampak sangat tekun menyalin kembali beberapa rumus penting yang ada di dalam buku catatannya yang telah kembali.

Keberadaan buku tersebut sangat membantunya dalam mempersiapkan materi pelajaran sains untuk minggu depan.

Kisah singkat mengenai kedatangan Rina yang tiba-tiba itu akhirnya menjadi bahan obrolan ringan antara Rian dan Lyra saat jam pulang sekolah tiba.

Tap.. tap..

Mereka berjalan beriringan menuju gerbang sekolah, menertawakan kembali bagaimana kepanikan dan rasa gugup bisa membuat suasana kelas menjadi begitu riuh.

Pengalaman itu juga secara tidak langsung memotivasi Rian untuk lebih berani dan tidak terlalu canggung lagi apabila harus berinteraksi dengan siswa-siswa berprestasi lainnya di sekolah.

Masa-masa sekolah memang selalu diwarnai dengan momen-momen tak terduga yang membuat hari-hari belajar menjadi jauh lebih berwarna dan penuh dengan cerita.

Bersambung~~~

Hallo ges!! semoga suka cerita nya ya!! 🤗

Jangan lupa follow akun ini, like, komen dan share cerita nya ya!! 😉

Instagram: @dinndaayu_64

Wattpad: @dinda.glow

See you~~

1
Jum😊
aku udah mampir kak semangat yaa💪🤭
dinda.glow: wah... maaci udah mampir 🤩🤩🤩✨
total 1 replies
MamiAmira
semangat kak makasih tadi udah mampir
dinda.glow: makasi juga udah beri support!! ✨🥳
total 1 replies
Waaaaaa_
Aku mampir jugaaa
dinda.glow: makasi sudah mampir ihihi
total 1 replies
Sandhyaruntala
Semangat kecilll🫶
dinda.glow: maaci akk 😍
total 1 replies
Firmahadi
izin mampir kak
dinda.glow: hay... makasi sudah mampir ^^
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!