Hanan mendekat perlahan ke arah istrinya. Senyum tipis namun tulus di wajahnya tak pernah hilang. “Alhamdulillah… sekarang kamu adalah istriku sepenuhnya, sah secara agama dan negara.” Kanza melirik suaminya itu dengan mata menyipit, berusaha menutupi rasa salting-nya yang luar biasa. “Iya, sudah sah secara dokumen, tapi kan belum sah secara dompet. Kado mana kadooo? Manaaa? Katanya dosen sukses!” Bella menepuk jidatnya sendiri. “Ya Allah, Kanza… baru semenit jadi istri sudah malak suami.” Hanan tertawa pelan, tawa yang jarang sekali ia tunjukkan di depan umum. Ia kemudian menyodorkan sebuah kotak kecil mungil yang manis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Fey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Beberapa minggu kemudian.....
Udara pagi menyelinap melalui celah jendela rumah dua lantai yang elegan itu.
Rumah pasangan baru, Hanan Arkan dan Kanza Arumi, yang sejujurnya belum benar-benar terasa seperti "rumah" yang hangat bagi sang istri yang masih dalam mode adaptasi.
“Kanza, Mas sudah siap berangkat. Ayo, Mas antar Kanza ke rumah Umah dulu ya,” ujar Hanan lembut sembari menyambar kunci mobil di atas meja marmer.
Kanza menoleh dari sofa, menatap malas dengan ekspresi sebal yang sangat kentara.
Rambutnya masih sedikit berantakan di balik kerudung yang dikenakan asal-asalan, khas Kanza yang selalu terlihat seperti baru saja selamat dari badai.
“Lagi-lagi dititipkan. Gimana sih... gue berasa kayak anak TK yang mau ditaruh di daycare. Padahal gue sudah jadi istri orang, loh.”
Hanan sekuat tenaga menahan tawa melihat bibir istrinya yang maju beberapa senti itu.
“Nggak dititipkan, Sayang. Cuma supaya kamu tidak sendirian di rumah sebesar ini. Mas khawatir kamu bosan atau butuh sesuatu.”
“Cih! Memangnya lo pikir gue bayi yang kalau ditinggal sebentar langsung nangis? Gue bisa kok sendirian, nggak takut gelap juga,” gumamnya sembari memasukkan sisa roti bakar ke dalam mulut dengan gaya sangat tidak estetik.
“Mas cuma khawatir. Maunya Kanza selalu merasa nyaman.” Hanan mendekat dan berniat mengelus kepala istrinya dengan penuh kasih, tapi Kanza segera menghindar sambil berdecak.
“Jangan sentuh-sentuh! Tangan lo dingin, kayak freezer kulkas dua pintu tahu nggak!”
Hanan tertawa pelan, matanya menyipit jenaka.
“Dingin karena belum digenggam erat sama kamu, makanya suhunya tidak naik-naik.”
“Cieeehhh, jurus gombal dosen keluar. Sudah masuk kategori senior masih saja suka bercanda. Mana gombalanya kaku bangett lagi. Nggak malu apa sama mahasiswanya kalau tahu aslinya begini?”
"Dan juga, itu jenggotnya kenapa nggak di cukur sih? risih tau, udah kayak bapak bapak aja." lanjut Kanza protes.
“Jenggot itu sunnah, Kanza.”
“Jenggot lo itu sudah masuk tahap mau pensiun. Sebentar lagi berubah warna jadi putih semua tuh kalau lo keseringan mikirin skripsi orang,” balas Kanza dengan mimik penuh kesal namun kocak.
Hanan hanya tersenyum. Sudah biasa. Baginya, Kanza memang penuh warna dan kejutan, bahkan saat sedang dalam mode paling menyebalkan sekalipun.
"Ya udah, nanti Mas cukur kalau kamu tidak suka." jawab Hanan tertawa.
Hanan menurunkan Kanza di ndalem sebelum ia meluncur ke kampus.
