Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Akad Nikah
Pagi akad datang bersama suara orang-orang yang bergerak pelan agar tidak merusak kekhidmatan.
Bik Inah memeriksa hidangan. Kinan merapikan ujung kerudung Laras untuk ketiga kalinya. Bulik Endah memastikan buku nikah, salinan dokumen, dan cincin berada di tempatnya. Di ruang depan, suara lelaki mengucapkan salam dan kursi digeser.
Laras duduk di depan cermin dengan kedua tangan di pangkuan.
Kebaya putih yang semalam hanya kain kini terasa seperti penanda bahwa tidak ada jalan kembali ke hidup yang sama. Bukan karena ia terjebak. Karena ia sudah memilih melangkah ke depan.
"Mbak gugup?" tanya Kinan.
"Tanganku dingin?"
Kinan menyentuhnya. "Seperti es."
"Berarti gugup."
Bu Rahayu masuk dan menempelkan telapak tangan ke pipi Laras. "Tarik napas. Tidak ada yang harus kamu buktikan hari ini."
"Aku takut suaraku tidak keluar saat ditanya."
"Kalau begitu tunggu sampai keluar. Tidak ada yang akan menjawab atas namamu."
Kalimat itu membuat Laras mampu menghirup udara lebih dalam.
***
Majelis akad diadakan sederhana di ruang utama rumah yang terhubung dengan teras. Penghulu duduk bersama wali hakim, Bram, dan dua saksi. Pak Hardjono berada di sisi keluarga, mengenakan beskap modern berwarna gelap. Mas Bas duduk tak jauh dari Bram.
Bram memakai busana putih bersih dengan kain batik. Punggungnya tegak, tetapi jarinya sempat mengepal satu kali sebelum diletakkan kembali di atas lutut.
Mas Bas mencondongkan tubuh. "Gugup?"
"Tidak."
"Jari kamu bilang sebaliknya."
Bram menatap kakaknya. Kalimat itu terdengar terlalu mirip ucapan Laras.
Mas Bas tersenyum. "Bagus. Berarti kamu sadar ini penting."
Penghulu membuka acara setelah semua siap. Ia menyampaikan nasihat singkat tentang tanggung jawab, penghormatan, dan rumah tangga yang dibangun dua orang, bukan panggung kekuasaan salah satu pihak.
Laras dibawa masuk ketika waktunya memastikan persetujuan. Suasana mendadak terasa jauh lebih besar daripada ruangan itu.
"Saudari Larasati Purnama," kata penghulu dengan tenang, "apakah Saudari bersedia menikah dengan Saudara Bramantya Adiprawira atas kemauan sendiri?"
Semua suara lain seolah hilang.
Laras melihat Bram. Lelaki itu tidak mengangguk, tidak memberi isyarat agar ia menjawab. Ia hanya menunggu, seperti pagi di kamar 302 ketika meminta nama Laras sebelum mengambil keputusan apa pun.
"Saya bersedia," jawab Laras jelas.
Udara kembali masuk ke ruangan.
Bu Rahayu menekan saputangan ke bibir. Kinan tersenyum lebar. Pak Hardjono menunduk sebentar, menyembunyikan emosi di wajahnya.
Laras duduk di tempat yang telah disiapkan. Wali hakim dan Bram berhadapan. Tangan mereka berjabat mantap.
Mahar disebutkan sesuai kesepakatan. Perlengkapan kerja bukan sekadar barang, melainkan pengakuan pada jalan hidup yang ingin Laras bangun. Cincin sederhana diletakkan bersama dokumen, tidak dipamerkan berlebihan.
Penghulu mengingatkan Bram agar mengucapkan kabul jelas dalam satu rangkaian.
Bram mengangguk.
Sebelum kalimat dimulai, ia sempat menatap Laras. Tidak ada senyum nakal, tidak ada sikap komandan. Hanya seorang lelaki yang memahami bahwa beberapa detik berikutnya akan mengubah tanggung jawab yang ia pilih menjadi ikatan sah.
Wali hakim mengucapkan ijab.
Bram menjawab dengan suara mantap. Tidak terbata, tidak terlalu cepat. Nama Laras disebut lengkap, disertai mahar yang telah disepakati.
Satu napas.
Satu keputusan.
Kedua saksi saling memandang, memastikan tidak ada kata yang salah.
"Sah," ujar saksi pertama.
"Sah," sahut saksi kedua.
