NovelToon NovelToon
Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Status: tamat
Genre:Asmara / CEO / Healing / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29

Kembang Api Bernama "Ardi"

Ardian akhirnya menelepon Rio malam itu.

Ia menunggu hampir satu jam setelah sensasi di kakinya mereda, cukup lama untuk memastikan napasnya kembali normal dan wajahnya tidak lagi sepanas tadi. Ketika Rio mengangkat telepon, suara dokter itu penuh curiga.

"Kalau ini soal petai, aku tidak melayani konsultasi makanan terkutuk."

"Kakiku terasa lagi."

Rio langsung diam.

Sepuluh menit kemudian, ia sudah melakukan video call dengan ekspresi serius. Dua puluh menit kemudian, ia datang ke Rumah Tan membawa tas dokter dan wajah seseorang yang tidak ingin terlihat terlalu senang.

Pemeriksaan dilakukan di ruang terapi.

Sekar berdiri di dekat pintu dengan wajah bersalah. "Dok, ini gara-gara kue kerupuk petai. Saya..."

"Berhenti." Rio mengangkat tangan. "Aku dokter saraf, bukan mediator antara petai dan martabat manusia."

Ardian memalingkan wajah.

Rio memeriksa respons paha, betis, dan jari kaki. Ia tidak memaksa terlalu lama. Beberapa kali ia mencatat angka, lalu menatap Ardian dengan mata yang makin terang.

"Ini bagus," katanya akhirnya. "Masih lemah, tapi polanya lebih jelas. Jangan buru-buru merasa bisa berdiri. Jangan juga sengaja mencari pemicu aneh."

Sekar mengangkat tangan pelan. "Pemicu aneh maksudnya petai?"

Rio menatap Ardian.

Ardian menatap meja.

Rio tiba-tiba tersenyum. "Mungkin bukan petainya."

"Lalu apa?"

"Rahasia medis."

Sekar bingung. Ardian ingin melempar map.

Setelah pemeriksaan selesai, Sekar keluar untuk mengambil air hangat. Begitu pintu tertutup, Rio menyandarkan tubuh ke kursi.

"Kamu tahu dia sedang menyiapkan sesuatu untuk ulang tahunmu?"

Ardian diam.

"Kamu tahu?"

"Aku melihat status WA."

"Dan kamu masih mengira semua paket itu bukan untukmu?"

Ardian menatapnya dingin. "Tempat tidur kucing jelas bukan untukku."

"Benar. Tapi rencananya bukan memberi satu hadiah besar lalu selesai." Rio mengetuk map dengan pulpen. "Dia pernah bilang padaku, dia tidak ingin memberi kebahagiaan sesaat. Dia ingin membuat sesuatu yang bisa berlangsung berhari-hari."

Ardian tidak bergerak.

Rio melanjutkan, "Kucing, bunga, makanan, foto, semua itu bagian dari membuat rumah ini tidak terasa seperti ruang tunggu orang sakit. Dia sedang membangun suasana ulang tahun, bukan cuma membungkus barang."

Di luar, terdengar langkah Sekar mendekat.

Rio menurunkan suara. "Jadi kalau kamu masih cemburu pada kucing dan Darren, silakan. Tapi jangan bodoh terlalu lama."

Sekar masuk membawa air hangat. "Dok Rio bilang apa?"

"Dia bilang jangan makan petai lagi," kata Ardian.

Rio tersedak.

Ulang tahun Ardian jatuh tepat tengah malam itu.

Sejak sore, Sekar tampak sibuk. Ia menghilang ke halaman, kembali ke dapur, menelepon seseorang, lalu berbisik dengan satpam rumah. Darren berkeliaran seperti anak kecil yang ingin tahu isi kotak hadiah tetapi takut dimarahi.

Ardian pura-pura tidak melihat.

Ia melihat semuanya.

Menjelang pukul sebelas empat puluh lima, Sekar mengetuk pintu ruang kerjanya.

"Pak Tan, ikut saya ke halaman sebentar."

"Untuk apa?"

"Rehabilitasi emosional."

"Itu bukan istilah medis."

"Dok Rio tidak melarang."

Di halaman belakang, lampu taman dibuat redup. Melati dan mawar berdiri di sisi jalur batu, sudah diberi lampu kecil. Si Oranye duduk di dekat kasur donat, seperti panitia yang tidak resmi. Darren berdiri di dekat teras dengan ekspresi terlalu gembira dan mulut yang jelas sudah disumpal oleh janji tidak membocorkan apa pun.

Sekar membawa Ardian ke posisi yang sudah ditandai.

"Dari sini paling bagus," katanya.

"Kamu mengurus semua ini?"

"Sedikit."

Darren batuk keras. "Sedikit katanya. Aku disuruh tidak makan sejak sore supaya tidak mengganggu koordinasi."

"Pak Darren tetap makan dua sosis."

"Itu bukan makan. Itu bertahan hidup."

Sekar melihat jam di ponsel.

23.59.

Ia berdiri di samping kursi roda Ardian. Angin malam Jakarta membawa aroma tanah basah dan bunga melati. Rumah Tan yang dulu terlalu sunyi sekarang punya lampu kecil, kucing oranye, adik yang memegang sosis diam-diam, dan seorang perempuan yang menggenggam remote kembang api dengan wajah tegang.

"Pak Tan," katanya pelan, "selamat ulang tahun."

Jam berubah.

