NovelToon NovelToon
Tumbal Tujuh Perawan

Tumbal Tujuh Perawan

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Iblis / Tumbal
Popularitas:52k
Nilai: 5
Nama Author: novita jungkook

Setiap tahun selalu saja para pembantu yang masih perawan akan meninggal dunia, namun mereka tidak ada yang sadar dengan hal itu

Hingga akhir nya Dila datang ke rumah itu untuk mencari tahu tentang keberadaan sang adik yang hilang entah ke mana, dan tempat terakhir dia kerja adalah rumah keluarga Susanto.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. pulang ke desa

Helen membuka pintu rumah kaca seperti yang Susanto katakan bahwa dia harus mendatangi tempat tersebut bila ingin mendapat bonus besar, tentu saja Helen tidak akan melewatkan kesempatan ini dan dia segera mendatangi untuk berbicara langsung berdua dengan Susanto dan Bahkan dia akan melakukan apa saja agar bisa disayang oleh sang majikan.

Gadis ini terkadang juga merasa begitu kesal dengan sikap Dina yang sangat angkuh dan Arogan bila dengan para pembantu, memang kesannya seperti itu karena Dina tidak akan pernah mau berbincang atau bahkan bertanya tentang keadaan para pembantu yang ada di dalam rumah itu, sebab para pembantu akan mengatakan bahwa Dina adalah manusia paling dingin.

Jangankan dengan para pembantu tersebut, bahkan terkadang Dina juga sangat angkuh dan tidak mau bertegur sapa kepada saudara yang mengunjungi dia ke rumah itu, entah apa sebenarnya yang terjadi kepada Dina sehingga membuat dirinya menjadi begitu pendiam dan tidak pernah mau basa-basi kepada semua orang yang pernah dia temui.

Jadi karena sikap itu manusia lain sangat tidak menyukai Dina dan bahkan para pembantu juga sangat tidak nyaman dengan sikap Dina itu, andai saja dia adalah juragan yang baik dan selalu beramah tamah dengan mereka semua maka pasti para pembantu juga akan menaruh rasa iba dan tidak akan pernah mau melakukan hal seperti ini.

''Tapi nanti Bagaimana bila sampai Nyonya Dina tahu?'' Helen mengelus dada Susanto.

''Dia tahu juga tidak masalah karena dia tidak pernah peduli kepada aku.'' Susanto menjawab sambil tersenyum.

''Ah Saya takut nanti bilang Nyonya sampai marah kepada saya, nanti malah kena usir dan tidak dapat pekerjaan lagi.'' Helen berkata dengan nada begitu manja.

''Sudah, tidak usah kamu pikir dia itu karena sekarang hanya ada kamu dan saya saja.'' Susanto mencium sekilas bibir gadis itu.

''Ah tuan.'' Helen tersenyum malu.

''Katakan dengan jujur kepada diriku apa kau masih perawan atau tidak?'' Susanto bertanya dengan nada begitu penasaran.

''Kenapa tuan bertanya seperti itu kepada saya?'' Helen agak kaget karena mendapat pertanyaan seperti itu.

''Saya hanya tidak ingin kecewa saja, tapi bila memang kau sudah tidak perawan maka bisa katakan dan aku akan tetap menerima.'' ujar Susanto dengan nada begitu manis sehingga Helen semakin terbuai akan ucapan tersebut.

Susanto sudah waspada terlebih dahulu karena dia telah mendapat pengalaman dari Lisa kemarin, dia tidak mau bingung menguburkan mayat gadis itu lagi hanya karena telah salah sasaran dan dia masih harus tanggung jawab penuh kepada sang mayat karena itu jelas mengandung risiko yang sangat besar bila nanti ketahuan.

Sudah bekerja keras untuk menguliti tubuh manusia dan malah harus lagi menguburkan sang mayat dengan susah payah, jadi untuk menghindari itu semua maka Susanto lebih baik bertanya kepada Helen terlebih dahulu untuk memastikan apakah Gadis itu masih perawan atau tidak lagi agar dia Jangan sampai salah langkah kembali.

''Saya sudah tidak perawan lagi.'' Helen karena dia merasa lebih baik untuk mengaku saja.

''Aih!'' Susanto jelas merasa kecewa karena dia harus mencari orang lain lagi.

''Saya minta maaf karena ini bukan berarti saya adalah gadis yang liar, tapi karena dulu saya sempat diperkosa ketika masih sekolah dasar.'' Helen berkata memelas agar Susanto merasa sedih. Helm berkata memelas agar Susanto merasa sedih.

''Lupakan saja soal itu dan kau kembalilah sana ke kamar.'' Susanto memberikan uang kertas berwarna merah sebanyak lima lembar.

''Tuan tidak jadi mengajak saya untuk berpacaran malam ini?'' Helen kecewa namun dia tetap menerima uang itu karena sudah ada di depan mata.

Padahal tadi dia sudah berharap bahwa Susanto akan mau menerima dia apa adanya dan menjalin hubungan terlarang itu, Helen sama sekali tidak tahu bahwa dengan dirinya sudah tidak perawan maka menyelamatkan dari kematian, tapi dia justru merasa kecewa dan kesal karena tidak bisa melanjutkan hubungan ini dengan Susanto lagi.

