NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Tanpa Nadia tahu, seorang perempuan melihat bagaimana akrabnya Nadia dengan Roy, dan terlihat jelas raut tidak suka dari perempuan itu.

"Parah banget si bisu itu," ucap perempuan lain yang ada disebelah kiri perempuan tersebut.

"Mau gue kasih pelajaran nggak?" tanya perempuan lainnya yang ada disebelah kanan.

"Jangan dulu, gue masih kasihan karema dia bisu. Tapi, setelah ini dia kasih deketin Roy, gue akan kasih pelajaran ke dia," ucap Tamara.

Tamara, seorang mahasiswa jurusan Ekonomi yang terkenal sebagai primadona fakultas Ekonomi, visualnya sangat enak dipandang. Namun, dia juga terkenal jutek dan sombong. Tamara memiliki teman bernama Hesti dan Erika, keduanya memiliki sifat sebelas dua belas dengan Tamara.

"Yaudah, ayo balik ke kelas," ajak Tamara.

'Sampai si bisu berani deketin Roy, gue nggak akan tinggal diam aja. Bokap gue pejabat dan gue bisa ngelakuin apa aja ke lo,' batin Tamara.

.

Malam harinya, Nadia bersantai di sofa ruang tamu rumahnya yang sepi, jam dinding menunjukkan pukul sembilan malam. Ia meraih ponselnya, berniat mengirim pesan kepada ibunya untuk menanyakan perjalanan mereka ke Purwakarta.

​Namun, sebelum sempat jemarinya mengetik, layar ponselnya tiba-tiba menyala. Sebuah panggilan telepon masuk dari nomor yang tidak dikenal. Karena keterbatasannya, Nadia tidak pernah menerima panggilan suara dan ia memilih untuk menolak panggilan tersebut, lalu membalasnya dengan pesan singkat.

​[Maaf, saya tidak bisa bicara dan pendengaran saya kurang bagus. Bisa tolong kirim pesan teks saja?]

​Beberapa detik kemudian, balasan pesan masuk. Namun, pesan itu bukan berisi sapaan biasa, melainkan kabar yang seketika menghentikan detak jantung Nadia.

​[Ini dari Kepolisian Sektor Tol Purbaleunyi. Apakah benar ini keluarga dari Bapak Herman dan Ibu Sintia? Kami mengabarkan bahwa travel yang beliau tumpangi mengalami kecelakaan beruntun di KM 92 arah Jakarta. Mohon pihak keluarga segera datang ke RSUD terdekat.]

​Ponsel di genggaman Nadia terlepas, membentur lantai semen dengan suara ketukan keras. Dunia Nadia yang tenang dan penuh warna seketika runtuh tanpa suara.

Suasana rumah sakit malam itu terasa membeku bagi Nadia, langkah kaki Nadia bergema pelan di sepanjang koridor Rumah Sakit Daerah yang dingin dan beraroma karbol yang menyengat.

Lampu neon yang berkedip-kedip di langit-langit seolah mengejek langkahnya yang semakin gemetar. Dalam keheningan dunianya, detak jantung Nadia bergemuruh hebat di dadanya, ia tidak menghubungi siapapun karena pikirannya terlalu kacau, terguncang oleh kepanikan yang luar biasa.

​Di pikiran Nadia hanya ada satu doa yang diulang-ulang bagai mantra, 'Tuhan, lindungi Ayah dan Ibu. Tolong, jangan ambil mereka,' batinnya.

​Nadia tiba di depan ruang Instalasi Gawat Darurat. Suasana di sana sangat kacau, perawat dan dokter berlarian, sementara beberapa keluarga korban kecelakaan menangis histeris.

Nadia berdiri terpaku di sudut ruangan, matanya yang mulai sembap menatap sekeliling dengan liar, mencari sosok pria berwajah hangat dan wanita berwajah penuh kasih sayang yang baru tadi pagi melepasnya dengan senyuman.

​Seorang polisi lalu lintas yang bertugas mengenali raut wajah Nadia yang kebingungan, polisi itu mendekat dan mencoba berbicara padanya. Nadia yang panik dengan cepat mengeluarkan ponselnya, menampilkan teks yang sudah ia ketik sebelumnya.

​[Saya anak dari Bapak Herman dan Ibu Sintia. Di mana mereka?]