“Assalamu’alaikum, Umah,” ucap Hanan sopan sembari mencoba menggandeng tangan Kanza yang sedari tadi terus manyun.
Umah menyambut dengan kehangatan khas ibu-ibu pesantren.
“Wa’alaikumussalam, Hanan. Eh, Kanza... ayo masuk, Nak.”
“Assalamu’alaikum, Umah... Kanza dititipkan lagi deh di sini, berasa barang titipan di loker stasiun,” jawabnya dengan nada ogah-ogahan yang jujur.
Umah tertawa kecil melihat tingkah menantu bungsunya yang unik ini.
“Tenang, Nak. Di sini ramai. Banyak santriwati yang bisa diajak mengobrol kalau kamu bosan.”
Setelah Hanan pamit dan menghilang di balik gerbang, Umah menatap Kanza dengan sayang.
"Ayuk masuk, Nduk."
"Kanza mau jalan-jalan di sekitar pesantren saja dulu deh Umah, mau menghirup udara segar biar nggak cepat tua karena kebanyakan menggerutu, hehehe," pamit Kanza dengan cengiran khasnya.
Umah terkekeh dan mengangguk. "Yowes, hati-hati ya, Nduk. Jangan sampai tersesat."
"Iya Umah, Assalamu’alaikum!"
"Wa’alaikumussalam."
Kanza langsung berjalan menuju halaman pesantren. Ia melangkah santai, mengamati kerumunan santri yang sedang beraktivitas.
Jiwa jahilnya mulai meronta saat melihat seorang santriwati junior yang tampak lugu lewat di depannya dengan membawa beberapa kitab.
“Hai Dek, lagi mau berangkat ngaji ya?” sapanya sok akrab.
Santriwati itu berhenti dan menatap Kanza dengan bingung. Ia belum pernah melihat wajah baru ini di lingkungan ndalem.
“Eh, iya Kak. Kakak siapa ya? Santri baru ya? Kok tidak pakai seragam?”
Kanza segera menegakkan badan dan bersedekap penuh gaya, memasang wajah seserius mungkin.
“Aku? Kenalkan, aku ini cucunya Gus Hanan Arkan.”
Santriwati itu langsung melotot kaget, nyaris menjatuhkan kitabnya.
“Cucuuu?! Gus Hanan punya cucu seluas ini?! Tapi kan beliau masih muda, Kak!”
Kanza tersenyum nyengir penuh kemenangan.
“Iyalah. Gus Hanan itu nikah umur sebelas, punya anak umur dua belas, terus punya cucu umur tiga belas. Nah, aku ini cucu ketujuh yang paling disayang. Makanya gayaku agak bebas begini.”
Tanpa memberi kesempatan santri itu menjawab atau mencerna logika gila tersebut, Kanza langsung kabur sambil tertawa kecil di balik kerudungnya.
"Wong aneh... stres sepertinya itu orang. Gus Hanan punya cucu? Gila saja, nikahnya saja baru kemarin sore. Tapi kok istrinya tidak pernah kelihatan ya?" gumam santriwati itu sambil menggeleng-geleng heran, sementara Kanza sudah asyik bersembunyi di balik pohon sawo sambil menahan tawa.
Saat sedang berjalan-jalan menyisir area pesantren, mata Kanza Arumi tak sengaja menangkap pemandangan pohon mangga yang berbuah sangat lebat.
Cabang-cabangnya merunduk karena beban buah yang tampak sudah ranum.
Di dekat area kantin itu, Kanza mendongak dengan mata berbinar penuh semangat.
“Nah, ini dia. Mangga seperti ini sangat cocok untuk menemani hari pengantin baru yang sedang suram karena dititipkan seperti paket ekspedisi.”
Ia mulai beraksi. Kanza mencoba melempar ranting, melakukan loncatan-loncatan kecil, bahkan mencoba berdiri di atas batu besar untuk menggapai dahan terendah, namun gagal terus.
Lalu tiba-tiba...
“Hei! Sedang apa kamu di situ?!”
