NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

ISTRI RAHASIA PANGERAN KAMPUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rizky Mutha

Raymond dikenal di seluruh kampus sebagai Pangeran Kampus. Wajahnya tampan dengan sorot mata dingin yang sulit ditebak. Ia jarang berbicara, tetapi sekali bertindak, tak seorang pun berani membantah. Latar belakang keluarganya yang kaya dan berpengaruh membuat namanya selalu menjadi pusat perhatian. Namun, di balik sikapnya yang tenang dan dingin, Raymond memiliki sisi yang sangat posesif terhadap satu orang—istri rahasianya.
Angela adalah kebalikan dari Raymond. Gadis berusia delapan belas tahun itu berpenampilan tomboy, lebih nyaman mengenakan jaket dan sepatu kets daripada gaun. Rambut hitamnya selalu dikuncir satu sederhana, membuat wajah manisnya terlihat segar. Meski terlihat ceria dan mandiri, Angela tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah terikat dalam pernikahan rahasia dengan pria yang paling populer di kampus.

Di tengah halaman kampus yang dipenuhi sinar matahari dan pepohonan rindang, Raymond berdiri di belakang Angela. Tanpa memedulikan tatapan orang-orang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizky Mutha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 6

Sementara itu

Kabar kedekatan Raymond dengan seorang mahasiswi baru bernama Angela ternyata menyebar jauh lebih cepat daripada yang mereka bayangkan. Bukan hanya menjadi bahan pembicaraan di kampus, kabar itu bahkan sudah sampai ke telinga keluarga besar Raymond.

Di ruang keluarga rumah utama keluarga Raymond, suasana yang biasanya tenang mendadak berubah ramai.

"Apa kamu yakin informasi ini benar?" tanya sang ayah sambil meletakkan tablet di atas meja. Sorot matanya dipenuhi rasa tak percaya.

"Sudah saya pastikan sendiri, Tuan," jawab kepala pengawal dengan hormat. "Tuan Muda mengantar Nona Angela ke kampus, menemaninya di perpustakaan, bahkan terlihat pulang bersama."

Ruangan mendadak hening.

Ibu Raymond menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Raymond... mengantar seorang gadis?" Kepala pengawal mengangguk mantap.

"Iya, Nyonya."

"Dan dia melakukannya atas keinginannya sendiri?"

"Iya." Wanita paruh baya itu menoleh ke arah suaminya.

"Mas ,aku nggak salah dengar, kan?" Ayah Raymond tersenyum tipis, sesuatu yang sudah lama tak terlihat di wajahnya.

"Nggak." Ia mengembuskan napas lega.

"Anak itu, akhirnya membuka hatinya."

Seorang pria yang lebih tua, kakek Raymond, yang sejak tadi duduk diam sambil memegang cangkir teh, tiba-tiba terkekeh pelan.

"Bagus." Semua orang menoleh kepadanya.

"Kakek sudah bilang dari dulu."

"Katakan apa, Yah?" tanya ayah Raymond.

"Keras kepala seperti Raymond cuma butuh bertemu orang yang tepat." Beliau tersenyum penuh arti.

"Dan sepertinya... gadis itu adalah Angela." Ibu Raymond mengusap sudut matanya yang mulai basah.

"Selama ini aku selalu khawatir."

"Khawatir apa?" tanya sang nenek lembut.

"khawatir, kalau Raymond tidak suka perempuan." seketika semuanya menoleh.

"Hus. Sembarangan!" jawab Edward suami Diana.

"Namanya juga khawatir. Setiap kali ada yang mencoba mendekatinya, dia selalu menjaga jarak, bahkan untuk makan malam keluarga saja sering sulit diajak."

"Makanya, "ibu Raymond tersenyum di sela harunya. "Waktu dengar dia mau mengantar seorang gadis ke kampus, rasanya aku sampai nggak percaya."

Kakek Raymond meletakkan cangkir tehnya di atas meja.

"Jangan buru-buru ikut campur." Semua kembali menoleh. "Biarkan Raymond menjalani semuanya dengan caranya sendiri."

"Tapi, Yah." ucap ayah Raymond ragu.

"Kalau kita terlalu cepat bergerak, bisa saja anak itu malah menjauh." Kakek menghela napas pelan. "Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Raymond mau mendekati seseorang atas kemauannya sendiri." Tatapannya menyapu seluruh anggota keluarga.

"Itu sudah menjadi kabar terbaik yang kita tunggu selama ini." Semua mengangguk setuju. Rasa cemas yang selama bertahun-tahun membebani hati mereka perlahan mulai menghilang.

