Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 : Teman baru adu bacot
Ducati hitam itu membelah sepi. Derunya memecah malam saat Altair sampai di depan rumahnya. Tepat jam dua belas malam.
Dia mengernyit. Lampu rumahnya masih menyala.
Dia ngapain belum tidur jam segini? pikirnya ganjil.
Altair mematikan mesin lalu membuka pintu. Sepi. Nggak ada suara TV atau air. Cuma dengung lampu neon yang kedengaran.
“Illa?” panggilnya. Kosong.
Dia cek kamar. Kasur rapi. Kamar mandi, dapur, jemuran belakang... nihil. Aquilla nggak ada.
Jantung Altair mulai berdebar kencang. Panik.
Aquilla ke mana?
Pikirannya langsung melayang ke hal-hal buruk. Wejangan Steve semalam soal penculikan bikin dia makin waswas.
Altair buru-buru keluar rumah, matanya liar mencari-cari. Pandangannya berhenti di rumah Nenek Sari dan Bian, tetangga sebelah yang pintunya masih remang-remang.
Dia mengetuk pintu cukup keras. Masa bodoh mengganggu orang malam-malam, dia sudah kalang kabut. Dalam hati, dia nyesel banget tadi sore nggak dengerin Aquilla yang bilang takut sendirian.
Pintu terbuka. Nenek Sari menyambutnya dengan senyum tenang.
“Cari Aquilla, Nak?” tanya Nenek Sari.
“Iya, Nek. Aquilla ada di sini?” suara Altair serak.
“Ada. Udah tidur di kamar Bian dari jam sepuluh. Kasihan, lari ke sini sambil nangis sesenggukan. Katanya takut pas mati lampu sebentar tadi,” jelas Nenek Sari pelan.
Dada Altair makin sesak oleh sesal. Bodoh. Kenapa nggak gue dengerin dia tadi.
“Makasih, Nek,” bisiknya.
Altair mengikut Nenek Sari ke kamar Bian. Di sana, Aquilla tertidur meringkuk di atas kasur. Tangannya meluk Bian yang juga sudah lelap. Sisa air mata masih membayang di pipinya, tapi nafasnya sudah tenang.
Altair menghela nafas lega. Syukurlah. Kirain diculik.
“Dia takut banget sendirian, Nak. Apalagi pas mati lampu. Ya udah, Nenek suruh tidur sini aja,” bisik Nenek Sari.
Altair mengangguk. “Makasih banyak, Nek. Maaf ngerepotin malam-malam.”
“Nggak apa-apa, udah kayak cucu sendiri.”
Altair membungkuk, pelan-pelan menggendong Aquilla. Ringan banget. "Nggak ada beban sama sekali, "batinnya. Aquilla nggak bangun sama sekali, kecapekan habis menangis.
Sampai di rumah, Altair menidurkan Aquilla di ranjang. Menyelimutinya sampai dada, lalu duduk di sampingnya sambil memperhatikan wajah polos itu.
“Lo tuh bener-bener ngerepotin, tau nggak?” gumam Altair pelan. Nggak marah, cuma capek. “Seandainya lo nggak nangisin gue di kehidupan pertama, boro-boro gue nikahin lo,” omelnya pasrah.
Dia mengetuk pelan kening Aquilla pakai telunjuk. Aquilla cuma menggeliat sebentar, lalu tenang lagi.
Altair menghela nafas, berdiri, dan mematikan lampu.
...
Aquilla terbangun karena silau matahari. Kamar sudah kosong.
Di meja makan ada sarapan nasi goreng plus teh manis hangat di bawah tudung saji. Ada memo kecil dari Altair:
Tinggal. Ada kelas pagi. Jangan telat kuliah. —A
Aquilla cemberut. “Dasar. Pagi-pagi udah ngacir aja. Ninggalin gue lagi.”
Dia makan sarapannya. Enak sih, tapi tetap saja dia kesal. Mana karena kesiangan, dia terpaksa naik angkot ke kampus.
Di dalam angkot yang pengap, panas, dan bau keringat bercampur parfum murah, Aquilla terus mengipas dirinya pakai buku. Rambutnya lepek, bajunya nempel di punggung.
"Pengap banget, elah," umpatnya dalam hati.
PARKIRAN KAMPUS
Turun dari angkot, Aquilla masih sibuk kibas-kibas buku. Mukanya tekuk, bad mood parah.
Tiba-tiba matanya nangkep Ducati hitam Altair terparkir kinclong di antara motor lain.