''Sialan!'' Susanto kesal bukan main karena dia gagal mendapat.

Gagal sudah rencana dia untuk memburu tumbal karena saat ini begitu sulit sekali mendapatkan gadis perawan, Susanto rasa ingin kembali ke desa itu karena tidak mau bila terus berdiam diri seperti ini maka nanti yang ada dia tidak bisa memberikan tumbal kepada iblis yang telah dia puja.

Di kota sulit sekali mencari karena dia harus berhati-hati dan bila tidak waspada maka yang ada akan kesulitan kembali untuk mendapatkan tumbal maut ini, daripada harus lelah bekerja namun dirinya tidak berhasil mendapatkan tumbal maka dia harus memberikan diri untuk bertanya terlebih dahulu kepada para calon.

''Kau apa memiliki kenalan yang ada di desa sana?'' Susanto bertanya kepada Mang Ujang.

''Untuk yang di desa tentu saja lebih banyak karena mereka belum mengenal hal seperti itu terlalu dalam.'' Mang Ujang menjawab dengan sopan.

''Bagaimana dengan bocah yang baru masuk kerja di rumah kita ini?'' Susanto tahu bahwa ada Rahma yang baru masuk.

''Itu Saya juga tidak tahu karena sekarang cover dari luar bisa menipu.'' jawab Mang Ujang.

''Aku besok akan jalan-jalan ke desa jadi kau Tolong temani aku.'' tegas Susanto dan dia tidak mau bila sampai di bantah.

''Baik, tuan.'' Mang Ujang hanya bisa mengganggu pasrah karena ini semua memang sudah menjadi pekerjaan dia.

''Walau pergi ke desa juga tidak bisa langsung mendapatkan tumbal karena nanti justru membuat warga merasa curiga.'' Dina datang dan langsung membuka suara.

''Kalau saran dari saya maka lebih baik untuk pulang dulu ke desa non Dina dan nanti bisa menginap di rumah itu.'' Mang Ujang memberikan saran.

Susanto menatap Dina yang masih tetap diam sambil menatap bunga yang mereka tanam selama ini, tidak ada reaksi dari sang istri dan Susanto juga tidak berani bila langsung memutuskan Karena itu adalah rumah Dina dan selama ini Vera yang tinggal di rumah tersebut.

''Apa Vera memang sudah pindah ke rumah Matteo saat ini?'' Dina bertanya dengan suara yang begitu datar.

''Iya, non Vera kemarin mengangkat semua barang dan pindah ke rumah tuan Matteo.'' Mang Ujang mengangguk pelan.

''Ya sudah Bila memang begitu maka aku akan pulang ke desa besok untuk melihat apa memang desa kita masih asri atau sudah terkontaminasi juga.'' ujar Dina.

Susanto merasa sangat lega karena akhirnya Dina mau menerima ajakan itu dan mereka bisa pulang kembali ke desa, tadi sudah ada rasa takut di dalam hati bila Dina akan menolak Namun ternyata wanita itu bersedia sehingga Susanto merasa sangat senang.

Selamat malam, jangan lupa like dan komentar kalian semua buat cerita athor Novita Jungkook ya.

1
Yeyet Rohaeti
biar mba pur aja' yg mengungkap nya ver,kan Susanto ama Dina di kampung lagi bikin masalah.
Yeyet Rohaeti
kok Vita hilang, masa jadi tumbal kan susanto di kampung .
Nindiana Anasya
siang KK
putri wahyu
siang jg Bess...
FiaNasa
mulut Bu Yuni minta digampar peke parutan kelapa tuh muncungnya..ntar klau dah terbukti Rudy tak salah ngesot² minta maaf
Ayuk Witanto
mantab....bikin emosi juga Bu yuni
Ayuk Witanto
ih gemes banget sama Susanto...pingin tak bakar tuh mulut
Eli Rahma
lanjuut
Nengsih Irawati
Semangat 🥰 lanjut
Raffaza Direzky87
itu kenapa congornya susanto ikut² an ngebacot, nglempar keslahan pada orang lain, panggil mba pur aja... biar ada titik terang nya
putri wahyu
pagi menjelang siang Bess..
knp Bu Yuni asal tuduh aja padahal ga ada bukti😒 jln satu2nya datangkan purnama sang ratu ular👍
putri wahyu
segitu banyaknya orang ga ada yg kepikiran buat cari di hutan😒
Raffaza Direzky87
jadi kasian sama rudi, gak tau apa² malah kena tuduh, Sania juga ngapain ikut² an ngomong ikut campur sama perdebatan orangtua
Raffaza Direzky87
eehh takutnya malah rudi yg di jadikan tersangka sama bu yuni nanti
Apriyanti
andai saja mayat nya ana purnamayg menemukan pasti purnama tau tangan siapa yg telah membunuh ana
Sri Devi
kasihan Ana baru muncul langsung jadi tumbal
Ayuk Witanto
jadi saling tuduh
FiaNasa
malah gak karuan
Heni Mulyani
lanjut
Eli Rahma
ihhh malah pada saling tuduh..ruwettt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!