NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Keheningan di dalam mobil mewah Baskara terasa jauh lebih mencekam daripada saat perjalanan menuju rumah orang tua Alena tadi.

Kini, status mereka bukan lagi dua orang asing yang terikat ancaman, melainkan sepasang suami istri yang sah secara hukum dan agama.

Alena menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap deretan lampu jalanan yang membias kabur.

Tangannya masih berada dalam genggaman Baskara.

Pria itu menolak melepaskannya sepanjang jalan, seolah tak ingin memberi Alena celah sedikit pun untuk menarik diri.

"Kenapa diam saja?" suara berat Baskara memecah hening, mengalun santai di tengah deru mesin yang halus.

"Bukannya tadi di rumah orang tuamu kamu sangat ingin memprotes?"

Alena menoleh lambat, melirik jemari mereka yang bertaut rapat sebelum menatap wajah samping Baskara.

"Apa lagi yang harus kuprotes, Bas?" sahut Alena dengan nada lelah, tak ada lagi tenaga untuk berteriak atau berdebat.

"Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau. Aku sudah menandatangani kertas gila itu, dan kita sudah menikah. Kamu menang."

Baskara menoleh sejenak, menatap Alena dengan sudut bibir yang terangkat tipis.

"Ini bukan soal menang atau kalah, Alena. Ini soal komitmen."

"Komitmen?" Alena tertawa sumbang.

"Kamu menyebut paksaan, ancaman penjara, dan kontrak perbudakan sebagai komitmen? Usiamu mungkin baru dua puluhan, Baskara, tapi caramu mengendalikan orang lain sungguh mengerikan."

Baskara tidak tersinggung. Ia justru menarik tangan Alena mendekati bibirnya, lalu mengecup punggung tangan wanita itu perlahan—sebuah tindakan yang terasa begitu kontras dengan kejamnya ancaman yang ia lontarkan satu jam lalu.

Alena tersentak kaget, mencoba menarik tangannya, namun genggaman Baskara terlalu kuat.

"Umurku dua puluh lima tahun, Alena. Cukup matang untuk tahu apa yang kuinginkan dan bagaimana cara mendapatkannya," ucap Baskara datar tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan di depan.

"Dan malam ini, kamu adalah milikku. Mulai detik ini, tidak ada lagi Alena yang hidup menyendiri di rumah kecilnya, hanya ditemani pizza dan toko roti."

Mobil hitam itu akhirnya berbelok memasuki sebuah kawasan perumahan elit dengan penjagaan ketat.

Gerbang besi menempa berukuran besar terbuka otomatis saat mobil Baskara mendekat.

Di balik gerbang itu, berdiri sebuah hunian bergaya modern minimalis yang megah, didominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca-kaca tinggi yang megah namun terasa dingin.

"Kita sampai," ujar Baskara seraya mematikan mesin mobil.

Seorang asisten rumah tangga berparuh baya dan seorang penjaga keamanan langsung menyambut mereka begitu pintu mobil dibuka.

"Selamat malam, Den Baskara," sapa ART wanita itu penuh hormat, sebelum matanya beralih menatap Alena dengan ramah.

"Selamat datang, Nyonya."

Alena hanya bisa mengangguk canggung. Panggilan 'Nyonya' terasa begitu asing dan berat di telinganya.

"Bawa barang-barang Alena ke kamar utama, Bibi," perintah Baskara tegas.

Ia kemudian merangkul pinggang Alena—sebuah gerakan protektif yang tak memberi ruang bagi Alena untuk menghindar—dan menuntunnya masuk melintasi lorong rumah yang dingin dan sepi.

Suasana di dalam rumah itu sangat mencerminkan pemiliknya: rapi, mewah, namun terasa hampa dan mendominasi.

Dinding-dindingnya dihiasi lukisan abstrak berukuran besar, sementara pencahayaannya menggunakan lampu sorot kekuningan yang temaram.

Baskara membawanya naik ke lantai dua, menuju sebuah pintu kayu jati tebal di ujung lorong.

Saat pintu diketuk dan dibuka, sebuah kamar utama yang sangat luas membentang di hadapan mereka.

Kasur berukuran king-size bertengger di tengah ruangan, berhadapan langsung dengan kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kolam renang di lantai bawah.

Alena melangkah mundur satu titik begitu Baskara menutup pintu kamar di belakang mereka.

Bunyi klik dari kunci pintu yang diputar Baskara terdengar bagai dentang lonceng peringatan bagi Alena.

