Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINDING YANG BERASAP
Dinding kafe mendesis seperti sesuatu yang baru terbangun di dalamnya.
Aku menjatuhkan tang ke lantai, berbalik, lalu menurunkan MCB lampu dekorasi. Liza sudah lebih dulu meraih panel utama. Seluruh ruang padam sebelum siapa pun sempat bertanya apakah bunyi itu bagian dari konsep pembukaan.
Dalam gelap, Binsar berkata, “Kalau ini konsep, mahal kali suaranya.”
“Diam dan ambil senter,” kataku.
“Senter yang mana?”
“Yang menyala, bodat.”
Cahaya ponsel muncul dari berbagai arah. Rani masih memegang kameranya, dan untuk sesaat wajah kami semua terlihat pucat di layar seperti pemain film horor beranggaran kecil. Bau plastik panas keluar dari celah panel dekorasi di dinding timur.
Aku menyentuhkan punggung jari ke permukaan dinding tanpa menekan. Hangat. Bukan hangat lampu, melainkan hangat yang membuat isi perut ikut mengeras.
“Semua menjauh dari sisi ini,” kata Liza. Suaranya tidak keras, tetapi orang-orang langsung bergerak. Ia menutup lensa ponsel Rani dengan map kuitansi. “Jangan direkam dulu.”
Rani menurunkan kamera. “Aku perlu dokumentasi.”
“Kami juga. Bedanya, dokumentasi kami tidak mencari komentar.”
Arman, pemilik kafe, datang tergesa dari ruang depan. “Apa yang terjadi? Kenapa listrik dimatikan lagi?”
Aku menunjuk dinding. “Ada sambungan panas di dalam. Kalau dibiarkan, bukan cuma listrik yang mati.”
“Tapi tadi aman.”
Aku menelan jawaban yang biasanya keluar paling cepat. Tadi aku memang mengatakan aman. Nilai ukurannya baik, pengamannya terpisah, dan bebannya kecil. Masalahnya, aku belum melihat seluruh jalur. Kalimat Liza beberapa menit lalu masih tergantung di kepalaku: Sudah kau lihat seluruh sambungannya?
“Tadi belum kelihatan masalahnya,” kataku. “Sekarang sudah ada tanda. Kita buka panel dekorasi.”
Arman memandang dinding yang baru dicat. “Dibuka?”
“Sedikit.”
“Sedikit menurut tukang itu berapa meter?” tanya Rani.
“Tergantung seberapa jujur dindingnya.”
Kali ini tidak ada yang tertawa. Aku mencabut sumber listrik dari panel utama, memasang penanda agar tidak ada orang menyalakannya, lalu memeriksa ketiadaan tegangan. Pak Tor mungkin belum ada di ruangan, tetapi suaranya sudah hidup di kepalaku: Periksa dulu. Tanganmu bukan alat ukur.
Kami melepas papan dekorasi pelan-pelan. Cat baru mengelupas di pinggir. Arman berdiri di belakangku dengan napas yang semakin berat setiap kali obeng masuk ke celah. Setelah satu papan terangkat, asap tipis keluar seperti orang yang sejak tadi menahan rokok di dalam kamar.
Di balik dinding, dua kabel disambung tanpa konektor. Ujung tembaganya dipelintir, ditutup selotip hitam murah, lalu diselipkan di antara rangka kayu. Selotip itu sudah lunak dan mengilat karena panas.
Binsar menyorotnya dengan senter. “Ini kerjaan siapa? Ayam pun kalau menyambung kabel, dipatuknya lebih rapi.”
“Jangan hina ayam,” kata Liza.
Arman langsung menuduh kontraktor renovasi. Ia menyebut nama mandor, tanggal pekerjaan, dan jumlah uang yang sudah dibayar. Setiap kalimatnya terdengar seperti sedang menyiapkan bahan gugatan.
“Nanti marahnya,” kataku. “Sekarang kita cari jalur lain yang dibuat seperti ini.”
“Semua dinding harus dibongkar?”
“Tidak kalau kita bisa melacak dari kotak sambungan. Tapi bagian ini harus diganti.”
Rani mengangkat ponselnya lagi, kali ini tanpa menyalakan kamera. “Boleh aku ambil foto kerusakannya saja? Untuk Arman, bukan unggahan.”
Liza menatapnya beberapa detik. “Foto dekat. Jangan ada wajah. Kirim salinannya ke kami.”
