NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas / Tamat
Popularitas:374.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Betapa terkejutnya Dara mendengar jumlah uang yang ditransfer oleh Gavin kepadanya.

Dara buru-buru menggeleng. "Tidak perlu, Aa. Aku masih punya uang mahar yang jumlahnya sangat banyak. Aku bisa memakai uang itu."

Gavin menatap Dara beberapa saat. Dengan nada suara yang tetap tenang dia berkata, "Laki-laki bekerja untuk menafkahi istrinya. Selama aku masih mampu memberi nafkah tidak perlu menggunakan uang mahar itu."

Dara terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Selama hidupnya, belum pernah ada seseorang yang begitu memikirkan kebutuhannya.

Perlahan senyum tulus menghiasi wajahnya. "Terima kasih, Aa."

Menjelang siang, Mang Kodir sudah menunggu di halaman bersama mobil keluarga Juragan Darmawan. Rina, salah satu pelayan muda yang usianya tak jauh dari Dara, ikut menemani.

"Teh Dara, kita berangkat?"

"Iya."

Sepanjang perjalanan menuju kota kecamatan, Dara lebih banyak melihat pemandangan dari balik jendela. Ia jarang sekali pergi berbelanja, apalagi naik mobil sebagus ini.

Beberapa toko pakaian mereka datangi. Awalnya Dara hanya memilih dua atau tiga stel pakaian. Namun setiap kali melihat label harga, ia buru-buru mengembalikannya ke rak.

"Teh Dara, kalau seperti itu, sampai malam juga belanjanya belum selesai." Rina tertawa geli.

"Harganya mahal," bisik Dara.

"Harga segitu normal, kok."

"Buat aku mahal."

Rina akhirnya membantu memilihkan beberapa atasan, rok, celana, baju tidur, sandal, hingga sepatu.

"Ini cocok ... yang ini juga," ucap Rina sambil manggut-manggut.

Dara beberapa kali bercermin. Rasanya aneh melihat dirinya mengenakan pakaian yang begitu cantik.

"Rin, kamu juga beli satu setel. Pilih saja yang kamu suka," kata Dara dan membuat Rina sedikit terkejut.

"Aku tidak usah, Teh."

"Sudah. Ambil mana yang kamu mau!"

Akhirnya Rina memilih kemeja dan celana jeans. Terlihat sekali gadis itu bahagia.

Selesai dari toko pakaian, mereka mampir membeli sebuah ponsel baru. Saat pembayaran selesai, Dara melihat sisa saldo yang masih cukup banyak. Dia baru menghabiskan sepuluh juta, masih ada sisa sekitar dua puluh juta.

Dara memasang ekspresi wajah bingung. "Aa Gavin bilang uangnya harus dipakai buat kebutuhan. Tapi aku mau beli apa lagi?"

Rina yang berdiri di sampingnya langsung tersenyum. "Teh, beli skincare."

"Skincare?"

"Iya."

"Biar kulitnya makin sehat. Lalu beli kosmetik juga. Biar nanti kalau ada acara keluarga tinggal pakai."

Dara tampak berpikir. "Aku tidak pernah pakai make up."

"Nanti bisa belajar," ujar Rina penuh semangat.

Akhirnya mereka masuk ke toko kosmetik.

Dengan dibantu pegawai toko, Dara membeli beberapa produk perawatan wajah, pelembap, tabir surya, bedak, lipstik berwarna lembut, serta perlengkapan make up dasar.

Sepanjang hidupnya inilah pertama kalinya Dara membeli barang-barang untuk dirinya sendiri tanpa harus menghitung setiap rupiah yang keluar.

Sementara itu di perkebunan teh. Gavin berdiri bersama Pak Rahmat di depan gudang penyimpanan hasil panen. Beberapa karung teh kering tersusun rapi menunggu jadwal pengiriman ke pabrik di kota.

Pak Rahmat sedang menjelaskan hasil panen minggu ini ketika terdengar suara seseorang memanggil.

"Den Gavin!"

Gavin menoleh. Dilihatnya Rama berjalan mendekat dengan senyum yang dibuat selebar mungkin.

"Selamat siang, Den," sapanya ramah.

"Siang," jawab Gavin singkat. Ekspresi wajahnya tetap datar.

Rama melirik ke kanan dan kiri. "Dara tidak ikut?"

"Tidak. Aku menyuruhnya belanja."

"Oh ... pantas saja saya telepon dari tadi tidak diangkat."

