Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.
Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.
Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.
pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aulia 33
Tanpa mempedulikan teriakan dan tangisan Belinda yang histeris, Rika dan Bu Ratna langsung melucuti perhiasan emas di pergelangan tangan dan leher perempuan itu. Belinda mencoba melawan, tetapi tenaga dua wanita yang disulut emosi itu jauh lebih kuat. Setelah berhasil melucuti segalanya, Rika mendorong tubuh Belinda hingga terjerembap keluar melewati ambang pintu.
"Keluar! Jangan pernah injakkan kaki murahanmu di rumah ini lagi!" teriak Rika seraya membanting pintu depan dengan amat keras.
Braaaakkk
Di dalam ruang tamu yang kini sunyi, Belinda meratap di luar pintu beberapa saat sebelum akhirnya melangkah pergi dengan pincang, membawa sisa martabat dan keputusasaan.
Sementara itu, Galang masih terduduk di lantai sambil memegangi pipinya yang berdenyut panas akibat tamparan Rika. Matanya kosong, menatap lantai keramik yang kini terasa amat dingin. Kehancuran hidupnya terjadi begitu cepat, hanya dalam hitungan jam.
"Puas kamu, Galang?!" suara Bu Ratna memecah kesunyian. Kali ini, nada suaranya tidak lagi melengking murka, melainkan sarat akan rasa frustrasi dan ketakutan yang mendalam. Bu Ratna ambruk di sofa, dadanya naik turun menahan sesak.
"Lihat apa yang kamu dapat dari perempuan itu! Cuma malu! Cuma masalah! Wanita seperti itu hanya butuh uangmu saja! Bahkan sedari tadi ucaoannya membuat ibu naik darah! Dia terus saja membicarakan uang, tas, baju ini dan itu! Sudah berapa ratus juta uangmu habis karena memanjakan wanita itu hah?" cerca Rika, melemparkan tas mewah milik Belinda ke atas meja dengan kasar.
"Apa benar yang di katakan Aulia kalau uang tabungan kalian juga kamu habiskan untuk memanjakan wanita itu? Astaga, yang benar saja! Wanita modelan ondel-ondel seperti itu yang kami pilih? Apa nggak ada wanita lain? Setidaknya wanita yang akan memberika kita banyak keuntungan, bukan malah merugikan! Kenapa kamu sangat bo-doh!" tambah Rika.
"Mbak... tolong, jangan makin bikin kepalaku mau pecah," gumam Galang lirih, suaranya bergetar.
"Kepalamu pecah?! Bagaimana dengan nasib kita?!" Rika menunjuk muka adiknya.
"Kamu dengar sendiri tadi, Aulia punya semua bukti perbuatan kamu dan wanita itu! Kalau saja uang sebanyak itu kamu berikan kepada ibu atau kita, setidaknya kita bisa membelikan invesasi. Coba uang yang kamu berikan kepada wanita itu? Apa akan kembali? Tidak! Bahkan tas dan perhiasan dia ini saja aku rasa tak ada setengahnya dari uang yang kamu berikan kepada ja-lang itu!"
"Jangan sampai Aulia nekat datang ke kantormu. Itu yang paling penting untuk sekarang! Jangan sampai kamu di pecat karena Aulia memberikan semua bukti perselingkuhanmu yang di milikinya!" ujar Pak Hendra yang sedari tadi memilih diam.
Kata 'dipecat' menghantam kesadaran Galang. Tubuhnya gemetar. Pekerjaannya di perusahaan itu adalah satu-satunya sumber penghasilannya saat ini, dan tanpa sokongan finansial dari Aulia, dia tidak akan sanggup membakar uang demi gaya hidup mewah seperti yang dilakukannya bersama Belinda. Bahkan hari ini dia izin tak masuk kantor dengan menggunakan alasan Cantika yang sakit.
"Ibu... Ibu harus bantu Galang," ucap Galang panik, merangkak mendekati ibunya dan memegang lutut Bu Ratna.
"Aulia pasti mau mendengarkan Ibu. Kalau Ibu yang minta maaf, kalau Ibu yang bujuk Aulia..."