Terdengar suara melengking dari Ibu Kantin yang berdiri dengan tangan bertolak pinggang. Kanza melompat turun dari batu dengan ekspresi panik yang luar biasa.
“Cuma mau ambil mangga satu saja kok, Bu. Bukan mau ambil uang koperasi atau mencuri kitab suci,” elaknya dengan wajah tanpa dosa.
“Itu bukan mangga milikmu! Kamu mau saya laporkan ke pengurus keamanan pesantren?!”
“Ya Allah, Bu... dunia ini kejam sekali. Baru mau minta mangga satu saja sudah dituduh seperti maling sapi!” serunya sembari mengambil langkah seribu, kabur secepat kilat sebelum masalah makin panjang.
Ibu kantin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan "santriwati" asing yang tidak punya rasa takut itu.
Kanza kembali ke ndalem dengan napas ngos-ngosan dan wajah yang memerah.
Saat membuka pintu, Umah yang sedang merapikan meja makan menoleh dengan heran.
“Lho, ada apa, Nak Kanza? Kenapa seperti habis dikejar tawon?”
Kanza berdiri mematung dengan wajah lelah yang didramatisir.
“Kanza baru saja kembali dari perjalanan hidup yang hampir membuat saya masuk bui gara-gara sebuah mangga, Mah...”
Umah tertawa pelan dan menggelengkan kepalanya.
“Aduh, Kanza... kamu ini sepertinya ditakdirkan menjadi calon penambah pahala sabar bagi semua orang di sini, ya.”
“Semua mangga di dunia ini memang sedang menyalahkan aku, Umah,” balasnya dengan nada sangat dramatis.
Kanza kini tak lagi merasa canggung. Selama beberapa minggu terakhir, ia memang sering berada di rumah Umah karena "dititipkan" oleh Hanan Arkan sebelum suaminya itu berangkat bekerja ke kampus.
Kanza duduk di kursi rotan dapur ndalem, menatap gelas teh hangat yang baru saja diseduhkan oleh Umah.
Kakinya mengayun pelan, bibirnya manyun seperti anak kecil yang habis dimarahi, ya, memang baru saja ia dimarahi Ibu Kantin.
“Minumlah, Nak. Biar hatinya agak tenang sedikit,” ucap Umah lembut sambil duduk di hadapannya.
Kanza mengangguk lesu.
“Terima kasih banyak, Umah. Kanza merasa sudah seperti buronan yang dikejar-kejar Satpol PP tadi.”
Umah tersenyum teduh, “Ceritakanlah, kenapa tadi sampai lari-lari begitu?”
Kanza memegang gelas dengan kedua tangannya, menunduk sebentar lalu mulai bercerita dengan ekspresi serius.
“Kanza cuma... ya, awalnya itu cuma lihat pohon mangga saja, Mah. Mangganya manis... merah... menggoda iman seorang istri yang sedang stres. Tiba-tiba seperti ada bisikan gaib begitu. 'Ambil aku… aku sudah siap disantap…' begitu, Mah...”
Umah terkekeh pelan, “Jadi kamu merasa sedang diajak bicara oleh buah mangga?”
“Betul, Mah. Kanza pikir itu petunjuk rezeki nomplok. Tapi ternyata itu jebakan Batman. Ibu Kantin datang dengan aura seperti Malaikat Pencabut Nyawa, Mah.”
Umah hampir tersedak tehnya, namun mencoba tetap tenang menghadapi menantunya ini.
“Lalu apa yang kamu katakan kepada beliau?”
“Kanza bilang… ‘mangga ini bukan sembarang buah, Bu, ini adalah peluang hidup’. Tapi beliau sepertinya tidak menerima filosofi tinggi saya itu, Mah. Malah dikira maling sungguhan.” Kanza menghela napas dalam-dalam.
“Padahal Kanza bahkan belum sempat mengupas kulitnya, Mah.”
Umah menatap Kanza dengan tatapan penuh kasih, bercampur rasa heran.