Rama tersenyum kecil. Padahal, di balik senyum itu, hatinya mulai dipenuhi rasa kesal. Ia memang sengaja ingin menemui Dara. Kalau bisa hari ini juga ia ingin mulai membicarakan uang mahar. Namun, ternyata gadis itu justru pergi ke kota kabupaten.

Gavin memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Tatapannya lurus menembus wajah Rama.

"Ada perlu apa dengan Dara?"

Pertanyaan itu sederhana. Namun, nada suaranya terdengar dingin. Rama sempat kehilangan senyumnya.

"Eh, tidak ada apa-apa. Hanya ingin memastikan dia baik-baik saja."

"Begitu?" Gavin masih menatapnya tanpa berkedip.

"Iya."

Entah mengapa, Rama merasa tatapan pria itu seolah mampu membaca isi kepalanya. Ia pun menelan ludah pelan, sementara Pak Rahmat yang berdiri di samping Gavin hanya memperhatikan mereka dalam diam, merasakan bahwa pertemuan siang itu tidak sesederhana. yang terlihat.

Menjelang sore, mobil yang ditumpangi Mang Kodir akhirnya memasuki halaman rumah. Dara turun sambil membawa beberapa kantong belanja. Wajahnya masih dipenuhi rasa tak percaya. Berkali-kali ia melirik pakaian baru yang baru saja dibelinya.

Sherly yang sedang duduk di teras langsung menghampiri. "Wah, belanjanya banyak juga."

Dara tersenyum malu. "Aku sebenarnya tidak enak, Ma. Tapi Aa Gavin bilang uangnya harus dipakai."

Sherly tertawa kecil. "Bagus. Sekarang coba salah satu bajunya."

Beberapa menit kemudian, Dara keluar dari kamar mengenakan atasan berwarna pink dan rok berwarna cream yang baru dibelinya.

Sherly terpana beberapa detik. "Ternyata benar, kamu cantik sekali."

Dara langsung salah tingkah. "Jangan begitu, Ma. Aku jadi malu."

"Cantikmu ini sayang kalau tidak dirawat. Ayo, ikut Mama!" Sherly menarik tangan Dara.

"Ke mana?" tanya sang menantu pasrah mengikuti langkah mertuanya.

"Belajar dandan," jawab Sherly tersenyum lebar.

1
uhuuuyyy
ndak bosan lhooo tp seruuu ikutan dag dig dug
uhuuuyyy
apakah mrk bersahabat???dan karim dlu menyukai nirmala??
Paryantikebondalem
ikut bahagia punya mama mertua yang baik
Paryantikebondalem
AA Gavin I love you, kamu perhatikan sama Dara ikut bahagia deh
Paryantikebondalem
AA Gavin , cocok
Paryantikebondalem
puji Tuhan Dara diterima di keluarga suami
Paryantikebondalem
semoga Fara bahagia
Dini
🤣🤣 hadeuuuh daraaa
Muhammad Arifin
knp tidak di jelaskan kak bagaimana cara Gavin berkomunikasi.agar tidak terkesan Gavin orang normal
🌸 Sunshine 🌸: Gavin pakai alat pendengaran dan bisa berkomunikasi layaknya orang normal.
total 1 replies
uhuuuyyy
hizzz tuker aja itu paman n bibi nya ke tukang rombeng
Kukun Sabarno
orang jahat susah mati sebelum bertobat
Andi_Gunawan
semoga DARA cepat menjadi istri, terus gantian paman dan bibi nya di tampar wkwkwk
Ila Lee
kalinya sudah bertemu dari dara kecil dan Gavin remaja itulah jodoh
Ila Lee
ternyata Gavin yg dara, selamat kN waktu itu sehingga kali nya cacat
Ila Lee
nasib baik tak dipecat Gavin bibibtina🤭🤭🤭🤭🤭
Ila Lee
mampus kau Tina dara sekarang Nyonya muda kalau kau lupa isteri tuan muda Gavin bibi tina dan kN itu
Ila Lee
jgn harapan kalau boleh DPT bibi tina💪🤣🤣🤣🤣
Ila Lee
Gavin pasti bangga punya isteri canyik😍😍😍😍😍
Ila Lee
alhamdulillah punya mertua dan suami yg baik tunjuk kN dada pada ninja dan sepupu mu itu yg dara lebih cantik 😍😍😍😍😍
Ila Lee
ya dara selang kamu ia sri tuan muda syok belanja Shopping🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!