NovelToon NovelToon
Suami Rahasia Pilihan Kakek

Suami Rahasia Pilihan Kakek

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Pengantin Pengganti / Pernikahan Kilat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:630.1k
Nilai: 4.5
Nama Author: Sri Wahyuni

"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""

Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.

Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!

Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18 - Tagihan Yang Harus Dibagi

Kakek Hadi melewati malam pertama dengan stabil.

Safira baru bisa bernapas sedikit lega saat dokter pagi mengatakan tidak ada pendarahan yang memburuk. Namun observasi tetap harus dilanjutkan, dan terapi fisik mungkin diperlukan setelah pulang karena tubuh Kakek makin lemah.

Ratna datang pukul sepuluh membawa bubur dari rumah.

Bukan untuk Safira.

Untuk Kakek, katanya.

Begitu melihat Arga masih berada di kamar, Ratna langsung menata wajah ramah.

"Mas Arga masih di sini? Aduh, merepotkan sekali. Harusnya Safa bilang, Mama bisa jaga."

Safira sedang merapikan selimut Kakek. Ia berhenti.

"Mama pulang semalam."

"Mama pusing."

"Aku juga."

Ratna tersinggung. "Kamu muda."

Safira menatap ibunya. "Karena muda, aku tidak bisa capek?"

Ratna melirik Arga, malu karena dibantah di depan menantu. "Mama tidak bilang begitu."

Arga menutup laptopnya. "Bu, dokter akan menjelaskan perawatan lanjutan siang ini. Sebaiknya keluarga inti hadir."

"Iya, tentu. Nanti Papa Safa datang."

"Kevin dan Rania juga."

Ratna tertawa canggung. "Mereka sibuk."

Safira menoleh. "Kakek juga keluarga mereka."

"Safa, jangan mulai lagi."

"Aku belum mulai, Ma. Aku hanya minta semua orang berbagi tanggung jawab."

Ratna meletakkan rantang dengan gerakan agak keras. "Kamu sekarang gampang sekali bicara tanggung jawab sejak ada suami."

"Karena dulu kalau aku bicara sendiri, tidak ada yang dengar."

Ratna membeku.

Arga tidak ikut campur. Tapi kehadirannya cukup membuat Ratna tidak berani memarahi Safira seperti biasa.

Siang itu, Bambang datang. Rania datang dengan riasan lengkap karena setelah itu ia harus menghadiri meeting. Kevin datang paling akhir, memakai hoodie dan earphone menggantung di leher.

Dokter menjelaskan kondisi Kakek. Harus ada yang mengawasi obat, jadwal kontrol, makanan, risiko jatuh, dan terapi. Kamar mandi rumah perlu dipasangi pegangan. Lantai licin harus diganti atau diberi alas anti-slip.

Safira mencatat semuanya.

Rania melihat kuku jarinya.

Kevin membuka ponsel.

Bambang mengangguk-angguk tanpa benar-benar menyerap.

Setelah dokter pergi, Safira menutup buku catatan.

"Kita perlu jadwal jaga."

Ratna langsung berkata, "Kamu paling dekat dengan Kakek. Kakek juga paling nurut sama kamu."

"Aku bisa jaga beberapa malam. Tapi bukan semua."

Rania mengangkat wajah. "Aku minggu ini penuh."

"Minggu depan?"

"Lihat nanti."

"Kevin?"

Kevin melepas earphone. "Aku ada kelas."

"Kelasmu dua puluh empat jam?"

"Kak, aku tidak bisa urus orang sakit. Aku takut."

Safira menatap adiknya. "Aku dulu juga takut waktu pertama kali Kakek lupa jalan pulang. Tapi aku belajar."

Kevin diam.

Bambang berdeham. "Safa, jangan keras. Nanti kita cari perawat."

"Bagus. Biayanya kita bagi."

Ratna langsung tegang. "Biaya rawat inap saja belum jelas."

Safira mengambil map dari tas. Di dalamnya ada bukti deposit yang dibayar Arga, estimasi rawat inap, biaya dokter, obat, dan kemungkinan terapi.

"Ini semua biaya sampai hari ini. Mas Arga membayar deposit karena keadaan darurat. Setelah ini, kita bagi sesuai kemampuan."

Rania tertawa kecil. "Jadi kamu menagih keluarga sendiri?"

"Aku membagi tanggung jawab keluarga sendiri."

"Kamu kan sudah dapat suami dari keluarga Kusuma. Kenapa masih perhitungan?"