Setidaknya sekarang, mereka tahu satu hal.

Putra sulung keluarga itu bukan tidak mampu mencintai. Ia hanya belum menemukan seseorang yang sanggup mengetuk pintu hatinya. Dan kini harapan itu akhirnya memiliki sebuah nama.

Angela.

***

Angela refleks menutup layar ponselnya.

"Nggak senyum." Maya langsung menyipitkan mata.

"Gue lihat sendiri."

"Nggak."

"Sudut bibir lo masih naik tuh." Angela buru-buru meremas pipinya sendiri.

"Udah, kan?" Kevin yang berdiri di samping mereka ikut melirik penasaran.

"Siapa yang chat?"

"Nggak penting."

"Wah..." Kevin terkekeh. "Kalau jawabannya 'nggak penting', biasanya justru penting."

Angela mendecak pelan.

"Kalian ini kenapa, sih? Kepo banget."

"Soalnya lo mencurigakan," balas Maya sambil melipat kedua tangan. Angela memasukkan ponselnya ke saku jaket.

"Cuma diingetin makan." Maya membelalakkan mata.

"Cuma?"

"Iya."

"Dari Raymond?" Angela mengangguk kecil.

Kevin langsung menepuk dahinya.

"Bos sampai segitunya." Maya ikut menggeleng-geleng. Angela mengerutkan dahinya bingung.

"Apanya yang segitunya?" Maya menatap Angela seolah tidak percaya.

"Ang, lo sadar nggak?"

"Sadar apaan lagi?"

"Baru kenal dua hari."

"Iya."

"Tapi dia udah nganter jemput." Angela menghitung dengan jarinya.

"Itu satu, balikin bekal, terus ngajarin Lo belajar dan sekarang," Maya menunjuk pada ponsel Angela. " Ngingetin makan." Angela terdiam sejenak. Baru sekarang ia menyadari kalau semua yang diucapkan Maya memang benar.

"Aneh ya?" gumamnya lirih. Kevin langsung mengangguk mantap.

"Aneh."

"Tapi..." Angela mengusap tengkuknya yang mulai memanas. "Mungkin dia emang perhatian sama semua orang." Kevin dan Maya saling pandang.

Lalu, Mereka kompak menggeleng.

"Nggak." Angela mengernyit.

"Kok kompak banget?" Kevin terkekeh.

"Soalnya Gue udah hampir tiga tahun jadi asisten organisasi Raymond."

"Percaya deh." Kevin menunjuk dirinya sendiri.

"Gue pernah kehujanan di parkiran sampai demam." Angela menahan tawa.

"Terus?"

"Bos cuma bilang..." Kevin memasang wajah datar, menirukan ekspresi Raymond. "'Minum obat.'"

Maya langsung tertawa.

"Udah?"

"Udah." Angela ikut terkekeh.

"Kasihan amat." Kevin mengangguk dramatis.

"Makanya saya juga bingung."

"Bingung kenapa?"

"Kenapa treatment Bos ke Angela beda."

Angela langsung mengibaskan tangan.

"Udah, jangan ngaco."

"Beneran."

"Nggak mungkin." Kevin baru saja ingin membalas ketika suara petir menggelegar di langit.

"Astaga!" Angela refleks menutup telinga.

Hujan yang sempat mengecil kembali turun semakin deras. Maya menghela napas panjang.

"Waduh."

"Motor kita gimana?" Angela menoleh ke arah parkiran.

Air mulai menggenang di beberapa bagian.

"Kayaknya nunggu reda dulu." Kevin mengeluarkan ponselnya.

"Kalau gitu kita ke kantin aja."

"Setuju." Mereka bertiga berlari kecil menuju kantin yang berada tepat di seberang gedung perpustakaan. Begitu sampai di bawah atap, Angela mengusap ujung rambutnya yang sedikit basah.

"Huft... untung nggak kuyup." Maya mengambil tisu dari tasnya.

"Nih."

"Makasih." Angela mengeringkan wajahnya sambil melihat hujan yang belum juga berhenti.

"Kampus jadi sepi, ya."

"Iya."

Mahasiswa yang tadi memenuhi halaman kini sudah menghilang. Sebagian besar memilih berteduh di dalam gedung. Sebagian lagi sudah pulang lebih dulu. Kevin melihat jam tangannya.

"Kayaknya hujannya masih lama." Angela mengangguk.

"Gue juga ngerasa gitu." Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, seorang ibu penjaga kantin menghampiri.