Polisi itu membaca pesan tersebut dengan raut wajah yang seketika berubah sangat muram, tatapan matanya berganti menjadi empati yang mendalam sekaligus penyesalan. Polisi itu menepuk bahu Nadia pelan, lalu memberi isyarat agar Nadia mengikutinya menuju sebuah ruangan terpisah di ujung koridor, ruang konsultasi dokter, jauh dari kebisingan ruang tunggu IGD.

​Di dalam ruangan berukuran kecil itu, seorang dokter berjas putih duduk di belakang meja. Begitu Nadia dan polisi masuk, dokter tersebut berdiri. Polisi itu berbisik singkat pada sang dokter, mengabarkan kondisi Nadia yang tidak bisa mendengar dengan jelas dan tidak bisa berbicara.

​Dokter itu mengangguk paham, ia mengambil selembar kertas putih dan sebuah pulpen, lalu mulai menuliskan kata demi kata dengan perlahan. Nadia menatap ujung pulpen yang menari di atas kertas itu dengan napas yang tertahan, setiap detik rasanya berjalan bagaikan siksaan yang amat panjang.

​Dokter menyerahkan kertas itu kepada Nadia, tangannya yang gemetar meraih kertas tersebut.

*​Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun, benturan keras dalam kecelakaan beruntun tersebut menyebabkan cedera trauma kepala yang sangat parah, Bapak Herman dan Ibu Sintia meninggal dunia di lokasi kejadian.

​Nadia membeku, dunianya yang biasanya dipenuhi warna dan tawa, seketika kehilangan seluruh cahayanya. Tidak ada suara jeritan yang keluar dari tenggorokannya, hanya ada keheningan luar biasa yang mencekik napasnya.

​Airmata meleleh deras membasahi pipinya. Nadia menggelengkan kepala dengan kuat, menolak percaya. Ia mencengkeram kemeja dokter itu, matanya memohon, jemarinya bergerak liar dan kacau membentuk bahasa isyarat yang tidak beraturan.

"Tidak mungkin! Tadi pagi Ibu masih membuatkan tempe goreng! Ayah masih janji mau beli rumah baru! Bohong! Ini tidak benar!"

​Namun, tidak ada suara yang keluar, hanya napasnya yang tersengal-sengal dan dada yang naik turun menahan rasa sakit luar biasa yang menghantam jiwanya. Dokter dan polisi itu hanya bisa menatap Nadia dengan iba, membiarkan gadis itu runtuh dalam duka paling dalam di malam yang kelam.

Langkah kaki Nadia terasa begitu berat dan melayang saat dokter membimbingnya berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang pemulasaraan jenazah. Udara dingin dari pendingin ruangan menusuk hingga ke tulang, namun rasa dingin itu tak sebanding dengan kekosongan mendalam yang merayapi dadanya.

​Ketika pintu besi ruangan itu terdorong terbuka, bau kamar mayat yang khas langsung menyeruak. Di atas dua ranjang besi berdampingan, terbaring dua sosok yang ditutupi kain putih polos.

​Nadia melangkah mendekat dengan tubuh gemetar hebat. Tangannya yang dingin terulur perlahan, meraih pinggiran kain putih itu dan menyikapnya.

​Di sana, terbaring Ayah Herman dan Ibu Sintia. Wajah mereka pucat pasi dengan beberapa luka memar yang telah dibersihkan, tetapi raut wajah mereka terlihat sangat tenang, seolah-olah hanya sedang tertidur lelap setelah menempuh perjalanan jauh.

​Nadia meruntuhkan tubuhnya di samping ranjang ibunya. Ia menggenggam jemari sang ibu yang kini terasa kaku dan dingin, lalu menempelkannya ke pipinya sendiri. Air mata Nadia mengalir deras tanpa henti, membasahi kain sprei dan jemari ibunya.

​Nadia ingin menjerit, ia ingin berteriak memanggil nama Ayah dan Ibunya setinggi langit, memprotes takdir yang begitu kejam mengambil seluruh dunianya dalam semalam. Namun, tenggorokannya tertahan, keheningan fisiknya membuat duka itu terkunci di dalam dada dan meledak menjadi kecemasan dan keputusasaan yang luar biasa.

Nadia memeluk jasad ibunya erat-erat, lalu beralih menggenggam tangan ayahnya dan teringat janji yang baru tadi pagi disepakati yaitu janji untuk membuat rumah bernuansa taman, janji untuk selalu bersama. Kini, janji itu terkubur bersama kepergian mereka. Dalam hening malam rumah sakit, Nadia meratapi takdirnya yang mendadak gelap gulita.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!