NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Dari Timur

Pendekar Pedang Dari Timur

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ginza

Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.

Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.

Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.

Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23

Lidah api terus melahap sisa-sisa Desa Lemah Salju. Suara kayu terbakar yang merekah beradu dengan raungan angin utara, meninggalkan kepulan asap hitam yang membumbung tinggi ke langit kelabu.

Mu Jin berdiri diam di samping jasad Feng Xiao yang tak lagi bernyawa. Pedang bersegi empat di tangannya meneteskan darah kental ke atas salju yang mencair. Tubuhnya sendiri penuh dengan luka tebasan dan luka bakar yang terbuka, namun rasa sakit fisik itu tak pernah sanggup menyentuh matanya yang kaku.

Dengan langkah yang berat dan terseret, Mu Jin berbalik. Dia melangkah menembus kobaran api menuju reruntuhan kedai milik Lao Jiang.

Atap kayu kedai itu telah roboh total, menyisakan tumpukan arang dan sisa-sisa pilar batu yang menghitam. Di tengah halaman belakang, tempat biasa Mu Jin membelah kayu setiap pagi, terbaring dua sosok di atas tanah bersalju.

Lao Jiang tergeletak dengan dada menembus sabetan pedang. Satu matanya yang tersisa terbuka lebar, menatap kosong ke arah langit utara. Tangan tuanya yang kasar masih mencengkeram erat kapak kayu yang biasa digunakannya, mempertahankan rumahnya hingga helaan napas terakhir.

Dan di sampingnya, pelukan erat pria tua itu belum sepenuhnya terlepas dari tubuh anak gadisnya.

Jiang Xia.

Gadis pemalu itu terbaring kaku di bawah lindungan tubuh ayahnya. Pakaian linen tebal bertambalnya ternoda darah segar dari luka tusukan di punggungnya. Wajahnya yang biasa kemerahan akibat hawa dingin kini pucat pasi, membeku dalam keheningan abadi. Di dalam genggaman tangannya yang mungil dan kurus, gadis itu masih mencengkeram erat sobekan kain linen, kain yang rencananya akan dia gunakan untuk menjahit bagian dalam mantel bulu Mu Jin yang mulai terkelupas.

Mu Jin berhenti tepat di hadapan kedua jasad itu.

Tidak ada jeritan keputusasaan dari mulut sang tukang kayu. Tidak ada air mata yang menetes dari matanya yang mati. Namun, di dalam rongga dadanya yang hancur, keheningan yang teramat pekat merayap naik, membekukan sisa-sisa kemanusiaan yang baru saja mulai tumbuh dalam dua bulan terakhir.

Tempat berteduh yang hangat ini, sup daging asap di malam hari, dan jemari canggung gadis pemalu yang menjahitkan sarung pedang untuknya, semuanya telah kembali menjadi abu. Sama seperti Lembah Nian tiga tahun lalu. Sama seperti kehidupan yang pernah dia kenal.

Dunia ini tidak pernah mengizinkan seorang tukang kayu untuk berhenti menjadi pemangsa.

Mu Jin merendahkan tubuhnya. Dengan tangan kanannya yang gemetar tipis akibat luka, dia perlahan menutup mata tunggal Lao Jiang. Kemudian, dia berlutut di samping Jiang Xia, mengambil sobekan kain linen dari genggaman gadis itu, dan memasukkannya ke balik mantel bulu hitamnya yang robek.

Dia mengangkat jasad Lao Jiang dan Jiang Xia satu per satu, membawa mereka ke balik tebing batu di pinggir desa, tempat angin utara tidak bertiup terlalu kencang.

Menggunakan ujung pedang bersegi empatnya yang kaku, Mu Jin menggali tanah beku di bawah salju. Tanpa bantuan tenaga dalam, dia menghantamkan besi tebal itu berulang kali ke batu kali yang keras, mengabaikan luka di pundaknya yang kembali menyemburkan darah segar. Setiap hembusan napasnya adalah rasa sakit, tapi ayunan tangannya tidak pernah melambat sampai sebuah liang lahat tercipta.

Dia membaringkan ayah dan anak itu bersisian, lalu menimbun mereka dengan tanah hitam dan salju dingin.

Di atas kuburan itu, Mu Jin menancapkan kapak kayu tua milik Lao Jiang sebagai penanda.

Dia berdiri tegak di hadapan gundukan tanah tersebut. Angin malam meniup mantel hitamnya yang koyak, menyingkapkan sarung pedang dari kulit serigala es yang dijahit oleh jemari Jiang Xia.

“Aku akan membawa nama mereka ke Puncak Awan Putih,” bisik Mu Jin serak, suaranya tenggelam di antara raungan angin gunung.

Mu Jin berbalik, meninggalkan Desa Lemah Salju yang kini telah mati total. Dia tidak lagi melangkah sebagai manusia yang mencari tempat bernaung, melainkan sebagai bencana membisu yang berjalan lurus menuju istana Lu Chen.

1
Ginza
bantu retting teman-teman
SilentNovels
saling support tor👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!