NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Aura menimang ponsel hitam tipis pemberian Devan di dalam genggamannya. Di kamar kosnya yang sepi, cahaya lampu neon berpendar meremang, menciptakan bayangan panjang di dinding yang dipenuhi rak buku. Jam di dinding sudah menunjuk ke angka sepuluh malam. Ibunya sudah tertidur pulas di kamar sebelah setelah meminum dosis obat barunya yang diantarkan oleh kurir misterius kiriman klan Bratadikara sore tadi.

Ponsel itu tiba-tiba bergetar, memecah keheningan malam. Tidak ada nada dering, hanya getaran beruntun yang kuat. Layarnya yang gelap menampilkan satu baris pesan teks tanpa nama pengirim, namun Aura tahu persis siapa pemilik nomor tunggal yang terdaftar di sana.

01:

Keluar ke jendela depan sekarang. Jangan berisik.

Aura menahan napas. Ia segera bangkit dari kursi belajarnya, melangkah perlahan menuju jendela kamar yang menghadap langsung ke gang sempit di depan rumah kosnya. Ketika ia menyibak sedikit tirai kain bermotif bunga, matanya menangkap siluet sebuah motor besar hitam yang terparkir di bawah bayangan pohon mangga yang gelap. Lampu utamanya dimatikan.

Di atas motor itu, Devan sedang duduk bersandar pada tangki bensin, masih mengenakan jaket kulit hitamnya yang legendaris. Ia mendongak, tepat ke arah jendela Aura. Melalui keremangan malam, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Aura, lalu ia memberi isyarat dengan anggukan kepala agar Aura turun.

Aura ragu-ragu sejenak. Namun mengingat komitmen perlindungan dan perjanjian baru mereka, ia mengambil sebuah kardigan abu-abu tebal, memakainya terburu-buru, lalu menyelinap keluar lewat pintu samping tanpa menimbulkan suara berdecit.

Udara malam itu terasa sangat dingin dan lembap pasca-hujan. Aura melangkah mendekati motor Devan, melipat kedua tangannya di depan dada untuk menghalau angin.

"Ada apa lagi, Devan?" bisik Aura setengah menuntut begitu jarak mereka dekat. "Ini sudah jam malam. Kita sepakat untuk tidak membawa urusan ini ke lingkungan rumahku."

Devan menegakkan tubuhnya, turun dari motor dengan gerakan yang tenang namun waspada. Sepasang matanya menyapu sela-sela gang sebelum kembali menatap Aura. "Gue gak bermaksud melanggar janji, Ra. Tapi situasi di luar berkembang lebih cepat dari perkiraan Kenzo."

"Maksudmu?"

Devan menyerahkan sebuah tablet digital kecil yang ia ambil dari balik jaketnya. Di layarnya, terlihat draf lampiran kontrak ekspedisi kargo laut yang telah diedit Aura di gazebo siang tadi. Namun, ada beberapa baris kode merah yang berkedip di bagian bawah dokumen.

"Klausul yang lo ubah siang tadi sukses bikin klan Mahendra kelabakan," ujar Devan dengan nada suara yang berpasir namun sarat akan ketegangan yang nyata. "Bokap gue langsung menyodorkan draf itu ke pihak syahbandar sore tadi, dan Gavin gak bisa berkutik. Dia kehilangan hak klaim atas denda kargo senilai dua juta dolar. Tapi, itu juga membuat dia sadar kalau ada orang di lingkaran dalam gue yang bisa membaca taktik hukum mereka."

Aura merasakan perutnya mendadak mulas. "Apakah mereka mulai mencurigai aku?"

"Mereka meretas sistem komunikasi sekunder salah satu anak buah Bram malam ini. Mereka belum tahu nama lengkap lo atau wajah lo secara jelas karena sandiwara kita di kampus berhasil mengecoh mereka," Devan melangkah maju satu tindakan, memperkecil jarak hingga Aura bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh cowok itu. "Tapi mereka tahu 'si pengedit dokumen' adalah seorang mahasiswi hukum Universitas Ganesha. Gavin memerintahkan orang-orangnya untuk menyisir draf akademik semua mahasiswi tingkat akhir hukum mulai besok pagi."

Aura menelan ludah dengan susah payah. Jika orang-orang Mahendra memeriksa draf skripsinya di draf pusat rektorat, mereka akan dengan mudah mengenali gaya penulisan dan analisis hukumnya yang sangat khas dan serupa dengan draf audit klan Bratadikara.

"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Aura, matanya membelalak menatap Devan, mencari jawaban dari satu-satunya orang yang membawanya masuk ke dalam pusaran lumpur ini.

"Gue bakal mindahin semua draf dan file lo dari server kampus ke server privat klan gue malam ini juga lewat Kenzo. Di sistem kampus, draf lo bakal kelihatan kosong atau error sementara waktu," kata Devan tegas. Tangannya terulur, meraih pundak Aura perlahan, seolah mencoba menenangkan kepanikan gadis itu. "Tapi ada satu hal lagi yang harus kita lakuin buat bikin Gavin bener-bener kehilangan jejak."

