"Saya akan berikan kamu satu milyar, jika kamu bisa melahirkan anak laki-laki untuk saya!"
Demi kesembuhan sang ibu, malam itu Aluna mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidupnya
Arjuna Bimantara, pengusaha ternama yang ingin mencari seorang wanita untuk melahirkan penerus bagi Bimantara sebab istrinya yang super model menolak memberikan anak
Akankah kesepakatan Arjuna dan gadis muda itu menghadirkan cinta? Atau selamanya Aluna hanya akan menjadi istri rahasia pria bernama Arjuna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA BELAS
Tengah menikmati makanan yang diinginkan, tiba-tiba suara bariton seorang pria mengejutkan mereka
Aluna hampir saja tersedak, beruntung Bona sigap memberikan air
"Apa ini?" Tanya Arjuna dengan suara dingin, kedua pelayan serta Aluna jelas saja ketar ketir
"Apa yang kamu makan?" Tanya Arjuna pada sang istri
"Se-seblak" Jawab wanita itu dengan tergagap
Prang
Semua orang terkejut, semangkuk seblak yang belum termakan setengah berhamburan diatas lantai beserta pecahan mangkuk
"Siapa yang mengizinkan kamu makan makanan seperti ini?" Arjuna berteriak marah pada istrinya
"Sa-saya hanya ngidam" Cairan bening sudah luruh dari pelupuk mata indah itu, tubuhnya juga sudah bergetar
"Siapa yang membuatnya?" Pertanyaan ini ditujukan untuk kedua pelayan yang sudah pucat itu
"Ss-saya ya-yang membuat nya" Wulan menyahut
Plak
Aluna berteriak saat melihat kepala pelayan jatuh tersungkur karena kuatnya tamparan yang Arjuna berikan
Ia tidak pernah menyangka jika keinginannya akan berakibat sangat fatal
"Bukankah saya sudah mengatakan jika dia tidak boleh makan makanan yang sembarangan?"
"Maafkan saya tuan"
Arjuna yang kesal, mengeluarkan sebuah pistol dari balik jas mahalnya membuat Aluna berteriak
"Jangan!"
"Minggir!" Arjuna jelas semakin kesal karena istrinya malah melindungi kepala pelayan
"Masuk kekamar mu!" Titah Arjuna dengan suara teramat dingin
Aluna menggeleng, Arjuna tidak tahu jika ia mengambil wanita pembangkang. Kelinci kecilnya yang manis tidak lagi menatapnya dengan rasa takut
"Aku bilang kembali kekamar mu!"
"Jangan habisi mereka tuan, saya mohon!" Aluna menangis, menangkup kedua tangannya agar suaminya merasa iba
"Jangan lakukan ini Nona! Sebaiknya nona masuk ke kamar" Titah kepala pelayan
Arjuna menghela napasnya, menyimpan kembali senjata itu dibalik punggung
"Kurung mereka" sang asisten yang setia segera menurut, meminta dua pelayan pria membawa Kepala pelayan dan Bona
Aluna menggeleng, ia berdiri walaupun sedikit kesulitan "Mereka mau dibawa kemana? Jangan bunuh mereka tuan" Aluna menangis
Arjuna meraih lengan istrinya lalu membawanya masuk kedalam kamar. Jika istrinya ini tidak hamil mungkin ia sudah meledakkan kepalanya
Sesampainya dikamar Aluna tidak berhenti menangis, wanita cantik itu masih memohon
"Saya yang salah, saya sedang ngidam dan bibi Wulan menurutinya" Ucapnya dengan suara serak karena menangis
"Kamu ingin membunuh anak saya? Berani sekali kamu" Arjuna benar-benar geram, ia memang menjaga apa yang istrinya ini konsumsi, tapi berani-beraninya wanita ini melanggar
"Saya tidak melakukan itu, saya memang ingin makan seblak, tapi mereka menolak untuk membelikan karena tidak sehat" Ucap Aluna
"Bibi Wulan sengaja membuatkan biar sehat dan ngidam saya terpenuhi, ini juga demi mereka"
"Mereka?"
"Iya, saya hamil anak kembar!"
Arjuna membulatkan matanya, apa ia tidak salah dengar? Dirinya akan mendapat dua sekaligus
"Kamu benar-benar hamil bayi kembar?"
Aluna mengangguk "kata dokter Samuel seperti itu"
Amarah itu seketika menguap, Arjuna memeluk istrinya namun Aluna tidak membalas
"Terima kasih" Arjuna menangkup kedua pipi istrinya itu "Kamu ingin minta apa sebagai hadiahnya?"
"Sungguh? Apapun?"
"Ya, minta apapun!"
"Tuan tidak akan ingkar janji kan?"
Arjuna mengangguk, wajahnya mendekat untuk dapat mengecup wajah istrinya namun Aluna menahannya
Sebenarnya Arjuna jelas marah malihat ini, namun ia tahan karena saat ini dirinya tengah bahagia
"Apa yang kamu inginkan?"
