NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020: Tiga Puluh Tujuh Kursi

Polres Waringin menyiapkan tiga puluh tujuh kursi plastik di aula samping.

Jumlah kursinya sengaja pas. Tidak lebih, tidak kurang. Saat Bima datang bersama Pak Wisnu dan Ratna, beberapa kursi sudah terisi. Orang-orang yang dulu muncul sebagai nama akun kini duduk dengan wajah asli: pegawai toko, mahasiswa, ibu rumah tangga, pengemudi ojek, admin komunitas, karyawan konter pulsa.

Di layar ponsel, mereka pernah terlihat seperti pasukan.

Di aula, mereka terlihat seperti orang yang baru sadar pintu keluar tidak sebanyak komentar.

Pak Wanto berdiri di depan bersama Aipda Raka dari unit siber. Di meja ada map berlabel Klaster Doxing dan Intimidasi. Bima melihat beberapa orang menunduk ketika ia masuk. Ada yang berbisik, "Itu dia." Ada yang langsung menutup wajah dengan masker.

Ratna berbisik, "Mereka lebih kecil dari avatarnya."

Bima menjawab pelan, "Avatar tidak perlu tanda tangan berita acara."

Pemeriksaan tidak dilakukan seperti tontonan. Satu per satu dipanggil ke ruangan. Namun sebelum itu, Aipda Raka memberi penjelasan umum.

"Saudara-saudara dipanggil karena diduga menyebarkan alamat rumah, mengajak intimidasi, atau menambah informasi pribadi korban dalam kasus yang sudah berjalan. Ini bukan panggilan untuk orang yang sekadar membaca. Ini untuk tindakan aktif. Semua akan diberi kesempatan menjelaskan. Semua keterangan dicatat."

Seorang pria mengangkat tangan. "Pak, saya sudah hapus. Berarti selesai, kan?"

Raka menatapnya. "Kalau mencuri lalu mengembalikan barang setelah tertangkap, apakah peristiwa mencurinya hilang?"

Pria itu menunduk lagi.

Bima tidak perlu bicara. Hari ini negara yang bicara.

Namun media lokal tetap menunggu di luar. Kabar tiga puluh tujuh pelaku doxing dipanggil serentak sudah menyebar. Beberapa akun gosip mencoba masuk, satpam Polres menahan mereka. Tidak ada live show. Tidak ada panggung. Hanya proses.

Di sela pemeriksaan, Pak Wisnu menunjukkan daftar gugatan perdata. "Untuk tiga puluh tujuh ini, kita minta ganti rugi simbolis dan permintaan maaf terbuka, tapi pidana tetap jalan untuk yang mengajak kekerasan. Untuk yang kooperatif dan dampaknya ringan, kita bisa pertimbangkan restorative note tanpa pencabutan total."

Bima membaca catatan itu. Ensiklopedia Hukum Hidup membantunya memahami keseimbangan: tidak semua harus dihancurkan sama rata. Keadilan tidak menuntut hukuman identik untuk semua orang. Keadilan berarti perbuatan, dampak, niat, dan sikap setelahnya dihitung.

"Yang mengoordinasikan pelemparan telur?" tanya Bima.

Pak Wisnu menunjuk satu nama. "Tidak ada keringanan rekomendasi dari kita. Dia menghubungkan unggahan dengan aksi fisik."

Orang itu dipanggil pukul sebelas. Namanya Bagus. Di internet ia memakai akun @warga_bersih. Di dunia nyata, ia lelaki tiga puluhan dengan jaket komunitas motor.

Saat keluar dari ruangan pemeriksaan, wajahnya pucat. Ia melihat Bima, lalu tiba-tiba mendekat.

"Mas Bima, saya minta maaf. Saya cuma kesal lihat video pertama. Saya tidak tahu itu editan."

Bima menatapnya. "Video asli sudah keluar sebelum kamu mengajak orang datang."

Bagus membuka mulut. Tidak ada jawaban.

"Kamu juga menulis, 'Kalau cuma telur masih kurang.' Mau saya bacakan lanjutannya?"

Keringat turun di pelipis Bagus.

Pak Wanto memberi isyarat kepada anggota agar Bagus tidak mendekat lagi. Bagus mundur, dan untuk pertama kalinya beberapa orang di aula melihat bahwa permintaan maaf bisa gagal jika bukti terlalu jelas.

Siang itu, berita keluar.

TIGA PULUH TUJUH AKUN PENYEBAR ALAMAT RUMAH BIMA DIPERIKSA POLISI.

KORBAN FITNAH TAK CABUT LAPORAN: "LAYAR BUKAN TEMPAT SEMBUNYI."

