Di Benua Shenzhou yang dipenuhi oleh energi spiritual (Qi), hukum rimba berlaku: yang kuat dihormati, yang lemah diinjak-injak. Ye Chen, seorang pemuda dari Klan Ye, terlahir dengan meridian yang cacat sehingga ia tidak bisa menyerap Qi. Selama enam belas tahun, ia hidup sebagai lelucon dan bahan hinaan klannya.
Namun, takdirnya berubah drastis di suatu malam yang berdarah. Saat ia dipukuli dan dibuang ke dasar Jurang Kematian oleh sepupunya sendiri, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah liontin batu giok hitam peninggalan ibunya. Liontin itu ternyata menyimpan jiwa seorang Kaisar Naga Kuno yang telah tersegel selama puluhan ribu tahun. Dengan bimbingan sang Kaisar Naga, Ye Chen memulai jalan kultivasi yang menentang langit untuk membalas dendam dan mencari kebenaran di balik hilangnya kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Sebelum Badai
Kota Puncak Hijau tampak bermandikan cahaya lampion merah malam itu. Suasana perayaan menyelimuti setiap sudut jalan menjelang Turnamen Bela Diri Tahunan Klan Ye esok hari. Namun, di tengah kemeriahan tersebut, sesosok bayangan berkerudung dengan pedang raksasa di punggungnya melompat dari satu atap ke atap lainnya, menyatu dengan kegelapan.
Itu adalah Ye Chen.
Berkat kecepatan dan kelincahannya yang kini berada di puncak Tahap Pengumpul Qi tingkat kelima, menyusup melewati tembok tinggi kediaman Klan Ye semudah membalikkan telapak tangan.
"Pertahanan klan ini penuh celah. Tidak ada satu pun tetua yang berjaga," batin Ye Chen sambil mendarat tanpa suara di dahan pohon beringin tua.
"Hmph, sekelompok katak dalam tempurung. Mereka mengira gelar klan terbesar di kota kecil ini sudah membuat mereka tak tersentuh," cemooh Ao Tian dari dalam kalung giok.
Ye Chen tidak memedulikan kemegahan aula utama yang sedang mengadakan perjamuan. Ia mengarahkan langkah kakinya menuju sudut paling terpencil dari kediaman itu—halaman kumuh tempat ia tinggal selama belasan tahun terakhir.
Namun, saat ia mendekati halaman tersebut, keningnya berkerut. Bau asap kemenyan yang pekat tercium di udara, diiringi isak tangis tertahan yang terdengar menyayat hati.
Melalui celah pagar kayu yang lapuk, Ye Chen melihat seorang pria tua berpakaian pelayan yang penuh tambalan sedang berlutut di atas tanah berlumpur. Pria tua itu membakar tumpukan uang kertas fana di dalam sebuah mangkuk tanah liat.
Itu adalah Paman Lin. Beliau dulunya adalah pengawal setia ayah Ye Chen. Ketika ayah dan ibu Ye Chen menghilang sepuluh tahun lalu, Paman Lin menolak tawaran untuk melayani tetua lain dan memilih mengurus Ye Chen yang dianggap cacat, meski harus menerima hinaan dan pemotongan gaji setiap bulan.
"Tuan Muda Chen... Tuan Besar... Pelayan tua ini sungguh tidak berguna," isak Paman Lin, menyeka air matanya dengan lengan baju yang kotor. "Saya tidak bisa melindungi Tuan Muda. Mereka bilang Tuan Muda jatuh ke jurang karena terpeleset, tapi saya tahu... Tuan Muda Feng pasti yang melakukannya! Maafkan saya..."
Melihat punggung renta yang bergetar itu, dada Ye Chen terasa sesak. Di klan yang dingin dan kejam ini, Paman Lin adalah satu-satunya kehangatan yang tersisa untuknya.
Tiba-tiba, gerbang halaman ditendang hingga terbuka kasar.
BRAK!
Seorang pria paruh baya bertubuh gemuk dengan pakaian sutra murahan masuk dengan angkuh. Ia adalah Zhao, salah satu Pelayan Kepala yang setia menjilat faksi Ye Feng. Di belakangnya, dua penjaga muda mengikuti dengan wajah garang.
"Hei, Bangka Tua! Apa yang kau lakukan di sini?!" bentak Pelayan Zhao, langsung menendang mangkuk tanah liat Paman Lin hingga hancur berantakan. Abu pembakaran bertebaran tertiup angin malam.
"P-Pelayan Zhao..." Paman Lin tersentak mundur, menatap abunya yang hancur dengan panik. "Saya hanya... mendoakan roh Tuan Muda Chen..."
"Menyedihkan! Besok adalah hari bersejarah di mana Tuan Muda Feng akan dinobatkan sebagai jenius nomor satu. Kau malah membakar uang mati dan memanggil kesialan di sini?!" Pelayan Zhao meludah ke tanah. "Tuan Muda Feng sudah memerintahkan agar gubuk rongsokan ini diratakan besok untuk dibangun taman bunga! Seret si bangka ini ke ruang hukuman dan patahkan kakinya agar dia tahu tempatnya!"
Dua penjaga itu tertawa sinis dan melangkah maju, mencengkeram lengan kurus Paman Lin dengan kasar.
"Tunggu! Tolong beri saya waktu satu malam lagi untuk mengemasi barang peninggalan Tuan Besar—akh!"
