NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14

Panggilan itu terputus.

Viona menatap layar ponselnya lama sekali.

Di kamar kos temannya, suara pendingin ruangan berdengung pelan. Di luar, grup kampus masih ramai membicarakan Arka. Foto Phantom. Video Nala. Komentar tentang tubuh Arka yang berubah. Semua itu seperti jarum halus yang menusuk satu per satu, tidak mematikan, tetapi cukup membuatnya sulit bernapas.

Ia mencoba menelepon lagi.

Tidak dijawab.

Pesan yang ia ketik juga tidak terkirim karena ia menghapusnya sebelum sempat menekan kirim. Terlalu banyak kata yang dulu mudah ia ucapkan kini terasa kehilangan tempat.

Arka, kita perlu bicara.

Aku cuma mau jelasin.

Kamu berubah banget.

Tidak ada satu pun yang terdengar benar.

Karena di dasar hatinya, Viona tahu ia tidak menelepon untuk menjelaskan. Ia menelepon karena untuk pertama kalinya, Arka terlihat seperti seseorang yang bisa pergi tanpa menoleh.

Keesokan paginya, Arka datang ke UNUSA tanpa membuat keributan baru.

Phantom tetap menarik perhatian, tetapi efek kejutnya sudah berubah menjadi rasa takut untuk mendekat sembarangan. Satpam menyapa dengan anggukan hormat. Beberapa mahasiswa menyingkir dari jalur parkir. Ada yang masih mengambil video, tetapi tidak ada yang berani tertawa di depan wajahnya.

Arka turun dari mobil dengan tas sederhana di bahu.

Angka timbangan pagi itu berhenti di 76,8 kilogram. Tubuhnya belum seperti model iklan kebugaran, tetapi semua garis lama yang membuat orang mengejeknya sudah runtuh. Wajahnya bersih. Langkahnya ringan. Seragam lama berupa tubuh berat dan tatapan rendah diri sudah tidak menempel lagi.

Dimas yang menunggu di dekat tangga gedung langsung bersiul.

"Bro, serius. Kalau lo turun lagi lima kilo, gue lapor ke fakultas. Ini bukan glow up, ini update sistem."

"Fakultas tidak mengurus berat badan mahasiswa."

"Mereka harus mulai. Lo mengganggu stabilitas mental anak kampus."

Arka hanya menggeleng. "Masuk kelas."

Mereka berjalan melewati koridor Fakultas Ekonomi. Beberapa mahasiswa pura-pura melihat papan pengumuman, padahal mata mereka mengikuti Arka dari pantulan kaca. Sejak video kemarin viral di lingkup kampus, nama Arka tidak lagi disebut dengan nada kasihan.

Sekarang orang menyebutnya dengan rasa ingin tahu.

Dan rasa ingin tahu sering kali lebih tajam dari hinaan.

Kelas pagi berakhir menjelang siang. Dimas sudah lebih dulu turun untuk membeli minum. Arka baru keluar dari koridor ketika sosok yang sejak tadi berdiri di dekat jendela akhirnya melangkah maju.

Viona.

Hari ini ia tidak bersama Revano.

Wajahnya tetap rapi, tetapi matanya tidak setenang biasanya. Ia menggenggam ponsel dengan dua tangan, seperti benda itu bisa menahannya agar tidak terlihat goyah.

"Arka," katanya. "Kita perlu bicara."

Beberapa mahasiswa yang hendak lewat langsung melambat.

Arka berhenti. Jarak di antara mereka sekitar dua langkah. Cukup dekat untuk bicara, cukup jauh untuk menunjukkan batas.

"Kita sudah selesai, Viona. Tidak ada yang perlu dibicarakan."

Kalimat itu keluar datar.

Tidak keras.

Justru karena tidak keras, Viona seperti kehilangan pegangan.

"Aku tahu aku salah," katanya cepat. "Tapi kita sudah tiga tahun bersama. Kamu gak bisa memutus semuanya begitu saja."

