NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit

Aku terbangun dengan keringat yang membanjiri dahiku. Kondisi kamarku sudah gelap karena lampu yang dimatikan, dan hanya menyisakan cahaya pada lampu tidur di nakas samping kasurku. Kudapati kak Ivan terbaring di sampingku dengan memeluk guling. Masih tersisa rasa kesal dan marah padanya. Aku merasa tidak rela tubuhku jadi bahan uji coba nya. Tanpa berniat membangunkannya yang terlihat pulas, segera kuraih Tumbler ku dan meminum isi nya. Lalu kulangkahkan kakiku menuju toilet dalam kamarku. Ada rasa tidak nyaman di perut ini. Ingin muntah, tapi tenggorokan dan kerongkonganku sangat sakit untuk sekedar di lewati isi perutku yang akan di keluarkan kembali.

Aku hanya bisa terduduk di atas kloset yang sengaja ku biarkan tertutup. Aku terdiam cukup lama, menantikan respon tubuhku sendiri akan seperti apa. Aku merasakan mual sekarang, sangat mual, tapi untuk memaksakan muntah rasanya tenggorokanku sangat sakit. Kunikmati sensasi mual ini sambil memejamkan mataku, mungkin lebih baik aku melanjutkan tidur disini.

Huek!!!

Huek!!!

Rencanaku untuk tidur disini hilang begitu saja saat aku mulai muntah tidak terkendali. Setelah sekian banyak aku muntah namun tanpa mengeluarkan apa-apa. Kudengar pintu kamar mandi ini diketuk dari luar, bukan, lebih tepatnya di gedor dari luar.

Aku tak menghiraukan sama sekali suara diluar sana. Tebakanku, mungkin kak Ivan terbangun dan menyadari ketidakhadiran ku di sampingnya, akhirnya mencari kesini. Karena tidak mungkin kak Ivan terbangun oleh suara air atau suara muntahku, kamar mandi di kamar ku ini sudah dirancang untuk kedap suara.

Aku memilih membuka pintu setelah membasuh muka ku dengan air. Benar dugaanku, Kulihat kak Ivan dengan wajah khawatir ada di balik pintu ini.

"Kamu... Muntah?" Aku hanya menanggapi dengan helaan nafas beratku. Rasanya malas untuk merespon apapun yang menjadi pertanyaan nya, mengingat semua informasi tentang keadaanku akan sangat menguntungkan bagi laporan penelitiannya. Tanpa menghiraukan nya lebih lanjut, aku beranjak menuju kasurku kembali dan segera berbaring memejamkan mata.

"Dit! Kita bisa ngomong baik-baik. Lo jangan kayak cewek gini dong. Diem tanpa merespon apapun. Gue peduli sama Lo Dit. Gue juga nggak ada pikiran apapun buat bikin penelitian begini. Nggak sesuai prosedur kalo Lo yang jadi bahan nggak tahu menahu bahkan nggak ada perjanjian hitam diatas putih. Tapi gue bisa apa... Bokap nyokap Lo,,," ucapan kak Ivan terhenti tepat saat aku penasaran dengan fakta lain yang akan aku terima darinya. Sepertinya dia mulai kesal juga terhadapku, sampai kata aku kamu yang selalu digunakannya tergantikan menjadi gue Lo. Namun tetap kupertahankan diamku ini, aku merasa belum siap mengetahuinya sekarang.

"Aaah!! Udahlah, terserah Lo mau gimana. Besok gue kasih obat terakhir buat Lo. Terserah Lo mau deskripsiin rasa sakit yang Lo rasakan atau nggak. Terserah. Gue cukup jalankan tugas gue buat ngasih obat ini ke Lo." Sepertinya kak Ivan mulai frustasi melihatku tidak merespon sama sekali.

Biarlah...

Besok akan kucecar semua fakta darinya.

Beberapa jam kemudian...

Aku terbangun oleh suara rintihan disampingku. Mataku masih menyipit merasa silau dengan lampu tidur yang hanya memberikan cahaya redup penuh ketenangan. Kutengok jam digital diatas nakas, masih pkl.03.00 pagi.

Aku mencoba membalikkan badan memastikan rintihan kecil yang tertangkap di telingaku. Kulihat kak Ivan duduk membelakangi ku dengan tertunduk kebawah dan sepertinya tangan kanannya sibuk meremas perutnya sendiri.

"Kak, Lo oke?" Masih dengan terbaring aku berusaha peduli dengan keadaannya, meski sebagian hatiku memerintahkan untuk mengacuhkan nya saja.

"Aman, Lo tidur aja lagi." Tanpa menoleh, kak Ivan menjawab dengan suaranya yang sedikit berubah. Seperti menahan rasa sakit... Entahlah...