"Mau pesan apa, Nak?" Angela tersenyum ramah.

"Es teh..." Ia melirik hujan di luar, lalu tertawa kecil.

"Eh, jangan deh." Maya ikut tertawa.

"Lagi dingin-dingin gini masih mau es."

"Gara-gara kebiasaan."

"Teh hangat aja, Bu," kata Kevin sambil mengangkat dua jari. "Sama tiga mi rebus."

Angela langsung melotot.

"Lho, kok sekalian mesenin gue?" Kevin mengangkat bahu.

"Katanya tadi lapar." Angela baru ingat.

"Oh iya." Ia tertawa kecil.

"Boleh deh."

Beberapa menit kemudian, aroma mi rebus yang masih mengepul memenuhi meja mereka. Perut Angela langsung berbunyi pelan. Seketika , Maya spontan menoleh.

"Itu perut lo?" Angela menutup wajahnya dengan kedua tangan.

"Jangan dibahas." Kevin sudah keburu tertawa.

"Nah, untung tadi Bos ngingetin makan."

Angela mengambil sumpit, lalu menghela napas sambil tersenyum geli.

"Iya... iya."

Dalam hati ia bergumam pelan.

Nyebelin emang.

Tapi... untung juga diingetin.

Tanpa sadar, senyum kecil kembali muncul di wajahnya, dan entah kenapa, setiap kali mengingat wajah datar Raymond yang selalu mengucapkan kalimat singkat itu...

Hari yang melelahkan ini terasa jauh lebih ringan.

Angela baru saja menyuapkan sesendok mie ke mulutnya ketika ponselnya kembali bergetar. Ia melirik layar ponselnya. Seketika, nama Raymond kembali muncul.

Angela menghela napas pelan.

"Ini orang."

"Ada apa?" Maya langsung mendekatkan wajahnya. Angela buru-buru memiringkan layar ponselnya.

"Nggak ada." Maya mendecakkan lidah.

"Bohong." Kevin ikut menyandarkan dagunya di meja.

"Kalau boleh nebak, pasti dari Bos." Angela mengembuskan napas pasrah.

"Iya." Maya langsung menyeringai lebar.

"Cepet buka!" Angela menggeleng.

"Privasi."

"Yaelah." Maya langsung bersandar lagi di kursinya sambil melipat tangan.

"Minimal kasih tahu isinya." Angela akhirnya membuka pesan itu.

Raymond: Udah makan?

Angela mematung beberapa detik.

Kevin yang penasaran sampai berdiri sedikit dari kursinya.

"Bos nanya apa?" Angela membaca ulang pesan itu, lalu terkekeh pelan.

"Cuma nanya udah makan apa belum."

Maya langsung memukul pelan meja.

"Ya ampun!"

"Apa lagi?"

"Angela," Maya menatap sahabatnya itu lekat-lekat. "Kalau masih bilang ini perhatian biasa, gue angkat tangan."

Angela meringis.

"Mungkin dia cuma memastikan." Kevin langsung mengangkat sebelah alis.

"Memastikan?"

"Iya."

"Soalnya tadi dia yang ngingetin." Kevin menghela napas panjang.

"Angela."

"Hm?"

"Bos itu bahkan nggak pernah nanya gue udah makan apa belum."

Angela tertawa.

"Kasihan banget hidup lo." Kevin langsung menunjuk dirinya sendiri.

"Makanya saya iri." Mereka bertiga tertawa bersamaan. Angela kembali menatap layar ponselnya. Jempolnya menggantung di atas keyboard.

"Bales apa, ya?" Maya langsung semangat.

"Jawab aja."

"Nulis apa?"

"'Udah, makasih.'" Kevin menggeleng.

"Kependekan."

"Lah?"

"Tambahin emoji senyum." Angela langsung melotot.

"Nggak mau."

"Kenapa?"

"Malu." Maya menahan tawa.

"Baru juga chat." Angela menghela napas, lalu mulai mengetik.

Angela: Lagi makan. Makasih udah ngingetin.

Ia membaca ulang pesannya.

"Hmm..."

"Lho, kok belum dikirim?" tanya Maya.

"Takut aneh." Kevin langsung menyambar.

"Mana sini."

"Eh!"

Belum sempat Angela menarik ponselnya, Kevin sudah lebih dulu menekan tombol kirim.

"KEVIN!" seruny. Angela spontan berdiri.

Kevin langsung mengangkat kedua tangan.

"Lho, bagus kok." Angela memegangi dahinya.

