Aku bertahan di rumah ini karena aku mencintaimu, Ardi. Tapi mulai malam ini, demi harga diriku, jangan harap aku akan diam saja saat keluargamu menginjak-injakku lagi."
Selama lima tahun, Sarah adalah menantu yang tak dianggap. Dia penurut, pendiam, dan selalu mengalah. Namun, ketika cinta dibalas dengan pengkhianatan ego, Sarah memutuskan untuk melawan. Ini bukan cerita tentang istri lemah yang menangis meratapi nasib, melainkan kisah Sarah yang mulai menuntut balik harga dirinya di dalam rumah tangga yang penuh tekanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irmayani Mursid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Draft
Ardi langsung melepas cengkeramannya di lengan Sarah. Wajahnya yang tadinya merah padam menahan amarah, mendadak berubah pucat seperti kain kafan. Laki-laki itu menatap Rika dengan mata melotot.
"Kamu jangan bercanda, Mbak! Kan perjanjiannya lusa!" suara Ardi meninggi, tapi kali ini getaran ketakutan jelas terdengar di sana.
"Siapa yang bercanda, Di?! Satpam depan baru saja telepon. Katanya ada dua truk mandor sama gerombolan orang berbadan besar memaksa masuk. Mereka bilang mau ambil mobil atau barang berharga apa saja sebagai jaminan malam ini juga!" Rika panik setengah mati sampai ponsel di tangannya hampir jatuh.
Dari lantai bawah, suara jeritan Ibu Widya kembali melengking, disusul suara pecahan vas bunga yang tampaknya tersenggol karena wanita tua itu panik mencari tempat bersembunyi.
Sarah hanya berdiri tenang. Dia membetulkan posisi jaket santainya yang sedikit bergeser karena cengkeraman Ardi tadi. Di saat dua saudara itu sibuk panik dan saling menyalahkan dengan bahasa tubuh yang kacau, Sarah justru berjalan melewati mereka dengan santai, menuruni anak tangga menuju ruang tamu.
Di bawah, Ibu Widya sudah jongkok di balik sofa panjang, mukanya ditutupi bantal kursi.
"Sarah! Kunci semua pintu! Telepon polisi, Sarah! Cepat!" perintah Ibu Widya dari balik bantal, suaranya teredam tapi penuh kepanikan yang luar biasa.
"Ma, polisi butuh waktu untuk datang ke kompleks sedalam ini. Lagipula, mereka bawa surat utang resmi, kan? Polisi juga tidak bisa langsung mengusir mereka begitu saja kalau urusannya piutang pidana atau perdata yang ada jaminannya," jawab Sarah santai sambil berjalan menuju dapur untuk meneguk sisa air di gelasnya.
Ardi dan Rika berlari turun dari tangga. Ardi langsung menuju jendela depan, menyibak sedikit gorden tipis untuk melihat ke arah luar. Di ujung jalan kompleks yang remang-remang, lampu sorot dari dua truk besar sudah kelihatan menyinari aspal. Suara knalpotnya yang berisik terdengar sangat mengintimidasi di tengah keheningan malam kompleks elite itu.
"Sial! Mereka benar-benar nekat," umpat Ardi. Dia berbalik, menatap Sarah dengan pandangan frustrasi yang bercampur dengan kemarahan yang dipaksakan. "Sarah! Tolonglah! Buang dulu semua omong kosong soal harga diri atau dendam kamu itu. Sekarang posisinya darurat! Buka brankas kamu, ambil emas atau apa saja yang bisa dijadikan jaminan malam ini. Aku janji, demi Tuhan aku janji, akan aku ganti semuanya bulan depan!"
Sarah meletakkan gelasnya di atas meja marmer dapur dengan ketukan pelan yang terdengar sangat konstan. Dia berjalan mendekati Ardi, menatap suaminya yang malam ini terlihat sangat kecil dan tidak berdaya.
