"Aku bukan pelakor, sekalipun yang aku lakukan adalah untuk merusak rumah tangganya!"
Hanin, terpaksa pulang kampung dan bekerja pada mantan kakak iparnya demi membalaskan dendam Naura. Menggoda laki-laki itu dan membuatnya berlutut lalu ditinggalkan adalah tujuan Hanin mendekati Firman. Akankah dendam itu tuntas sampai akhir? Atau malah justru Hanin sendiri yang malah terjebak pada lingkar kerumitan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mimah e Gibran, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 30
Hanin berdiri di depan gedung megah kantor Wijaya grup. Masih tak percaya dirinya kembali bekerja disini setelah beberapa bulan yang lalu memutuskan untuk pergi.
"Nin, malah ngelamun." Siska menarik tangan Hanin dan mengajaknya masuk ke dalam.
"Gak sih, takjub aja." Hanin pasrah, membiarkan Siska menariknya masuk.
"Masih lima belas menit, ngopi yuk!" Setelah melakukan absensi, Siska kembali menyeret Hanin ke kantin.
"Pasrah banget Gusti, Hanin kamu oke, kan?"
"Oke!" balas Hanin membuat Siska berhenti tiba-tiba. Ia membalikkan badan demi melihat wajah sahabatnya dengan lamat. Memeriksa Hanin dari atas sampai bawah, bahkan Siska sampai membalikkan badan Hanin demi benar-benar bisa memastikannya.
"Gak kenapa-napa, kan? Udah dibilang oke juga gak percaya."
"Ya lagian situ, dari kemarin gak ada kabar."
Hanin meringis kaku, tak ingin membahas hal itu dulu apa lagi bercerita. Masih pagi, dan ia tak ingin kehilangan mood sepagi ini.
Kantin kantor dalam keadaan sepi, hanya ada beberapa orang yang menyempatkan minum sebelum jam masuk kerja.
"Kamu denger kabar belum?" Siska berbisik pelan.
Hanin menoleh dengan mata menyipit, mereka duduk bersebelahan sekarang di kursi kantin.
"Kabar apa gosip nih?" Hanin memicing curiga. Siska mengeluarkan ponselnya, memberitahu sesuatu yang menimpa anak boss-nya.
Kabar itu beneran viral di aplikasi toktok. Namun, bukan Hanin namanya kalau langsung menelan mentah berita itu. "Udah duda kan, gak ada larangan sih."
Ya, itu pendapat Hanin. Tak masalah dengan status, mau duda atau bujang yang terpenting baginya adalah cinta masa lalunya sudah selesai.
Dua Porsi nasi goreng berada di hadapan Hanin dan Siska. Mereka makan dengan lahap sebelum sibuk bergelut dengan pekerjaan. Hingga tepat jam masuk kerja, mereka meninggalkan kantin dengan Siska menuju bagian lobi dan Hanin ke lantai atas.
'Enjoy your happy day, Hanin. Semangat kerjanya!'
Hanin tersenyum simpul, layaknya wanita yang jatuh cinta pada umumnya. Sagara berhasil membuat detak jantungnya menggila sepagi ini dengan kalimat manis yang ia kirim lewat chat.
"Pagi-pagi udah senyum-senyum!" ledek Alina, sengaja ia menghampiri Hanin di ruangan barunya untuk penyambutan.
"Betah-betahin ya, Nin. Karena gak ada Lo, gak rame."
"Betah mah, betah Mbak. Yang bikin gak betah itu kalau ada tukang rusuh yang dateng."
Alina mengangguk-angguk, ia sudah tahu perihal keluarga Hanin yang menyebalkan itu. Jadi mulai sekarang sebisa mungkin Alina akan membantu Hanin menghadapi keluarganya terutama mantan yang sekarang jadi ipar.
"Betewe, Sagara ganteng lho, Nin."
"Iya, Pak Kenaan juga ganteng, Mbak!" balas Hanin tak mau kalah. Alina mengerucutkan bibirnya lucu, lalu menggeleng pelan.
"Udah pernah nonton film yang dibintangi Gara belum?"
"Hah? Apa Mbak?" Hanin terkejut. Film? Sagara? Apa laki-laki itu...
Hanin mengerjapkan matanya, tapi tak lama saat Divine memintanya ke ruangan CEO untuk mengambil berkas.
Obrolannya dengan Alina terputus bersama rasa penasaran, akan tetapi Hanin sama sekali tak mendapatkan jawaban dari boss cantiknya itu.
Jam makan siang, Hanin baru akan turun dan keluar perusahaan saat sebuah mobil berhenti tepat di depannya berdiri.
"Masuk, Nin." Sagara menurunkan kaca mobil lantas membuka kaca mata hitam yang ia pakai.
"Gara, ngapain?"
"Ayo makan siang, bentar aja nanti aku anter lagi kesini."
Hanin menoleh kiri kanan, lalu bergegas masuk.
"Kenapa mendadak ke kantor?"
"Mumpung aku gak sibuk-sibuk banget. Kamu mau makan apa?"
Tadi niatnya Hanin hanya mau makan di warung nasi Padang dekat kantor, tak disangka malah Sagara datang dan mengajaknya makan bersama.
"Apa aja."
"Apa aja?" Sagara lantas mengangguk, sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah cafe.
"Makan disini gak apa-apa?" tanya Sagara.
Hanin mengangguk, sekali lagi ia memang bukan wanita pemilih.
Sagara memakai kembali kaca mata hitamnya dan menggandeng Hanin masuk ke area cafe.
"Kamu gak kerja?" tanya Hanin selagi menunggu makanan datang.
"Kerja aku gak menentu, sekalinya kerja belum tentu punya waktu luang, Nin."
"Yaiya, kamu kan artis."
Sagara tertawa, "bukan sih, cuma pemeran pendamping yang bertugas jagain pemeran utama."
Deg...