Judul kedua berasal dari jawaban Bima kepada wartawan di luar Polres. Ia hanya bicara satu menit.

"Saya tidak mengejar orang yang diam. Saya mengejar orang yang aktif membuat keluarga saya menjadi target. Kalau hari ini mereka duduk di kantor polisi, sebabnya jelas: mereka menulis alamat, ancaman, dan fitnah dengan nama samaran. Nama samaran tidak menghapus akibat nyata."

Komentar publik berubah lagi.

Kali ini, banyak yang lebih hati-hati. Orang-orang mulai menghapus unggahan lama dengan cemas, sambil bertanya bagaimana cara meminta maaf yang benar. Admin grup menutup kolom komentar. Beberapa akun besar yang dulu ikut memanas-manasi tiba-tiba membuat edukasi tentang etika digital.

Ratna membaca salah satunya dan tertawa sinis. "Ini akun yang kemarin bilang kita drama. Sekarang jadi duta sopan santun internet."

"Simpan screenshot sebelum dan sesudah," kata Bima.

"Sudah."

Enam orang yang mangkir memberi alasan berbeda. Ada yang mengaku sakit tanpa surat dokter. Ada yang mengatakan pindah kota. Ada yang mengirim pesan melalui istrinya bahwa akun itu sudah dijual. Aipda Raka mencatat semuanya dengan wajah datar.

"Mangkir pertama masih panggilan kedua," katanya kepada Bima. "Mangkir lagi, kita punya dasar tindakan lanjutan."

Bima mengangguk. Ia tidak meminta pengejaran dramatis. Justru ia ingin mereka diberi kesempatan resmi. Kesempatan resmi membuat alasan mereka habis secara resmi pula.

Di sudut aula, seorang ibu muda menangis sambil memegang bayi. Klaster perempuan itu ringan; ia menyebarkan alamat rumah karena menyalin dari akun lain dan menambah kalimat, "Kalau dekat, tegur saja keluarganya." Ketika diminta menjelaskan, ia berkata tidak berpikir ada orang benar-benar datang.

Ratna menatapnya lama. "Mas, yang seperti itu bagaimana?"

"Dia tetap salah," kata Bima. "Tapi berbeda dengan Bagus. Kita lihat sikapnya, dampaknya, dan apakah dia mau memperbaiki."

Ratna mengangguk pelan. Di situlah ia memahami kenapa Bima membuat kategori. Tanpa kategori, semua orang terlihat seperti monster. Dengan kategori, yang paling berbahaya tidak bisa bersembunyi di belakang yang paling bodoh.

Sore menjelang malam, Pak Wisnu mengirim rekap tahap pertama.

Klaster doxing: 37 dipanggil, 31 hadir, 6 mangkir.

Yang mangkir akan dipanggil kedua.

Koordinator pelemparan telur direkomendasikan proses pidana lanjutan.

Somasi gelombang ketiga siap: 400 nama.

Pak Wanto menambahkan satu catatan yang membuat tahap pertama terasa resmi: berita acara pemeriksaan kolektif, daftar hadir, daftar mangkir, dan rekomendasi klaster sudah dikirim ke unit siber polres. Ini sudah melewati gertakan surat somasi. Ini jalur negara yang berjalan.

Bima meminta salinan nomor administrasi, lalu menyimpannya ke folder utama. Nama file-nya sederhana: Tahap1_Polres_Waringin. Ia belajar menikmati hal-hal kecil seperti nomor registrasi. Bagi orang lain, nomor itu membosankan. Bagi Bima, nomor itu adalah tali yang mengikat satu per satu mulut yang dulu bersembunyi di balik akun.

Bima menatap angka itu. Babak ini belum selesai, tetapi bentuknya sudah jelas. Kerumunan tidak lagi menyerbu rumahnya. Mereka sibuk mencari cara agar nama asli mereka tidak muncul di surat berikutnya.

SBE muncul.

[Tahap 1 Misi Satu Pun Tidak Lolos selesai]

[Skala publik terbuka: 1.317 target]

[Poin +2.500]

[Reputasi: korban fitnah -> pemburu hukum digital]

[Evaluasi sementara: lanjutkan sampai putusan/sanksi massal]

Bima menutup panel saat mobil meninggalkan Polres.

Di kursi belakang, Ratna akhirnya menyandarkan kepala ke jendela. "Mas, aku baru sadar. Dulu mereka bikin kita takut keluar rumah. Sekarang mereka yang takut buka pintu kalau ada kurir bawa surat."

Bima menatap jalan Waringin yang mulai gelap.

"Bagus," katanya. "Berarti pelajaran pertama sampai."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!