"Mas, kamu itu pengusaha. Logika kamu ke mana?" tanya Sarah, nadanya teramat santai seperti sedang mengobrol di kafe. "Kalau aku kasih warisan dari orangtuaku malam ini, apa jaminannya mereka tidak akan minta lagi besok? Utang ibumu itu tiga miliar. Emas kawin kita yang dulu kamu ambil saja tidak sampai seratus juta nilainya. Tabunganku juga tidak akan cukup untuk menutup keserakahan judi almarhum papamu. Kamu mau mengorbankan segalanya untuk lubang hitam yang tidak ada dasarnya?"
"Tapi setidaknya itu bisa menahan mereka malam ini, Sarah!" teriak Ardi, cemasnya sudah di ubun-ubun karena suara klakson truk di luar gerbang rumah mereka mulai terdengar bersahut-sahutan.
Tin!!! Tiiin!!!
Rika langsung menutup telinganya, ikut jongkok di sebelah ibunya di balik sofa. "Di, lakukan sesuatu dong! Kamu kan laki-laki di rumah ini! Masa kita mau diam saja sampai mereka mendobrak rumah?!"
Ardi mondar-mandir seperti setrikaan. Otaknya buntu. Di satu sisi, egonya sebagai suami menolak untuk bertekuk lutut dan memohon lebih rendah lagi pada Sarah. Di sisi lain, dia tahu perusahaannya sendiri sedang oleng karena ada masalah internal—yang dia tidak tahu kalau Sarah sebenarnya sudah mulai mengendusnya.
Tepat saat suasana rumah sudah seperti kapal yang mau karam, pintu gerbang depan terdengar digedor dengan keras.
Brak! Brak! Brak!
"Keluar! Widya! Rika! Jangan sembunyi di rumah anakmu! Bayar utang!" suara teriakan dari luar terdengar sangat kasar.
Ardi memegang handle pintu, napasnya memburu. Dia menoleh ke Sarah untuk terakhir kalinya, matanya menyiratkan kemarahan sekaligus keputusasaan. "Kalau sampai rumah ini hancur dan Mama jantungan, aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Sarah. Kamu istri paling egois yang pernah aku kenal."
Sarah tidak membalas makian itu dengan kemarahan. Dia hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sangat tenang namun menyimpan misteri yang mendalam. Di dalam saku celananya, jemari Sarah meraba ponselnya. Dia mengetik satu pesan cepat ke nomor sekretaris pribadi Mega Group yang sejak tadi menunggu perintahnya.
“Amankan orang-orang di depan rumahku sekarang. Jangan sampai mereka merusak properti. Tapi jangan selesaikan utangnya. Biarkan mereka tahu siapa yang memegang kendali di sini.”
Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh detik setelah pesan itu terkirim.
Di luar rumah, suara gedoran yang tadinya brutal mendadak berhenti. Suara teriakan-teriakan kasar itu berubah menjadi suara riuh rendah yang dipenuhi nada kebingungan. Ardi yang masih memegang handle pintu mengernyitkan dahi. Dia kembali mengintip dari balik gorden.
Di depan gerbang rumah mereka, tiga mobil sedan hitam mewah berseri bulletproof mendadak berhenti secara berurutan, memblokir jalan dua truk besar milik para penagih utang. Dari dalam mobil-mobil mewah itu, keluar beberapa pria berpakaian setelan jas rapi dan berbadan jauh lebih tegap dengan potongan rambut militer yang rapi. Mereka langsung mengepung para penagih utang berjaket kulit tersebut dengan gerakan yang sangat terlatih.
Ardi melotot. "Siapa... siapa mereka?" bisiknya bingung.
Rika dan Ibu Widya yang mendengar suara luar mendadak sepi, perlahan mengintip dari balik sofa. "Ada apa, Di? Polisinya sudah datang?"
"Bukan polisi, Ma. Tapi... orang-orang pakai jas mewah. Mereka menghadang truk-truk itu," kata Ardi, suaranya tercekat di tenggorokan karena melihat salah satu pria berjas itu mengeluarkan sebuah map dokumen resmi yang membuat pimpinan penagih utang berjaket kulit langsung menunduk hormat dengan wajah ketakutan.
Ardi benar-benar bingung dengan apa yang terjadi di depan matanya. Siapa orang-orang berkuasa ini? Siapa yang mengirim mereka di tengah malam buta seperti ini untuk mengintervensi masalah utang keluarganya?