NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 - Tamparan realita dari masa lalu

Larissa melangkah turun dari taksi, hari ini adalah hari penandatanganan kontrak. Dia mengenakan pakaian kerja terbaik yang dia miliki, sebuah blus brokat berwarna biru dongker yang dipadukan dengan rok span hitam di bawah lutut.

Pakaian itu bersih, rapi, dan disetrika dengan sangat licin. Tapi di tengah kepungan gaun desainer Prancis dan setelan jas Italia seharga puluhan juta yang berseliweran di lobi, pakaian Larisa tetap terlihat sangat sederhana.

Meskipun demikian, cara Larissa berjalan telah berubah total. Tidak ada lagi bahu yang merosot lesu atau pandangan mata yang selalu menunduk takut.

Larissa melangkah dengan punggung tegak, dagu terangkat, dan sepasang manik mata gelap yang memancarkan ketenangan.

Di tangan kanannya, dia menggenggam nota resmi berhologram emas yang diberikan oleh Direktur Utama anak perusahaan Megah Corp kemarin, kunci emasnya untuk membuka pintu ruangan CEO utama.

Sementara itu di sudut lain lobi yang luas, atmosfer ketegangan yang berbeda sedang terjadi di depan meja resepsionis utama yang terbuat dari bongkahan marmer hitam utuh.

Bram Baskoro berdiri di sana dengan wajah yang memerah menahan berang dan malu. Mengenakan setelan jas Tom Ford abu-abu, pria itu berulang kali mengetuk meja marmer dengan jemarinya yang dihiasi jam tangan Rolex seharga ratusan juta.

Di sampingnya, seorang staf pemasaran dari Baskoro Konstruksi berdiri dengan kepala menunduk ketakutan, memegang sebuah map kulit tebal yang berisi proposal kerja sama subkontraktor untuk proyek infrastruktur baru milik Megah Corp.

"Maaf sekali, Pak," ujar resepsionis wanita di balik meja dengan nada suara yang sangat sopan namun tegas.

"Sesuai dengan regulasi protokol keamanan dan manajemen Megah Corp, kunjungan tanpa janji temu resmi dari pihak sekretariat lantai atas tidak akan kami izinkan untuk naik. Anda bisa meninggalkan draf proposal Anda di kotak dokumen vendor di sebelah sana."

"Tinggalkan di kotak vendor?!" bentak Bram, suaranya yang meninggi seketika menarik perhatian beberapa staf keamanan yang berjaga di dekat pintu masuk.

Dia merasa diinjak-injak dengan sangat kejam. "Kamu tahu siapa saya? Saya Bram Baskoro, Direktur Utama Baskoro Konstruksi! Perusahaan kami sudah puluhan tahun memegang proyek-proyek besar pemerintah! Dan kamu meminta saya membuang proposal ini di kotak vendor kelas teri itu?!"

"Kami sangat memahami reputasi perusahaan Anda, Pak. Namun aturan di Megah Corp berlaku mutlak untuk siapa saja, tanpa pengecualian," jawab resepsionis itu lagi, mempertahankan senyum profesionalnya.

Bram mengepalkan tangannya dengan geram. Sejak pernikahannya dengan Vera, kondisi finansial dan beberapa proyek utama Baskoro Konstruksi perlahan mulai goyah akibat audit internal yang mendeteksi adanya kebocoran dana, yang sebenarnya merupakan hasil manipulasi diam-diam Vera sebelum mereka menikah.

Bram sangat membutuhkan suntikan proyek raksasa dari Megah Corp untuk menstabilkan kembali neraca keuangan. Tapi jangankan bertemu dengan si pemilik, menembus barikade resepsionis lobi saja dia tidak mampu.

Dengan hati yang dipenuhi rasa dongkol, Bram membalikkan badannya untuk melangkah pergi dari meja resepsionis. Dan tepat saat dia memutar tubuhnya, sepasang matanya menangkap sebuah sosok wanita yang baru saja melewati gerbang pemindai elektronik lobi.

Bram seketika menghentikan langkah kakinya. Matanya membelalak lebar, menatap tajam ke arah sosok wanita yang mengenakan blus biru dongker sederhana di tengah lobi.

"Larissa?" ucap Bram, suaranya terdengar tidak percaya.

Larisa yang sedang berjalan menuju lift mendengar namanya dipanggil dengan nada suara yang sangat dia kenali dari neraka masa lalunya.