Aku memaksa mata ini terpejam kembali, tapi tak bisa. Suara rintihan kecil itu masih sesekali lolos terdengar di telingaku.

Apa kak Ivan sakit?

Hhhh... Rasanya bukan seorang Adit kalau aku berusaha menutup mata mendengar rintihannya. Aku yang biasa berbaik hati, aku yang biasa peka terhadap kondisi sekelilingku, aku yang paling tidak tega melihat orang lain kesusahan. Hati kecilku yang lain ingin segera menolongnya, tapi rasa kesalku sepertinya lebih besar.

"Lo oke kak?" Aku berusaha melawan ego ini dan beringsut mendekatinya yang masih dengan posisi sama. Kulihat mata merahnya yang berair dan kernyitan di dahinya yang cukup dalam ada titik-titik keringat cukup banyak disana. Sesekali rintihan kecil lolos dari mulutnya yang masih mempertahankan gigitan di bibir bawahnya sebagai tanda pertahanannya melawan rasa sakit yang mungkin sedang di rasakannya. Tangan kanannya yang menekan kuat perut, memberikan jawaban padaku bahwa ada organ di dalam sana yang sedang berulah sekarang.

"Perut Lo sakit?" Aku berusaha memijat tangan kanan nya yang terus menekan perut itu.

"Nggak papa Dit. Lo tidur aja lagi. Kayaknya usus buntu kakak perlu diangkat." Ucapnya masih dengan posisi yang sama.

"Usus buntu?! Apa nggak bahaya kalau nunggu besok kak?" Aku memang tidak asing dengan salah satu bentuk peradangan usus ini. Karena dulu pun papa pernah mengalaminya, dan sependek pengetahuanku sepertinya kasus seperti ini butuh tindakan segera.

"Aman dit. Nunggu agak enakan kakak bisa langsung ke rumah sakit sendiri."

"Baiklah,, apa yang bisa Adit bantu sekarang kak? Perlu Adit ambilkan pain killer nggak?" Aku kembali menawarkan bantuan yang mungkin bisa sedikit meringankan rasa sakit itu. Aku gegas mengambil salah satu pain killer di laci nakas ku. Kuserahkan satu strip pain killer yang beberapa hari lalu menemani hariku.

Opioid

"Lo...Lo konsumsi ini Dit?! Dari mana Lo dapetnya?! Obat ini nggak mungkin dijual bebas di apotik biasa." Kak Ivan terlihat kaget menerima nya. Meski ringisan masih terdengar dari mulutnya tapi sepertinya dia telah siap jika harus menceramahi atau memarahi aku.

"Dari... Dokter di rumah sakit." Aku bingung menjawabnya. Memang aku membeli sendiri via online, karena pain killer biasa tidak bisa mengurangi rasa nyeri yang kurasakan akhir-akhir ini. Aku mencoba mencari tahu dosis kuat pain killer yang ada, dan ketemulah si opioid ini, ternyata cukup ampuh untuk meredakan nyeri mendadak yang sering kurasakan.

Kali ini kulihat kak Ivan mulai kesulitan mengatur nafasnya, seperti nya rasa sakit yang dirasakannya semakin kuat.

"Hhh.. Dit, ja-jangan minum ini lagi." Kak Ivan langsung meringkuk setelah mengatakannya. Erangan kesakitan mulai terdengar intens sekarang.

"Ak-aku panggilan mama dulu ya kak." Tanpa menunggu respon nya, yang sepertinya pun aku tidak akan mendapatkan respon apapun, aku langsung berjalan cepat menuju lantai atas dimana kamar mamah berada. Baru saja anak tangga terakhir berhasil kulewati, kurasakan kepalaku mulai berdenyut menyakitkan. Semua yang kulihat mulai berbayang.

Sial!

Kenapa harus sekarang!

Kucoba memejamkan mata dan mengatur nafas untuk lebih merelax-an tubuh ini. Terapi diri dari om Hendri memang cukup manjur beberapa kali aku praktekkan. Ketika tubuh terasa lebih relax, rasa sakit yang kurasakan pun semakin berangsur hilang.

Aku berjalan pelan menuju satu-satunya pintu di lantai ini.

"Mah... Ini Adit..." Ku ketuk beberapa kali pintu didepanku sambil mencoba memutar handle nya, semoga saja mama tidak mengunci pintu ini dari dalam.

Ceklek

Alhamdulillah terbuka

Kulihat kasur mama yang terlihat cukup rapi tanpa adanya mama diatasnya. Aku beralih ke samping dan kulihat pintu balkon terbuka. Tapi aku masih belum melihat kehadiran mama disana.

