"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Jemputan Tak Terduga Sang Mayor
Jarum jam di dinding Kafe Amarta bergerak lambat menuju angka lima sore. Pembahasan bab metode penelitian antara Keisha, Rendra, Hilma, dan Yeyen baru saja memasuki babak akhir yang melelahkan. Keisha merentangkan kedua tangannya ke atas, meregangkan otot-otot punggungnya yang terasa kaku karena terlalu lama membungkuk di depan laptop.
"Oke, draf untuk pengajuan judul dan latar belakang udah aman. Tinggal kita rapikan sedikit di rumah masing-masing," ucap Keisha sambil menghela napas lega, menutup layar laptopnya dengan gerakan santai.
"Untung ada Rendra yang bantu cari jurnal internasional tadi, kalau enggak bisa sampai magrib kita di sini," timpal Hilma sembari merapikan beberapa lembar kertas draf ke dalam map.
Rendra tersenyum manis, matanya menatap Keisha yang sedang membenahi letak alat tulisnya. "Santai aja, Hil. Kan demi kebaikan kelompok kita juga. Lagian kalau Keisha pusing, nanti dia bisa nyusruk ke got lagi kayak tadi pagi."
"Heh! Jangan dibahas lagi ya, itu aib internasional!" balas Keisha ketus namun diakhiri dengan cengiran absurdnya yang khas.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrt ....
Di atas meja kayu panjang itu, ponsel pintar milik Keisha mendadak berdering nyaring. Bukan sekadar getaran pendek tanda notifikasi pesan seperti sebelumnya, melainkan panggilan telepon langsung. Keisha mengernyitkan dahinya begitu melihat nama yang tertera di layar. Kak Satria.
Gadis itu mendengus kecil sebelum menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya. "Halo, Kak? Ada apa lagi? Laporan foto tadi kurang estetik ya di mata komandan?" cerocos Keisha tanpa beban, masih dengan gaya barbarnya yang ceplas-ceplos.
Namun, tidak ada tawa atau balasan candaan dari seberang sana. Yang terdengar hanyalah suara helaan napas pendek, disusul oleh suara berat dan dalam yang mengalun datar tanpa intonasi.
"Kakak dan Rafka dalam perjalanan ke kafe tempat kamu berada sekarang," ujar Satria dari seberang telepon.
Keisha langsung membelalakkan matanya, otaknya mendadak macet seketika. "Hah? Mau ngapain, Kak? Ini tugas kelompoknya udah mau beres kok, sebentar lagi aku pulang bareng Rendra."
"Kakak sama Rafka mau jemput kamu di kafe, sekalian mau ajak Rafka cari mainan baru," potong Satria dingin. Nada suaranya tidak meninggi, namun memiliki ketegasan mutlak yang mengindikasikan bahwa keputusannya tidak bisa diubah atau dinegosiasikan.
Keisha dibuat melongo mendengarnya. Dia refleks menatap Rendra yang duduk di sebelahnya dengan tatapan bersalah sekaligus bingung. "Tapi, Kak, kan aku udah janji bakal pulang bareng—"
"Sepuluh menit lagi Kakak sampai. Tunggu di lantai bawah," sapa Satria pendek, lalu langsung memutuskan sambungan telepon sepihak.
"Loh? Kak? Kak Satria! Ih, dimatiin!" Keisha menatap layar ponselnya yang sudah kembali menggelap dengan perasaan dongkol setengah mati. Sifat diktator kakak iparnya itu terkadang benar-benar membuat tensi darahnya naik. Mau menolak pun dia merasa kasihan pada Rafka yang ikut serta, tetapi suara Satria tadi jelas-jelas tidak menerima bantahan apa pun.
"Kenapa, Kei? Ada masalah?" tanya Rendra melihat wajah Keisha yang mendadak berubah masam.
Keisha menggaruk pelipisnya dengan canggung. "Aduh, Ren ... sori banget ya. Kayaknya sore ini aku enggak bisa pulang bareng kamu deh. Itu ... Kak Satria sama Rafka katanya udah di jalan mau jemput aku sekalian mau cari mainan katanya."
Rendra tampak sedikit terkejut, ada gurat kekecewaan yang melintas di wajah pemuda itu, namun dia buru-buru memaksakan sebuah senyuman. "Oh, gitu? Iya, enggak apa-apa kok, Kei. Santai aja. Kasihan juga kalau keponakan kamu udah ikut jalan."