Beberapa orang saling pandang.

Tiga tahun bersama.

Kalimat itu dulu mungkin terdengar seperti ikatan. Sekarang, dari mulut Viona, ia terdengar seperti tanda terima yang dipaksa menjadi alasan.

Arka menatapnya.

Dulu, tatapan seperti itu akan membuat Viona tenang karena ia tahu Arka pasti luluh. Dulu, cukup satu kalimat lembut, satu wajah sedih, satu ancaman kecil tentang hubungan mereka, dan Arka akan meminta maaf bahkan ketika ia tidak bersalah.

Hari ini, tidak ada bagian dari Arka yang bergerak ke arahnya.

"Tiga tahun," ulang Arka pelan. "Tiga tahun kamu menghapus semua teman perempuanku, membuatku berhenti basket, dan menjadikanku budakmu. Itu bukan cinta. Itu manipulasi."

Koridor mendadak sunyi.

Seseorang di belakang Viona menurunkan ponselnya sedikit, lalu menaikkannya lagi.

Wajah Viona memucat. "Aku... aku cuma takut kehilangan kamu."

"Kamu takut kehilangan orang yang bisa kamu kendalikan."

"Bukan begitu."

"Begitu."

Satu kata itu memotong semua ruang pembelaan.

Viona menggigit bibir. Matanya mulai merah, tetapi Arka tidak mengulurkan tisu, tidak bertanya apakah ia baik-baik saja, tidak melakukan satu pun kebiasaan lama yang selama ini membuat Viona yakin ia selalu punya jalan kembali.

"Setelah semua yang kamu lakukan," lanjut Arka, "kamu pergi bersama Revano di depan kampus. Kamu bilang aku gak punya masa depan. Kamu benar dalam satu hal."

Viona mengangkat wajah.

"Masa depan yang dulu kamu bayangkan untukku memang tidak ada lagi."

Ada bisik-bisik tertahan di sekitar mereka.

Kalimat itu tidak terdengar seperti rayuan balik. Tidak juga seperti kemarahan yang masih berharap dimengerti. Itu terdengar seperti pintu yang ditutup dari dalam, lalu kuncinya dipatahkan.

Viona mulai panik.

"Arka, dengar dulu. Aku tidak tahu kamu sedang sesulit itu. Aku pikir kamu cuma..."

"Cuma apa?"

Ia terdiam.

Cuma gagal.

Cuma miskin.

Cuma beban.

Semua kata itu berputar di matanya, tetapi ia tidak berani mengucapkannya karena kini orang-orang mendengar.

Arka tersenyum tipis, tanpa hangat. "Kamu tidak perlu menjawab. Aku sudah dengar versi itu selama tiga tahun."

"Aku bisa berubah."

"Bagus. Berubahlah untuk dirimu sendiri. Jangan bawa aku."

Ia hendak berjalan melewati Viona ketika suara keras datang dari ujung koridor.

"Woi!"

Revano muncul dengan dua teman di belakangnya. Wajahnya tegang, rambutnya sedikit berantakan, seolah ia datang terburu-buru setelah mendapat kiriman video. Matanya langsung jatuh ke Viona yang hampir menangis, lalu ke Arka yang berdiri tenang.

"Jauhi pacarku," bentak Revano.

Viona menoleh. "Revano, jangan..."

Revano tidak mendengar. Atau tidak mau mendengar.

Setelah Phantom, setelah video Nala, setelah komentar satu kampus tentang Porsche miliknya yang kalah kelas, ia membutuhkan sesuatu untuk dikembalikan. Paling mudah adalah harga diri. Paling cepat adalah kekerasan kecil di depan orang banyak.

Ia maju dan mengayunkan tinju ke arah wajah Arka.

Beberapa mahasiswa berteriak.

Viona menutup mulut.