"Ya ampun... sembarangan banget." Belum sampai lima detik, ponsel Angela kembali bergetar. Maya langsung membelalak.

"Cepet amat balesnya." Angela menelan ludah gugup. Perlahan ia membuka pesan itu.

Raymond: Bagus. Jangan lupa habisin.

Angela membaca pesan itu dua kali. Lalu tanpa sadar tersenyum tipis. Kevin langsung menunjuk wajah Angela.

"Nah!" Angela buru-buru merapikan ekspresinya.

"Apaan?"

"Itu." Kevin menahan tawa. "Senyum lagi."

"Nggak."

"Masih ngeles." Maya ikut tertawa.

"Ang, jujur aja."

"Apa?"

"Lo nyaman ngobrol sama Raymond, kan?"

Angela terdiam. Sendok yang tadi dipegangnya perlahan diletakkan kembali ke mangkuk. Ia memikirkan pertanyaan itu cukup lama.

"Sebenernya?" Angela menjeda kalimatnya.

"Hm?" Maya dan Kevin kompak menunggu jawabannya. Angela tersenyum kecil.

"Awalnya gue kira dia nyebelin." Kevin terkekeh.

"Itu masih." Angela ikut tertawa.

"Iya, masih."

"Terus?"

"Tapi..." Tatapan Angela tanpa sadar mengarah ke hujan di luar kantin. "...dia baik."

Maya mengangguk pelan.

"Kelihatan."

"Walaupun cara nunjukinnya kadang bikin emosi." Kevin langsung menyela.

"Itu namanya Bos." Angela tertawa lagi.

"Iya." Ia mengaduk pelan mie di mangkuknya.

"Kadang ngomongnya bikin kesel."

"Tapi?" Angela tersenyum tipis. "...anehnya, gue nggak pernah ngerasa dia punya niat buruk." Kalimat itu membuat Maya dan Kevin saling berpandangan.

Tak jauh dari kantin, sebuah mobil sedan hitam berhenti di pinggir jalan kampus.

Dari balik jendela yang sedikit terbuka, sepasang mata memperhatikan ke arah kantin.

Raymond.

Ia baru saja selesai rapat lebih cepat dari perkiraannya.

Tatapannya tertuju pada Angela yang sedang tertawa bersama Maya dan Kevin.

Melihat senyum itu, sudut bibir Raymond ikut terangkat tipis.

"Untung dia udah makan." gumamnya pelan.

Tanpa berniat mengganggu, Raymond mengetuk pelan sandaran kursi sopir.

"Jalan." Mobil kembali melaju perlahan, meninggalkan kantin tanpa diketahui Angela sedikit pun.

Satu jam sebelumnya, Mobil sedan putih yang membawa Raymond melaju mulus meninggalkan area kampus. Begitu memasuki kawasan pusat bisnis, suasana hangat yang tadi mengiringinya perlahan menghilang. Tatapannya kembali setenang biasanya. Pria berjas yang duduk di kursi depan beberapa kali melirik ke kaca spion.

"Tuan Raymond."

"Hm?"

"Semua direksi sudah menunggu." Raymond melirik arloji di pergelangan tangannya.

"Mulai tepat waktu."

"Baik." Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan gedung megah milik keluarga Raymond. Seorang petugas keamanan segera membuka pintu mobil.

"Selamat siang, Tuan Raymond."

Raymond hanya mengangguk tipis sebelum melangkah masuk. Sepanjang koridor, para karyawan yang berpapasan langsung menghentikan langkah.

"Selamat siang, Tuan Raymond."

"Selamat siang, Pak."

"Selamat siang."

Raymond membalas dengan anggukan singkat tanpa menghentikan langkahnya.

Aura dingin yang memancar darinya membuat suasana kantor mendadak berubah hening. Tak ada lagi tawa atau obrolan santai.

Semua orang kembali fokus pada pekerjaan masing-masing. Pria berjas yang sejak tadi mendampinginya membuka pintu ruang rapat.

"Kita sudah siap, Tuan."

Raymond masuk. Ruangan rapat yang luas itu langsung sunyi. Belasan direktur dan kepala divisi serempak berdiri dari kursinya.

"Selamat siang, Tuan Raymond."

Raymond berjalan hingga ke kursi paling ujung meja. Ia tidak langsung duduk. Tatapannya menyapu seluruh ruangan. Satu per satu wajah para direksi diperhatikannya.

"Silakan duduk."

"Terima kasih, Tuan." Semua kembali duduk.