"Saya mau tuan melepaskan bibi Wulan dan Bona"
Arjuna melepas pelukannya, rahangnya mengeras. Arjuna terkenal kejam karena tidak pernah memberi ampun pada orang-orang yang sudah melakukan kesalahan
"Itu tidak akan pernah terjadi, minta yang lain"
Wajah Aluna berubah sendu, membuat Arjuna yang melihat itu tidak sampai hati
"Mereka hanya pelayan, Aluna" Arjuna tidak pernah berucap lembut seperti ini pada orang lain selain sang ibu dan Ronald sang kakek
"Entahlah, tapi bagi saya tidak. Saya merindukan ibu saya dan bibi Wulan disini membuat saya seperti memiliki seorang ibu dan Bona, cuma dia yang mau bicara dengan saya"
Arjuna mengerti, Aluna gadis biasa yang lembut. Dia memiliki keluarga dan jelas merindukannya
"Baiklah" Aluna menatap wajah tampan suaminya dengan binar kebahagiaan
"Tuan beneran?"
"Tapi ingat ini!" Arjuna menekan suaranya "Ini terakhir kalinya kamu membuat kesalahan! Jika terulang lagi, maka saya benar-benar akan menghabisi mereka"
Aluna meneguk ludahnya, ketakutan terlihat jelas dari wajahnya
"Kamu tunggu disini! Saya akan minta Joseph membebaskan mereka"
"Saya ikut!" Jika tidak dituruti wanita ini jelas akan Keukeh
"Baiklah"
Aluna terlihat bahagia, keduanya melangkah keluar, menuruni tangga
"Joseph"
Sang tangan kanan mendekat "Ya tuan"
"Bebaskan Wulan dan Bona!"
Joseph sempat ragu, selama ini Arjuna terkenal kejam pada orang-orang yang membangkang
"Baik tuan"
"Saya mau ikut" Aluna menyahut
"Tetap disini! Joseph akan membawa mereka"
Aluna menurut, jika dirinya membangkang bisa-bisa dirinya akan menggantikan Wulan dan Bona
"Bibi.." Aluna berteriak dan melangkah cepat menghampiri kepala pelayan itu
Aluna memeluknya, terlihat jelas jika Aluna menyayangi wanita paruh baya itu
"Bibi gak apa-apa kan? Bona?"
"Kami baik-baik saja" Jawab pelayan pribadi Aluna itu
"Apa nona yang meminta agar kami dilepaskan?" Tanya Wulan dengan nada berbisik
Aluna mengangguk "Tuan mau membebaskan kalian sebagai hadiah untuk kehamilan aku"
"Terima kasih nona, terimakasih" Rasanya ucapan terimakasih saja tidak akan cukup, kematian itu sangat dekat dan Aluna membebaskan mereka dari maut
"Sudah puas?" Tanya Arjuna dingin
"Temui tuan!" Bisik Wulan, wanita paruh baya itu memang melihat Aluna bak putrinya sendiri
Aluna mendekat, jujur saja dirinya masih ketakutan jika menatap wajah tanpa senyum ini
"Sekarang kembali kekamar kamu" Aluna menurut, Arjuna ikut menyusul istrinya itu ke kamar. Ada kerinduan yang ingin dituntaskan
"Sekarang kamu ngidam apa?" Tanya Arjuna, ia tidak sampai hati karena sang istri tidak tuntas menikmati makanannya
"Tidak ada"
Arjuna tahu jika wanita ini tengah berbohong "Katakan saja! Saya janji akan menurutinya, asalkan tidak membahayakan anak-anak saya"
"Sebenarnya.." wanita cantik itu tampak ragu "Saya ingin makan masakan ibu saya"
Arjuna diam, ia tak pernah tau jika menghadapi wanita hamil akan begitu rumit
"Tidak masalah, tuan bertanya dan saya hanya menjawab" Aluna tau posisinya, harusnya dirinya memang tidak meminta apapun
Dirinya hanya mengandung penerus keluarga Bimantara, bukan berarti dia bagian dari keluarga itu
"Besok kita akan pergi" Jawab Arjuna dengan suara rendah
"Tuan serius kan? Saya tidak masalah jika tidak dituruti" Kata Aluna
"Tidak masalah, besok pakai pakaian yang besar agar perut kamu tidak kentara"
Aluna mengangguk antusias "Terima kasih tuan"
"Sekarang berikan saya hadiahnya!"
"Hadiah? Memangnya tuan ingin apa?"
Arjuna mendekat, hampir tiga bulan terpisah membuatnya merindukan gadis polos bermata indah ini
"Saya menginginkan kamu" Bisiknya tepat di telinga sang istri
"Tapi saya sudah hamil, bukannya tujuannya hanya bikin anak"
"Jangan lupa jika kamu istri saya" Arjuna mengangkat tubuh wanita hamil itu lalu membuatnya berbaring diatas tempat tidur
Arjuna merasa begitu puas saat menuntaskan semua yang tersimpan selama tiga bulan
Bersama Aluna rasanya benar-benar berbeda, ia suka sikap malu-malunya serta pipi yang merona saat digoda
Berbeda dari Zoya yang selalu bersikap agresif. Wanita cantik itu memang terbiasa merayu