NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Abadi

Kebangkitan Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bagus Dwi

Tahun 2042.
Manusia hidup seperti biasa dengan teknologi modern. Tidak ada yang tahu bahwa energi spiritual di Bumi mulai bangkit kembali setelah menghilang selama ribuan tahun.
Arkana Wijaya, mahasiswa berusia 20 tahun, menjalani hidup biasa hingga menemukan cincin kuno peninggalan kakeknya. Saat darahnya menyentuh cincin itu, jiwa seorang kultivator legendaris dari ribuan tahun lalu terbangun.
Namun, alih-alih mengambil alih tubuh Arkana, jiwa itu justru menghilang setelah mewariskan seluruh ingatan dan teknik kultivasinya.
Arkana menjadi satu-satunya orang yang mengetahui cara kultivasi sejati.
Sementara dunia mulai berubah, organisasi rahasia, keluarga kuno, dan makhluk yang selama ini bersembunyi juga mulai bergerak.
Bumi ternyata hanyalah dunia tingkat terendah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Badai Berkumpul di Sentul

Arkana kembali ke aula bawah tanah Kota Tua dengan gerakan yang sehalus angin malam. Begitu pintu besi kuno menutup dan mengunci otomatis, ia langsung melepaskan **Teknik Kamuflase Napas Kaisar**. Seketika, tekanan spiritual ranah **Spirit Gathering Tingkat Dua** yang masif kembali mengalir di sekitar tubuhnya, membuat debu-debu di lantai aula menyingkir secara radial.

"Gua balik," ucap Arkana pendek, melemparkan kristal data segitiga dari Ko Tio ke arah Dani yang sedang berjaga di depan layar *cyber-rig* holografiknya.

Dani menangkapnya dengan sigap, matanya berbinar melihat barang baru. "Gila, cepet banget lo, Ka! Gak sampai dua jam. Ini apaan?"

"Informasi paling berharga di Jakarta saat ini," Arkana melangkah mendekati altar batu, memberi isyarat agar Dani segera menancapkan kristal tersebut ke terminal dek elektroniknya. "Colok sekarang, Dan. Kita gak punya banyak waktu."

Begitu *data-drive* itu terhubung, proyeksi holografik tiga dimensi perbukitan Sentul segera menyembur ke udara aula, memancarkan pendaran cahaya biru dan merah yang kompleks. Titik merah besar di tengah peta berkedip-kedip dengan frekuensi cepat, dikelilingi oleh simulasi grafik pergerakan pasukan militer yang mulai mengepung area tersebut dari segala arah.

Dani menyipitkan matanya, jemarinya menari cepat di atas keyboard virtual untuk melakukan dekripsi data perimeter. "Astaga... Ko Tio dapet data dari mana ini? Ini cetak biru pergerakan taktis militer skala penuh! Lihat ini, Ka. Dua batalyon infanteri mekanis berzirah berat dari Divisi Garuda Siliwangi sudah mendirikan barikade berlapis di sepanjang jalur tol Jagorawi menuju Sentul."

Dani menggeser sudut pandang peta ke arah zona inti perbukitan. "Mereka juga menerjunkan sistem **Iron Dome Portabel** dan ratusan *drone* penyerang tak berawak tipe *Scourge-V5*. Mereka bener-bener mau mengisolasi tempat ini dari publik."

Lisa, yang sejak tadi duduk tenang mengkonsolidasikan energi elemen kayunya, ikut berdiri dan berjalan mendekati peta holografik. Begitu matanya menatap titik merah di perbukitan Sentul, ia mendadak memegangi dadanya. Napasnya sedikit memburu.

"Kak Arka..." bisik Lisa, wajahnya agak pucat namun matanya berbinar aneh. "Benih *Qi* di dalam dadaku... mendadak berputar cepat banget. Rasanya kayak ada sesuatu yang besar di sana yang lagi manggil aku."

Arkana menatap Lisa dengan jeli. Insting kultivatornya langsung tahu alasannya. "Itu karena bakat elemen kayu murni lo beresonansi dengan isi makam kuno itu. Di era primordial, para kultivator tingkat tinggi sering kali membangun makam mereka di atas tanah yang subur dan menanam ratusan tanaman obat spiritual untuk menjaga keutuhan jasad mereka. Resonansi ini bukti kalau informasi Ko Tio seratus persen valid."

Arkana berbalik menatap Dani dengan pandangan yang sangat serius. "Dani, lo tetep di sini bersama Lisa. Tugas lo berdua adalah fokus kultivasi menggunakan sisa Batu *Qi* peninggalan kakek gua. Tempat ini punya formasi pelindung mutlak, jadi kalian aman. Gua bakal berangkat ke Sentul sendirian malam ini."

"Tapi Ka! Itu dua batalyon militer lengkap dengan senjata pemusnah siber, belum lagi monster jubah hitam dari Klan Gagak Hitam!" Dani memprotes, raut wajahnya dipenuhi rasa khawatir yang mendalam. "Lo sendirian, sekuat apa pun lo sekarang, lo tetap cuma satu orang!"

Arkana menepuk bahu Dani dengan tangan kanannya yang kokoh. "Di dunia kultivasi, Dan, jumlah pasukan fana atau senjata api biasa gak punya arti banyak di hadapan teknik sejati. Gua ke sana bukan buat perang terbuka dengan militer. Gua bakal menyusup di bawah bayang-bayang menggunakan teknik kamuflase napas. Begitu airnya makin keruh karena bentrokan militer dan klan kuno, gua bakal ambil apa yang gua butuhin lalu pergi."