“Kamu ini... betul-betul membuat hidup jadi berwarna. Tapi ingat ya, di pondok ini banyak aturan. Biar kita merasa bebas, kita tetap harus tahu batasan.”
Kanza mengangguk cepat.
“Iya Mah, Kanza paham. Mulai sekarang Kanza akan bertobat nasuha. Insya Allah, Kanza hanya akan mencuri perhatian orang saja, bukan mencuri mangga lagi.”
Umah menutup mulutnya sambil tertawa pelan.
“Astagfirullah, ada-ada saja...”
Kanza tersenyum, namun kemudian wajahnya berubah menunduk lesu.
“Umah... Kanza boleh tanya sesuatu yang agak serius?”
“Tentu, Nak.”
“Kalau... Kanza itu... belum sepenuhnya suka sama Mas Hanan Arkan, bagaimana ya, Mah?” suaranya mengecil, nyaris berbisik.
“Kanza itu kadang... masih sering jengkel. Sedikit-sedikit merasa dia menyebalkan. Kadang suka geli sendiri. Tapi kadang juga... ya, Kanza kasihan. Mas Hanan itu terlalu baik untuk orang seperti saya. Kanza takut... malah menyakiti hatinya terus-menerus.”
Umah terdiam sebentar, lalu menggenggam lembut tangan Kanza, memberikan kehangatan seorang ibu.
“Menikah itu bukan soal cinta yang harus langsung besar meledak-ledak sejak awal, Nak. Tapi soal membangun fondasi bersama, hari demi hari. Kadang kita merasa tidak cocok, tapi kalau sama-sama sabar dan ikhlas, Allah akan menumbuhkan rasa itu. Dari nol, hingga menjadi berkah yang luar biasa.”
Kanza berkedip cepat, mencoba mencerna kalimat itu.
“Tapi Mah... Jenggot Mas Hanan itu makin hari kenapa makin bersinar, ya? Gimana dong?”
Umah kembali tertawa kecil mendengar pengakuan jujur itu.
“Doakan saja supaya bersinarnya membawa cahaya rezeki bagi keluarga kalian, bukan malah membawa uban lebih cepat.”
Keduanya pun tertawa bersama. Sejenak, suasana di dapur ndalem menjadi sangat hangat oleh perpaduan tawa absurd Kanza dan kelembutan hati Umah.
Kanza merasa, perlahan-lahan tempat asing ini mulai terasa sedikit lebih dekat di hatinya.
Matahari mulai bergeser ke barat saat mobil sedan hitam milik Hanan Arkan perlahan memasuki pekarangan rumah.
Hanan turun dengan langkah tenang, mengenakan kemeja biru muda yang sudah agak kusut setelah seharian di kampus, sembari menjinjing ransel hitam di tangan kanannya.
Di teras, sudah duduk sang istri baru yang wajahnya menampakkan perpaduan antara rasa jengkel, lelah, dan keinginan besar untuk bercerita.
Tangannya terlipat di depan dada, sementara kakinya bergoyang-goyang tidak sabar, persis seperti anak kucing yang sedang mengincar mangsa.
Hanan langsung menyunggingkan senyum teduhnya.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Kanza Arumi cepat, nyaris menyambar. Matanya menyipit penuh selidik.
“Mas Hanan... kita harus bicara serius. Ini... ini keadaan darurat nasional!”
Hanan seketika menghentikan langkah, raut wajahnya berubah cemas.
“Kenapa? Ada apa? Kamu sakit? Ada kebakaran di dapur?”
Kanza bangkit dari kursi rotan dengan gerakan yang sangat dramatis, lalu telunjuknya mengarah tajam ke arah pohon mangga di kejauhan.
“Tadi... Kanza hampir saja dijebloskan ke penjara bawah tanah pesantren... GARA-GARA SEBUTIR BUAH!”
Hanan menahan napas sejenak, mencoba mencerna kata-kata itu.
"Buah?”