Larissa menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badannya perlahan. Ketika melihat Bram Baskoro sedang berjalan cepat ke arahnya dengan langkah yang dihentak-hentak sombong, tidak ada lagi rasa berdebar ketakutan di dalam dadanya.

Bram berhenti tepat dua langkah di depan Larissa, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap penampilan sederhana mantan istrinya dari ujung kepala hingga kaki dengan pandangan merendahkan.

Tawa remeh yang sarat akan kesombongan old money langsung lolos dari bibirnya.

"Luar biasa... benar-benar luar biasa," ujar Bram dengan nada sinis yang menyengat, suaranya sengaja dikeras-keras agar terdengar oleh orang-orang di sekitar lobi.

"Aku tidak menyangka kelicikan dan keputusasaanmu bisa membawa kakimu sampai ke gedung Megah Corp ini. Berkaca lah pada dirimu sendiri, pakaian apa yang kamu pakai ini? Murahan sekali. Tempat ini adalah pusat bisnis para elite, bukan pasar malam pinggiran tempat wanita kelas bawah sepertimu berkeliaran."

Larissa tetap diam, menatap Bram dengan sepasang mata gelap yang kosong dari emosi, membiarkan pria itu menumpahkan seluruh racun di mulutnya.

Melihat Larissa hanya diam, Bram merasa di atas angin. Dia melangkah maju satu langkah lagi, menundukkan kepalanya sedikit demi mengintimidasi mental Larissa.

"Katakan padaku, untuk apa kamu menguntitku sampai ke sini? Ah, atau jangan-jangan.. karena aku mendepakmu dari rumah karena rahimmu yang mandul dan rusak permanen, kamu sekarang sedang frustrasi mencari pria kaya baru di gedung ini untuk dijadikan sandaran hidup?"

Bram terkekeh kejam, matanya memancarkan kepuasan saat mengungkit masalah sensitif tersebut.

"Dengar ya, Larissa. Simpan seluruh pesona melasmu itu, pesonamu sudah habis dan mati sejak kamu divonis mandul total! Tidak akan ada satu pun pengusaha kaya atau pria terhormat di gedung mewah ini yang sudi melirik wanita cacat biologis bawaan sepertimu, bahkan hanya untuk dijadikan sekadar pajangan. Kamu itu sampah yang sudah dibuang, jadi tahu dirilah dan kembali ke tempat kumuhmu sebelum petugas keamanan menyeretmu keluar!"

Hinaan yang keluar dari mulut Bram begitu tajam dan keji, sanggup meruntuhkan harga diri wanita mana pun hingga ke titik terdalam.

Tapi Bram tidak menyadari bahwa wanita yang berdiri di hadapannya hari ini bukan lagi Larissa yang lemah, bukan lagi istri penurut yang bisa dia setir dan dia takuti dengan bentakannya.

Larisa menatap lurus tepat ke dalam manik mata Bram. Detik itu juga, sebuah senyuman tipis yang sangat dingin dan misterius terukir di sudut bibirnya, sebuah senyuman yang terlihat begitu mengerikan karena ketenangannya.

Larissa tidak membalas dengan teriakan, tidak menunjukkan air mata, dan tidak tampak terluka sedikit pun. Dia justru melangkah maju satu langkah besar, mengikis jarak di antara mereka hingga membuat Bram refleks mundur setengah senti karena terkejut melihat keberanian mantan istrinya.

"Bram Baskoro," suara Larissa mengalun dengan sangat rendah, namun memiliki penekanan yang begitu kuat hingga sanggup membungkam tawa ejekan di wajah Bram dalam sekejap.

"Lima tahun aku hidup bersamamu, dan ternyata kesombongan serta kebodohanmu tidak pernah bergeser sedikit pun dari tempatnya."

Bram mengernyitkan dahi, wajahnya seketika menegang mendengar dirinya disebut bodoh oleh wanita yang selalu dia rendahkan. "Apa kamu bilang?!"

"Simpan saja seluruh kata-kata sampahmu itu untuk menyelamatkan perusahaanmu yang mulai goyah dan keropos dari dalam itu, Bram," Larisa melanjutkan kalimatnya dengan intonasi yang sangat teratur dan tajam bagai mata belati yang menusuk tepat ke ulu hati.

"Kamu sibuk berteriak tentang kelas sosial dan kelayakan di lobi ini, sementara kamu sendiri baru saja ditolak mentah-mentah oleh seorang resepsionis karena proposal perusahaanmu bahkan tidak memiliki nilai untuk dibaca oleh pihak Megah Corp."