00.00.

Sekar menekan tombol.

Kembang api kecil menyala dari ujung halaman, bukan besar sampai mengganggu satu kompleks, tetapi cukup terang untuk memenuhi langit pribadi di atas Rumah Tan. Cahaya pertama naik, pecah menjadi warna emas. Cahaya kedua merah. Cahaya ketiga biru.

Lalu beberapa rangkaian menyala berurutan, membentuk huruf di udara rendah.

A.

R.

D.

I.

Ardi.

Nama yang jarang dipakai orang di rumah ini, nama yang terasa lebih muda, lebih dekat, lebih hidup daripada "Pak Tan" atau "Tuan Muda".

Ardian menatap langit.

Selama beberapa detik, ia tidak bisa berkata apa pun.

Sekar berdiri di sampingnya, wajahnya diterangi cahaya kembang api. "Saya tidak tahu Pak Tan suka apa. Jadi saya pikir, kalau tidak bisa memberi satu kebahagiaan besar, saya coba beri banyak hal kecil. Kucing, bunga, foto, makanan, dan malam ini."

Ia tertawa kecil, agak malu. "Kasur Si Oranye bukan hadiah untuk Pak Tan, tapi saya ingin halaman ini punya penghuni baru. Bahan burger bukan hadiah untuk Pak Tan, tapi saya ingin Pak Darren tidak selalu takut pulang ke rumah yang terlalu sepi. Lampu taman, magnet kulkas, semua itu juga bukan hadiah yang bisa dibungkus cantik."

Sekar menatap tulisan ARDI yang mulai memudar di langit. "Tapi kalau semuanya dikumpulkan, mungkin ulang tahun Pak Tan tidak cuma berlangsung satu malam. Mungkin besok, lusa, minggu depan, rumah ini masih terasa sedikit lebih hangat."

Ardian menoleh padanya.

Kata-kata Rio kembali di kepalanya.

Orang yang tepat juga bisa menjadi obat.

Ia melihat Sekar, lalu langit kecil yang bertuliskan namanya.

"Sekar," panggilnya.

Sekar terkejut. Ia jarang sekali mendengar namanya keluar begitu lembut dari mulut Ardian.

"Iya?"

Ardian menggenggam sandaran kursi roda. Jantungnya lebih bising daripada kembang api.

"Aku suka..."

"Pak! Pak! Kembang apinya cukup, ya!"

Suara satpam komplek datang dari pagar samping, panik tetapi sopan. "Ada tetangga lapor bayi bangun!"

Darren memukul dahinya sendiri.

Sekar langsung panik. "Maaf, Pak! Ini rangkaian terakhir!"

Momen itu pecah.

Ardian menutup mulutnya lagi.

Kembang api terakhir menyala kecil, lalu padam, meninggalkan asap tipis dan bau mesiu ringan di udara.

Sekar sibuk meminta maaf pada satpam, Darren sibuk menyembunyikan sosis, dan Si Oranye kabur ke balik pot.

Tidak ada yang mendengar kalimat yang hampir selesai.

Malam itu, setelah semua orang masuk dan halaman kembali gelap, Ardian membuka buku catatan kulit cokelat.

Ia menulis satu kalimat di halaman baru.

Angin dari jendela yang belum tertutup rapat membalik halaman itu sebelum tinta benar-benar kering.

Pembaca tidak bisa melihat lanjutan kalimat yang tadi terputus.

1
sunaryati jarum
Beruntungnya kamu Sekar dicintai Tan Ardian dengan ugal-ugalan
sunaryati jarum
Itu juga emak nanti, Tante Nana yang ikut bulan madu sudah ada isi orok rahimnya
sunaryati jarum
Akhirnya kembali
sunaryati jarum
Tiga puluh negara berapa bulan tuh
sunaryati jarum
Itu aturan kamu lho mengganti kata maai😃😃
sunaryati jarum
Bulan madunya keliling dunia
sunaryati jarum
Sepertinya mau berbaikan dan balikan
sunaryati jarum
Semoga mereka . balikin lagi jadi suami istri dan kepulangan dari bulan madu ada kabar gembira dari Budiman Sekar, kecebong Tan Ardian ada yang tumbuh di rahim Sekar
sunaryati jarum
Perjuangan keluarga untuk mendapatkan pendengaran Ibu Melina berhasil
sunaryati jarum
Selamat akhirnya menikah cepat
sunaryati jarum
Nah gitu ,jika sudah menikah dimana pun tinggal bisa tidur bersama
sunaryati jarum
Maka segera nikahin Sekar, Setelah semua urusan hukum Kevin, Yenni,dan Felicia selesai
sunaryati jarum
Ternyata kau mempelajari bahasa dengan sungguh sungguh
sunaryati jarum
Bravo Ardian ,calon menantu idaman
sunaryati jarum
Dalam tidur saja kalau sudah bucin , yang teringat hanya Ardian
sunaryati jarum
Tan Hendrawan hanya bisa menyesal dan meratapi kebodohannya
sunaryati jarum
Nah Kevin dan Violeta yang merasa aman,akan diminta pertanggungjawabannya
sunaryati jarum
Ardian sudah mengumumkan pacarnya siapa
sunaryati jarum
Ingin merebut milik Tan Ardian,Kevin.Yang ada kehancuran kamu
sunaryati jarum
Dengan cinta semangat bangkit kembali ,Tan Ardian
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!