Melihat keteguhan yang tak tergoyahkan di sepasang mata perak Arkana, Dani akhirnya menghela napas panjang dan pasrah. "Oke... tapi lo harus bawa kom-link mikro ini. Ini menggunakan enkripsi frekuensi kuantum yang gua modifikasi sendiri. Militer gak bakal bisa melacak sinyalnya kecuali mereka punya superkomputer tingkat dewa. Gua bakal pantau pergerakan radar militer dari sini dan kasih tahu lo kalau ada bahaya."

Arkana menerima anting mekanis kecil itu lalu memasangnya di telinga kirinya. "Terima kasih, Dan. Jaga Lisa baik-baik."

### Penyusupan di Bukit Mistis

Dua jam kemudian, Arkana sudah berada di pinggiran kawasan Sentul, Bogor. Perjalanan melintasi jalur hutan sekunder ia tempuh dengan melompat dari satu puncak pohon ke puncak pohon lainnya, bergerak secepat hembusan angin malam berkat kekuatan ranah **Spirit Gathering Tingkat Dua**.

Suasana di Sentul jauh lebih mengerikan daripada Jakarta. Kabut *Qi* di sini tidak lagi berwarna hijau keunguan tipis, melainkan sudah memadat menjadi sepekat susu, membatasi jarak pandang teknologi optik konvensional hingga di bawah lima meter.

Dari atas dahan pohon beringin raksasa, Arkana mengaktifkan indra batinnya secara penuh. Di depannya, lembah perbukitan Sentul tampak seperti pangkalan militer masa depan yang megah. Lampu-lampu sorot dari panser berzirah berat membelah kabut, dan raungan mesin-mesin *drone* patroli terdengar konstan di udara.

*BZZZZT... "Arka, lo bisa denger gua?"* suara Dani berdenging pelan di anting mekanis Arkana. *"Gua baru saja meretas sensor perimeter luar militer. Sekitar lima ratus meter di depan posisi lo, ada garis pertahanan garis depan yang dijaga oleh satu peleton pasukan elite berzirah taktis Exo-Skeleton. Mereka memasang ranjau pemindai Aura-Meter di sepanjang tanah. Jangan lewat bawah!"*

"Paham, Dan. Gua bakal tetap di jalur atas," jawab Arkana perlahan melalui transmisi batin.

Arkana melompat dengan anggun, mendarat di atas dahan pohon pinus tanpa menimbulkan getaran daun sedikit pun. Matanya yang tajam melirik ke arah bawah, ke titik di mana ranjau-ranjau sensor militer ditanam di antara semak-semak. Namun, perhatian Arkana mendadak teralih oleh sekelebat bayangan hitam yang bergerak sangat cepat di sisi kiri barikade militer.

Ada lima orang berjubah hitam panjang—anggota **Klan Gagak Hitam**—sedang bergerak membentuk formasi formasi cakar elang. Mereka bergerak sangat senyap, memegang belati tradisional yang telah dilapisi oleh energi *Qi* merah yang korosif.

*Sret... Jleb!*

Dua prajurit militer yang berjaga di pos pemantauan luar bahkan tidak sempat berteriak ketika belati klan kuno tersebut menembus celah zirah leher mereka, memutuskan saraf vokal mereka secara instan. Tubuh kedua prajurit itu diseret ke dalam semak-semak dalam hitungan detik.

*"Orang-orang klan kuno ini bener-bener gak menganggap hukum pemerintah,"* batin Arkana, matanya berkilat dingin menyaksikan pembunuhan berdarah dingin tersebut. *"Mereka mengorbankan pasukan garis depan militer buat membuka jalan menuju pintu makam."*

*BOOOOOM!*

Tiba-tiba, sebuah ledakan energi spiritual yang sangat dahsyat meletup dari arah puncak bukit tertinggi di Sentul. Gelombang kejutnya begitu kuat hingga meruntuhkan puluhan pohon pinus di sekitarnya dan mematikan sistem elektronik pada beberapa *drone* militer yang melayang terlalu dekat.

Di langit malam yang tertutup kabut, sebuah retakan spasial raksasa berwarna emas redup perlahan-lahan robek di udara, menyingkapkan sebuah gerbang batu megah setinggi tiga puluh meter yang dihiasi oleh ribuan aksara primordial yang menyala terang.

Pintu **Makam Kultivator Kuno** akhirnya terbuka sepenuhnya seiring dengan stabilnya pasokan energi Bumi.

*WUUUUUSSS!*

Aroma herbal spiritual yang luar biasa wangi dan pekat langsung menyembur keluar dari dalam retakan gerbang tersebut, menyebar ke seluruh penjuru perbukitan Sentul. Aroma ini seketika memicu insting keserakahan dari semua pihak yang sudah mengepung tempat tersebut.

"Semua pasukan, serbu! Amankan gerbang kuno itu atas nama hukum negara!" terdengar gaung suara perintah tegas dari pengeras suara helikopter komando utama milik Mayor Jenderal Aditia Pramono di langit.

"Anak cucu Gagak Hitam, bantai para fana berbaju besi itu! Rebut warisan leluhur kita!" teriak sebuah suara parau yang dipenuhi energi *Qi* kuat dari dalam kegelapan hutan.

Bentrokan skala besar antara teknologi perang mutakhir abad ke-22 dan sisa-sisa praktisi mistis dari era kuno akhirnya pecah dengan sangat brutal di bawah kaki perbukitan Sentul. Dan di tengah kekacauan berdarah tersebut, sesosok pemuda bertudung hitam perlahan turun dari dahan pohon, melangkah dengan tenang menuju mulut gerbang makam yang menyala, siap menjadi nelayan yang memanen keuntungan terbesar di dalam pusaran badai takdir.

1
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!