Belum selesai Paman Lin memohon, salah satu penjaga menampar wajahnya hingga pria tua itu tersungkur, sudut bibirnya berdarah.
Pelayan Zhao tersenyum puas. Namun, senyumnya tidak bertahan lama.
Angin malam tiba-tiba berhembus sangat dingin. Udara di halaman kumuh itu seakan membeku. Entah dari mana, sebuah suara datar yang terdengar seperti gema dari neraka memecah keheningan.
"Patahkan kakinya? Pendapat yang bagus. Aku akan mengabulkannya untukmu."
Ketiga penyusup itu tersentak dan berbalik serentak. Dari balik bayang-bayang pohon beringin, sosok pemuda tinggi dengan jubah kulit kasar melangkah perlahan. Pedang hitam legam yang menempel di punggungnya memancarkan aura tekanan yang membuat napas mereka sesak.
"S-siapa kau?! Beraninya menyusup ke Klan Ye!" bentak penjaga yang tadi menampar Paman Lin. Ia mencabut pedangnya dan menerjang maju.
Ye Chen tidak repot-repot mencabut pedangnya. Ia hanya mengangkat tangan kanannya, menyentil bilah pedang penjaga itu dengan jari telunjuknya.
TRANG!
Pedang baja itu hancur berkeping-keping seolah terbuat dari kaca! Sebelum penjaga itu sempat berteriak, tangan Ye Chen melesat mencengkeram wajahnya dan membanting kepalanya ke tanah berlumpur dengan tenaga mengerikan.
Brak! Penjaga itu langsung pingsan dengan tengkorak retak.
Penjaga kedua membeku ketakutan. Kakinya gemetar hebat hingga ia mengompol. Namun Ye Chen tidak memberinya ampun. Sebuah tendangan kilat melesat ke dada penjaga itu, menerbangkannya sejauh lima meter hingga menabrak dinding batu dan pingsan seketika.
Hanya dalam dua kedipan mata, dua kultivator Pengumpul Qi tingkat dua ditumbangkan layaknya nyamuk!
Kini tersisa Pelayan Zhao yang wajah gemuknya pucat seputih kertas. Ia melangkah mundur hingga membentur sisa-sisa pagar kayu. Saat sosok berkerudung itu semakin dekat dan pantulan sinar rembulan menerangi sebagian wajahnya, mata Zhao melotot hampir keluar dari rongganya.
"Y-Ye... Ye Chen?! T-tapi kau sudah mati! Hantu! Tolong, ada hant—"
Sebelum kata-kata itu selesai keluar dari mulut Zhao, Ye Chen menendang kedua lutut pria gemuk itu.
KRAK! KRAK!
"AARRRGHH!" Zhao menjerit histeris saat kedua tulang kakinya hancur berkeping-keping, memaksanya berlutut di depan tumpukan abu Paman Lin. Ye Chen segera menekan titik akupunktur di leher Zhao, membuat pria itu tidak bisa mengeluarkan suara lagi dan hanya bisa menangis dalam diam sambil menahan sakit yang luar biasa.
Ye Chen menoleh ke arah Paman Lin yang masih duduk terpaku di tanah, tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya.
Perlahan, aura membunuh Ye Chen memudar. Ia melepas tudung kepalanya, memperlihatkan wajahnya yang kini lebih tegas, lebih dewasa, dan memancarkan keteguhan. Ia berlutut satu kaki, membantu Paman Lin berdiri.
"Paman Lin," suara Ye Chen melembut, sama seperti pemuda yang dulu selalu diurus oleh pelayan tua itu. "Aku kembali."
Air mata mengalir deras dari mata Paman Lin yang keriput. Tangannya yang gemetar menyentuh wajah Ye Chen, memastikan bahwa ini bukanlah ilusi atau roh penasaran.
"T-Tuan Muda... Anda hidup... Surga memiliki mata! Anda benar-benar hidup!" isak Paman Lin, memeluk lengan Ye Chen erat-erat.
"Aku hidup, Paman. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun menindas kita lagi," ucap Ye Chen, menatap dingin ke arah Pelayan Zhao yang terkapar tak berdaya. Ia menyeret tubuh Zhao dan kedua penjaga itu, lalu melemparkan mereka ke dalam sumur kering di belakang halaman. Mereka tidak akan ditemukan sampai esok hari.
Malam itu, Paman Lin menangis bahagia mendengar cerita singkat Ye Chen bahwa ia diselamatkan oleh seorang 'Guru Misterius' (Ao Tian) yang menyembuhkan meridiannya. Tentu saja, rahasia Meridian Naga tetap ia simpan.
"Paman Lin, istirahatlah yang cukup malam ini," ucap Ye Chen sambil menatap bulan purnama yang bersinar terang dari jendela kamarnya yang reyot. Matanya berkilat tajam. "Besok... aku akan membersihkan hama di klan ini satu per satu."
TENG... TENG... TENG...
Fajar menyingsing. Suara gong perunggu raksasa bergema ke seluruh penjuru Puncak Hijau. Turnamen Tahunan Klan Ye akhirnya dimulai.
Di tengah alun-alun utama yang megah, ribuan penonton bersorak. Di kursi kehormatan, para Tetua Klan tersenyum lebar, terutama ketika melihat Ye Feng melangkah ke arena dengan pakaian sutra putihnya, memancarkan aura Tahap Pengumpul Qi tingkat keenam yang luar biasa.