Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 16.
Ponsel yang berada di tangan Revan hanya berdering sekali sebelum panggilannya diangkat.
"Selamat malam, Pak."
"Arga, di mana posisimu sekarang?"
"Saya sudah berada di ballroom, Pak."
"Bagus! Mulai sekarang, tingkatkan pengamanan di sekitar area acara. Jangan membuat keributan, jangan menarik perhatian tamu, tetapi awasi setiap orang yang berpotensi mengganggu jalannya forum."
"Apakah ada ancaman tertentu, Pak?"
Tatapan Revan tetap mengarah ke arah Kayla yang sedang berbincang dengan beberapa wanita sosialita. "Aku belum bisa memastikan. Namun, firasatku mengatakan seseorang sedang merencanakan sesuatu."
"Baik, Pak. Saya mengerti."
"Satu lagi."
"Silakan, Pak."
"Kalau terjadi sesuatu yang mengarah pada fitnah atau tindakan yang merugikan Wiranata Corp maupun salah satu karyawan perusahaan, kumpulkan seluruh bukti tanpa terkecuali. Rekaman CCTV, dokumentasi fotografer, video tamu, semuanya."
"Siap, Pak."
Panggilan berakhir, Revan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas. Ekspresinya tetap datar, tak seorang pun menyadari bahwa pria itu baru saja mengantisipasi sesuatu yang bahkan belum terjadi.
Di sisi lain ballroom.
Kayla sedang berbincang dengan dua perempuan yang dikenalnya melalui komunitas pebisnis muda.
"Apa semuanya sudah siap?" tanyanya lirih.
"Santai saja, orang yang kamu minta juga sudah datang."
"Bagus."
"Yakin mau melakukan ini? Banyak tokoh penting di sini."
Kayla tersenyum tipis. "Justru karena banyak tokoh penting, sekali reputasi Zahira hancur malam ini... semua orang akan terus mengingatnya."
"Kamu benar-benar tidak suka padanya." Perempuan di sampingnya ikut tersenyum.
Tatapan Kayla berubah dingin. "Selama perempuan itu masih dipandang baik, aku akan selalu dibanding-bandingkan dengannya."
Ia masih mengingat bagaimana beberapa pebisnis senior memuji kecerdasan Zahira pada acara sebelumnya, bahkan setelah bercerai, nama Zahira tetap mendapat penghormatan dari orang-orang dan perhatian Denis. Hal itu membuat Kayla merasa kalah, dan ia membenci perasaan tersebut.
Di sisi lain.
Seorang pria paruh baya menghampiri Zahira.
"Selamat malam, saya Hendra Prakoso dari Prakarsa Logistik." Pria itu mengulurkan tangannya.
Zahira segera menyambut uluran tangannya. "Selamat malam, Pak Hendra."
"Saya sudah mendengar beberapa ide Anda tadi, menarik sekali."
"Terima kasih, Pak."
"Terus terang, saya penasaran. Benarkah dulu Bu Zahira ikut membangun Adikara Group dari awal?"
Pertanyaan itu membuat beberapa pebisnis lain ikut menoleh, Zahira tersenyum tipis. "Saya hanya menjalankan tanggung jawab saya saat itu."
"Berarti kabar yang beredar memang benar."
"Saya tidak terlalu memikirkan apa yang dibicarakan orang, Pak."
Jawaban itu terdengar biasa saja, namun justru membuat Pak Hendra tersenyum semakin lebar. "Jarang ada orang yang tidak mengambil kesempatan untuk membanggakan dirinya."
"Saya lebih senang, jika hasil kerja yang berbicara."
Ucapan Zahira membuat beberapa orang menganggukkan kepala.
Di kejauhan, Deris menyaksikan semua itu tanpa berkedip. Semakin banyak orang menghormati Zahira, semakin besar pula rasa sesak yang memenuhi dadanya. Ia kembali menyadari satu hal, selama ini yang membuat banyak relasi bisnis bertahan bukan hanya karena dirinya. Ada peran Zahira yang diam-diam menjaga kepercayaan mereka.
Tak lama kemudian, lampu ballroom sedikit diredupkan, suara pembawa acara menggema memenuhi ruangan.
"Para tamu yang kami hormati, sebentar lagi sesi networking akan dimulai. Kami mempersilakan seluruh tamu saling bertukar kartu nama dan membangun peluang kerja sama."
Para tamu mulai berpencar, inilah momen yang sudah ditunggu Kayla. Ia memberi isyarat kecil kepada seseorang di sudut ruangan. Pria itu mengangguk pelan sebelum berjalan membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas minuman.
Tak jauh dari sana, Arga yang sejak tadi memperhatikan situasi langsung menyentuh earphone kecil di telinganya. "Target mulai bergerak."
"Pantau." Suara dari seberang menjawab singkat.
Pria pembawa minuman itu terus berjalan, arah langkahnya lurus menuju Zahira.
Pada saat yang sama, Revan yang sedang berbincang dengan seorang investor tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Tatapannya beralih ke arah pria tersebut, sorot matanya berubah tajam. Dalam hitungan detik, ia menyadari pola gerakan pria itu tidak wajar. Tanpa meminta izin lebih dulu kepada lawan bicaranya, Revan langsung melangkah cepat ke arah Zahira.
Sementara itu, Kayla menyunggingkan senyum puas. "Sebentar lagi... nama Zahira akan menjadi bahan tertawaan seluruh pebisnis yang hadir malam ini."
Namun ia tidak menyadari, permainan yang baru dimulainya telah lebih dulu dibaca oleh Revan.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