Arga mengangkat pandangan.

Safira lebih dulu menjawab, "Karena Kakek bukan hanya kakekku setelah aku menikah."

Bambang terlihat malu. Ia mengambil kertas, membaca angka, lalu berkata, "Papa akan transfer sebagian."

Ratna menatapnya. "Bambang."

"Ini ayah saya," kata Bambang pelan.

Safira menatap papanya. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa sedikit dihargai.

Rania menghela napas. "Aku bisa bantu sedikit, tapi jangan sekarang. Cash flow butik lagi berat."

"Kakak baru beli tas."

Wajah Rania memerah. "Itu urusanku."

"Kakek juga urusanmu."

Kevin bergumam, "Aku belum punya uang."

"Kamu bisa jaga satu malam."

"Kak!"

"Kalau tidak bisa uang, pakai waktu."

Kevin menatap Ratna, berharap dibela. Ratna membuka mulut, tetapi Arga berkata lebih dulu.

"Itu adil."

Dua kata itu membuat pembicaraan selesai.

Ratna tidak suka, tetapi ia tidak punya argumen yang terdengar pantas.

Malam itu, jadwal jaga dibuat. Safira dua malam, Bambang satu malam, Rania satu sore sampai malam, Kevin satu sore dengan perawat pendamping. Ratna mengawasi makanan dan obat saat siang.

Tidak sempurna.

Tapi untuk pertama kalinya, tanggung jawab tidak seluruhnya jatuh ke bahu Safira.

Setelah keluarga Santoso pulang, Safira berdiri di koridor rumah sakit sambil memegang map biaya. Arga datang membawa kopi.

"Kamu hebat tadi."

"Aku gemetar."

"Tidak terlihat."

"Karena aku menahan."

Arga menyerahkan kopi. "Menahan juga butuh tenaga."

Safira menerima. "Aku takut mereka menganggap aku kejam."

"Mereka akan menganggap apa pun yang membuat mereka tidak nyaman sebagai kejam."

Safira tertawa kecil. "Kamu tajam sekali."

"Saya hanya jujur."

Mereka duduk di kursi koridor. Dari dalam kamar, suara Kakek terdengar pelan bicara dengan perawat.

"Mas Arga," kata Safira, "aku akan mengganti uang depositmu."

"Tidak perlu buru-buru."

"Tetap harus dicatat."

"Sudah saya catat."

Safira menatapnya. "Kamu catat?"

Arga mengeluarkan ponsel, menunjukkan catatan sederhana: tanggal, biaya deposit, biaya obat, biaya makan, dan kolom `dibicarakan dengan Safa`.

Safira terdiam.

"Saya tahu kamu tidak suka bantuan yang tidak jelas," kata Arga. "Jadi saya buat jelas."

Safira menatap catatan itu lama.

Ia tidak tahu kenapa hal sekecil itu membuat matanya panas.

Mungkin karena di keluarganya, uang selalu menjadi alat untuk membuatnya merasa berutang. Hari ini, Arga membuat uang menjadi sesuatu yang bisa dibicarakan tanpa merendahkannya.

"Terima kasih."

"Kamu masih boleh berterima kasih untuk hal yang satu ini."

Safira tersenyum.

Ponsel Ratna berdering di tangan Safira. Ibunya meninggalkan ponsel di kamar Kakek. Nama Rania muncul, pesan pratinjau terlihat:

`Ma, Safa sengaja bikin kita bayar supaya uangnya tidak habis buat suami miskinnya.`

Senyum Safira hilang.

Arga juga membaca.

Udara di koridor mendadak dingin.

"Jangan dibalas," kata Arga pelan.

"Aku tidak akan."

"Bagus."

Safira mematikan layar ponsel.

Namun malam itu, sesuatu di dalam dirinya berubah lagi.

Kalau mereka masih menganggap ia mengambil dari keluarga untuk suaminya, maka ia akan memastikan semua catatan lebih rapi, semua bukti lebih jelas, dan tidak ada satu pun ruang bagi mereka untuk memutarbalikkan cerita.

Ia bukan lagi anak perempuan yang bisa dituduh diam-diam lalu menangis di dapur.

Ia istri.

Ia desainer.

Dan ia cucu Kakek Hadi yang paling tahu siapa saja yang benar-benar tinggal ketika orang tua itu sakit.

Keesokan paginya, Safira membuat grup WhatsApp baru.

Namanya singkat: `Perawatan Kakek Hadi`.