Doa mengalir dari ruangan. Beberapa orang mengucap alhamdulillah. Gilang yang duduk di belakang hampir bersorak, tetapi Bulik Endah menahan bahunya.
Laras baru menyadari air mata mengalir ketika Bu Rahayu menyekanya.
"Sudah sah, Nak," bisik ibunya.
Bram melepaskan jabatan tangan dan mengembuskan napas yang sejak tadi ditahan. Untuk pertama kalinya pagi itu, senyum muncul jelas di wajahnya.
***
Penandatanganan dilakukan setelah doa.
Laras membaca setiap bagian buku nikah sebelum menandatangani. Bram menunggu tanpa menggoda. Pak Hardjono dan para saksi menandatangani bagian mereka. Penghulu menyerahkan buku nikah kepada pasangan tersebut dan mengingatkan agar disimpan baik.
Bram menyerahkan buku milik Laras langsung kepadanya.
"Pegang sendiri," katanya pelan.
Ia tahu betapa besar arti tindakan itu. Identitas, buku nikah, dan dokumen hidup Laras tidak akan disimpan sebagai alat kendali oleh siapa pun.
Laras menerimanya dengan tangan gemetar. "Terima kasih."
"Jangan terima kasih dulu. Saya belum melakukan apa-apa."
"Kamu baru menikahiku."
"Itu untuk saya juga."
Kinan mendekat membawa cincin. Setelah penghulu memastikan acara pokok selesai, Bram memasangkannya ke jari Laras. Gerakannya hati-hati, nyaris khidmat.
Laras melakukan hal yang sama. Cincin Bram sedikit sulit melewati ruas jarinya.
"Jangan dipaksa," bisik Bram.
"Diam. Ini tantangan pertama rumah tangga."
Tawa kecil pecah di sekitar mereka, cukup untuk melonggarkan suasana tanpa mengurangi kesakralan yang baru dilalui.
Pak Hardjono menjadi orang pertama yang mendekat setelah semua berkas dirapikan. Ia menyalami Bram, lalu menaruh telapak tangan di bahu putranya.
"Akad bukan akhir perjuanganmu mendapatkan istri," katanya. "Ini awal kewajibanmu menghormatinya setiap hari."
"Saya paham, Bapak."
Pak Hardjono lalu menghadap Laras. Untuk sesaat, wibawa pensiunan brigjen itu lenyap di balik mata seorang ayah.
"Kalau Bram keras kepala, jangan diam. Katakan kepadanya. Kalau dia tetap tidak mendengar, katakan kepada saya."
"Bapak memihak siapa?" protes Bram.
"Kebenaran. Hari ini kebetulan kemungkinan besar bukan kamu."
Mas Bas tertawa paling keras. Bu Rahayu menegurnya karena majelis belum benar-benar dibubarkan.
Bu Rahayu memeluk Laras berikutnya. "Selamat datang, anakku."
Kata itu menembus lebih dalam daripada ucapan selamat mana pun. Laras membalas pelukannya, kali ini tanpa menahan kekuatan.
Kinan dan Gilang menunggu giliran. Kinan sudah menangis, sedangkan Gilang membawa ponsel untuk foto keluarga.
"Sekali saja," kata Bulik Endah. "Setelah itu beri pengantin waktu bernapas."
Mereka berbaris di depan dinding bunga sederhana. Laras berdiri di antara Bram dan Bu Rahayu. Ketika kamera menghitung mundur, Bram mencondongkan kepala.
"Masih ingin lari?" bisiknya.
Laras tersenyum ke arah kamera. "Sekarang kalau lari, aku bawa buku nikah dan separuh gajimu."
"Berarti kamu tetap bersamaku."
Kilatan kamera menangkap senyum Bram yang jarang terlihat.
Setelah foto, Bram meminta izin dengan tatapan sebelum menyentuh kening Laras. Laras mengangguk kecil. Ia mengecup keningnya singkat, penuh hormat, di depan keluarga yang mengaminkan doa baik untuk mereka.
Tidak ada gairah dalam sentuhan singkat itu, hanya janji diam bahwa kedekatan mereka mulai hari ini akan selalu meminta izin dan kesediaan keduanya dengan sadar penuh.
Ketika Laras mengangkat wajah, ia melihat satu ruangan penuh orang yang kini terhubung kepadanya bukan oleh rasa kasihan, melainkan keputusan, saksi, agama, dan hukum.
Penghulu mengetuk meja ringan untuk mengembalikan perhatian semua orang.
"Sah!"
Mata Laras berkaca saat menatap Bram.