Kanza mengangguk keras, lalu memutar badannya 180 derajat seperti sedang melakoni adegan puncak di sinetron prime time.
“Tadi Kanza jalan-jalan santai di sekitaran pondok, lalu... penglihatan Kanza terdistraksi oleh pohon mangga itu. Kanza hanya manusia biasa yang penuh khilaf, Mas. Iman Kanza mendadak lemah saat melihat warna kuning kemerahan itu. Kanza mendekat... dan mencoba meraih masa depan yang manis itu.”
Hanan nyengir, mulai bisa menebak arah pembicaraan ini.
“Kamu sampai memanjat pohonnya?”
“Tidak! Kanza hanya... mencoba mengirimkan ‘pesan’ berupa lemparan batu ke arah surga yang kuning menggoda itu!” jawab Kanza dramatis sembari menengadah ke langit.
“Tapi tiba-tiba, datanglah dia. Ibu Kantin. Beliau muncul dengan tatapan tajam seperti... seperti hakim agung yang sedang menyidangkan perkara pidana kelas berat!”
Hanan mulai tidak bisa menahan tawa kecilnya.
“Beliau bilang Kanza mencuri. Mas! Bayangkan! Kanza ini menantu dari rumah ini, menantunya Umah. Masa iya disebut mencuri buah? Itu namanya... uji kelayakan rasa!”
Hanan benar-benar tertawa sekarang, suaranya pecah di teras rumah.
“Astaghfirullah, lalu kamu bilang apa ke beliau?”
“Kanza bilang dengan penuh wibawa: ‘Bu, ini bukan aksi pencurian, ini adalah panggilan hati yang paling dalam!’ Tapi sepertinya beliau tidak lulus mata kuliah sastra, jadi tidak paham bahasa saya!”
Hanan nyaris terduduk di tangga teras karena lemas tertawa.
“Kamu ini... Ya Allah, ada-ada saja kelakuanmu...”
Kanza menatap suaminya sambil cemberut, pipinya menggembung.
“Masak Kanza diomeli habis-habisan di depan pohon itu. Seolah-olah pohon mangga itu saksi kunci persidangan! Terus Kanza terpaksa melakukan langkah seribu... lari... dengan angin yang menampar-nampar pipi penuh penderitaan ini.”
Hanan bangkit berdiri, mendekati istrinya yang ajaib itu, lalu menepuk kepalanya dengan lembut, kali ini Kanza tidak menghindar.
“Kamu... sepertinya lebih lelah daripada mahasiswa yang baru selesai ujian UTS susulan.”
“Mas Hanan, ini serius. Kanza tadi malu. Malu sekali sampai rasanya mau menghilang ditelan bumi. Tapi ya... kalau diingat-ingat lagi, memang agak lucu sih,” katanya pelan, akhirnya mulai tersenyum geli sendiri membayangkan wajah Ibu Kantin tadi.
Hanan menatap istrinya dengan tatapan yang sangat dalam dan penuh rasa sayang.
“Nanti Mas belikan mangga satu keranjang penuh. Asal kamu jangan melempar-lempar batu lagi ke pohon orang, ya.”
“Dikira Kanza anak Tarzan apa? Melempar mangga buat latihan ketangkasan?” balasnya tidak mau kalah.
Keduanya pun tertawa bersama di bawah lembayung senja yang mulai meredup.
Dalam hati Hanan, meskipun istrinya sangat absurd dan sering meledak-ledak seperti petasan banting, hari-harinya kini terasa jauh lebih hidup dan berwarna.
Dan Kanza? Walau gengsinya masih setebal tembok benteng, setidaknya ia tahu bahwa setiap drama kehidupannya kini memiliki seorang pendengar setia, yang selalu mendengarkannya sambil tertawa penuh kesabaran.
Ternyata, memiliki "Paklek" kaku yang sabar tidak seburuk yang ia bayangkan sebelumnya.
~~~NEXT~~~
Salam Hangat Dari Penulisss....