Anggotanya hanya Bambang, Ratna, Rania, Kevin, Safira, dan perawat harian yang direkomendasikan rumah sakit. Ia mengirim jadwal obat, jadwal kontrol, daftar biaya, foto struk, dan pembagian tugas mingguan.

Ratna membalas pertama.

`Kenapa harus pakai grup segala?`

Safira mengetik tanpa ragu.

`Supaya semua jelas dan tidak ada yang lupa.`

Kevin mengirim stiker pusing.

Rania hanya membaca.

Bambang membalas, `Baik. Papa transfer bagian Papa sore ini.`

Safira menatap pesan itu lama. Tidak sempurna, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa sistem bisa memaksa orang mengambil posisi.

Arga membaca dari samping. "Bagus."

"Aku terdengar seperti admin galak?"

"Admin yang diperlukan."

"Mama pasti kesal."

"Mungkin."

"Kamu tenang sekali."

"Karena kamu tidak melakukan hal yang salah."

Safira mengunci layar ponsel.

Ia tahu konflik belum selesai. Keluarganya pasti akan mencari cara baru untuk membuatnya merasa bersalah. Tetapi sekarang setiap tugas punya nama, setiap biaya punya bukti, dan setiap kelalaian tidak bisa lagi disembunyikan di balik kalimat `Safa saja yang urus`.

Itu kemenangan kecil.

Dan kemenangan kecil tetap kemenangan.

Sore itu, Bambang benar-benar mengirim bukti transfer ke grup. Nominalnya tidak menutup semua biaya, tetapi cukup besar untuk ukuran kebiasaan keluarga Santoso yang biasanya membiarkan Safira menalangi dulu.

Ratna tidak mengomentari.

Rania hanya menulis, `Nanti aku cek jadwal.`

Kevin bertanya apakah menjaga Kakek bisa diganti dengan membayar separuh perawat.

Safira menjawab, `Bisa. Transfer sebelum Jumat.`

Arga yang membaca pesan itu mengangguk puas.

"Kamu cocok jadi direktur operasional."

"Aku cuma cucu yang capek."

"Banyak direktur juga begitu."

Safira menatapnya curiga. "Kamu bicara dari pengalaman?"

Arga mengambil gelas minum. "Dari pengamatan."

"Hmm."

Pertanyaan tentang pekerjaan Arga kembali muncul, tetapi Safira menahannya.

Hari ini ia ingin menikmati satu hal dulu: untuk pertama kalinya, keluarga Santoso mengikuti aturan yang ia buat.

1
Maria Tri Rahayu
kemungkinan maya bukan anan dimas dong
Maria Tri Rahayu
berarti safira anaknya ratih
Mimin Rosmini
mulai sekarang jadilah dirimu sendiri ya safa
Mimin Rosmini
arga berasal dari keluarga baik.tidak seperti keluarga safira yg toxic
Maria Tri Rahayu
sebaiknya Arga jujur soal dirinya pada safira
Mimin Rosmini
safira sayang ..berdoa dan berusaha itu tugas seorang muslim.. hasilnya Allah yg menentukan..sabar ya safa sayang
Mimin Rosmini
ini keluarga toxic banget ya
Mimin Rosmini
sebetulnya .safira anak kandung atau siapa?ko bisa diperlakukan seperti ke anak tiri?
Mimin Rosmini
yah ..belum apa apa sudah menilai orang hanya tampilan luarnya saja
Maria Tri Rahayu
menikah 3 bulan blm ketemu keluarga suaminya
Maria Tri Rahayu
suami istri apa- apa harus bayar patungan, safira sikapnya kaku pada suaminya.
Rosdianah Rosi
kok tiba2 hamil 😄pegang tangan sj TDK 💪
Rosdianah Rosi
kembali ke Bambang outhor🙏
Komang Indrayani
kok jadi kakak ya? bukannya rayhan pamannya? kakak ibunya. rafi adik ibunya?
Tismar Khadijah
nama ayahnya kok jd nama mantan🤭
Tismar Khadijah
tinggal dikontrakan apa apart y🤭
Tismar Khadijah
autohor kurang konsisten, bentar safa berhijab eh besoknya rambut diiket🤭
Shaa Erahh
kenapa bapa nya dimas jadinya.kan dimas tu mantan safira calon rania sekarang..bapa nya bambang sentoso...
Adinda Rahmadinah
keren
wahida nurusshobah
/Shy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!