"Dia seorang pria tua, Elena. Tapi dia sangat kaya dan royal. Tugasmu hanya melayaninya satu malam dengan mata tertutup."
Setelah kabur dari rumah tanpa uang dan tanpa tujuan, Elena menerima tawaran yang seharusnya tidak pernah ia ambil. Satu malam dan bayaran yang cukup untuk menyelamatkan hidupnya.
Namun malam itu meninggalkan sesuatu yang tidak pernah Elena duga.
Elena Hamil.
Demi melindungi bayinya, Elena melarikan diri ke Indonesia.
Tujuh tahun kemudian, takdir membawanya bekerja di sebuah perkebunan teh yang ternyata adalah milik Leonard—miliarder misterius yang selalu bersembunyi di balik topeng dan penampilan seorang pria tua yang rapuh.
Sementara itu, Leonard masih terus mencari keberadaan Elena, satu-satunya wanita yang sentuhannya tidak memicu penyakit alergi langka yang selama ini membuatnya menjauhi semua orang.
Saat kebenaran mulai terkuak, mampukah Elena menjaga rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7
Pagi itu, Elena sampai kantor perkebunan teh. Ia meremas tali tasnya yang mulai usang, sesekali melirik jam tangan. Pikirannya melayang pada tagihan susu formula premium Noah dan daftar belanjaan organik permintaan anak jeniusnya yang super cerewet itu.
"Nona Elena Anastasia?"
Sebuah suara membuyarkan lamunan Elena. Ia menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya berseragam rapi dengan papan nama Siti tertempel di dadanya.
"Iya, saya sendiri," jawab Elena cepat, langsung berdiri dari kursi tunggu.
"Silakan masuk, mari ikut saya ke ruangan pemilik perkebunan," ajak Siti sambil memberi isyarat agar Elena mengikutinya.
Elena melangkah cepat di samping Siti. Jantungnya mulai berdegup kencang. "Maaf, Mbak, berarti saya sudah resmi diterima bekerja di bagian administrasi keuangan?"
Siti terkekeh pelan lalu menggelengkan kepalanya.
"Walah, belum tentu, Nona Elena. Jangan senang dulu. Anda harus melewati beberapa tes langsung dari pemiliknya pagi ini. Soalnya, pemilik perkebunan kita ini orangnya sangat sensitif, pemilih, dan suka marah-marah kalau ada yang tidak sesuai standarnya."
Elena mengernyitkan dahi. Bulu kuduknya mendadak merinding.
"Galak sekali ya, Mbak? Apa dia masih muda?"
"Tidak, dia sudah kakek-kakek. Bawel pula! Semuanya harus perfek, tidak boleh ada celah sedikit pun," bisik Siti dengan volume suara yang dikecilkan, seolah takut di setiap dinding punya telinga. "Kemarin saja, ada staf baru yang salah mengetik satu angka di laporan keuangan, langsung diamuk sampai gemetar."
Mendengar kata kakek-kakek mata Elena seketika berbinar cerah. Langkah kakinya yang tadinya ragu kini berubah menjadi mantap penuh semangat.
"Untunglah pemiliknya kakek-kakek, bukan bos muda yang bawel. Masih bisa di atur," batin Elena girang.
"Kenapa anda malah tersenyum, Nona Elena? Apa anda tidak takut?" tany Siti heran melihat perubahan ekspresi calon karyawan di sebelahnya.
"Eh? Ah, tidak kok, Mbak! Saya justru tertantang," kilah Elena cepat, mencoba menahan tawa. "Saya sudah biasa menghadapi orang yang super perfeksionis di rumah. Anak saya yang usia enam tahun saja kalau minta telur ceplok harus simetris dan medium rare. Jadi, menghadapi bos kakek-kakek bawel harusnya menjadi keahlian saya."
Siti tertawa renyah mendengarnya. "Aduh, ada-ada saja anak zaman sekarang. Tapi baguslah kalau mentalmu sekuat baja. Jarang ada anak muda yang langsung bersemangat mau diwawancara oleh beliau."
"Demi masa depan, Mbak. Mau sekaku apa pun kakek itu, saya akan buat dia bertekuk lutut dengan laporan keuangan saya," ucap Elena penuh percaya diri.
"Nah, kita sudah sampai," kata Siti, menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu besar yang tampak sangat kokoh dan mewah.
Aroma teh hitam premium bercampur dengan wangi kayu cendana yang menenangkan menyeruak dari balik celah pintu.
Siti mengetuk pintu itu tiga kali dengan sopan.
Tok! Tok! Tok!
Hening. Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam. Siti menempelkan telinganya ke pintu, mencoba mendengarkan tanda-tanda kehidupan, namun ruangan itu sepi bak kuburan.
"Aduh, maaf sekali, Nona Elena," ucap Siti sambil perlahan membuka pintu. "Sepertinya bos besar terlambat datang pagi ini. Anda masuk dulu saja ya dan tunggu di dalam. Biar saya coba menghubunginya lewat telepon."
Elena tersenyum maklum dan mengangguk. "Baik, Mbak. Terima kasih."
Begitu pintu ditutup kembali oleh Siti, Elena melangkah masuk. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang sangat luas itu. Desainnya sangat maskulin, didominasi kayu-kayu mahal dan sofa kulit hitam yang terlihat sangat empuk.
"Tidak buruk juga," gumam Elena sambil mengusap permukaan meja kerja yang mengilat.