Wajah Bram seketika memerah padam, urat-urat di lehernya menegang hebat karena rahasia penolakannya barusan dibongkar dengan begitu telanjang di depan stafnya.

"Larissa! Berani-beraninya kamu—"

"Dengar baik-baik, Bram," potong Larissa dengan tegas.

"Aku ke sini bukan untuk menguntitmu, bukan untuk mencari pria kaya, dan terlebih lagi... aku ke sini bukan untuk mengemis belas kasihan dari pria tidak berguna sepertimu. Tempatku bukan lagi di bawah kakimu, dan waktu akan segera membuktikannya padamu."

"Ibu Larissa!"

Tiba-tiba, sebuah suara bariton yang sangat tegas memotong ketegangan di antara mereka dari arah koridor lift khusus.

Bram refleks menolehkan kepalanya, dan seketika sepasang matanya membelalak lebar saat melihat sosok pria muda mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan pin logo emas Megah Corp di kerahnya sedang berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka.

Pria itu adalah Harris, Sekretaris Utama sekaligus tangan kanan kepercayaan dari CEO tertinggi Megah Corp.

Di dunia bisnis, wajah Harris sangat sering muncul di berbagai media mendampingi sang miliarder, membuat Bram langsung mengenali siapa sosok yang sedang berjalan ke arah mereka.

Bram mengira Harris datang untuk mengusir Larissa yang dianggap membuat keributan di lobi. Sebuah senyuman kemenangan yang culas kembali terukir di wajah Bram.

“Rasakan kamu, Larissa. Sekretaris CEO utama sendiri yang akan menyeretmu keluar,” batin Bram jumawa.

Namun detik berikutnya, seluruh pasokan udara di dalam dada Bram seolah disedot keluar tanpa sisa, meninggalkan tubuhnya yang mendadak kaku membeku seperti patung batu di tengah lobi.

Harris melangkah melewati Bram begitu saja, mengabaikan keberadaan Direktur Utama Baskoro Konstruksi itu seolah-olah Bram hanyalah seonggok debu tak kasat mata di lantai lobi.

Pria itu berhenti tepat di hadapan Larissa, lalu dengan gerakan penuh rasa hormat, Harris menundukkan kepalanya di depan mantan istri Bram tersebut.

"Selamat pagi, Ibu Larissa. Mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlambatan saya untuk turun menjemput Anda di lobi," ujar Harris yang membuat Bram berdiri melongo di samping mereka.

"Bapak Bayu sudah menunggu kehadiran Anda di ruang kerjanya. Seluruh draf berkas kontrak final untuk proyek logistik nasional dari PT Laju Utama sudah disiapkan di atas meja kerja beliau, dan beliau sendiri yang meminta agar saya langsung mengawal Anda naik menggunakan lift khusus eksekutif tanpa perlu melewati antrean registrasi."

Harris membalikkan badannya sedikit, mengulurkan tangan kanannya dengan gestur mempersilakan Larissa untuk berjalan terlebih dahulu. "Mari, Ibu Larissa. Silakan lewat sini."

Larissa menatap Harris, lalu menganggukkan kepalanya sekali. Sebelum melangkah pergi, Larissa membalikkan wajahnya perlahan, menatap tepat ke arah wajah Bram Baskoro untuk terakhir kalinya.

Di hadapannya, wajah Bram sudah berubah total dari yang semula memerah merona penuh kesombongan, kini menjadi pucat pasi seketika, nyaris seputih kertas.

Mulut pria itu sedikit terbuka, matanya membelalak lebar penuh dengan rasa syok dan tidak percaya. Otaknya mencoba mencerna bagaimana mungkin mantan istrinya, wanita yatim piatu miskin yang dia usir kini dijemput langsung oleh Sekretaris Utama Megah Corp dengan rasa hormat yang bahkan tidak pernah Bram dapatkan seumur hidupnya.

Larissa tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi untuk merespons keterpanaan mantan suaminya. Dia hanya menyunggingkan sebuah senyum kemenangan dan melangkah mengikuti Harris masuk ke dalam lift khusus eksekutif yang pintunya terbuka lebar.

Pintu lift berlapis krom mengilap itu perlahan-lahan menutup, mengunci mati pandangan mata Bram yang masih melongo tak percaya di tengah lobi, menandakan bahwa tamparan realita dari masa lalu telah mendarat dengan sangat telak di wajahnya.

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!