Dimas yang baru naik tangga membawa dua botol minum membeku di tempat. "Lah, ini orang cari perkara gratis?"

Tinju Revano tidak sampai.

Tangan Arka naik dengan gerakan pendek.

Ia menangkap pergelangan Revano di udara.

Pukulan itu berhenti total, seperti tertahan pintu besi tak terlihat.

Revano mencoba menarik.

Tidak bergerak.

Ia mencoba mendorong dengan bahu.

Tetap tidak bergerak.

Warna wajahnya berubah. Dari merah marah menjadi pucat. Otot di lengannya menegang, tetapi jari Arka tidak bergeser sedikit pun. Di mata orang lain, Arka bahkan terlihat belum menggunakan tenaga.

"Lepas," desis Revano.

Arka menatapnya. "Kau datang untuk membela pacarmu, atau untuk menutup rasa malumu sendiri?"

"Kau pikir karena punya mobil mahal, kau bisa sok?"

"Aku tidak bicara soal mobil."

Cengkeraman Arka sedikit menguat.

Tidak sampai merusak. Tidak sampai membuat tulang berbunyi. Cukup untuk membuat Revano sadar bahwa batas antara rasa sakit dan cedera ada sepenuhnya di tangan Arka.

Napas Revano tersangkut.

Teman-temannya yang semula ingin maju berhenti bersamaan.

Arka mendekat setengah langkah. Suaranya rendah, hanya cukup terdengar oleh mereka yang berada di barisan depan.

"Kau boleh pamer Porsche. Kau boleh pamer uang. Kau boleh pamer pacar yang kau ambil dari orang lain." Matanya dingin. "Tapi jangan coba pakai tanganmu untuk menyentuhku."

Revano menggertakkan gigi. "Kau..."

Arka melepaskannya.

Revano mundur satu langkah, memegang pergelangan tangannya sendiri. Tidak luka. Tidak patah. Justru itu membuat rasa malunya lebih telanjang. Ia tidak bisa menuduh Arka menganiaya. Semua orang melihat Arka hanya bertahan.

Dan semua orang juga melihat siapa yang kalah.

Arka merapikan lengan kemejanya.

"Tanganmu terlalu lemah."

Kalimat itu pendek.

Tetapi wajah Revano seperti ditampar di depan satu koridor.

Dimas di belakang menutup mulut dengan botol minum, jelas berusaha keras tidak tertawa. Beberapa mahasiswa sudah menyimpan video. Satu komentar terdengar dari sisi kiri.

"Dia bahkan gak balas pukul."

"Revano yang mulai."

"Gila, Arka sekarang beda banget."

Viona berdiri di tengah semua suara itu, tubuhnya kaku.

Ia melihat Revano yang memegang pergelangan tangan sendiri. Melihat dua temannya yang tidak berani maju. Melihat Arka yang tidak menunggu permintaan maaf, tidak menunggu penjelasan, bahkan tidak menunggu dirinya memanggil lagi.

Arka berjalan pergi.

Dimas buru-buru menyusul, masih membawa dua botol minum. "Bro, gue beli yang dingin. Tapi kayaknya koridor tadi udah cukup dingin."

"Minumnya satu."

"Yang satu buat gue. Gue hampir kena serangan jantung sosial."

Langkah mereka menjauh.

Kerumunan perlahan pecah, tetapi tidak ada yang benar-benar lupa. Video sudah terlanjur masuk grup. Nama Arka kembali naik. Penyebabnya jelas: Revano mencoba memukulnya dan gagal bahkan sebelum menyentuh.

Viona masih berdiri di tempat.

Ponselnya bergetar. Revano memanggil namanya, marah dan malu, tetapi suaranya terdengar jauh.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Viona tidak punya ruang untuk menyangkal.

Arka benar-benar sudah pergi dari hidupnya.

Dan sesuatu yang sudah ia buang sendiri, ternyata tidak bisa dibeli kembali dengan uang, air mata, atau penyesalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!