"Apa?"

Devan menatap lekat-lekat mata cokelat Aura. Seringai miring yang biasa ia gunakan di kampus tidak muncul; ekspresinya saat ini murni merupakan refleksi dari seorang pria yang sedang menyusun strategi pertahanan tingkat tinggi.

"Kita harus menaikkan level sandiwara kita di kampus," ucap Devan pendek.

Aura mengernyitkan dahinya bingung. "Menaikkan level? Maksudmu kita harus pura-pura bertengkar lebih hebat lagi di koridor?"

"Gak. Kebalikannya," Devan menggelengkan kepala, tangannya berpindah perlahan mencengkeram lengan kardigan Aura, mengunci fokus gadis itu sepenuhnya. "Kalau kita terus-menerus kelihatan musuhan, Gavin bakal curiga kenapa gue terobsesi banget gangguin lo padahal gue biasanya masa bodoh sama cewek. Tapi kalau kita mengubah status kita... mereka bakal ngira hubungan kita cuma masalah asmara biasa."

Aura terperangah, butuh beberapa detik bagi otaknya yang cerdas untuk mencerna maksud dari kalimat Devan. "Maksudmu... kita harus berpura-pura pacaran?"

"Ya," jawab Devan tanpa ragu sedikit pun. "Mulai besok pagi, di depan seluruh kampus, lo bukan lagi cewek beasiswa yang gue rundung. Lo adalah pacar Devanandra Bratadikara. Dengan begitu, perhatian Gavin bakal beralih dari 'otak di balik dokumen' menjadi 'kelemahan asmara' gue. Itu bakal ngasih Kenzo waktu lebih banyak buat ngebersihin semua jejak digital lo."

Aura menggelengkan kepalanya dengan cepat, mencoba menarik lengannya dari cengkeraman Devan, namun cowok itu menahannya dengan lembut namun kokoh. "Kamu gila, Devan! Menjadi musuhmu saja sudah membuat hidupku di kampus seperti neraka diasingkan semua orang. Kalau aku jadi pacarmu—meski cuma pura-pura—seluruh mahasiswi di kampus, termasuk Bianca dan gengnya, bakal menguliti aku hidup-hidup!"

"Gak akan ada yang berani nyentuh lo kalau lo menyandang status sebagai pacar gue, Aura," potong Devan, suaranya merendah menjadi sebuah bisikan yang dalam dan penuh otoritas yang tak terbantahkan. "Di dunia gue, siapa pun yang berani mengusik milik seorang Bratadikara, mereka tahu konsekuensinya. Ini cara paling aman buat ngejaga lo tetap hidup di kampus tanpa memancing kecurigaan Mahendra tentang kemampuan hukum lo."

Aura terdiam membeku di bawah tatapan mata elang Devan. Udara malam yang berembus di antara mereka terasa semakin pekat oleh ketegangan baru yang tidak melibatkan senjata, melainkan melibatkan komitmen personal yang jauh lebih intim dari apa yang pernah ia bayangkan.

Ia menatap jaket kulit Devan, lalu beralih ke jemari cowok itu yang masih menggenggam lengannya. Di satu sisi, ide ini sangat gila dan akan menghancurkan reputasi akademisnya yang tenang. Namun di sisi lain, logika hukumnya mengakui bahwa ini adalah taktik diversi yang sangat sempurna untuk mengalihkan fokus musuh.

"Hanya di kampus, Devan," ucap Aura akhirnya, suaranya bergetar namun sarat akan ketegasan yang mutlak. "Di luar kampus, kita tetaplah dua orang asing yang terjebak dalam perjanjian hukum. Dan jangan pernah berani mengambil kesempatan fisik apa pun dari sandiwara gila ini."

Mendengar persetujuan Aura, sebuah senyuman tipis yang sangat langka kembali muncul di wajah tampan Devan. Ia melepaskan genggaman tangannya dari lengan Aura, mundur satu langkah menuju motor besarnya.

"Gue gak se-berengsek itu buat ngambil kesempatan dari cewek kutu buku kayak lo, Ra," ujar Devan, suaranya kembali terdengar jenaka seperti biasa. Ia memakai helm hitamnya, menghidupkan mesin motornya yang menderu halus memecah kesunyian gang. "Bersiaplah buat besok pagi, Good Girl. Skenario baru kita bakal dimulai tepat di jam pertama."

Motor besar itu melesat pergi, menghilang di balik tikungan gang yang gelap, meninggalkan Aura yang berdiri sendirian di bawah pohon mangga. Jantungnya berdegup begitu kencang, memikirkan bagaimana esok hari seluruh universitas akan diguncang oleh berita bohong terbesar tahun ini.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!