Emosinya langsung naik. Enak banget dia naik motor adem-adem, gue serasa dioven di angkot!
PLAK!
Aquilla menepuk keras jok motor itu. Tentu saja tangannya sendiri yang langsung kepanasan dan sakit.
“Sialan! Besok gue harus bangun pagi biar nggak ditinggal lagi!” amuk Aquilla.
“Gila lo!”
Suara itu bikin Aquilla nengok. Steve sama Kinara baru datang. Kinara menatap aneh Aquilla yang habis ‘menyiksa’ jok motor suaminya.
Aquilla cuek bebek. “Terserah,” ketusnya terus nyelonong pergi.
Kinara geleng-geleng. “Nggak paham gue. Gimana Altair yang dingin kayak es bisa tahan ngadepin kumatnya Aquilla tiap hari?”
Steve ketawa pelan sambil mengacak rambut Kinara. “Udah, biarin. Lo kan seneng liat mereka berantem? Hiburan gratis.”
“Emang sih,” Kinara nyengir. “Masih nggak nyangka aja mereka bisa bareng. Kayak minyak sama air.”
Steve cuma terkekeh. Lucu aja melihat interaksi Altair sama Aquilla. Kaku, galak, tapi sebenarnya peduli.
Hari ini hari pertama Aquilla di Fakultas Seni Rupa—jurusan impiannya.
“Panas banget. Ini angkot apa sauna jalan coba,” omel Aquilla sambil jalan masuk ke gedung.
Koridor ramai sama anak-anak yang bawa kanvas dan cat. Tempat baru, tapi beberapa wajah kelihatan familiar.
Di depan kelas Lukis Dasar 1, dia narik nafas. Semangat. Fakultas baru, suasana baru. Semoga nggak ketemu orang aneh.
Pas dia masuk, beberapa anak menoleh. Bukan kagum, tapi karena mereka kenal Aquilla Queensha, mantan anak angkat kaya raya yang dulunya sombong setengah mati.
Aquilla cuek dan memilih duduk di pojokan paling belakang. Safe zone. “Debu banget tempatnya,” gerutunya pelan.
Nggak lama, pintu terbuka. Cewek bertato anting, pake kaus oversized dan celana kargo masuk.
KINARA MAHESA.
Kinara tidak kaget lagi, tapi aneh saja gadis itu satu kelas dengannya lagi.
Mereka kenal dari dulu. Aquilla yang angkuh dan Kinara yang blak-blakan jelas nggak pernah akur. Tapi Kinara langsung teringat omongan Altair kemarin di basecamp.
“Kin, Aquilla pindah ke fakultas lo. Temenin dia,” kata Altair datar.
“Hah? Ngapain? Lo lupa dia dulunya belagu kayak apa?” protes Kinara.
“Dia bini gue sekarang. Dia nggak punya temen. Anggap aja bayar utang lo pas gue nolong Steve.”
Kinara ngedusel kesal. Sialan si Altair, bawa-bawa utang mulu.
Terpaksa, Kinara nyampein langkah ke samping Aquilla dan langsung duduk tanpa menyapa.
Aquilla melirik. “Cih, pindah ke sini malah ketemu lo.”
Kinara menoleh. “Dikirain gue demen sekelas sama lo? Kirain udah tobat sombongnya.”
“Gue cuma milih temen. Dan lo nggak masuk,” balas Aquilla cepat.
“Santai, Nona. Gue di sini juga terpaksa. Disuruh Altair,” sahut Kinara santai.
Aquilla kaget. “Hah? Altair?”
“Iya. Katanya lo nggak punya temen. Yaa gue jalanin aja, daripada ditagih utang,” jawab Kinara enteng.
Aquilla mendengus. “Pantesan. Mana ada yang mau temenan sama gue sukarela. Lagian sok peduli banget si Altair.”
“Gue juga heran,” Kinara angkat bahu. “Yaudah, anggap aja kita sama-sama lagi dihukum.”
Aquilla menatap Kinara sebentar. Dulu benci, eh sekarang cewek ceplas-ceplos ini malah jadi ‘maminya’ di kampus.
“Terserah deh. Tapi gue udah nggak jaim lagi ya,” kata Aquilla.
“Bagus dong, gue juga udah gatal mau adu bacot sama lo,” jawab Kinara nyengir.
Dosen masuk, kelas dimulai. Dan sepanjang jam kuliah, 'pertemanan' paksa mereka diisi saling sindir.