Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Kamu Terlihat Gugup
"Duduk sebentar?"
Naomi mendengar kalimat itu dengan jelas, tapi tubuhnya tidak langsung bergerak. Di antara suara musik rendah dari sudut ruangan dan tawa beberapa orang di sofa lain, suara Kelvin Hartono tetap paling mudah ditangkap.
Mungkin karena ia sudah terlalu lama terbiasa mencari suara itu di kepalanya sendiri.
Danny mengangkat alis, lalu menyenggol salah satu temannya dengan ekspresi usil. "Wah. Tumben."
Kelvin menoleh sedikit. "Danny."
"Iya, iya. Gue diam." Danny mengangkat kedua tangan, tapi senyumnya tidak hilang.
Naomi menggenggam tali tote bag. Ia ingin menolak dengan sopan, mengucapkan terima kasih, lalu keluar dari tempat itu sebelum napasnya semakin tidak beraturan. Namun cara Kelvin menatapnya membuat semua kalimat yang sudah ia susun rapi di kepala menjadi kusut.
"Saya..." Naomi menelan ludah. "Saya harus pulang. Sudah malam."
"Ke mana?"
Pertanyaan itu pendek sekali.
Naomi hampir menjawab Tebet.
Hampir.
Lalu ia teringat sepatu kusamnya, kamar kos dengan lampu berkedip, suara Ibu kos yang bisa berteriak hanya karena charger laptop. Ia teringat security di bawah yang menilai pakaiannya dari ujung kepala sampai kaki, dan ruangan VIP ini yang bahkan udaranya terasa terlalu mahal untuk ia hirup lama-lama.
"Asrama," jawab Naomi.
Kelvin diam sebentar. "Asrama kampus?"
Naomi mengangguk.
Danny yang tadinya pura-pura sibuk dengan ponsel melirik sekilas, tapi tidak bicara.
Kelvin mengambil kunci mobil dari meja. "Aku antar."
"Tidak perlu." Jawaban Naomi keluar terlalu cepat. "Saya bisa naik ojek online."
"Sudah malam."
"Masih ada..."
"Naomi."
Namanya diucapkan datar, tapi cukup membuat ia berhenti.
Kelvin sudah berjalan ke arah pintu. Tidak bertanya lagi. Tidak menunggu persetujuan seperti orang biasa. Seolah di dunianya, keputusan yang keluar dari mulutnya otomatis menjadi jalan yang harus dibuka.
Naomi berdiri kaku beberapa detik sebelum akhirnya mengikuti.
Di lift, mereka hanya berdua. Pantulan kaca memperlihatkan Kelvin berdiri santai dengan satu tangan di saku celana, sementara Naomi berdiri terlalu tegak di sampingnya. Jarak mereka tidak dekat, tapi aroma sabun dan sedikit dingin dari tubuh Kelvin tetap sampai padanya.
Naomi menatap angka lantai yang turun perlahan.
Delapan.
Tujuh.
Enam.
Jantungnya seperti ikut turun, tapi bukan ke tempat yang aman.
Di lobi, seorang staf membukakan pintu. Hujan sudah berhenti, namun aspal masih basah. Mobil hitam Kelvin berhenti di depan pintu utama, rendah dan mengilap, seperti bagian dari dunia lain yang tidak boleh disentuh sembarangan.
Kelvin membuka pintu penumpang.
Naomi membeku.
"Masuk."
Ia masuk.
Mobil itu sunyi. Bukan sunyi kosong, melainkan sunyi mahal. Jok kulitnya dingin di bawah telapak tangan Naomi. Lampu kota Jakarta mengalir di kaca, membuat wajahnya sendiri terlihat samar dan gugup.
Kelvin duduk di kursi pengemudi, menyalakan mesin, lalu meliriknya.
"Sabuk."
"Oh." Naomi cepat-cepat menarik seatbelt. Tangannya sempat salah mencari pengait, membuat bunyi kecil yang memalukan.
Kelvin tidak tertawa.
Justru itu membuat Naomi semakin malu.
Mobil meluncur keluar dari SCBD. Jalanan basah memantulkan lampu gedung tinggi, lampu merah, dan papan iklan. Di luar, orang-orang masih bergerak seperti biasa, tapi di dalam mobil ini, waktu terasa tertahan di antara napas yang terlalu hati-hati.
"Alamat asrama?"
Naomi menyebut nama gerbang asrama putri Universitas Nusantara. Syukurlah ia tahu letaknya. Beberapa teman sekelas pernah tinggal di sana pada semester awal, dan ia pernah mengantar tugas kelompok sampai depan lobby.
Kelvin memasukkan tujuan ke navigasi. Tidak ada komentar.
Naomi menyatukan kedua tangan di atas pangkuan. Ia duduk begitu tegak sampai punggungnya pegal.
Kelvin meliriknya dari sudut mata. "Kamu terlihat gugup."
"Tidak."
Jawaban itu bahkan tidak terdengar meyakinkan bagi dirinya sendiri.
"Pernah melihat sesuatu," lanjut Kelvin, suaranya rendah, "atau mendengar sesuatu?"
Naomi menoleh terlalu cepat.