***
Tepat pukul 17.40 WIB, sebuah mobil SUV berwarna hitam pekat dengan kondisi kaca yang sangat gelap berhenti tepat di area parkir depan Kafe Amarta. Pintu kemudi terbuka, menampilkan sosok Mayor Satria Pramudya yang melangkah keluar. Pria itu masih mengenakan kaos polo biru tua dan celana chinos yang sama seperti saat makan siang, namun auranya yang kaku dan berwibawa tetap sukses membuat beberapa pengunjung kafe di area luar menolehkan pandangan. Dari pintu tengah, Rafka melompat turun dengan ceria, langsung menggandeng erat tangan besar ayahnya.
Keisha bersama ketiga temannya berjalan turun dari lantai dua menuju area teras kafe. Begitu sampai di luar, mata jelalatan Yeyen dan Hilma langsung menangkap sosok pria tegap yang sedang berdiri di dekat mobil.
"Eh, Kei ... demi apa itu kakak ipar kamu?" bisik Yeyen setengah menyenggol lengan Keisha, matanya berbinar-binar tanpa berkedip. "Ganteng banget, gila! Gagah banget lagi badannya. Kok kamu enggak pernah cerita sih punya kakak ipar spek dewa begini?"
Hilma ikut mesem-mesem di sebelah Yeyen, membenahi sedikit tatanan rambutnya. "Iya, Kei. Auranya mahal banget, khas tentara berpangkat tinggi. Karismatik parah."
Keisha hanya bisa memutar bola matanya jengkel mendengar pujian bertubi-tubi dari kedua temannya. "Ganteng dari mana? Kaku kayak manekin toko baju begitu," batin Keisha heran.
"Tante Kei!" Rafka yang melihat keberadaan Keisha langsung melepaskan gandengan Satria dan berlari kecil menghampiri bibinya, memeluk kaki Keisha dengan erat.
"Halo, jagoan Tante! Udah wangi banget sih," ujar Keisha, berjongkok sebentar untuk mencubit gemas pipi keponakannya sebelum kembali berdiri.
Satria berjalan mendekat dengan langkah tegap, berhenti tepat dua langkah di depan rombongan mahasiswa tersebut. Tatapan matanya yang sedingin es menyapu sekilas ke arah Hilma dan Yeyen, sebelum akhirnya mengunci pandangan pada Rendra yang berdiri di paling belakang. Rendra kembali menegakkan posisi tubuhnya secara refleks, merasa terintimidasi oleh kehadiran sang Mayor.
Yeyen yang dasarnya genit dan bermuka tebal, langsung menyenggol punggung Keisha lagi sembari berbisik dengan volume yang agak keras. "Kei, kenalin dong. Boleh jujur enggak, kalau tipe begini ... boleh denda jadi istrinya enggak sih?"
Mendengar celetukan absurd dari temannya, jiwa barbar Keisha langsung terpancing untuk menjahili situasi. Tanpa pikir panjang mengenai akibatnya, Keisha langsung menarik lengan Yeyen maju ke depan.
"Kak Satria, kenalin ini namanya Yeyen, temen sekelompok aku. Dia katanya ngebet banget pengen punya suami tentara, apalagi yang modelan kaku kayak Kakak. Katanya siap jadi Ibu Persit hari ini juga!" cerocos Keisha dengan wajah tanpa dosa, sengaja ingin melihat bagaimana respons kakak iparnya.
Yeyen langsung membelalakkan mata, wajahnya memerah padam karena malu akibat kelakuan barbar Keisha yang terlalu blak-blakan. "Eh, Kak ... maksudnya, salam kenal, Kak Satria," ujar Yeyen terbata-bata sambil mengulurkan tangannya dengan gugup.
Namun, alih-alih menyambut uluran tangan tersebut dengan senyuman atau keramahan formal, Satria hanya menatap Yeyen dengan pandangan yang sangat datar dan dingin. Pria itu sama sekali tidak membalas uluran tangan Yeyen, membuat tangan gadis itu menggantung canggung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ditarik kembali dengan perlahan.
Bersambung...
Gimana yaaa sikap ayah ibunya satria 🤭
Semangat terus author sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