Raymond membuka map yang sudah disiapkan sekretarisnya.

"Mulai." Seorang direktur keuangan segera berdiri.

"Baik, Tuan." Pria paruh baya itu menampilkan laporan di layar besar.

"Untuk kuartal ini, laba perusahaan naik delapan persen. Namun proyek pembangunan kawasan bisnis di wilayah timur mengalami keterlambatan hampir tiga minggu."

Raymond menyandarkan punggungnya.

"Alasannya?" Direktur itu tampak ragu.

"Cuaca buruk... dan distribusi material sedikit terhambat." Raymond menatapnya tanpa berkedip.

"Hanya itu?" Ruangan kembali hening. Pria itu menelan ludah.

"Sebenarnya," ucapannya terjeda sesaat Ia menarik napas panjang. "...ada kesalahan koordinasi dari tim lapangan." sambungnya.

Raymond menutup mapnya perlahan.

"Kenapa baru disampaikan sekarang?" Direktur itu menundukkan kepala.

"Kami berharap masalahnya bisa selesai tanpa harus mengganggu jadwal rapat."

"Berharap?" Suara Raymond tetap tenang.

Namun justru ketenangan itulah yang membuat semua orang semakin tegang.

"Aku tidak membayar kalian untuk berharap."

Ruangan langsung membeku. "Aku membayar kalian untuk menyelesaikan masalah." Tak ada satu pun yang berani menyela. Raymond berdiri dari kursinya. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas meja rapat.

"Kalau ada kendala, laporkan." Tatapannya beralih kepada seluruh peserta rapat.

"Kalau ada risiko, jelaskan." Ia berhenti sejenak. "Jangan pernah menyembunyikan masalah hanya karena takut dimarahi."

Semua direksi serempak mengangguk.

"Baik, Tuan." Raymond kembali duduk.

"Target penyelesaiannya?" Direktur proyek buru-buru membuka berkasnya.

"Dua minggu, Tuan." Raymond menggeleng pelan.

"Terlalu lama." Pria itu tampak gugup.

"Kalau begitu... sepuluh hari."

"Masih lama." Keringat dingin mulai terlihat di pelipis sang direktur. Raymond menatapnya tajam. "Kamu minta berapa hari?"

Pria itu mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Lima hari." Raymond mengangguk.

"Itu baru jawaban." Ia menutup map di depannya.

"Lima hari."

"Kalau lewat satu hari saja_," Suasana ruangan kembali menegang. " kamu yang bertanggung jawab langsung di hadapanku."

Direktur proyek segera berdiri.

"Siap, Tuan Raymond." Raymond mengalihkan pandangan kepada sekretarisnya.

"Catat."

"Baik, Tuan."

Rapat kembali berlanjut membahas agenda berikutnya. Tak ada lagi yang berani menutupi kesalahan. Semua memahami satu hal.

Di kampus, Raymond mungkin dikenal sebagai pangeran kampus yang dingin.

Namun di ruang rapat ini, Ia adalah pemimpin yang tegas, tenang, dan tidak pernah memberi toleransi pada kelalaian.

1
Lyvia
suwun thor crazy upnya
Rizky Mutha: sama-sama kak
total 1 replies
Miasell Tea
bagus banget menghibur para pem baca,,,
kalau bisa up nya di tambahin
Miasell Tea
lah kapan nikah nya thor,,,harus ada penjelasan nya ini mah, makin penasaran aj,, 💪💪💪
Rizky Mutha: aduh.. typo
total 1 replies
Lenny Utami
so sweet banget..
Lenny Utami
ihhh bisa ae ahh
Lenny Utami
ahhh masaa...
Lenny Utami
lucu bangett
Lyvia
thor km bikinQ senyum2 sendiri, jadi ingat masa2 sekolah dulu, suwun thor upnya, ttp semangat 💪💪💪😄
yaya
lucuu ih...😍
Lenny Utami
kode sekeras itu masa enggak ngeh sih Anggela
Lenny Utami
gemes🤭
Lenny Utami
Reymond kyk piyik ngintilin Angela Mulu...😌
Lenny Utami
kalo aku kabur. GK pede di liatin GT...😭
Lenny Utami
so sweettt nya.... bikin aku senyum² sendiri
Miasell Tea
di tunggu lanjutan nya
awal yang seru😍
Miasell Tea
manis banget,,,,,
padahal seru kenapa sepi komen nan y
Miasell Tea: oh pantesan,,, sama2 ka jangan lama2 y up ny penasaran di tunggu lanjutan ny
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!