Kelvin tetap melihat jalan, seolah pertanyaan itu hanya percakapan ringan. Namun tangan Naomi yang berada di pangkuan langsung mengepal.
Sesuatu?
Mendengar sesuatu?
Hujan di masa SMA mendadak muncul lagi di kepalanya. Mobil hitam. Pos satpam. Pria yang ditahan dua orang berbadan besar. Mata Kelvin yang dingin di balik kaca mobil.
Ia ingat.
Terlalu ingat.
Tapi ia tidak tahu apakah hal itu boleh diingat di depan pemiliknya.
"Tidak," jawab Naomi, kali ini lebih pelan. "Saya cuma... tidak terbiasa naik mobil seperti ini."
Kelvin diam.
Naomi menggigit bagian dalam pipi. Ia takut Kelvin bisa mendengar kebohongannya dari cara napasnya tersangkut.
"Mobil seperti ini?" tanyanya akhirnya.
Naomi menatap dashboard yang bersih dan rapi. "Mobil yang kalau saya salah pegang, rasanya saya harus ganti rugi seumur hidup."
Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Kelvin bergerak sedikit.
Bukan senyum penuh. Hanya retakan kecil di wajah dinginnya.
"Kamu tidak akan sanggup."
Naomi menunduk. "Saya tahu."
"Jadi jangan dirusak."
Kalimat itu terdengar seperti ancaman, tapi nada Kelvin terlalu datar untuk benar-benar marah. Naomi tidak tahu kenapa dadanya justru terasa lebih ringan. Mungkin karena setelah itu, sunyi di antara mereka tidak lagi setajam tadi.
Mobil berhenti di depan gerbang asrama putri kampus hampir tiga puluh menit kemudian.
Naomi membuka seatbelt terlalu cepat. "Terima kasih sudah mengantar."
Kelvin menatap gedung asrama di balik pagar. "Kamu tinggal di sini?"
"Iya."
Kebohongan kedua selalu lebih mudah daripada yang pertama, tapi rasa bersalahnya juga lebih dalam.
Kelvin tidak langsung menjawab. Matanya bergerak dari gerbang, pos keamanan, lalu kembali ke wajah Naomi.
"Masuk."
Naomi mengangguk. Ia turun dari mobil, menutup pintu dengan hati-hati, lalu berjalan menuju gerbang. Kebetulan dua mahasiswi keluar dari dalam sambil membawa kantong laundry. Saat pintu akses terbuka, Naomi cepat-cepat ikut masuk setelah menyapa security dengan senyum gugup.
Ia tidak berani menoleh.
Di lobby asrama, Naomi berdiri di balik pilar selama hampir lima menit. Dari kaca samping, ia melihat mobil hitam Kelvin masih terparkir di luar.
Kenapa belum pergi?
Jantung Naomi kembali berantakan.
Ia pura-pura membuka ponsel, padahal layar itu hanya menampilkan aplikasi Gojek yang belum ia pesan. Baru setelah lampu belakang mobil Kelvin menghilang di ujung jalan, Naomi mengembuskan napas panjang.
Kakinya terasa lemas.
"Mbak, mau naik?" tanya security asrama.
Naomi tersenyum kaku. "Saya cuma menunggu teman. Ternyata dia tidak jadi turun."
Alasan itu buruk.
Tapi malam itu, security hanya mengangguk karena lebih sibuk menonton pertandingan bola dari ponsel.
Naomi keluar lewat gerbang samping, berjalan sampai titik jemput ojek online yang lebih sepi, lalu memesan motor menuju Tebet. Angin malam menampar wajahnya sepanjang perjalanan. Jakarta setelah hujan berbau tanah basah, bensin, dan gorengan pinggir jalan.
Semua itu lebih akrab daripada aroma kulit mahal di mobil Kelvin.
Saat sampai di kos, jam hampir tengah malam. Lorong sempit sudah gelap. Naomi membuka pintu kamar dengan pelan, melepas sepatu, lalu duduk di lantai tanpa menyalakan lampu utama.
Di dalam tote bag, ia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Kaleng es kola.
Naomi tertegun.
Mungkin Danny memasukkannya saat ia tidak memperhatikan. Mungkin staf klub. Mungkin Kelvin. Ia tidak tahu.
Kaleng itu masih dingin, walau tidak sedingin saat baru keluar dari kulkas. Naomi membuka tutupnya. Bunyi desis kecil memenuhi kamar kos yang sempit.
Ia meneguk sedikit.
Manis. Dingin. Menusuk tenggorokan.
Naomi menaruh kaleng itu di meja, lalu tanpa sadar menyentuh embun air yang turun di permukaannya. Ujung jarinya bergerak pelan, mengikuti garis basah yang terbentuk.
Ponselnya menyala.
"Pengingat: cicilan berikutnya jatuh tempo dalam 7 hari."
Cahaya layar mengenai kaleng merah di meja.
Naomi menatap keduanya lama sekali.
Satu kaleng es kola bisa menjadi tanda seseorang pernah duduk di sebelahnya.
Dan satu pesan tagihan cukup untuk mengingatkan bahwa dunianya tetap berada jauh di bawah sana, di kamar kos dengan lampu berkedip dan pintu yang harus dikunci dua kali sebelum tidur.