"Mah..." Sengaja kukeraskan sedikit suaraku, berharap mama mendengarnya dan segera menampakkan diri. Masih belum ada tanda-tanda mama di dalam kamar ini, aku berjalan pelan menuju pintu balkon yang terbuka. Ternyata mama disini, duduk dan tertidur di ayunan gantung rotan yang ada ujung balkon ini. Pantas saja tidak kulihat keberadaan nya tadi.

"Mah..." Aku menggoyang pelan bahu nya. Kulihat beberapa butir pil berserakan diatas meja kecil di samping ayunan itu.

Estazolam

Satu kata dalam kemasan box tempat obat tersebut membuatku mengernyit. Aku seperti tidak asing dengan nama obat ini. Obat tidur, ya, aku yakin obat ini salah satu dari jenis obat tidur.

Apa mama mengalami insomnia?

"Mah..." Aku kembali mengguncang bahu nya sedikit keras. Tidak ada respon berarti, sepertinya efek obat itu sangat kuat.

Karena sepertinya akan sangat sulit membangunkan mamah, aku beranjak menuju kamarku kembali. Denyutan di kepalaku masih intens kurasakan, namun rasa sakitnya masih cukup ringan dan bisa kutahan.

Kulihat kak Ivan dengan posisi duduknya kembali. Tangan kanannya masih setia menekan perutnya.

"Kak, Adit bantu turun dulu ya." Aku menatapnya iba.

"Makasih ya Dit, ini udah agak enakan kok. Kakak bisa turun sendiri kayaknya. Kamu gimana? Udah enakan?" Dia beralih menatapku yang sudah dibanjiri keringat.

"Tinggal kepala aja kak, nyut-nyutan terus." Aku mencoba bersikap santai meski lantai yang kupijak terasa bergoyang.

Kami berhasil melewati tangga kebawah, meski beberapa kali kak Ivan berhenti melangkah dan menekan kuat perutnya. Aku pun berusaha memusatkan pandangan mataku hanya terfokus padanya selama menuruni tangga tadi.

Kubiarkan kak Ivan duduk di sofa ruang tamu, dan aku memutar badan menuju kamar Bi Asih.

Ku ketuk pintu kamarnya tiga kali, dan tanpa menunggu lama Bi asih pun keluar dengan mukena masih melekat di badannya.

"Maaf bi, Adit ganggu malem-malem." Aku agak sungkan mengganggunya, mungkin saja tadi beliau sedang beribadah.

"Nggak ganggu... Bibi udah selesai, ada apa den?" Dengan wajah keibu-an nya bi Asih memperhatikanku lekat.

"Kak Ivan sakit Bi, aku mau bawa dia segera ke rumah sakit. Kira-kira ada yang siap bawain mobil mama nggak bi? Adit masih pusing, nggak mau ambil resiko kalau harus bawa mobil."

Bi asih mengangguk mengerti dan segera mengambil sesuatu di dalam kamarnya. Ternyata beliau mengambil ponsel.

"Bibi hubungi satpam komplek dulu, biasanya yang jaga lebih dari satu. Mungkin bisa bantu"

Aku mengangguk mengiyakan dan kembali menemui Kak Ivan di ruang tamu.

Malam ini aku merasa menjadi anak yang beruntung, jika kubandingkan keadaanku beberapa hari lalu dengan keadaan kak Ivan malam ini. Aku masih beruntung ada Ferdy dan Babeh yang mengurus semuanya selama aku collaps kemaren. Jika kak Ivan tidak disini malam ini, entahlah mungkin dia akan meringkuk sendirian di apartemennya tanpa bantuan siapapun. Karena yang ku tahu, dari pertama kali aku mengenalnya dia hanya tinggal sendirian. Orangtuanya sudah meninggal dua-duanya dan dia adalah anak tunggal. Saat papa memutuskan membeli perusahaan peninggalan ayah kak Ivan pun, ternyata perusahaan itu mempunyai hutang cukup besar. Aku kurang mengerti hal ini, tapi setidaknya diskusi papa dan mama saat itu sering kudengar membahas dirinya.

"Kak, Adit nggak bisa nyetir. Masih pusing. Kita nunggu satpam komplek buat antar ke rumah sakit nya. Kak Ivan masih bisa tahan kan?" Aku mendekatinya yang masih menunduk dalam duduknya.

Anggukan kecil kulihat darinya sebagai bentuk responnya dan mungkin hanya respon itu yang bisa diberikannya saat ini.

Apakah sesakit itu?

Apakah ini hukum karma karena telah membuatku merasakan kesakitan yang mungkin sama?

Tidak!

Aku tidak mungkin berfikir sepicik itu hanya karena rasa kesal sesaatku semalam.

Aku yakin, kak Ivan punya alasan kuat kenapa melakukan hal ini padaku.

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!