Bu Ratna menatap anak kesayangannya itu dengan tatapan campur aduk. Penyesalan mulai menggerogoti hatinya. Dulu, dia selalu meremehkan Aulia. Karena selama ini menantunya tak pernah banyak protes walau mereka meminta ini dan itu. Namun, memang sikapnya mulai berubah lebih dari satu tahun belakangan saat mereka menyadari Cantika berbeda dengan cucu-cucunya yang lain. Bahkan tadi, melihat tatapan Aulia membuatnya merasa ngeri sendiri.
"Bujuk bagaimana lagi, Galang?" desah Bu Ratna muram, teringat pandangan tajam dan dingin Aulia di teras tadi.
"Aulia yang sekarang bukan Aulia yang bisa kita gertak. Dia sudah menutup pintu rapat-rapat. Dia bahkan tak segan memanggil satpam untuk mengusir kita!"
"Tapi kita tidak boleh diam saja!" potong Rika tajam.
"Masalahnya bukan cuma soal posisi Galang di kantor. Aulia memegang semua bukti. Kalau dia menuntut cerai dengan tuduhan perselingkuhan dan perbuatan tidak menyenangkan, Galang bisa keluar dari pernikahan itu tanpa membawa sepeser pun harta! Dan kamu, Galang... kamu bakal terbelit utang cicilan yang selama ini atas namamu tapi dibayar Aulia!"
Kepanikan mengerikan kini benar-benar menguasai Galang. Bayangan masa depannya runtuh seketika, kehilangan Aulia, kehilangan jabatan, terusir dari rumah mewah kompleks perumahan, dan tenggelam dalam tumpukan utang. Dia memang tak memikirkan hal itu saat bersama dengan Belinda. Dia hanya haus akan validasi dan juga pujian setiap saat dari Belinda yang juga memang pandai memanjakannya. Berbeda dengan Aulia yang lebih banyak membicarakan Aulia dan juga perhatiannya untuk Cantika.
"Sudah! Jangan menyalahkan Galang terus-terusan!" potong Pak Hendra dengan suara berat, mencoba menengahi keributan anak-anaknya.
"Memaki Galang sekarang tidak akan menyelesaikan masalah. Yang penting sekarang, bagaimana cara kita menahan Aulia agar tidak membocorkan bukti itu ke atasan Galang dan tidak mendaftarkan gugatan cerai secara sepihak." Galang mengangkat wajahnya yang pucat pasi, menatap ayahnya dengan sisa-sisa harapan.
"Gimana caranya, Yah? Aulia benar-benar menutup akses. Nomor WhatsApp-ku pasti sudah diblokir. Aku tadi coba telepon juga sudah tidak aktif."
Pak Hendra menghela napas panjang, memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Kamu ingat, Aulia itu sangat menyayangi Cantika. Apapun akan dia lakukan untuk anak itu. Dan bagaimanapun juga, kamu itu ayah kandung Cantika. Dia tidak mungkin tega melihat masa depan anaknya hancur karena ayahnya dipecat dan dipenjara."
"Benar!" mata Bu Ratna seketika berbinar mendengar ucapan suaminya. Penyesalannya berganti dengan ide licik.
"Aulia mungkin keras kepala pada kita, tapi dia lemah kalau sudah menyangkut Cantika. Kita gunakan Cantika!"
"Maksud Ibu?" tanya Rika memicingkan mata.
"Besok pagi, kita semua datang lagi ke rumah Aulia. Tapi jangan bawa emosi," ujar Bu Ratna merencanakan, nadanya berubah menjadi penuh perhitungan.
"Kita bawa Cantika dalam pembicaraan. Kamu, Galang, bersimpuh di depan Aulia, minta maaf dan katakan kalau kamu khilaf. Bawa nama Cantika, katakan kalau Cantika butuh sosok ayah yang utuh dan mapan. Minta Aulia memikirkan masa depan dan pengobatan Cantika."
"Dan kalau dia tetap menolak?" sela Rika skeptis.
"Ingat, Aulia bukan lagi wanita penurut yang dulu bisa Ibu tekan-tekan."
diawal bapaknya galang ikut si pak hendra..tapi disini melihat kegilaan anak dan istrinya tiba2 pak hendra hilang.