"Kenapa dikunci?" tanya Alena cepat, matanya menatap Baskara waspada.

Baskara melepas jas hitamnya, melonggarkan ikatan dasinya dengan gerakan santai, lalu melemparnya ke atas sofa kulit di sudut kamar.

Ia berjalan mendekati Alena dengan langkah pelan namun pasti.

"Ini kamar kita, Alena. Tentu saja pintunya harus dikunci," jawab Baskara tenang.

"Bas... ingat poin di perjanjian," bisik Alena dengan nada memohon, mencoba menutupi rasa gugup yang mendadak menyerangnya.

"Aku butuh waktu. Ini semua terlalu cepat untukku."

Baskara menghentikan langkahnya tepat di hadapan Alena.

Jarak mereka kini begitu dekat hingga Alena bisa menghirup aroma maskulin khas gabungan kayu cendana dan citrus dari tubuh pria itu.

Baskara mengulurkan tangannya, merapikan sehelai rambut Alena yang menyangkut di pipinya, lalu menyusuri garis rahang wanita itu dengan ibu jarinya.

"Aku tahu ini cepat untukmu, Alena," gumam Baskara rendah, suara beratnya bergetar di dekat telinga Alena

"Tapi ingat satu hal... aku tidak pernah main-main dengan apa yang sudah menjadi milikku. Kamu boleh membenciku, kamu boleh menganggapku sosiopat gila, tapi kamu tidak akan pernah bisa lepas dariku."

Alena menahan napasnya, menatap lurus ke dalam manik mata Baskara yang kelam.

Di balik ketegasan dan dominasi dingin pria muda itu, Alena menyadari satu hal: kehidupan tenang yang selama empat puluh tahun ini ia jaga dengan rapat, telah musnah sepenuhnya malam ini.

Sentuhan itu datang tiba-tiba. Bukan ciuman lembut layaknya pasangan pengantin baru, melainkan sebuah klaim—sebuah tanda kepemilikan yang dingin dan mendominasi.

Alena terbelalak, napasnya tertahan di tenggorokan saat bibir Baskara menekan bibirnya dengan paksa.

Dunia di sekelilingnya seolah berhenti berputar, menyisakan denyut jantungnya yang berpacu liar karena terkejut.

Detik berikutnya, Baskara melepaskan ciuman itu, menyisakan jarak tipis di antara mereka.

Ia tidak tampak merasa bersalah, justru ada binar kemenangan yang berbahaya di sudut matanya yang tajam.

"Mandilah dulu, Alena," ucapnya datar, suaranya rendah dan serak, menembus kesunyian kamar yang dingin.

Matanya menyapu tubuh Alena dengan tatapan yang membuat wanita itu merasa tertelanjangi.

"Atau perlu aku mandikan?"

Alena mengerjap, rasa terkejutnya perlahan berubah menjadi gelombang amarah yang bercampur dengan rasa terhina.

Ia segera mendorong dada bidang Baskara dengan sisa tenaganya, berusaha menciptakan jarak sejauh mungkin.

"Jangan melewati batasmu, Baskara!" seru Alena, suaranya sedikit bergetar namun berusaha ia tegaskan

"Aku bukan barang yang bisa kamu atur sesuka hatimu. Aku akan mandi sendiri."

Baskara tertawa kecil, suara yang terdengar begitu meremehkan di telinga Alena.

Ia melangkah mundur, memberi ruang—bukan karena ia takut, melainkan karena ia menikmati ketakutan dan perlawanan Alena.

Ia duduk dengan santai di pinggiran tempat tidur, melipat tangan di dada seraya memerhatikan setiap gerakan Alena yang gelisah.

"Silakan," ucapnya singkat, seolah memberikan izin kepada seorang anak kecil.

"Tapi jangan terlalu lama. Aku tidak suka menunggu, Alena. Dan ingat, pintunya tidak akan aku kunci, tapi tidak ada jalan keluar dari rumah ini tanpa izinku."

Alena tidak menjawab. Ia segera meraih pakaian ganti dari tasnya dengan tangan yang masih gemetar hebat, lalu melangkah menuju kamar mandi dengan langkah terburu-buru.

Di balik pintu kayu yang tertutup rapat, Alena menyandarkan punggungnya di dinding, memejamkan mata sembari meredam tangis yang mendesak keluar.

Ia sadar, kini ia benar-benar terjebak dalam sangkar emas yang dibangun oleh pria itu.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!