*
*
Sementara itu, di villa mewah keluarga Leonard, ketenangan pagi hari hancur berantakan karena jeritan histeris sang mafia.
"Nek! Nenek!" panggil Leonard panik setengah mati. Ia berlari menuruni tangga dengan rambut yang masih agak acak-acakan.
Wajah tampan paripurnanya terlihat kusut.
Naomi yang sedang asyik menyesap teh hangat di ruang makan menoleh dengan dahi berkerut. "Kenapa pagi-pagi sudah ribut sendiri, Leon? Kamu belum berangkat ke kantor perkebunan?"
"Belum!" sahut Leonard frustrasi, mengacak rambutnya sendiri. "Aku kehilangan sesuatu, Nek!"
"Sesuatu apa? Dompetmu? Atau pistol kesayanganmu ketinggalan di kamar mandi?" tanya Naomi santai.
"Bukan! Apa Nenek melihat benda silikon berwarna cokelat keriput di atas meja kamarku?" tanya Leonard dengan mata melotot penuh harap.
Naomi mengernyitkan dahi, meletakkan cangkir tehnya perlahan sembari mencoba mengingat-ingat.
"Oh benda lembek, kenyal, mukanya jelek dan keriput mirip manekin jompo itu?"
"Iya itu! Dimana sekarang, Nek? Berikan padaku cepat, aku sudah terlambat!"
Naomi tersenyum kikuk, matanya melirik ke arah luar jendela. "Anu, sudah Nenek bakar di tempat sampah belakang tadi subuh."
"What?! Dibakar?!" pekik Leonard hingga suaranya melengking tinggi, sangat tidak mencerminkan aura bos yang ditakuti se-Eropa. "Kenapa Nenek bakar?!"
"Nenek pikir itu jimat dukun desa sini atau barang pesugihan yang kamu bawa dari Eropa! Seram tahu, ditaruh di atas meja begitu! Jadi Nenek bakar saja demi keselamatan keluarga kita," bela Naomi tanpa dosa.
Leonard rasanya ingin membenturkan kepalanya ke tiang villa. "Astaga, Nenek!" ratapnya frustrasi.
Pagi ini ia harus menemui karyawan baru di bagian keuangan. Bagaimana dia bisa pergi ke kantor tanpa wujud kakek-kakeknya?
Stok topeng silikonnya sudah habis total. Jika harus memesan lagi pada anak buahnya di Eropa, pengirimannya memakan waktu berbulan-bulan karena bahan bakunya harus diimpor dari negeri tetangga.
"Ada masalah apa pagi-pagi begini?" tanya Xander yang baru saja datang dan duduk di meja makan, siap menyantap sarapannya.
Melihat wajah sang kakek, sebuah lampu bohlam imajiner mendadak menyala terang di atas kepala Leonard.
Seringai licik terbit di bibirnya. Ia langsung mendekati kursi Xander.
"Bantu aku, Kek," rengek Leonard, mendadak memasang wajah memelas mirip anak kecil yang minta dibelikan es krim.
Joni yang baru masuk ke ruang makan bahkan nyaris tersedak ludahnya sendiri melihat pemandangan horor itu.
Xander menjauhkan tubuhnya, menatap cucunya dengan pandangan penuh selidik. "Bantu apa lagi? Hah?! Jangan aneh-aneh kamu, Leon!"
"Tolong temui karyawan baruku di kantor perkebunan sekarang juga, Kek. Aku tidak mungkin menemuinya tanpa topengku," bisik Leonard memohon.
"Topeng tua sialan itu lagi?!" bentak Xander ngegas.
Xander memang sudah tahu kalau selama ini Leonard berpura-pura menjadi kakek-kakek pemilik kebun demi misi rahasianya. Dan tentu saja, Leonard menyuruh Xander merahasiakan alasan konyol itu dari Naomi agar sang nenek tidak heboh.
"Kalian ini sedang bicara apa sih? Pakai bisik-bisik segala. Aku tidak paham," sela Naomi sambil mengerucutkan bibirnya kesal karena merasa diabaikan.
Leonard mengabaikan neneknya sejenak. Ia menggenggam ujung kemeja Xander dengan gigih.
"Kek, tolong sekali ini saja. Kalau Kakek mau menggantikan ku mewawancarai karyawan baru itu, aku janji akan menuruti semua permintaan Kakek!"
Mata Xander seketika berbinar mendengar tawaran menggiurkan itu.
"Semua?"
"Iya, semua!"
"Baiklah! Kakek akan menemui calon karyawan barumu di kantor!" putus Xander bersemangat.
Ia langsung berdiri dari kursi, membetulkan kerah kemejanya dengan gaya angkuh yang persis sama dengan cucunya.
"Awas saja kalau karena urusan bocah ini aku malah dapat masalah di kantor! Dasar cucu kurang garam!" batin Xander.
tetang bagaimana jadinya ada anak kecil yng mirip
Elena pasti panik melihat Naomi , berasa jadi wanita simpanan
🤣🤣
Leon siap siap jadi asisten opa dan oma mu🤣
meskipun namanya Leon tetap saja akan kupanggil singa yang alergi sentuhan🤣
hahaha Joni sampai menangis itu lho Leon 😂
habislah Leon setelah ini di tangan opa Xander 🤣
berani banget menghamili gadis sampai ada nya seorang anak yang menyebalkan