Rani mengangguk. Untuk pertama kalinya malam itu, ia meminta sudut yang dibutuhkan, bukan menentukan sendiri.
Kami bekerja dari jalur lampu menuju panel cabang. Semakin jauh dibuka, semakin jelas renovasi kafe itu dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang semuanya berharap tidak ketahuan: kabel berbeda ukuran disatukan, sambungan disembunyikan di balik papan, satu kotak sambungan ditutup permanen oleh rak, dan warna kabel tidak lagi berarti apa-apa.
“Merah ini netral,” kataku.
Binsar menatapku. “Bukannya merah itu marah?”
“Keluar dari sini kalau mau buat ilmu sendiri.”
Ia mundur setengah langkah, lalu tetap memegang senter. “Aku cuma memastikan dialog kita hidup.”
Menjelang tengah malam, Fadli datang membawa kopi dan dua bungkus mi goreng. Knalpot motornya mengumumkan kedatangannya lebih dulu dari tiga gang. Ia melihat papan dinding yang terbuka dan berkata, “Kafe baru, konsepnya sudah pascaperang.”
Liza mengambil kopi, mencicipi sekali, lalu menyerahkannya kepadaku. Terlalu manis. Itu berarti Fadli membeli di warung yang salah atau sengaja ingin membunuh kami pelan-pelan.
“Pak Tor di mana?” tanyaku.
“Menuju sini. Katanya jangan sentuh jalur utama sebelum dia datang.”
“Kita sudah sentuh.”
“Makanya dia datang lebih cepat.”
Pak Tor tiba setengah jam kemudian dengan tas alat tua dan wajah orang yang sudah menduga anaknya membuat pekerjaan tambahan. Ia tidak memarahiku. Ia hanya memeriksa kabel yang gosong, melihat jalur sementara yang kupasang, lalu bertanya, “Kau ukur beban sebelum menambah lampu?”
“Ukur.”
“Seluruh jalur?”
Aku menggeleng. “Tidak seluruhnya.”
Ia mengangguk kecil, seolah jawaban jujur lebih berguna daripada pembelaan panjang. “Sekarang kita ukur ulang.”
Kami mengganti bagian yang rusak, memasang kotak sambungan yang dapat diakses, memisahkan jalur lampu dekorasi, dan memberi label baru. Aku ingin menyalakan semuanya sekaligus setelah pekerjaan selesai. Satu tombol, satu pembuktian, satu momen agar semua orang berhenti menatapku seperti MCB yang belum diputuskan nasibnya.
Pak Tor menyerahkan clamp meter kepadaku. “Bertahap.”
Aku membuka mulut, tetapi Liza sudah berdiri di samping panel dengan buku catatan. “Penerangan utama dulu.”
Kami menyalakannya. Normal.
“Pendingin satu,” kata Pak Tor.
Normal.
“Mesin kopi.”
Angka naik, tetapi masih di batas aman.
“Pendingin dua.”
Normal.
Terakhir, lampu dekorasi menyala. Tidak ada desis. Tidak ada bau. Dinding tetap dingin setelah lima belas menit. Aku terus memandangi alat ukur sampai Binsar berbisik, “Kalau kau tengok lebih keras, angkanya takut pulak.”
Aku hampir menyuruhnya diam, tetapi Pak Tor menahan senyum. Liza mencatat hasil pengujian. Rani mengambil gambar bohlam dari jarak aman. Arman berdiri di tengah ruang yang akhirnya terang seluruhnya.
Pukul lima lewat, kami merapikan alat. Tubuhku terasa seperti kabel yang dipakai melebihi kapasitas. Namun, semua peralatan bekerja dan pembukaan bisa berlangsung sesuai jadwal.
Aku menyerahkan laporan singkat dan daftar material kepada Arman. “Sisa pembayaran bisa dilunasi sekarang.”
Ia membaca angka di bagian bawah, lalu melihat dinding yang catnya terkelupas dan papan dekorasinya belum terpasang sempurna.
“Sebentar,” katanya. “Saya membayar hasil yang rapi.”
“Hasilnya aman.”
“Tapi tidak kelihatan indah.”
Ia menaruh kertas itu di meja kasir dan mendorongnya kembali ke arahku.
“Saya tidak mau membayar penuh untuk pekerjaan yang bahkan tidak kelihatan.”